50 Tahun UNS: Dari Universitas Gabungan Menjadi Universitas yang Utuh Sepenuhnya (Bagian III/Habis)

Presiden Soeharto memukul gong tanda peresmian Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret dalam upacara di Siti Hinggil Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, 11 Maret 1976. (Foto: Repro "Riwayat Berdirinya Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret")
Presiden Soeharto memukul gong tanda peresmian Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret dalam upacara di Siti Hinggil Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, 11 Maret 1976. (Foto: Repro "Riwayat Berdirinya Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret")

Tanggal 1 Juni 1975 menjadi momentum berdirinya universitas cikal bakal Universitas Sebelas Maret (UNS) yaitu Universitas Gabungan Surakarta (UGS). Struktur manajemen universitasnya belum seperti yang seharusnya dengan adanya rektor dan jajarannya. UGS masih dikelola oleh presidium yang dipimpin Wali Kota Solo Soemari Wongsopawiro dengan kelengkapan wakil ketua, sekretaris, dan anggota bidang sarana prasarana, akademik, serta riset dan pengembangan.

UGS memiliki delapan fakultas yang merupakan hasil penggabungan dari fakultas-fakultas  perguruan tinggi yang bergabung. Kedelapan fakultas itu adalah:

  1. Fakultas Ekonomi dengan 351 mahasiswa
  2. Fakultas Sosial Politik dengan jurusan publisistik (ilmu komunikasi) dan administrasi negara yang memiliki 93 mahasiswa
  3. Fakultas Hukum dengan 359 mahasiswa
  4. Fakultas Pertanian dengan 130 mahasiswa
  5. Fakultas Teknik dengan 132 mahasiswa
  6. Fakultas Kedokteran dengan 523 mahasiswa
  7. Fakultas Keolahragaan dengan 221 mahasiswa
  8. Fakultas Geografi dengan 33 mahasiswa

Fakultas-fakultas ini juga belum dipimpin dekan, melainkan koordinator pooling yang dibantu empat orang pembantu koordinator pooling. Kesemua fakultas itu berstatus “swasta diakui.” Pagelaran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjadi pusat perkuliahan. Dana operasional berasal dari anggaran pembinaan perguruan tinggi swasta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (singkatan saat itu Departemen P & K), Pemprov Jateng, Pemkot Solo, dan uang kuliah.

Kegiatan perkuliahan secara resmi dimulai pada 2 Juli 1975. Kurikulum yang digunakan disesuaikan dengan standar kurikulum di universitas negeri, sementara untuk pendidikan kedokteran juga tetap merujuk pada standar yang sudah berlaku. Pemerintah pusat pun memantau ketat penyelenggaraan kegiatan di UGS. Misalkan saja pada 28-31 Juli 1975 tim konsorsium Departemen P & K yang dipimpin Direktur Pendidikan Tinggi Swasta Sukisno datang untuk mengevaluasi pengelolaan UGS. Setelah itu pada Agustus 1975 Dirjen Pendidikan Tinggi Makaminan Makagiansar dan Direktur Bidang Sarana Akademis Semaun Samadikun juga meninjau langsung aktivitas USG. Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah IV Johannes juga datang meninjau.

Pada 17 Desember 1975, giliran Menteri P & K Sjarif Thayeb yang datang untuk memastikan kesiapan UGS. Dirinya dan rombongan meninjau berbagai hal seperti pusat perkuliahan di Pagelaran Keraton Solo, aneka fasilitas dan sebagainya. Kunjungan itu menghasilkan satu pernyataan penting: Universitas Gabungan Surakarta akan diberi status sebagai universitas negeri pada 11 Maret 1976!

Tak ada sebulan kemudian Menteri P & K mengeluarkan surat keputusan pembentukan Panitia Persiapan Penegerian Universitas Gabungan Surakarta tertanggal 2 Januari 1976. Panitia yang tetap diketuai Wali Kota Solo Soemari Wongsopawiro dengan dewan penasihat yang terdiri antara lain Sinuhun Paku Buwono XII dan Sri Paduka Mangkunegoro VIII ini bertugas antara lain mempersiapkan penerimaan mahasiswa baru untuk tahun kuliah 1976 sebanyak maksimal 400 orang untuk fakultas-fakultas kedokteran, teknik, pertanian, hukum, sosial politik, ekonomi, dan sastra. Dua perguruan tinggi negeri lain yaitu Sekolah Tinggi Olahraga (STO) Negeri dan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surakarta selanjutnya akan menyusul bergabung.

Brigjen TNI Gusti Pangeran Haryo (G.P.H.) Haryo Mataram, S.H., rektor pertama UNS. (Foto: imnews.com)

Kerja keras yang terus berjalan pun mencapai puncaknya pada 11 Maret 1976. Upacara peresmian dipusatkan di Siti Hinggil Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sebuah bangunan penting di Keraton yang biasanya menjadi lokasi penobatan raja atau upacara-upacara besar level kenegaraan lainnya. Peresmian dihadiri langsung oleh Presiden Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto. Dalam upacara itu Dirjen Pendidikan Tinggi Makaminan Makagiansar membacakan keputusan presiden (kepres) yang menyatakan pendirian universitas dengan nama Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret, dengan sembilan fakultas yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan, Fakultas Sastra Budaya, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Teknik.

Kepres itu juga menyatakan penutupan perguruan tinggi dan swasta yang bergabung menjadi unsur Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret yaitu IKIP Negeri Surakarta, STO Negeri Surakarta, Akademi Administrasi Niaga Negeri, Universitas Gabungan Surakarta, dan Fakultas Kedokteran PTPN Veteran Cabang Surakarta.

Sedangkan dalam sambutannya, Presiden Soeharto menjelaskan keterkaitan nama “Sebelas Maret” yang disematkan pada Universitas Negeri Surakarta dengan Surat Perintah 11 Maret. Surat perintah itu menurut Presiden adalah tonggak awal perjuangan Orde Baru untuk kembali menegakkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Penegakan kembali Pancasila dan UUD 1945 yang sebelumnya sempat digoyahkan oleh Gerakan 30 September PKI menjadi modal dasar pelaksanaan pembangunan di mana perguruan tinggi berperan penting untuk melahirkan tenaga-tenaga pemikir untuk menunjukkan jalan dan menuntun masyarakat dalam membangun.

Seorang putra Solo asli yang juga putra dari Sinuhun Paku Buwono X, raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dikenal sebagai pemrakarsa pembangunan infrastruktur besar-besaran di masa pemerintahannya pada 1893-1939, ditunjuk sebagai pejabat sementara Rektor Universitas Negeri Surakarta (UNS Sebelas Maret) pada 1 Juni 1976. Dia adalah Brigjen Gusti Pangeran Haryo (G.P.H.) Haryo Mataram, S.H.

Meski seorang militerm namun Haryo Mataram juga seorang akademisi dengan banyak karya di bidang hukum. Sejumlah buku terkait hukum sudah ditulisnya seperti Bunga Rampai Hukum Humaniter (Hukum Perang), Bumi Nusantara Jaya, Jakarta, 1988. Hukum Humaniter: Kumpulan tulisan, Pusat Studi Hukum Humaniter, FH Usakti, 1999. Kewenangan Dewan Keamanan PBB, Terutama yang Berhubungan Pembentukan dan Pengoperasian Pasukan PBB, UNS Press, Surakarta, 1994. Hukum Humaniter dengan Doktrin Hankamrata, UNS Press, Surakarta, 1990. Beberapa Perkembangan dalam Hukum Internasional, UNS Press, Surakarta, 1990. 

Logo Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret. (Foto: Repro “Riwayat Berdirinya Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret”)

Dia dibantu oleh Parmanto, M.A. selaku pejabat sementara Pembantu Rektor Bidang Akademik yang sebelumnya adalah Pembantu Rektor I IKIP Surakarta. Pejabat lainnya adalah Ir. Rokhim Wiryomijoyo, seorang akademisi bidang pertanian dan menjadi anggota DPR mewakili Jawa Tengah, yang pada 1975 dibujuk sejumlah anggota DPR asal Solo agar ikut membantu persiapan pendirian universitas negeri di Solo dan selanjutnya berperan penting dalam pembentukan UGS. Rokhim diangkat sebagai Pembantu Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan. Mantan Dekan Sekolah Tinggi Olahraga Negeri Solo, R. Soepiarto Nurcahyatmo, diangkat sebagai Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan UNS Sebelas Maret.

Begitulah, UNS dibangun dengan kerja keras dan telaten, dimotori Pemkot Solo bersama berbagai unsur masyarakat Kota Solo dan juga para pengelola perguruan tinggi negeri dan swasta di Solo. Ini sebuah kerja bersama berskala besar yang layak jadi warisan kebanggaan hingga kapan saja.

Baca Juga:

50 Tahun UNS: Pendirian Diawali Keprihatinan Kondisi Pendidikan Tinggi di Kota Solo (Bagian I)

50 Tahun UNS: Swasta Tak Mau Kalah Upayakan Pendirian Universitas Negeri (Bagian II)

Share the Post: