Gelombang banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir November 2025 hingga 3 Desember 2025 telah mengakibatkan sedikitnya 753 orang meninggal dunia, 650 orang masih dinyatakan hilang, sekitar 2.600 warga mengalami luka-luka, jutaan lainnya terpaksa mengungsi, serta menyebabkan kelumpuhan infrastruktur strategis lintas provinsi.
Sungguh menyedihkan bahwa bentang alam Sumatra yang dahsyat dengan gunung-gunung, jurang, ngarai, dan lembah juga memberi konsekuensi risiko bencana alam dahsyat seperti banjir bandang. Tercatat sudah beberapa kali terjadi banjir bandang dahsyat di pulau yang juga bernama Andalas ini. Berikut beberapa di antaranya.
Banjir Bandang Solok Selatan 1978–1979
Pada 1978-1979, Solok Selatan dan wilayah sekitar Gunung Marapi diterjang banjir bandang besar. Aliran air membawa kayu dan lumpur, merusak permukiman di lereng, dan memaksa warga untuk mengungsi.
Banjir Bandang Bahorok, Sumatera Utara (2003)
Di pengujung November 2003, kawasan hulu DAS Taman Nasional Gunung Leuser, khususnya di wilayah Bahorok, Langkat, diterjang banjir bandang yang mematikan. Arus deras Sungai Bohorok menghanyutkan banyak korban jiwa sekaligus merusak infrastruktur dan permukiman di sekitarnya.
Menurut laman langkatkab.go.id, peristiwa banjir bandang yang terjadi pada 2 November 2003 di kawasan wisata Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, telah menewaskan ratusan orang dan meluluhlantakkan permukiman warga di bantaran Sungai Bahorok. Hanya dalam tempo kurang dari setengah jam pada Minggu malam 2 November 2003, hampir 300 nyawa manusia lenyap sia-sia. Lebih 400-an bangunan hancur lebur tak berguna disapu gulungan air lumpur pekat dan hantaman batang-batang pohon
Banjir Bandang Aceh Selatan (2006)
Aceh Selatan pada tahun 2006 dilanda banjir bandang yang merusak ribuan rumah di beberapa kecamatan. Debit air yang sangat tinggi memaksa banyak warga mengungsi demi keselamatan mereka. Banjir bandang melanda Aceh Selatan Prov. NAD pada tanggal 30 Agustus 2006 pukul 01.00 WIB.
Banjir Bandang Padang Sidempuan, Sumatra Utara (2017)
Banjir yang melanda Padang Sidempuan, Sumatera Utara pada 2017 terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut, menyebabkan sungai-sungai meluap dan permukiman terendam. Hampir setiap wilayah didaerah tersebut dilanda banjir bandang. Memang sebelum kejadian, wilayah tersebut sudah dilanda hujan deras. Hujan dengan intensitas lama telah membuat Sungai Batang Ayumi meluap dan mengakibatkan banjir bandang. Dalam kejadian tersebut 5 orang meninggal dunia dan puluhan rumah mengalami kerusakan.
Banjir Bandang Sumatra Utara dan Sumatra Barat (2018)
Sejumlah daerah seperti Mandailing Natal, Lingga Bayu, dan Muara Batang Gadis, mengalami banjir bandang hebat pada 2018. Material berat seperti batu besar dan kayu gelondongan terbawa arus, menyebabkan kerusakan serius pada permukiman dan infrastruktur. Banjir bandang terjadi di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal, Sumatra Utara, Sabtu (13/10/2028). Peristiwa itu menyebabkan sedikitnya 13 orang meninggal dunia dan 10 orang lainnya dinyatakan hilang.
Banjir Besar Provinsi Bengkulu (2019)
Sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu dilanda banjir dan longsor pada 27 April 2019 akibat curah hujan ekstrem yang diperparah oleh aktivitas manusia. Kerusakan hutan di hulu sungai, penyempitan daerah aliran sungai, serta pembangunan yang mengurangi daerah resapan air, termasuk proyek tambang dan perumahan, memperparah bencana hingga menimbulkan kerugian sekitar Rp144 miliar, puluhan korban jiwa, dan ribuan warga harus mengungsi.
Dilansir dari BNPB, dampak bencana dari kaji cepat yang dilakukan BPBD Provinsi Bengkulu tercatat 10 orang meninggal dunia, 8 orang hilang, 2 orang luka berat, 2 orang luka ringan, 12.000 orang mengungsi, dan 13.000 jiwa terdampak bencana.
Banjir Bandang Lima Puluh Kota, Sumatra Barat (2020)
Pada 3 September 2020, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, dilanda banjir akibat hujan deras sejak dini hari. Air meluap sekitar pukul 03.00 WIB dan menggenangi Nagari Simpang Sugiran, namun penanganan cepat dari warga dan pihak terkait berhasil mencegah korban jiwa maupun luka.
Informasi yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Lima Puluh Kota, terdapat sebanyak delapan titik longsor pada jalur jalan nasional Sumatra Barat-Riau terdiri dari dua titik di Nagari Harau (Kecamatan Harau), enam titik di Nagari Koto Alam (Kecamatan Pangkalan Koto Baru), dan satu titik di Nagari Maek (Kecamatan Bukit Barisan).
Kita tentu tidak ingin bencana seperti ini terus menerus terjadi. Luka dan trauma yang ditimbulkan sudah terlalu besar, sementara infrastruktur dan perekonomian juga hancur. Mari kita lihat bagaimana negara lain yang juga memiliki risiko bencana alam tinggi bertindak.
Perbandingan Mitigasi Banjir Bandang di Negara Lain
1. Jepang
– Sabo Dam dan Check Dam: Jepang dikenal sebagai pionir pembangunan sabo dam di lereng gunung untuk menahan material longsor dan banjir bandang. Teknologi ini sebenarnya sudah diadaptasi di Sumatera Barat.
– Sistem peringatan dini berbasis teknologi tinggi: Jepang menggunakan sensor curah hujan, radar cuaca, dan sistem komunikasi cepat untuk memberi peringatan ke masyarakat.
– Edukasi masyarakat sejak dini: Anak-anak sekolah rutin mengikuti simulasi evakuasi bencana, sehingga kesiapsiagaan menjadi budaya.
2. Belanda
– Manajemen tata ruang berbasis air: Belanda menata kota dengan kanal, tanggul, dan sistem drainase yang terintegrasi. Prinsip “living with water” diterapkan agar masyarakat tidak sekadar menghindari air, tetapi beradaptasi dengannya.
– Infrastruktur raksasa: Proyek Delta Works menjadi contoh bagaimana teknologi besar bisa melindungi wilayah dari banjir.
– Kolaborasi lintas sektor: Pemerintah, akademisi, dan masyarakat bekerja bersama dalam perencanaan mitigasi.
Rekomendasi Kebijakan untuk Pemerintah Daerah di Indonesia
1. Penguatan Tata Ruang
– Larangan pembangunan di bantaran sungai dan lereng rawan longsor harus ditegakkan dengan sanksi tegas.
– Zona hijau wajib di sekitar sungai dan hutan lindung untuk menjaga daya serap air.
– Audit tata ruang berkala agar pembangunan tidak melanggar prinsip mitigasi bencana.
2. Investasi Infrastruktur Mitigasi
– Pembangunan sabo dam dan check dam di daerah hulu sungai yang rawan banjir bandang.
– Normalisasi sungai dan drainase perkotaan untuk mengurangi risiko luapan air.
– Tanggul darurat dan jalur evakuasi permanen di desa-desa rawan bencana.
3. Sistem Peringatan Dini Terintegrasi
– Sensor curah hujan dan debit sungai dipasang di titik-titik kritis.
– Integrasi data BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah agar informasi cepat sampai ke masyarakat.
– Aplikasi darurat berbasis lokal yang bisa diakses warga untuk mengetahui status sungai dan cuaca.
4. Edukasi dan Partisipasi Masyarakat
– Program simulasi evakuasi rutin di sekolah dan desa rawan banjir.
– Pelatihan relawan lokal untuk penanganan darurat dan evakuasi.
– Kampanye publik tentang pentingnya menjaga hutan dan tidak membuang sampah ke sungai.
5. Pengawasan Lingkungan dan Ekonomi
– Pengetatan izin tambang dan perkebunan yang berpotensi merusak ekosistem hulu.
– Sanksi bagi pelaku pembalakan liar dengan penegakan hukum yang konsisten.
– Insentif ekonomi hijau bagi desa yang berhasil menjaga hutan dan sungai.
Kesimpulan
Sejarah banjir bandang di Sumatra menunjukkan bahwa bencana ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan hasil interaksi antara iklim ekstrem dan kerusakan lingkungan. Dengan kebijakan konkret seperti penguatan tata ruang, pembangunan sabo dam, sistem peringatan dini, edukasi masyarakat, dan pengawasan lingkungan, pemerintah daerah dapat menekan risiko banjir bandang di masa depan.
Baca Juga:

