Pelatih Timnas PSSI Ganti Lagi, Ini Deretan Pawang Bola Indonesia Sejak 1990-an

John Herdman, yang dipilih PSSI untuk menjadi pelatih timnas Indonesia mulai 2026. (foto: kabarjakarta.net)
John Herdman, yang dipilih PSSI untuk menjadi pelatih timnas Indonesia mulai 2026. (foto: kabarjakarta.net)

PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih Timnas PSSI senior dan U-23. Dipilihnya pelatih asal Inggris yang kali terakhir jadi pawang bola Kanada ini sebagai pengganti pelatih asal Belanda, Patrick Kluivert yang diakhiri kontraknya Oktober 2025 lalu.

Penunjukan Herdman sebagai pawang bola Indonesia didasarkan pada catatan kariernya yang mencakup 160 pertandingan internasional resmi, dengan 81 kemenangan, 23 hasil imbang, dan 56 kekalahan, atau persentase kemenangan 50,62% dengan rata-rata 1,66 poin per laga. Data PSSI menyebut salah satu capaian paling menonjol Herdman terlihat pada peningkatan peringkat FIFA Kanada. Saat mulai menangani timnas putra Kanada pada Maret 2018, posisi mereka berada di peringkat 90 dunia.

Dalam empat tahun masa kepelatihan Herdman, peringkat Kanada melonjak hingga ke-33 dunia pada Februari 2022. Posisi itu menjadi peringkat tertinggi sepanjang sejarah sepak bola negara tersebut sebelum Herdman mengakhiri masa tugasnya pada 2023.

Perjalanan karier internasional Herdman dimulai di Selandia Baru pada periode 2001–2011, ketika ia berperan sebagai Regional and National Football Development Director. Pada fase ini, ia terlibat dalam perancangan sistem pembinaan nasional, termasuk Whole of Football Plan 2010, pengembangan kurikulum kepelatihan, dan sistem pengembangan talenta terpadu.

Kesuksesan berlanjut saat Herdman menangani Timnas Putri Selandia Baru dan membawa mereka mencatat sejarah di Olimpiade Beijing 2008 serta Piala Dunia 2011, termasuk meraih gelar juara Oseania 2010.

Ia kemudian memimpin Timnas Putri Kanada sejak 2011, dengan pencapaian antara lain medali emas Pan American Games 2011, medali perunggu Olimpiade 2012 dan 2016, serta peringkat FIFA tertinggi di posisi keempat dunia.

Pada 2018, Herdman dipercaya menangani Timnas Kanada putra dan berhasil mengantarkan mereka lolos ke Piala Dunia 2022 untuk kali pertama sejak 1986, disertai rekor 17 laga tak terkalahkan di kualifikasi. Kanada juga mencetak gol pertama mereka di ajang Piala Dunia dan mencatat jumlah gol internasional terbanyak pada 2021.

Pada 2026, pelatih berusia 50 tahun ini sudah ditunggu agenda padat. Timnas Indonesia akan bersaing di FIFA Series di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada FIFA Match Day 23–31 Maret, dilanjutkan agenda FIFA Match Day pada Juni, September, Oktober, dan November, serta Piala AFF 2026 yang dijadwalkan berlangsung mulai 25 Juli. Sementara itu, sebagai pelatih timnas U-23, Herdman juga akan memimpin Garuda Muda di Asian Games Aichi–Nagoya, Jepang, pada 19 September.

Sementara kita tunggu kiprah Herdman, hasil racikannya, dan tentu saja “kesabaran” PSSI dan warganet penggila bola, yuk kita tengok lagi siapa saja pawang-pawang bola yang pernah menangani timnas sepak bola Indonesia.

Daftar Pelatih Timnas Indonesia (1990–2026)

1. Anatoli Polosin (Rusia, 1991)

Pelatih asal Uni Soviet ini punya ciri memberikan dasar-dasar latihan fisik yang superkeras bagi para pemainnya. Pemain bintang kala itu seperti Fachry Husaini, Ansyari Lubis, hingga Eryono Kasiha yang banyak diunggulkan publik ternyata rontok karena kerasnya gemblengan fisik Polosin.

Namun absennya pemain populer ternyata bisa diisi pemain lain nonbintang seperti Ferry Raymond Hattu, Eddy Harto, Sudirman, hingga Ricky Yakobi. Indonesia pun bisa meraih medali emas sepak bola untuk kali kedua, setelah berhasil mengalahkan Thailand melalui babak adu penalti dengan skor 4-3, di final cabang sepakbola Sea Games 1991, Manila, Filipina.

2. Ivan Toplak (Serbia, 1992-1993)

Sepeninggal Polosin yang mundur setelah sukses di SEA Games 1991, jabatan pawang bola dipegang pelatih lain dari Eropa Timur, Ivan Toplak asal Serbia. Portofolionya kuat karena di masa menangani timnas Yugoslavia dia membawa timnya menembus semifinal Euro U-21 pada 1980 dan mempersembahkan medali perunggu di Olimpiade 1984.

Namun dunia bola Indonesia yang sedang mabuk dengan sukses Polosin pada 1991 membawa beban berat bagi Toplak yang harus membawa timnas Indonesia ke Piala Asia 1992. Pendeknya waktu serta besarnya ekspektasi membuat Ivan Toplak tak bisa menerapkan metode melatihnya yang juga mengandalkan gemblengan fisik dan mental pemain, seperti Anatoli Polosin.

Akibatnya kinerja Indonesia buruk dan gagal tampil di Piala Asia 1992. Bahkan di ajang tak resmi sekelas Piala Kemerdekaan 1992, timnas Indonesia juga mati kutu. Puncak buruknya performa Indonesia terjadi di SEA Games 1993. Skuat Garuda gagal meraih medali karena berakhir di posisi keempat.

3. Romano Matte (Italia, 1993-1995)

Lepas dari gaya keras Eropa Timur, PSSI mencoba strategi baru dengan proyek PSSI Primaverra. Para pemain muda kategori U-19 terbaik se-Indonesia yang terseleksi dikirim berlatih ke Italia dengan visi menjadi fondasi pembentukan tim masa depan. Mereka digojlok di kandang Sampdoria di bawah pawang Romano Matte yang dibantu asisten Danurwindo dan Edward Tjong. Piala Asia U-19 tahun 1994 yang sekaligus menjadi ajang kualifikasi Piala Dunia U-20 menjadi target terdekat.

Sayang, perjalanan ke situ kandas sebelum mencapai semifinal. Namun tim dan pelatih tetap dipertahankan dengan target lanjut masuk kualifikasi sepak bola Olimpiade 1996. Tapi penampilan Garuda Muda malah lebih anjlok setelah gagal lolos di putaran I.

Matte masih diberi waktu memimpin tim senior ke SEA Games 1995. Namun lagi-lagi mereka kandas, gagal lolos ke semifinal. Perjalanan Matte bersama timnas Indonesia pun berakhir.

4. Danurwindo (Indonesia, 1996-1997)

Mantan asisten Romano Matte ini mewarisi tim nasional dengan target terjun ke Piala Asia dan Piala Tiger 1996. Ia sukses membawa Indonesia menjuarai Piala Kemerdekaan 1996 dan meraih medali emas SEA Games 1997 di mana kala itu sepak bola masih menerjunkan tim U-23/proyeksi senior.

5. Henk Wullems (Belanda, 1996-1997)

Kesuksesan membawa Bandung Raya juara Liga Indonesia II membuat Wullems ditunjuk PSSI menangani timnas Indonesia yang mengincar SEA Games 1997. Namun Wullems hanya mampu mengantar Indonesia meraih medali perak.

6. Rusdy Bahalwan (Indonesia, 1997-1998)

Mantan pelatih Persebaya Surabaya yang membawa tim berjuluk Bajul Ijo itu menjuarai Liga Indonesia musim 1996/1997 ini dipercaya memimpin timnas mengincar Piala Tiger 1998. Di turnamen tingkat Asia Tenggara itu Indonesia mencapai peringkat ketiga.

7. Bernad Schumm (Jerman, 1998-1999)

Dia mengantar timnas di ajang SEA Games 1999 dan mempersembahkan medali perunggu.

8. Nandar Iskandar (Indonesia, 1999-2000)

Nandar Iskandar mengantarkan skuad Garuda lolos ke putaran final Piala Asia 2000 di Lebanon setelah tak terkalahkan di babak kualifikasi. Namun, di putaran final Piala Asia 2000, Indonesia gagal lolos dari fase grup karena kalah dari Cina dan Korea Selatan. Selanjutnya Nandar juga mempersembahkan gelar Piala Kemerdekaan 2000 dan membawa timnas Indonesia lolos hingga babak final Piala Tiger 2000, meski Indonesia akhirnya kalah 1-4 dari Thailand.

9. Benny Dollo (Indonesia, 2000-2002)

Pelatih asal Manado yang bersinar menangani sejumlah klub lokal ini menangani timnas menghadapi SEA Games 2001. Namun pelatih kelahiran Manado ini gagal membawa Indonesia juara setelah hanya mampu finis di peringkat keempat. Setelah itu pelatih yang sering dipanggil Bendol ini membawa timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2002. Sayang, timnas kembali kandas.

10. Ivan Kolev (Bulgaria, 2002–2007)

PSSI kembali memilih pelatih asal Eropa Timur melalui tangan Ivan Kolev. Khas gaya Eropa Timur, dia fokus pada kedisiplinan taktik dan fisik. Dia pun berhasil membawa Indonesia tampil kompetitif di Piala Asia 2007 meski hanya sampai fase grup.

11. Benny Dollo (Indonesia, 2008–2010)

Bendol lagi-lagi dipilih membimbing skuad Garuda dan kali ini salah satu hasilnya adalah menang di Piala Kemerdekaan 2008. Benny Dollo juga berhasil mengantarkan skuad Garuda lolos hingga semifinal Piala AFF 2008.

12. Alfred Riedl (Austria, 2010–2011, 2013–2014, 2016)

PSSI kembali berkiblat ke Eropa, kali ini Eropa Barat dengan hadirnya Alfred Riedl. Dia pun mampu membawa timnas Indonesia menjadi runner-up Piala AFF 2010 dan 2016, dan membawa tim ke partai final AFF beberapa kali.

13. Wim Rijsbergen (Belanda, 2011–2012)

Era Alfred Riedl diselingi dengan hadirnya Rijsbergen asal Belanda. Dia berfokus pada proses kualifikasi Piala Dunia 2014, namun kandas dalam perjalanan. Setelah enam bulan menjabat dengan catatan dua kemenangan, tiga kali seri, dan enam kali kekalahan, Wim Rijsbergen dipecat pada Januari 2012.

14. Aji Santoso & Nil Maizar (Indonesia, 2012–2013)

Dua sosok pelatih lokal membina timnas pada masa ini, yang penuh kekacauan karena adanya dualisme pengelolaan liga sehingga menghambat rekruitmen pemain. Tak ada hasil istimewa selama masa itu.

15. Jacksen F. Tiago (Brasil, 2013)

Pelatih yang kemudian menjadi Warga Negara Indonesia ini menangani tim di Kualifikasi Piala Dunia 2014 dan Piala Asia 2015. Keberhasilannya adalah membawa tim Merah Putih menjuarai turnamen kualifikasi menjelang Piala Asia 2015, namun gagal membawa tim ke putaran final Piala Asia.

16. Pieter Huistra (Belanda, 2015)

Tugas Huistra adalah dua pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Asia Grup F melawan Taiwan pada 11 Juni 2015 dan Irak pada 16 Juni 2015. Ketika itu, situasi internal PSSI tengah dilanda konflik. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tidak mengakui hasil Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI. Puncaknya, Menpora Imam Nahrawi menandatangani Surat Keputusan (SK) bernomor 0137 tahun 2015 tentang pembekuan PSSI. Akibat pembekuan itu, PSSI tidak bisa menggelar kompetisi resmi.

Intervensi pemerintah langsung direspons FIFA dengan keras. Setelah dianggap melanggar status FIFA, PSSI mendapatkan hukuman. Larangan mengikuti kompetisi internasional langsung berlaku dan berarti Indonesia tidak bisa melanjutkan kampanye Kualifikasi Piala Dunia 2018 maupun Piala Asia 2019.

Kecuali Timnas U-23 yang masih diperbolehkan ikut SEA Games 2015 di Singapura, semua kegiatan sepakbola dalam kewenangan FIFA, AFC, maupun AFF tidak diizinkan mengikutsertakan Indonesia. Bukan hanya timnas, klub-klub anggota PSSI juga dilarang tampil di kompetisi Asia.

Akibarnya Huistra tidak bisa melaksanakan tugasnya. Sejak ditunjuk menjadi pelatih hingga sanksi FIFA, dia hanya bisa bekerja sebulan. Jangankan menjalani pertandingan, menggelar latihan saja belum. Huistra juga belum sempat memanggil para pemain timnas senior.

17. Luis Milla (Spanyol, 2017–2018)

Ketika Indonesia akhirnya bisa kembali tampil di turnamen internasional, hadirlah Luis Milla. Mantan pemain Barcelona dan Real Madrid ini membawa Timnas Indonesia U22 meraih perunggu SEA Games 2017 dan membawa skuad U23 lolos ke 16 besar Asian Games 2018.

18. Bima Sakti (Indonesia, 2018)

PSSI menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 21 Oktober 2018. Bima dipercaya menangani Tim Garuda untuk menghadapi Piala AFF 2018 silam. Terpilihnya Bima Sakti adalah dampak macetnya negosiasi perpanjangan kontrak antara PSSI dengan Luis Milla. Ia tadinya berstatus sebagai asisten Milla saat menangani Timnas Indonesia di SEA Games 2017 dan Asian Games 2018.

Saat itu timnas Indonesia hanya punya waktu kurang dari dua pekan untuk mempersiapkan diri sebelum terjun di babak penyisihan Piala AFF melawan Singapura pada 9 November. Bima Sakti pun memanggil lebih banyak pemain muda alumnus timnas Indonesia U-23 di Asian Games 2018 dan menambah beberapa pemain senior.

Sayangnya, Timnas Indonesia gagal total. Dalam turnamen yang untuk kali pertama menggunakan sistem setengah home and away di fase grup, Timnas Indonesia gagal memaksimalkan peluang. Timnas Indonesia pun hanya menempati peringkat keempat dari lima tim di Grup B Piala AFF 2018.

11. Simon McMenemy (Skotlandia, 2018–2019)

Simon McMenemy dipercaya melatih timnas Indonesia pada 1 Januari 2009. Sebelumnya, pelatih asal Skotlandia itu sempat mencuri banyak perhatian setelah menangani Filipina. Namun di tangannya Indonesia gagal moncer. Bahkan timnas Indonesia yang awalnya duduk di peringkat 159 FIFA, terjun bebas hingga peringkat 173.

12. Shin Tae-yong (Korea Selatan, 2020–2025)

PSSI menunjuk Shin Tae-yong asal Korea Selatan mengantikan posisi McMenemy. Jika pelatih-pelatih asing sebelumnya dikontrak selama satu atau dua tahun, kali ini PSSI mengontrak pelatih yang membawa timnas Korsel di putaran final Piala Dunia di Rusia 2018 itu selama empat tahun.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia memaksa FIFA menghentikan semua pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 sepanjang tahun 2020 lalu. Akibatnya, Shin pun tak bisa menangani langsung pasukan Garuda selama 17 bulan sejak ia resmi ditunjuk sebagai pelatih timnas Indonesia.

Dia lantas meloloskan Indonesia ke Piala Asia 2023 dan melaju ke 16 Besar AFC Asian Cup untuk kali pertama. Sebagai mantan pemain yang memiliki pengalaman di level internasional, Shin Tae-yong membawa perspektif baru dalam mengelola pemain dan tim.

Dengan filosofi permainan yang disiplin dan terstruktur, ia berhasil membawa Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan, terutama dalam pertandingan-pertandingan kualifikasi internasional.

Dia juga mampu mengubah gaya permainan timnas Indonesia, baik dari segi pertahanan yang lebih solid maupun transisi yang lebih terorganisasi. Di bawah kepemimpinannya, Shin Tae-yong juga dikenal karena kebijakan seleksi pemain yang ketat dan berfokus pada potensi pemain muda.

Shin sukses mengantarkan timnas untuk lolos ke putaran keempat dan menjadi kuda hitam yang bersaing menuju Piala Dunia 2026. Namun khas PSSI yang seperti tak sabar dengan proses, PSSI tiba-tiba mendepaknya pada 2025.

13. Patrick Kluivert (Belanda, 2025)

Pemain legendaris Ajax, Barcelona, dan Newcastle ini menggantikan Shin Tae-yong. Namun dia gagal memenuhi ekspektasi dengan kinerja menang di tiga laga, sekali seri, dan kalah empat kali termasuk di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Usianya pun tak lama dan akhir tahun lalu dia pun diputus kontrak.

Baca Juga:

Kepemimpinan di Tengah Bencana: Perbandingan Strategi Presiden Indonesia dalam Menghadapi Bencana Besar

Tamiang di Aceh, Salah Satu Kerajaan Tertua Nusantara

Share the Post: