Menguak Misteri Aji Galeng, Sosok Pahlawan di Wilayah yang Kini Jadi Ibu Kota Nusantara

Pengunjung beraktivitas di kawasan Istana Negara di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) di Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Jumat (26/12/2025). (Foto: Antara/M. Risyal Hidayat)
Pengunjung beraktivitas di kawasan Istana Negara di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) di Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Jumat (26/12/2025). (Foto: Antara/M. Risyal Hidayat)

Tidak banyak tokoh asal Pulau Kalimantan yang dikenal luas dalam narasi sejarah nasional Indonesia. Mungkin yang kadang terdengar adalah Pangeran Hidayat dari Banjar di era kolonial, atau Tjilik Riwut dari masa perjuangan pascaproklamasi kemerdekaan.

Padahal justru dari wilayah yang kini menjadi lokasi berdirinya Ibu Kota Nusantara (IKN) yaitu Kabupaten Penajam Paser Utara, ada satu sosok yang sangat berpengaruh dan bahkan layak mendapat gelar pahlawan. Dia adalah Aji Galeng. Salah satu keturunannya, Bambang Arwanto bersama penulis Safardy Bora pun menyusun buku Aji Galeng dari Paser Utara: Penjaga Negeri Peletak Peradaban. Buku ini untuk memperkenalkan sosok yang bisa dibilang terlupakan di balik gempita pembangunan IKN.

Seperti diberitakan Antara, Aji Galeng atau yang juga bergelar Panembahan Lambakan adalah sosok penting di wilayah Kalimantan Timur pada abad ke-19. Ia memiliki garis keturunan dari Kesultanan Paser, Kesultanan Kutai Kartanegara, hingga Kerajaan Wajo di Sulawesi.

Aji Galeng lahir pada 1790 dari garis bangsawan Kesultanan Paser dan Kutai. Seperti disebutkan dalam situs kaltimprov.go.id, pada 1819, Sultan Kutai Kartanegara ke-16, Aji Muhammad Salehuddin mengangkat Aji Galeng sebagai panglima perang. Setahun kemudian, ia memimpin pasukan mengusir pasukan Inggris yang merampas kebun rotan dan sarang burung walet di Muara Pahu, Toyu, dan Sepaku.

Pada 1821, Aji Galeng mendapat gelar Panembahan dan ditugasi memimpin wilayah Telake dan Balik yang berpusat di Lembakan. Tugas utamanya bukan hanya menjaga kekayaan negeri, tetapi juga mempersatukan rakyat. Ia berhasil merangkul Suku Dayak Lawangan dan membangun kohesi sosial melalui konsep Diwa Siwi atau Nyempolo. Ini adalah perwujudan gotong royong tanpa pamrih, sebuah etos kerja yang dalam filosofi Jawa disebut sebagai “sepi ing pamrih rame ing gawe”.

Diplomasi Aji Galeng dalam meletakkan dasar kohesi sosial di masyarakat menjadi benteng yang lebih kuat daripada meriam manapun. Hubungannya yang harmonis dengan Kesultanan Kutai Kartanegara dan Kesultanan Paser membuat wilayah Telake-Balik yang menjadi tanggung jawabnya menjadi zona penyangga yang stabil, sekaligus membuktikan bahwa masyarakat lokal memiliki sistem tata kelola pemerintahan yang rapi sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Pada 1825, dia kembali berhadapan dengan pasukan kolonial, kali ini pasukan Belanda. Dia terjun memimpin pertempuran sengit di Sepaku selama 93 hari hingga pasukan Belanda berhasil dipukul mundur. Pada 1880, Aji Galeng bersama cucunya Aji Sumegong selaku Adipati Sepaku sekaligus panglima muda, kembali berhasil menggagalkan ambisi Belanda menguasai wilayah sarang burung walet di Toyu dan Sepaku.

Aji Galeng wafat pada 1882 dan dimakamkan di Lembakan. Namun jejak perjuangan dan semangatnya tetap hidup. Tokoh ini kini dipandang sebagai simbol persatuan, penjaga kekayaan negeri, sekaligus peletak peradaban di tanah yang kini menjadi pusat pemerintahan baru Indonesia.

Di sisi lain, Bambang Arwanto, penulis buku yang merupakan keturunan generasi kelima Aji Galeng, mengaku sempat kesulitan karena minimnya sumber tertulis, sesuatu yang banyak terjadi dalam upaya penulisan sejarah lokal di Indonesia. Dia pun lebih banyak menggunakan sumber lisan atau kisah turun-temurun. Untungnya dalam masyarakat yang tradisi tulisnya tidak atau kurang berkembang, ingatan kolektif tetua adat adalah perpustakaan yang hidup.

“Tantangan bagi penulis adalah memverifikasi memori kolektif tersebut dengan sumber primer sezaman agar narasi tidak terjebak menjadi mitos belaka,” sebut Bambang kepada Antara. Dia pun menegaskan keberadaan buku ini penting agar berdirinya IKN di wilayah yang dulu dipimpin Aji Galeng jangan sampai menghapus ingatan akan sejarah lokal. Apalagi jika ada narasi seolah-olah Kalimantan Timur adalah kanvas kosong yang siap dilukis oleh peradaban baru dari pusat.

“Narasi ini berbahaya karena berpotensi memutus akar sejarah masyarakat setempat,” tukas Bambang.

Nilai-nilai kepemimpinan Aji Galeng yang berbasis pada kearifan lokal dan perlindungan terhadap alam seharusnya menjadi nyawa bagi pembangunan IKN. Bahwa pembangunan kota masa depan tidak boleh mencabut memori masa lalu.

Baca Juga:

Tamiang di Aceh, Salah Satu Kerajaan Tertua Nusantara

Perjanjian Giyanti & Perjanjian Jatisari: Dampak terhadap Keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Warisan hingga Masa Kini

Share the Post: