Setahun MBG Bergulir, Mari Lihat Lagi Cara Jepang Bikin Anak Sekolah Kenyang dan Sehat Lewat Kyushoku

Contoh menu makan siang di sekolah Jepang. (foto: tasteofjapan.com)
Contoh menu makan siang di sekolah Jepang. (foto: tasteofjapan.com)

Sudah lebih kurang setahun ini program MBG alias makan bergizi gratis bergulir di Indonesia. Dan setelah setahun tak henti-hentinya kontroversi soal program ini terus pula bergulir. Mulai dari anggarannya yang dinilai terlalu besar dan menyedot alokasi anggaran pendidikan, masih banyaknya kasus keracunan, serta kualitas dan kuantitas makanan yang disajikan.

Senyampang hal ini terus jadi pembahasan, mari kita melihat kembali seperti apa program yang hampir serupa dengan MBG bergulir di negara lain. Salah satu contoh yang relatif terkenal ada di Jepang. Jepang ternyata sudah melakukannya lebih dari 100 tahun silam.

Program makan siang di sekolah ini disebut Kyushoku. Konon yang kali pertama menggelar program pemberian makan siang untuk anak sekolah ini adalah sebuah sekolah dasar Katolik di Kota Tsuruoka, Prefektur (setara provinsi) Yamagata, pada 1889. Makanan ini terutama diberikan kepada siswa dari keluarga kurang mampu yang tidak bisa membawa bekal ke sekolah.

Karena dinilai bagus, program ini lantas diadopsi oleh sekolah lain. Di masa Perang Dunia II ketika kekurangan bahan pangan yang parah terjadi, program ini terhenti. Baru di akhir perang ketika Jepang takluk, bantuan bahan pangan dan susu dari Amerika Serikat memungkinkan program ini dimulai lagi.

Pada 1950, Undang-undang Makan Siang di Sekolah diterbitkan sebagai dasar dimulainya program makan siang untuk pelajar secara nasional. Dalam undang-undang ini terkandung tujuh tujuan utama, yaitu:

  1. Membina pemahaman yang benar mengenai produksi, distribusi, dan konsumsi makanan
  2. Meningkatkan kesehatan melalui asupan gizi yang layak
  3. Memperdalam pemahaman soal pentingnya makanan harian yang layak dan mengembangkan gaya hidup makan sehat.
  4. Mengembangkan kualitas hidup di sekolah dengan membina semangat dan pola pikir bekerja sama dan bersosialisasi
  5. Memperdalam pemahaman bahwa pola makan yang baik didasarkan pada karunia alam dan lingkungan, membina rasa hormat pada alam dan kehidupan, yang membawa kontribusi pada pelestarian alam
  6. Memberi pemahaman bahwa pola makan yang baik selalu didukung oleh semua pihak yang terlibat sehingga membuat anak mengapresiasi kerja keras dan kerja sama berbagai pihak yang menyiapkan makanan
  7. Memperdalam pemahaman akan budaya kuliner tradisional di daerah masing-masing

Saat ini, program makan bergizi ini sudah diterapkan di sekolah tingkatan SD dan SMP di Jepang. Makanan bergizi juga tak hanya diberikan kepada anak sekolah, tapi guru-guru juga bisa menikmatinya. 

Seperti diungkap di situs Jobs In Japan yang dikutip espos.id, Kyushoku menjadi kesempatan yang menarik minat besar anak-anak sekolah. Sebagian besar siswa memilih untuk makan kyūshoku hingga akhir sekolah menengah pertama.

Makan siang standar pada Kyushoku terdiri atas satu hidangan utama seperti misalnya semur daging, mi, atau sup, makanan pendamping seperti salad, daging tumis atau sayuran, dan sekotak susu murni tanpa tambahan apa pun, kemudian ada buah atau puding kecil untuk hidangan penutup.

Menu yang disajikan pun selalu berubah setiap hari. Misalkan saja, jika hari ini ada ayam goreng, besok menu berganti menjadi sup mi, sup ikan, nasi dengan ikan panggang, kari khas Jepang, dan menu lainnya. Untuk menu makanan penutup juga tak melulu buah dan puding, bisa juga kue atau kudapan tradisional.

Beda lainnya dengan MBG di Indonesia yang disiapkan di “dapur umum” berupa SPPG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, makanan untuk pelajar umumnya disiapkan di sekolah masing-masing dengan proses pengolahan minimal. Sekolah juga punya ahli gizi profesional yang bertugas membuat menu dan menyediakan daftar kebutuhan gizi yang dibutuhkan siswa  sesuai usia.

Lantas, karena berupa “makanan sehat” apakah hidangan kyushoku bakal hambar seperti citra makanan di rumah sakit yang juga punya embel-embel “sehat”?

Jelas tidak. Pengelola sadar bahwa para konsumen mereka yang berusia antara 7 sampai 15 tahun yang butuh stimulasi rasa makanan yang kaya dan bervariasi. Paling tidak, makanan harus disiapkan dengan mempertimbangkan kemungkinan selera anak yang suka pilih-pilih makanan. 

Makan kyushoku biasanya dilakukan di dalam kelas. Meski yang memasak makanan adalah juru masak, namun yang menyiapkan pembagian hidangannya adalah anak-anak sendiri. Siswa sepenuhnya dilibatkan dari mendorong troli makan siang berisi perlengkapan ke kelas dan membagikan makanan.

Di Jepang, makan siang adalah tanggung jawab bersama, para siswa bergantian melayani teman sekelas, dan sifatnya wajib. Siswa yang diberi peran tersebut disebut tantō. Siswa yang tidak terlibat langsung akan berbaris untuk mengambil nampan makanan dan mengantarkannya ke meja teman sekelas mereka.

Kyushoku tak sekadar makan bersama tapi juga mengajarkan tanggung jawab kepada setiap siswa, yang menjadi salah satu dari sekian banyak aspek inklusif dari makan siang sekolah di Jepang. Pendidikan moral merupakan bagian penting dari kurikulum sekolah dasar Jepang, karena di sanalah siswa belajar tentang pembelajaran sosial dan emosional. Tujuannya untuk membentuk anggota masyarakat yang sadar sosial.  Makan siang di sekolah kemudian menjadi kesempatan yang baik untuk mengajarkan anak-anak tentang kesadaran kelompok dan hal-hal yang dapat dicapai melalui kerja sama tim dan keharmonisan.

Nah, yang beda lagi dari MBG di Indonesia, makan siang di Jepang ini tidak gratis. Orang tua siswa di Jepang membayar untuk makan siang di sekolah ini. Nilainya antara Rp400.000-Rp500.000 per bulan.

Baca Juga:

Kepemimpinan di Tengah Bencana: Perbandingan Strategi Presiden Indonesia dalam Menghadapi Bencana Besar

Ada Sentuhan “Asing” dalam Aransemen Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Share the Post: