Pentingnya Belajar Sejarah Bencana Alam Masa Lalu Demi Persiapan Sekarang dan Masa Datang

Anak-anak bermain di antara puing kayu yang terbawa arus banjir dan tanah longsor yang menimbun area pertanian di Desa Toweren Uken, Lut Tawar, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (2//1/2026). (Foto: Antara/Irwansyah Putra)
Anak-anak bermain di antara puing kayu yang terbawa arus banjir dan tanah longsor yang menimbun area pertanian di Desa Toweren Uken, Lut Tawar, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (2//1/2026). (Foto: Antara/Irwansyah Putra)

Di balik keanekaragaman dan keindahan bentang alam Kepulauan Indonesia, ada bencana alam yang selalu mengancam. Pergerakan konstan lempeng-lempeng kerak Bumi mengancam terjadinya gempa bumi dan tsunami, fenomena-fenomena perubahan cuaca dan terjadinya cuaca ekstrem memicu bencana seperti banjir bandang dan tanah longsor. Aktivitas gunung-gunung berapi yang di satu sisi memberikan kesuburan, namun di sisi lain bisa membawa maut juga selalu hadir. Belum lagi dampak dari aktivitas manusia yang mengabaikan penjagaan kelestarian alam memperparah bencana yang terjadi.

Namun kebanyakan bencana alam itu biasa berulang dan bukan hal yang baru kali ini terjadi. Hal ini pun menjadi sorotan Dr. Andi E. Sakya, M. Eng., peneliti di Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam tulisannya di Antara, yang diakses pada Senin (26/1/2026), dia mencontohkan banjir bandang yang terjadi di Sibolga, Sumatra Utara, dan meluluhlantakkan hingga 1.666 lokasi infrastruktur. Banjir bandang ini ternyata pernah terjadi pula pada 25 Juli 1956.

Andi menyebut banjir bandang di Sibolga yang kembali terjadi setelah hampir tujuh dekade menunjukkan risiko ketika bencana yang berulang itu terjadi dalam jangka yang lebih panjang dibandingkan ingatan masyarakat yang mengalaminya. Ketika memori kolektif soal bencana terputus, kerentanan akan terus berlanjut dan bisa jadi tak diantisipasi oleh generasi yang tinggal di wilayah itu.

Generasi yang lahir setelah sebuah bencana besar tumbuh di ruang yang sama, tetapi tanpa pengalaman langsung, tanpa trauma, dan sering kali tanpa cerita. Risiko pun menjadi sesuatu yang “tidak hadir” dalam keseharian. Sampai kembali muncul dengan daya rusak yang sama, atau bahkan lebih besar.

Andi mengutip Anett Fekete yang menyebut adanya kurva pelupaan (forgetting curve), yang merujuk pada pendekatan psikologis oleh Ebbinghaus (1885) yang meneliti soal proses penurunan daya-ingat seiring dengan bertambahnya waktu. Jika dikaitkan dengan isu kebencanaan, forgetting curve menurut Andi bisa diantisipasi dengan proses pelatihan, penyadaran, serta pengembangan katalog peristiwa ekstrem. Ingatan sosial kebencanaan membutuhkan “maintenance penguatan”, persis sama dengan infrastruktur fisik.

Indonesia juga sebenarnya punya success story soal manfaat ingatan kolektif yang turun-temurun. Sejumlah komunitas selamat dari peristiwa bencana justru karena ingatan yang dijaga lintas generasi. D zaman modern, hal ini terjadi saat tsunami Aceh 2004 melanda dengan ratusan ribu korban jiwa.

Di Pulau Simeulue yang dekat dengan titik pusat bencana, ribuan orang warga lokal justru selamat karena satu kata yang diwariskan turun-temurun: Smong. Ini pengetahuan lokal yang sederhana; jika gempa besar terjadi dan laut surut, segera lari ke tempat tinggi.

Smong seperti disebutkan dalam budayaaceh.com merupakan istilah lokal dalam masyarakat Simeulue, Kabupaten Simeulue, untuk menyebutkan fenomena alam berupa gelombang sangat besar yang menghantam daratan atau yang sekarang dikenal dengan sebutan tsunami. Smong disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui cerita, Nanga-Nanga, Sikambang, dan Nandong (seni tradisional Simeulue).

Pengetahuan Smong inilah yang mengantarkan masyarakat Simeulue dapat meminimalkan jumlah korban jiwa saat tsunami akhir 2004 silam. Smong adalah bentuk kearifan lokal pemahaman budaya yang telah mengalami proses pengendapan bertahun-tahun dalam memori kolektif masyarakat Pulau Simeulue. Karena telah menjadi memori kolektif maka smong telah menjadi bagian dari jati diri masyarakat Simeulue. Potongan syair tentang itu dapat ditemukan pada senandung pengantar tidur anak-anak di Pulau Simeulue.

Istilah smong dikenal masyarakat Simeulue setelah tragedi tsunami pada Jumat, 4 Januari 1907. Saat itu masyarakat Simeulue belum mengetahui fenomena tsunami ini. Laut yang tiba-tiba surut pascagempa menjadi daya tarik bagi masyarakat pesisir pantai, karena banyak ikan terdampar. Sebagian besar penduduk pesisir berlarian ke arah pantai dan berebut ikan-ikan yang terdampar tersebut, namun secara mengejutkan tiba-tiba kemudian datanglah gelombang air yang menderu-deru dari arah laut lepas, menyapu masyarakat di pantai. Yang selamat menjadi saksi mata atas kejadian smong dan menuturkannya untuk generasi mendatang agar berhati-hati terhadap kejadian serupa.

Cerita serupa berupa kearifan lokal pemahaman bencana juga ditemukan di Mentawai dengan Simouk Matau (“ke bukit”), di Bima dengan Soromandi Ngalu (“bergerak ke kawasan hutan”) saat banjir bandang. Adaptasi juga terjadi pada struktur sosial dan arsitektur tradisional seperti bangunan Tongkonan Layuk di Sulawesi yang terbukti lebih aman terhadap gempa dan fenomena likuefaksi atau naiknya air tanah ke permukaan akibat gempa yang “melarutkan” tanah di permukaan.

Semua contoh ini memiliki satu kesamaan penting: ketangguhan tidak dibangun secara instan, melainkan diwariskan. Ia hidup dalam ingatan kolektif, dipelihara melalui praktik sosial, dan diperbarui dari generasi ke generasi. Ketangguhan, kata Andi, bukan hanya atribut individu atau hasil intervensi teknis, melainkan proses sosial jangka panjang yang memungkinkan generasi muda “meminjam pengalaman” dari generasi sebelumnya. Dalam konteks ini, orang tua, tetua adat, dan komunitas bukan sekadar penyintas masa lalu, tetapi penyangga dan penjaga memori risiko.

Tanpa proses pewarisan ini, masyarakat berisiko terjebak dalam risk normalization alias menormalkan ancaman. Mereka hidup berdampingan dengan ancaman, namun tanpa disertai kewaspadaan yang memadai. Adaptasi menjadi reaktif, bukan reflektif, apalagi transformatif yang menjangkau masa depan generasi yang datang kemudian. Ketangguhan menjadi rapuh, tidak tumbuh, dan meluruh.

Ketangguhan Berbasis Lokalitas

Konteks bencana pada hakikatnya bersifat sangat lokal. Ancaman yang dihadapi masyarakat pesisir berbeda dengan masyarakat lereng gunung, dataran banjir, atau kota yang mengalami penurunan muka tanah. Karena itu, Andi mengingatkan, ketangguhan tidak bisa dibangun melalui satu resep universal (one fits for all).

Unit sosial terkecil seperti dusun, kampung adat, nagari, kelurahan, menjadi kunci. Di tingkat ini relasi antargenerasi berlangsung secara alami, pengetahuan lokal terjaga hidup, dan keputusan kritis saat bencana benar-benar dibuat, diterapkan, dan diuji.

Potensi terulangnya bencana yang tidak diantisipasi secara lintas generasi juga berkontribusi pada terperangkapnya kelompok rentan dalam lingkaran kemiskinan. Masyarakat miskin sering kali tidak memiliki pilihan selain tinggal dan beraktivitas di ruang-ruang berisiko tinggi seperti bantaran sungai, pesisir rendah, dan lereng curam. Bencana pun menjadi bagian lingkaran kemiskinan.

Setiap kejadian bencana menghancurkan sarana dan prasarana perekonomian dan melemahkan kemampuan ekonomi dan sosial yang berlanjut lintas generasi. Tanpa mekanisme ketangguhan yang diwariskan, bencana menjadi faktor penguat kemiskinan struktural, bukan sekadar gangguan sementara.

Andi pun menegaskan jika masyarakat pada tingkat paling rentan tetap siaga, sadar risiko, dan memiliki mekanisme pewarisan pengetahuan lintas generasi, maka ketangguhan nasional sesungguhnya sedang terbangun dari bawah. Ketangguhan nasional bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan hubungan erat terakumulasinya secara sosio-kultural ribuan komunitas lokal yang memahami ancaman di sekitarnya dan tahu bagaimana meresponsnya.

Ketangguhan berbasis komunitas juga memerlukan dukungan yang melibatkan berbagai pelaku yaitu akademisi (periset, peneliti, perekayasa), pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, dan komunitas itu sendiri. Peran pemangku kepentingan di luar komunitas bukan untuk menggantikan inisiatif lokal, melainkan untuk menyediakan kerangka panduan yang mudah dipahami, memfasilitasi pembelajaran lintas wilayah dan lintas generasi, serta memastikan bahwa upaya lokal terhubung dengan sistem formal seperti pendidikan, perencanaan wilayah, dan peringatan dini.

Pengalaman negara-negara yang relatif tangguh seperti Jepang, Cile, dan Meksiko menunjukkan bahwa ketangguhan nasional yang kuat selalu bertumpu pada komunitas lokal yang sadar risiko, didukung oleh negara dan pengetahuan ilmiah (berbasis sains dan teknologi), serta tetap berakar pada konteks sosial-budayanya.

Dalam era perubahan iklim dan meningkatnya ketidakpastian, ketangguhan tidak lagi cukup dipahami sebagai kemampuan “bangkit kembali lebih baik”. Ia perlu dimaknai sebagai kemampuan untuk terus belajar lintas generasi, beradaptasi lintas waktu, dan hidup berdampingan dengan risiko secara sadar dan bermartabat.

Baca Juga:

Banjir Bandang Selalu Jadi Momok, Butuh Mitigasi yang Lebih Serius

Kepemimpinan di Tengah Bencana: Perbandingan Strategi Presiden Indonesia dalam Menghadapi Bencana Besar

Share the Post: