SariWangi Ganti Pemilik, Begini Sejarah Pelopor Teh Celup di Indonesia

Ilustrasi produk teh SariWangi (Foto: MNC Group)
Ilustrasi produk teh SariWangi (Foto: MNC Group)

Penikmat teh pasti tahu merk Sariwangi yang terkenal dengan produk teh celupnya. Jenama ini sekarang tengah dalam proses pemindahan kepemilikan, dari perusahaan raksasa produk konsumsi PT Unilever Indonesia Tbk. ke Grup Djarum. Seperti diberitakan bisnis.com penandatanganan pengalihan bisnis telah dilakukan pada Selasa (6/1/2025) lalu. dan kini Unilever bersiap melepas merek yang telah menahun berkontribusi terhadap pendapatan perseroan.

Mari kita ulik dulu sejarahnya. Nama Sariwangi tak bisa dipisahkan dari Johan Alexander Supit, pria kelahiran 5 September 1932 di Tondano, Sulawesi Utara. Johan mengukir kariernya di sejumlah perusahaan teh internasional seperti Peek, Frean & Co. Ltd dan Joseph Tetley & Company.

Hal itu memberi pengetahuan dan pengalaman baginya dalam industri pengemasan teh. Johan pun mulai memproduksi teh sendiri pada tahun 1962 di pabrik di kawasan Palmerah, Jakarta. Pada 1967, Johan memperkenalkan produk  teh kantong pertama di Indonesia. Ini adalah inovasi baru karena selama itu teh biasanya dikemas dalam bungkus plastik atau kertas, dan disajikan dalam wujud teh tubruk atau di-cong di teko. Karena lebih praktis dibandingkan teh tubruk, produk ini dengan cepat populer.

Akhirnya pada 1972, Johan resmi memperkenalkan teh kemasan kantong, yang diberi nama Teh Celup. Setahun kemudian, pada tahun 1973, merek tersebut berganti menjadi SariWangi di bawah PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA).

Di masa kejayaannya, sekitar 1985, SariWangi tak hanya menguasai pasar Indonesia tetapi juga mulai menjelajah ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, Timur Tengah, dan Rusia.

Pada tahun 1989, SariWangi menjalin kerja sama dengan Unilever. Kerja sama itu membuat Unilever bertindak sebagai distributor. Namun, kerja sama ini berujung pada akuisisi merk SariWangi oleh Unilever. Johan memutuskan untuk menjual merek tersebut karena merasa kesulitan bersaing dengan perusahaan teh global seperti Lipton.

Namun keberadaan teh celup sebenarnya sudah ada jauh sebelum itu. Pada pergantian abad ke-19 ke abad ke-20, Thomas Sullivan, seorang pedagang teh dan kopi dari New York, mengirim sampel teh dalam kantong sutra kecil kepada para pelanggannya. Sullivan menggunakan kantong sutra karena alasan ekonomis. Jika harus dikemas dengan kaleng seperti kelaziman saat itu biaya pembuatannya lebih mahal dan teh yang dikemas juga harus lebih banyak.

Namun maksud kepraktiksan Sullivan ini ditanggapi berbeda oleh pelanggannya. Mereka mengira itu cara baru menikmati teh sehingga kantung kain kemasan berisi teh itu langsung saja ditaruh di teko dan diguyur air panas. Ternyata mereka menyukai cara ini karena lebih praktis.

Teh celup alias teh yang dikemas dalam kantung-kantung kecil itu pun segera populer dan akhirnya mulai dipasarkan secara komersial pada 1904. Hal ini pun lantas menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Sementara terkait perubahan kepemilikan jenama SariWangi, penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis (Business Transfer Agreement /BTA) sudah dilakukan Unilever bersama pembeli, yaitu PT Savoria Kreasi Rasa milik Grup Djarum dengan harga senilai Rp1,5 triliun. “Kami yakin transaksi ini akan memperkuat posisi bisnis SariWangi untuk fase pertumbuhan berikutnya. Langkah ini sekaligus mempertajam fokus Unilever Indonesia pada segmen utama yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dan menegaskan komitmen kami untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham,” kata Presiden Direktur Unilever, Benjie Yap, dalam keterangan yang dikutip bisnis.com, Rabu (7/1/2026).

Manajemen Unilever menegaskan bahwa transaksi ini tidak akan memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kelangsungan usaha Unilever. Nantinya, penyelesaian transaksi direncanakan terlaksana pada 2 Maret 2026.

Baca Juga:

Setahun MBG Bergulir, Mari Lihat Lagi Cara Jepang Bikin Anak Sekolah Kenyang dan Sehat Lewat Kyushoku

Mahesa Lawung, Ritual Keraton Solo untuk Keselamatan Negara

Share the Post: