Pemberontakan di Kapal Perang Belanda De Zeven Provinciën: Tindakan Potong Gaji yang Menuai Aksi (Bagian I)

Kapal perang Hr. MS De Zeven Provincien dalam foto tahun 1927. (Foto: Leiden University Libraries)
Kapal perang Hr. MS De Zeven Provincien dalam foto tahun 1927. (Foto: Leiden University Libraries)

Yang namanya efisiensi, apalagi sampai potong gaji, jarang bisa diterima dengan besar hati. Bahkan saking sakit hatinya, sejumlah awak kapal perang Belanda De Zeven Provincien, nekat berontak dan membawa kabur kapal perang itu demi memprotes aksi potong gaji oleh pemerintah.

Peristiwa ini terjadi pada 1933. Latar belakang masalahnya adalah krisis ekonomi dunia yang sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya pada masa itu. Banyak perusahaan besar bangkrut, pajak seret, pengangguran di mana-mana, membuat pemerintah di berbagai negara puyeng. Salah satu jalan untuk mengatasinya adalah efisiensi alias penghematan. Belanja negara dicoba dikurangi, salah satunya dengan memotong gaji pegawai pemerintah, tak terkecuali gaji tentara.

Mengutip buku De Zeven Provinciën: Ketika Kelasi Indonesia Berontak (1933) yang ditulis J.C.H. Blom dan Elly Touwen-Bouwsma terbitan LIPI Press, 2015, rencana pemotongan gaji tentara ini tentu direspons buruk. Personel Angkatan Laut (AL) Belanda di Hindia Belanda kala itu terdiri atas dua golongan yaitu yang beretnis Belanda dan etnis pribumi. Diskriminasi pun muncul dalam konsep potong gaji ini yaitu awak kapal beretnis Belanda atau Eropa dipotong gaji 14%, sementara awak kapal pribumi dipotong gaji 17%.

Wacana potong gaji ini mendapat sentimen negatif, bahkan dari kalangan pimpinan AL Belanda khususnya di Hindia Belanda (Indonesia) sendiri yang menilai bahwa hal tersebut akan mengurangi kelayakan hidup personel militer. Para pimpinan AL beralasan, penugasan di Hindia Belanda membutuhkan biaya besar, tak hanya bagi anggota AL yang harus berpindah tempat dengan jarak jauh, namun juga keluarga yang ditinggalkan.

Sementara di kalangan pelaut pribumi, diskriminasi potong gaji ini menambah diskriminasi yang selama itu sudah mereka alami, seperti pembedaan ransum makan harian dari awak kapal etnis Belanda/Eropa. Apalagi soal gaji, karena gaji awak kapal etnis Belanda/Eropa dua kali lebih tinggi dari gaji personel pribumi sementara potongan gaji personel pribumi lebih besar.

Faktor merebaknya semangat nasionalisme di Hindia Belanda menurut sejumlah peneliti juga turut menyumbang pada pecahnya aksi pemberontakan yang dilakukan oleh awak kapal pribumi, walaupun pengaruh itu lebih ke soal keasadaran memperjuangkan martabat kemanusiaan, bukan menjadi motivasi untuk menyuarakan kemerdekaan nasional. Kita tahu pada 1928 berlangsung Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda, dan di mana lagu Indonesia Raya untuk kali pertama diperkenalkan oleh sang penggubah, Wage Rudolf Supratman.

Kembali ke situasi perekonomian. Kondisi pada pergantian dekade 1920-an ke 1930-an secara global memang cukup tegang. Di Eropa dan Amerika pergerakan serikat buruh makin marak memperjuangkan kesejahteraan. Aksi mogok kerja dan protes sering terjadi.

Dinamika serikat buruh yang sama juga terjadi di lingkup personel AL Belanda di wilayah Hindia Belanda, khususnya di Surabaya yang menjadi pangkalan AL terbesar. Berulang kali serikat pekerja AL menggelar rapat umum, perundingan dengan para pimpinan AL, dan melakukan protes yang makin merebak di akhir 1932, menjelang rencana pemberlakuan pemotongan gaji pada Januari 1933.

Puncak aksi terjadi pada akhir Januari 1933, ketika puluhan personel “bule” AL Belanda mogok kerja. Ancaman dan paksaan membuat sejumlah orang mengakhiri aksi, namun yang masih menolak akhirnya ditangkap dan ditahan. Terdorong oleh aksi ini, ratusan personel pribumi juga menyusul mogok kerja sehingga kemudian 450 orang ditangkap dan dipenjarakan pula. Penangkapan-penangkapan ini, dan sikap resmi pemerintah untuk menunda pemotongan gaji, membawa kesan tenang di kalangan AL Belanda, setidaknya yang terlihat di permukaan.

Sementara itu, di tengah “situasi kebatinan” yang “panas dalam” itu, AL Belanda di Hindia Belanda tetap berupaya menjalankan operasi rutinnya. Dari pangkalan utama di Surabaya, sejumlah kapal tetap ditugaskan seperti biasa untuk sejumlah kegiatan seperti latihan dan patroli.

Salah satunya adalah Hr. MS (Hare Majesteit Schip) De Zeven Provincien, yang angkat jangkar dari Surabaya pada 2 Januari 1933 untuk penugasan pelayaran latihan dan anjangsana unjuk kekuatan ke sejumlah wilayah di Sumatra. Dengan bobot 6.530 ton dan panjang 101,50 meter serta lebar 17,10 meter, ini adalah salah satu kapal perang terbesar di jajaran AL Belanda yang bertugas di Hindia Belanda.

Namun untuk ukuran tahun itu, De Zeven Provincien sudah tergolong kapal tua karena dibangun pada 1908 dan sudah dua kali naik dok untuk perawatan skala besar pada 1919 dan 1920. Pesatnya perkembangan teknologi kapal perang yang dipicu Perang Dunia I pada 1914-1918 telah membuat kapal itu dan yang seangkatan dengannya cepat ketinggalan zaman. Meski punya dua meriam utama berkaliber 279 mm yang merupakan meriam kapal terbesar di Hindia Belanda, namun sistem pembidikannya sudah ketinggalan zaman dan tidak akurat. Kapal itu juga tidak punya senjata untuk pertahanan dari serangan udara.

Karena itu De Zeven Provincien lebih difungsikan sebagai kapal latih tempat praktik para siswa sekolah kejuruan pelaut pribumi (Kweekschool voor Inlandse Schepelingen, KIS) setelah mereka menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah yang terletak di Makassar itu. Dalam pelayaran kali ini, De Zeven Provincien diawaki 141 personel etnis Belanda/Eropa dan 256 personel pribumi, 80 orang di antaranya siswa KIS.

Selain menjadi kapal latih, ada julukan tak resmi bagi Zeven yaitu “kapal hukuman.” Meski secara resmi sebutan itu tidak diakui, namun menurut sejumlah informasi sejumlah personel AL yang kinerjanya dinilai kurang bagus atau tidak disiplin dialihtugaskan ke kapal itu untuk dididik ulang atau memperbaiki diri.

Dua orang “bermasalah” di antaranya kemudian menjadi tokoh yang terlibat dalam pemberontakan. Yang pertama adalah Kopral Maud Boshart yang bertugas di kamar mesin. Dia tercatat sebagai pengurus serikat buruh AL. Dalam rapat-rapat serikat buruh di Surabaya yang membahas rencana pemotongan gaji oleh pemerintah, Boshart disebut termasuk salah satu tokoh yang paling vokal menentang. Yang lainnya adalah Kelasi Kelas Satu Martin Paradja, yang disebut pernah berhubungan dengan kelompok pejuang nasionalis Indonesia.

Komandan Zeven, Letnan Kolonel Laut P. Eikenboom, sebenarnya sudah mendapat informasi mengenai catatan masalah dua orang ini. Namun untuk Paradja, ada kemungkinan tidak banyak informasi yang disampaikan. Letkol Eikenboom sendiri menurut sejarawan J.C.H. Blom berdasarkan kesaksian sejumlah orang adalah perwira yang baik, ramah, dan cenderung populer di kalangan personel bawahan. Dia sendiri menilai kondisi di kapalnya baik-baik saja meski ada keresahan di kalangan pelaut pada umumnya soal rencana pemotongan gaji itu.

Sebenarnya, pimpinan AL di Surabaya sudah berpikir untuk mengantisipasi konflik yang mungkin pecah di kalangan personel. Antara lain dalam apel komandan kapal dan kesatuan di Surabaya pada 31 Desember 1932, salah satu antisipasi yang diperintahkan dilakukan adalah agar seluruh perwira membawa senjata api saat dinas. Namun Eikenboom dalam pelayaran kali ini memilih tidak menjalankan perintah itu. Dalam pikirannya saat itu, toh sudah ada pengumuman penundaan pemotongan gaji, sehingga seharusnya takkan ada gejolak. Dia dalam apel pasukan sebelum berangkat juga menyampaikan secara langsung soal itu, dan berpesan agar suasana di kapal tetap dijaga.

Dalam kenyataannya, suasana di kapal selama pelayaran ke Sumatra cenderung kurang kondusif. Seorang awak kapal pribumi, Pelupessy, dalam catatan yang kemudian dikutip sejarawan Elly Touwen-Bouwsma, menyebut para perwira Belanda sepertinya terus berusaha mengalihkan perhatian awak kapal khususnya pribumi dari isu pemotongan gaji dan isu sejenis.

Tiap kali kapal singgah di suatu pelabuhan, selalu ada agenda parade militer atau pertandingan olahraga. Saat kapal singgah di Padang, pecah pertengkaran antara sejumlah perwira dengan awak kapal. Sementara saat kapal singgah di Sibolga, para awak kapal ogah saat diminta ikut main sepak bola persahabatan melawan kesatuan militer setempat. Baru setelah mereka diancam bahwa permainan itu adalah bagian dari tugas resmi, bukan sukarela, para awak baru mau turun bermain meski lalu kalah 10-0. “Kami terus-menerus dibuat sibuk sehingga tidak sempat memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan, yang dapat membahayakan,” sebut Pelupessy.

Dia menilai semua upaya itu tidak memperbaiki suasana. Akses ke minuman keras longgar sehingga selalu saja ada yang mabuk dan berkelahi. “Makanan bagi awak pribumi buruk. Namun, menurut para perwira Belanda makanan itu sangat enak, jadi kami pun tetap harus memakannya,” tulisnya.

Suasana Internal Memanas

Ketika kapal akhirnya tiba di Sabang, pulau di utara Aceh, menjelang akhir Januari 1933, kondisi tak juga membaik. Kabar soal aksi-aksi protes personel AL di Surabaya termasuk penangkapan dan penahanan para pelaku protes mencapai para awak Zeven, baik lewat berita radio di kapal atau koran lokal.

Saat itu salah satu awak pribumi asal Timor, Julian Hendrik, berhasil mendapat izin polisi untuk meminjam sebuah bioskop dengan alasan merayakan Lebaran pada 28 Januari. Fakta bahwa Hendrik seorang Kristen namun meminta izin untuk membuat perayaan hari raya Islam bagi awak kapal dan diizinkan tentu menarik. Dalam acara itu hadir 170 awak pribumi dan kira-kira 30 awak Belanda.

Pertemuan ini langsung dimanfaatkan Hendrik untuk berpidato menyuarakan pentingnya kerja sama seluruh personel AL demi perbaikan nasib. Kebanyakan awak Belanda tidak setuju dengan cara memberontak untuk menentang pemotongan gaji, tetapi mereka tetap menyetujui aksi pembangkangan atau pemogokan. Para hadirin pun kemudian menyanyikan lagu serikat buruh. Seorang perwira polisi yang tadinya memantau pertemuan tapi lalu harus pergi karena ada laporan kebakaran di tempat lain, saat kembali menyaksikan lagu serikat buruh dinyanyikan. Dia lalu membubarkan pertemuan itu.

Tak hanya itu, pengurus serikat buruh AL cabang kapal Zeven yaitu Serikat Awak Kapal Angkatan Laut  (Bond van Marineschepelingen) pada 31 Januari mengundurkan diri dengan alasan ketegangan di kapal. Pengurus dua serikat pekerja pribumi,  Serikat Kelasi Pribumi (Inlandse Matrozen Bond) dan Serikat Kelasi Pribumi Kristen (Christelijke Inlandse Matrozen Bond) juga menghadap komandan kapal dan menyatakan mundur dari kepengurusan. Mereka beralasan pascaaksi protes dan penangkapan di Surabaya, sepertinya semua pihak lepas tangan.

Pengunduran diri ini dikabarkan ke pengurus serikat awak kapal di Surabaya lewat telegram. Menanggapi langkah itu, Pengurus Serikat Awak Kapal Angkatan Laut Anak Buah Kapal cabang Surabaya pada 2 Februari membalas dengan telegram yang menyebut kepengurusan di kapal Zeven harus dipertahankan. “Pengurus tak mungkin membiarkan aksi ilegal. Pengurus pusat tetap dipertahankan, kepala tetap dingin apa pun berita pers,” sebut telegram itu. Meski begitu pengurus cabang De Zeven Provinciën tetap pada keputusan untuk mundur.

Sementara itu gejolak yang terus terjadi dirasakan oleh para pemimpin AL di Batavia (Jakarta) dan   Surabaya. Pada  27  Januari, komandan pangkalan AL di Surabaya mengirim telegram ke komandan  De  Zeven  Provinciën memintanya menjaga ketat akses ke perangkat komunikasi. Pada 2 Februari, Panglima AL di Batavia juga mengirim pesan meminta kewaspadaan ditingkatkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan insiden.

Namun komandan Zeven, Letkol Eikenboom, bergeming dan tetap tak mengambil tindakan apa pun. Terkait Kopral Maud Boshart yang dilaporkan vokal di serikat buruh, dia memang memberi perhatian lebih, namun menurut dia tak ada masalah. Terkait pengamanan akses ke ruang komunikasi, memang ada pengetatan, namun toh operator radio J.B. Mervel tetap bisa memperlihatkan sejumlah telegram dinas ke awak lain termasuk Boshart, bahkan meski komandan kapal belum sampai membacanya. Dengan begitu semua berita dan laporan mengenai aksi-aksi protes dan pembangkangan oleh para personel AL di Surabaya yang menolak pemotongan gaji bisa tersampai dan terpantau.

Pada 30 Januari berita tentang pemogokan personel AL di pangkalan Surabaya disebarkan oleh Boshart. Kapal perang lain, Java, ternyata juga menyiarkan kabar ini termasuk nama para pelaku mogok. Sudah tidak ada lagi cara untuk menahan berita ini mencapai para awak.

Atas dorongan dari Martin Paradja, Hendrik dan kelasi lain, Gosal, saat jam makan mengumumkan kepada para siswa KIS yang ikut berlayar di Zeven tentang kondisi buruk yang terjadi selama ini dan adanya kemungkinan untuk memperbaiki keadaan. Terkait kondisi di kapal itu sendiri, yang dikeluhkan selama ini adalah buruknya makanan yang membuat suasana makin tak kondusif. Para awak kemudian menyampaikan protes resmi kepada komandan kapal mengenai hal-hal yang mereka keluhkan. Namun protes ini tak digubris.

Entah apa alasan Eikenboom tidak bertindak meski ulah awak kapal tentu dilaporkan kepadanya. Bisa ditafsirkan sang komandan cenderung “cari aman” dengan tidak memperlihatkan sikap terlalu tegas melalui penegakan aturan secara keras. Dalam pendapatnya pribadi, kondisi terlalu ketat justru bisa berdampak provokatif ke awak kapal.

Dalam situasi ini, ketika awak kapal terus menerima kabar soal pergolakan di Surabaya dan penahanan para personel AL yang terlibat aksi mogok dan protes, pemikiran untuk memberontak demi menunjukkan solidaritas pada para personel AL yang ditangkap makin meruyak. Momentum ini didapat ketika Zeven kemudian sandar di Pelabuhan Ulee Lheue atau Ulele/Olele di Kutaraja (kini Banda Aceh, Aceh) pada 3 Februari 1933.

Saat itu komandan kapal Letkol Eikenboom kembali berbicara saat apel. Dia menyebut ada pemogokan di Surabaya oleh para personel AL. Dia berharap contoh buruk itu tidak diikuti oleh para awak kapalnya karena itu adalah hal yang sangat disesalkan dan dia bertanggung jawab penuh. Setelah itu dia memerintahkan para perwira mengoordinasikan pesta dan rekreasi untuk seluruh awak kapal. Dia berharap hal itu cukup memberikan hiburan dan pengalihan dari masalah pemogokan dan penangkapan anggota AL di Surabaya.

Akan tetapi Paradja, Rumambi, Gosal, Kawilarang, Hendrik, dan dua orang lantas berunding untuk mematangkan aksi pemberontakan dan merebut kapal. Mereka berhasil menggelar rapat di sebuah bioskop. Sebanyak 20 awak pribumi hadir dalam pertemuan. Disepakati bahwa dalam pemberontakan itu, kapal akan dikuasai, lalu dilayarkan pulang ke Surabaya untuk menuntut pembebaskan seluruh anggota AL yang ditahan akibat ikut serta dalam aksi protes dan mogok kerja.

Awak kapal Belanda, Kopral Boshart yang juga hadir dalam pertemuan itu menambahkan motivasi baru. Dia menegaskan bahwa awak pribumi punya kemampuan, bukan sekadar jadi kacung atau jongos. “Inilah saatnya kalian memperlihatkan bahwa kalian dapat mengemudikan kapal,” tegas Boshart seperti kesaksian Pelupessy.

Pembagian tugas pun dilakukan. Kawilarang akan mengemudikan kapal, Paradja mengurus persenjataan, Gosal bertanggung jawab atas keamanan di kapal, dan Boshart menjadi pemimpin kamar mesin mesin. Aksi direncanakan dilakukan pada 4 Februari malam, memanfaatkan situasi kapal. Memang sebagaimana kebiasaan protokoler, selalu ada acara penyambutan dari para pejabat lokal dan pesta santai di klub hiburan militer setempat. Sebagian besar perwira dan para awak kapal sebenarnya malas ikut. Namun komandan Eikenboom menegaskan bahwa sebagai tamu mereka harus menunjukkan sopan santun kepada tuan rumah. Sabtu sore 4 Februari itu dia pun turun ke darat bersama 10 perwira termasuk perwira pelaksana atau orang kedua di kapal, C.  Meijer.

Sebenarnya, saat itu isu bakal terjadinya pemberontakan sudah makin kencang dan diketahui ketua pengurus Serikat Awak Kapal AL cabang Zeven, Kopral Van Haastrecht. Dia bermaksud melapor langsung ke Eikenboom, namun gagal bicara secara empat mata. Mau lapor ke wakil komandan dia enggan karena sang perwira suka bersikap kasar kepadanya.

Akhirnya sekitar pukul 19.30 Van Haastrecht yang turun ke darat bertemu seorang inspektur polisi yang sudah dikenalnya. Dia menitipkan pesan soal kekhawatirannya terkait isu pemberontakan itu agar disampaikan langsung ke komandan Zeven yang saat itu masih bertandang ke rumah panglima militer setempat.

Kabar itu akhirnya tersampai, dan sekitar pukul 21.00 saat komandan Eikenboom tiba di klub militer, dia membicarakan laporan itu bersama wakilnya. Mereka berdua menilai laporan itu terlalu mengada-ada, apalagi karena sumbernya adalah Van Haastrecht yang punya reputasi suka mabuk. Meski begitu mereka berdua lalu memerintahkan seorang perwira muda, J.W.  Reynierse, untuk kembali ke kapal dan menyampaikan laporan itu ke perwira penanggung jawab kapal.

Aksi Dimulai

Pada saat yang sama, para awak pribumi sebenarnya sudah mulai bergerak di bawah pimpinan Kelasi Martin Paradja dan Josias Kolondam Kawilarang. Paradja berhasil mendapatkan kunci lemari senjata dan amunisi. Namun saat membuka dan mengambil isinya, dia dipergoki seorang perwira Belanda sehingga terpaksa kabur. Situasi jadi sedikit lepas kontrol dan saat itu Kawilarang menyerukan komando dimulainya pemberontakan, lebih awal dari rencana.

Para awak pribumi segera menguasai lemari senjata dan amunisi, sementara sejumlah orang lainnya masuk ke ruang mesin. Sejumlah awak kapal yang berjaga di ruang mesin menyatakan dukungan atas gerakan itu, sementara sejumlah lainnya memilih diam. Dengan ini mesin pun dihidupkan dan kapal disiapkan untuk berlayar.

Sementara itu perwira  piket  H.L. van Boven dan perwira penanggung jawab kapal, Fels, sudah menerima laporan adanya upaya pembobolan lemari senjata. Namun entah kenapa mereka tidak bertindak lebih jauh. Para perwira lain yang sedang santai main kartu di ruang duduk perwira juga mendengar kabar soal itu, namun juga tak bertindak dan melanjutkan permainan.

Para perwira ini baru bereaksi ketika para pemberontak mematikan lampu-lampu di dalam kapal. Van  Boven dan sejumlah perwira bawahan berusaha mencegah pencurian senjata, namun gagal karena para pemberontak sudah memegang senjata sementara mereka sendiri tidak bersenjata. Van  Boven kembali ke ruang duduk perwira dan memerintahkan semuanya mempersenjatai diri. Namun peluru untuk pistol dikemas dalam kaleng mirip kaleng kornet atau sardin yang untuk membukanya harus dengan menarik pengait di pinggir kaleng dan sialnya pengait itu putus sehingga kaleng susah dibuka.

Para perwira Belanda jadi panik, sementara perwira penanggung jawab, Fels, juga kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Dia justru lantas kabur meninggalkan kapal tanpa memberitahu siapa pun. Kapal Zeven pun ditinggalkan dalam kondisi kosong pimpinan. Untung akhirnya perwira berpangkat tertinggi di situ, H.L. van Boven, mengambil alih komando.

Sejumlah perwira lain bertindak atas inisiatif sendiri. Ada yang menutup pintu-pintu kedap air yang memisahkan ruang perwira dengan bagian-bagian kapal lainnya. Ada juga yang melepas mekanisme kemudi kapal yang berada di bagian belakang. Sejumlah perwira lain mencoba menguasai anjungan atau ruang kemudi utama dan kamar mesin. Namun terdengar tembakan yang kemungkinan tak sengaja, yang membuat para perwira itu mundur lagi.

Akan tetapi seorang perwira junior, A.N. de Vos van Steenwijk, berhasil  masuk ruang  radio  dan menyiarkan berita tentang pemberontakan. Namun Kopral Maud Boshart memergokinya dan sebelum Van Steenwijk berhasil menarik pistolnya, dia sudah keburu ditodong. Boshart pun mengatakan bahwa lebih baik tak ada pertumpahan darah. De Vos van Steenwijk diizinkan bergabung kembali dengan para perwira lain di ruang istirahat perwira.

Sejumlah perundingan antara para perwira Belanda dengan awak pribumi dan sejumlah awak Belanda yang memberontak kemudian dilakukan, di mana Kopral Boshart cukup berperan dalam proses itu. Akhirnya pada 5 Februari dini hari, sekitar pukul 01.00, tercapai kesepakatan. Para perwira boleh tinggal di ruang duduk perwira tanpa mengunci pintu, sementara seluruh bagian kapal lainnya beralih ke tangan pemberontak.

Para pemberontak kemudian mengirim telegram ke komandan kapal, Letkol Eikenboom, untuk menjelaskan tindakan mereka. “Berdasarkan pembicaraan dengan para perwira, diputuskan melayarkan sendiri kapal ke Surabaya …. Tidak akan digunakan senjata selama kami tidak dipaksa menggunakannya. Sehari sebelum merapat, komandan beserta semua perwira dan bawahannya akan kembali memperoleh kehormatannya,” demikian antara lain isi telegram itu.

Pemberontak kemudian juga menyiarkan pernyataan dalam bahasa Belanda dan Inggris dengan bunyi: “De Zeven Provinciën untuk sementara berada di tangan para awak, semua berjalan seperti biasa, berlayar menuju Surabaya, tidak bermaksud adanya kekerasan, hanya protes terhadap pengurangan gaji yang tak adil dan penahanan anggota AL di Surabaya, semua baik-baik saja di kapal.”

Para awak sepertinya juga sadar bahwa kebanyakan aksi terkait perjuangan perburuhan sering dicap “ditunggangi komunis.” Karena itu mereka juga menyusulkan pernyataan dalam telegram bahwa aksi mereka “sama sekali tidak ada kecenderungan komunis.”

Kalangan sejarawan kemudian mencatat bahwa pemberontakan itu lebih condong ke “aksi unjuk rasa” untuk menyatakan sikap. Tidak juga ada maksud untuk misalnya kabur keluar negeri atau membelot atau meminta suaka ke negara lain.

Selama kapal di bawah penguasaan pemberontak, semua rutinitas tetap berjalan. Semua tugas harian tetap dikerjakan. Bahkan para perwira Belanda yang ditahan di dalam ruang istirahat mereka tetap dilayani makan dan minum seperti biasa. Bendera Belanda juga tetap dikibarkan dengan apel pagi, tidak lantas diganti dengan bendera tanda pemberontakan seperti memasang bendera merah atau hitam. Sejarawan juga mencatat di saat pemberontakan pecah sempat ada perusakan di ruang perwira, namun foto Ratu Belanda yang terpampang di dinding juga sama sekali tak disentuh. Meski menguasai persenjataan berat kapal, juga tidak ada perintah untuk misalnya membom pelabuhan sebelum mereka berlayar.

De Zeven Provincien pun kemudian mulai berlayar kembali ke Surabaya, menyusuri rute awal keberangkatannya. Apa yang selanjutnya terjadi? (Bersambung)

Baca Juga:

Peran Vital Kantor Berita Merekam Perjalanan Sejarah Kemerdekaan

Dari Tidore hingga Bima: Perjuangan Sultan Zainal Abidin Syah dan Sultan Muhammad Salahudin yang Jadi Pahlawan Nasional

Share the Post: