Dlugdag, Tradisi Penanda Ramadan di Keraton Kasepuhan Cirebon

Tradisi tabuh bedug atau dlugdag untuk menyambut bulan Ramadan di Masjid Cipta Rasa Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, Rabu (18/2/2026). (Foto: Antara/Fathnur Rohman)
Tradisi tabuh bedug atau dlugdag untuk menyambut bulan Ramadan di Masjid Cipta Rasa Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, Rabu (18/2/2026). (Foto: Antara/Fathnur Rohman)

Salah satu tradisi unik penanda bulan Ramadan di Nusantara adalah dlugdag, tradisi tabuh bedug yang ada di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat. Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan, Kiai Jumhur, dalam wawancara dengan kantor berita Antara di Cirebon, mengatakan tradisi tersebut telah dilaksanakan secara turun-temurun sebagai bentuk pemberitahuan datangnya Ramadan.

Dlugdag, kata Jumhur, dilaksanakan setiap menyambut awal Ramadan, Idulfitri, serta pada saat membangunkan sahur. Menurut dia, bunyi bedug yang ditabuh menjadi penanda bagi masyarakat bahwa Ramadan telah tiba sehingga masyarakat mempersiapkan diri menjalankan ibadah puasa.

Bedug yang digunakan dalam tradisi tersebut adalah peninggalan Sunan Gunung Jati yang hingga kini masih dirawat oleh Keraton Kasepuhan. Ia menuturkan tradisi menabuh bedug juga dilakukan Sunan Gunung Jati, saat menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Tradisi dlugdag sendiri bukan sekadar memukul bedug. Bunyinya bertalu-talu dan dimainkan lebih lama dari memukul bedug biasa dengan waktu mencapai satu hingga tiga jam. Seperti diuraikan dalam situs budaya-Indonesia.org, di masa Sunan Gunung Jati pada abad ke-15, beduk digunakan sebagai alat komunikasi warga. Baik untuk kegiatan kemasyarakatan hingga menandakan waktu salat dalam Islam. Bahkan, beduk yang diberi nama Sangmagiri atau sering disebut juga Somagiri tersebut sudah ada sebelum Islam masuk.

Beduk ini dimanfaatkan Wali Sanga untuk menyebarkan Islam juga termasuk salah satunya tanda memasuki bulan suci. Dalam tradisi dlugdag, tabuhan suara beduk dimulai dengan irama lambat hingga kemudian makin cepat. Makna dari tabuhan tersebut agar setiap manusia harus mengikuti proses dalam mencapai sesuatu. Dalam kehidupan sebaiknya diawali dengan perlahan dulu jika sudah menemukan alurnya maka bisa bergerak cepat.

Umumnya, beduk Sangmagiri dibunyikan sebagai tanda dari berbagai rangkaian kegiatan besar di Keraton Kasepuhan Cirebon. Beduk juga menjadi salah satu alat yang dipakai dalam pementasan wayang kulit. Berpadu dengan gamelan, beduk dipukul sebagai tanda genderang perang dalam pementasan wayang kulit.

Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan, Kiai Jumhur, mengungkapkan prosesi penabuhan beduh dilaksanakan secara bertahap, untuk menghasilkan ragam bunyi tabuhan. Kemudian, penabuhan dilanjutkan oleh para abdi dalem secara bergantian selama kurang lebih satu jam.

Baca Juga:

Mempertahankan Tradisi Meugang di Tengah Nestapa Pascabencana Alam di Aceh

Filosofi Kue Keranjang Khas Imlek, Simbol Eratnya Hubungan dan Manisnya Kehidupan

Share the Post: