Bubur Harisah, Kuliner Khas Ramadan di Kota Cirebon

Bubur harisah dengan pugasan atau "topping" daging kambing. (Foto: Antara/Fathnur Rohman)
Bubur harisah dengan pugasan atau "topping" daging kambing. (Foto: Antara/Fathnur Rohman)

Bubur rupanya menjadi kuliner khas Ramadan di banyak daerah di Indonesia. Jika di Kota Solo ada bubur samin yang menjadi ciri khas Masjid Darussalam di Kelurahan Jayengan Kecamatan Serengan, di Kota Cirebon ada yang namanya bubur harisah yang menjadi ciri khas di Kampung Arab Panjunan.

Istilah harisah disebut memiliki arti “diam.” Warga berhenti sejenak dari aktivitas, berkumpul di masjid, lalu menyantap bubur sebagai takjil. Di wilayah Panjunan, bubur tersebut kerap disebut pula sebagai bubur Bayasut, menuruti nama marga keluarga yang menjaga resep dan tradisinya.

Seperti dikabarkan Antara, pelopor tradisi bubur berbuka puasa ini adalah Syekh Mohammad Islam Bayasut lebih kurang pada 1924. Ia dikenal sebagai saudagar keturunan Yaman yang tinggal di Panjunan, Cirebon. Di rumahnya yang luas, para musafir dari berbagai daerah sering singgah untuk beristirahat. Syekh Bayasut juga membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Asy-Syafi’i.

Foto Syekh Mohammad Islam Bayasut yang dipajang di dinding rumah peninggalannya di Kampung Arab Panjunan, Cirebon. (Foto: Antara/Fathnur Rohman)

Di tengah kesibukannya sebagai pedagang, Syekh Bayasut tak luput memperhatikan kebutuhan para musafir itu. Dia tak ingin mereka yang beristirahat dan salat di masjidnya lapar, terlebih di bulan Ramadan. Maka, ia menyuguhkan bubur harisah secara cuma-cuma agar para musafir itu terjamin kebutuhan makannya saat berbuka puasa. Bubur harisah pun menjadi ciri makanan buka puasa Ramadan di Panjunan.

Fatimah Bayasut, 67, bersama kakak laki-lakinya, Abdullah bin Muhammad bin Sahil, merupakan generasi ketiga yang menjaga warisan kuliner tersebut saat ini. “Bubur harisah ini sudah ada sejak nenek moyang saya, yang diadakan setiap bulan Ramadan,” katanya. Dia menjelaskan proses pembuatan bubur harisah berlangsung sekitar tiga jam. Sejak pukul 10.00 WIB, Fatimah bersama keluarganya sudah berada di dapur rumah. Pembuatannya memang dilakukan di rumah besar peninggalan sang kakek.

Untuk membuat masakan ini, mulanya beras beserta santan dimasukkan lebih dulu ke dalam panci. Kemudian kedua bahan tadi direbus agar menyatu. Nyala api pun dijaga stabil, agar adonan yang dihasilkan tidak pecah atau terlalu lengket di dasar panci. Setelahnya, daging kambing ditambahkan untuk membangun rasa gurih. Menurut dia, kunci untuk menciptakan cita rasa yang melekat di lidah, terletak pada penggunaan rempah-rempah khas Timur Tengah.

Bahan seperti kayu manis, cengkeh, kapulaga, jintan putih, lada, jahe dan ketumbar ditumbuk, lantas dimasukkan satu demi satu ke dalam panci. Tidak ada takaran tertulis. Semua bahan tadi diracik, berdasarkan ingatan dan pengalaman yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Proses pembuatan bubur harisah bisa selesai pada pukul 13.00 WIB. Setelah matang, bubur tidak langsung dibagikan. Bubur tersebut menurut Fatimah mesti didiamkan selama kurang lebih setengah jam supaya suhu turun dan teksturnya semakin mantap. Barulah setelah itu masuk ke tahap pengemasan. Fatimah mengatakan karakteristik bubur harisah dominan dengan aroma rempah. Bila disantap, suapan pertama dari hidangan ini bisa membawa rasa gurih dengan tekstur kental yang padat namun lumer saat menyentuh lidah, lalu mengendap perlahan di tenggorokan.

Persiapan distribusi bubur harisah di rumah keluarga Syekh Mohammad Islam Bayasut di Kampung Arab Panjunan, Kota Cirebon. (Foto: Antara/Fathnur Rohman)

Keluarganya memproduksi sekitar 100 porsi bubur harisah per hari, dimulai pada awal puasa hingga mendekati akhir bulan Ramadan. Kuliner ini pun didistribusikan secara gratis. Sebagian disalurkan ke Masjid Asy-Syafi’i Bayasut dan ada pula yang diberikan kepada warga sekitar Kampung Arab Panjunan. Pembagian dilakukan menjelang waktu berbuka puasa. Menariknya, seluruh biaya produksi berasal dari dana yayasan keluarga. Artinya, tradisi ini berjalan tanpa mengandalkan sumbangan dari luar.

Kampung Wisata

Kampung Arab Panjunan menjadi bagian mozaik budaya di Kota Cirebon. Sejumlah literatur masa lampau mencatat sejak abad ke-15, kawasan ini menjadi titik temu antara pedagang Arab, terutama dari Yaman dengan masyarakat pesisir utara Jawa. Mereka datang melalui jalur laut, memanfaatkan posisi strategis Cirebon sebagai pelabuhan penting di pantai utara Jawa. Di tengah lalu lintas dagang tersebut, interaksi sosial dan keagamaan berkembang pesat. Pengaruh Sunan Gunung Jati dan Kesultanan Cirebon, turut membentuk jaringan keilmuan sekaligus kekerabatan yang kokoh dengan para pedagang tersebut.

Di wilayah Panjunan banyak saudagar atau pedagang besar yang bermukim dan membangun rumah-rumah besar. Seiring waktu, Kampung Arab Panjunan berkembang sebagai komunitas tersendiri. Pembacaan selawat, pengajian rutin, hingga kebiasaan berbagi makanan saat Ramadan menjadi bagian dari identitas kawasan ini.

Salah satu penanda sejarah penting di kawasan ini adalah Masjid Merah Panjunan. Berdiri sejak abad ke-15, masjid ini dikenal dengan dinding bata merah dan ornamen keramik Tiongkok yang menempel di sejumlah bagian. Bangunannya pun menjadi simbol akulturasi yakni pengaruh Arab dalam dakwahnya, Jawa pada tata ruangnya, dan Tiongkok dari sisi detail estetikanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menyebut Kampung Arab Panjunan merupakan kampung wisata yang telah dirancang sejak 2023. Konsepnya mengangkat kearifan lokal sebagai daya tarik utama. Di Panjunan, wisatawan diajak mengenali potret akulturasi budaya Arab, Jawa, dan Tionghoa yang telah berabad-abad membentuk wajah kawasan tersebut.

Di lorong-lorong sempitnya, wisatawan bisa merasakan atmosfer kampung yang religius dan komunal. Pengalaman berjalan kaki, berbincang dengan warga, hingga mencicipi kuliner khas menjadi bagian dari paket narasi yang ditawarkan.

Agus menyebut kampung wisata ini masih memerlukan penataan lanjutan. Akses, papan informasi, hingga pengemasan atraksi budaya terus disempurnakan agar kunjungan wisatawan lebih nyaman dan terarah. “Sudah bisa dikunjungi, tetapi tetap ada pembenahan supaya pengalaman wisatawan semakin maksimal,” katanya.

Baca Juga:

Dlugdag, Tradisi Penanda Ramadan di Keraton Kasepuhan Cirebon

Mempertahankan Tradisi Meugang di Tengah Nestapa Pascabencana Alam di Aceh

Share the Post: