Amerika Mau Serbu Iran Lewat Invasi Darat? Bagaimana Kemungkinannya?

Ilustrasi tentara Amerika Serikat. (Foto: ArtPhoto-studio for Freepik)
Ilustrasi tentara Amerika Serikat. (Foto: ArtPhoto-studio for Freepik)

Konflik Iran melawan AS-Israel masih terus bergelora dengan belum adanya tanda-tanda peredaan baik dari sisi militer dan sisi diplomasi. Presiden AS Donald Trump pun seperti biasa masih terus mengoceh soal “menghabisi Iran” lewat serangan militer, namun di sisi lain juga menyebut soal perundingan di jalur diplomasi.

Di tengah kondisi ini, ada hal menarik dari sisi militer yaitu terus bergemanya wacana soal kemungkinan menyerbu Iran lewat invasi darat. Walaupun masih ambigu, namun fakta bahwa pemerintah AS menyatakan adanya pengiriman ribuan personel marinir ke kawasan Timur Tengah membuat siratan soal serbuan darat ini masih mengemuka.

Kabar terakhir, Departemen Pertahanan AS atau biasa disebut Pentagon dikabarkan mempertimbangkan mengirimkan tambahan 10.000 personel tempur darat ke Timut Tengah. Tambahan personel ini memberikan penguatan opsi militer senyampang pemerintah AS juga mempertahankan kemungkinan penyelesaian dari jalur diplomasi. Hal ini dilaporkan sejumlah media yang dikutip Anadolu pada Kamis (26/3/2026). Wall Street Journal misalnya, yang mengutip sejumlah sumber anonim di Pentagon menyebut pasukan tambahan ini mencakup satuan-satuan infanteri dan satuan lapis baja. Tambahan pasukan ini akan memperkuat lebih kurang 5.000 personel marinir dan ribuan personel dari Divisi Lintas Udara 82 yang sudah dikirimkan ke Timur Tengah.

Belum jelas di mana pasukan ini akan ditempatkan. Namun sejumlah pejabat pertahanan AS menyebut kemungkinan mereka akan diposisikan dalam jarak jangkau serang ke Iran dan wilayah Pulau Kharg, pulau yang menjadi pusat kilang minyak ekspor Iran. Meski begitu saat dimintai keterangan secara resmi Komando Tengah AS, satuan operasi kewilayahan yang mencakup kawasan Timur Tengah menolak berkomentar soal pengiriman dan penempatan pasukan tambahan ini.

Rencana invasi darat AS ke Iran ini pun diulas oleh Murat Aslan, guru besar bidang hubungan internasional di Universitas Hasan Kalyoncu dan peneliti senior lembaga kajian SETA di Turki. Dalam tulisannya yang dipublikasikan di situs Anadolu, dia mengingatkan bahwa saat operasi serangan darat AS dimulai, maka konflik dengan Iran ini akan masuk ke tahap yang tak bisa lagi diputar balik alias menjadi point of no return. Karena itu butuh kajian mendalam soal risiko militer dan strategisnya.

Aslan memberi catatan bahwa sebagaimana doktrin serangan darat yang sudah berabad-abad, serangan darat ini harus sepenuhnya punya target politik dan obyek yang jelas, apa yang mau dicapai dengan diterjunkannya pasukan secara langsung di negeri “musuh.” Padahal, dalam konflik yang sudah bergulir sejauh ini, AS dan Israel sama-sama tidak punya target yang jelas dalam konflik dengan Iran. Apa mau mereka?

Pemimpin spiritual tertinggi Iran Ayatullah Khamenei sudah “disingkirkan” dalam serangan udara, namun sudah ada penggantinya. “Pergantian rezim” dengan berharap bahwa rakyat Iran akan bangkit memberontak dan mendudukkan pemimpin baru dan sistem pemerintahan baru pun ternyata tidak terjadi. AS-Israel juga tidak sepakat soal apakah fasilitas nuklir Iran atau basis rudal Iran akan menjadi sasaran utama untuk dihancurkan. Semua ketidakjelasan ini mempengaruhi perencanaan militer, membuat ahli strategi militer tak punya gambaran pasti soal apa yang akan dicapai dalam operasi militer.

Aslan juga menyatakan operasi militer di darat juga membutuhkan ekosistem pendukung yang lengkap, bukan sekadar sejumlah satuan besar. Kekuatan yang tak memadai tak bakal bisa mencapai target operasi. Operasi darat dengan kekuatan terbatas hanya akan menimbulkan korban besar di pihak pasukan penyerang.

Sejauh ini menurut Aslan pilihan lokasi serangan darat oleh AS masih terbatas. Seandainya mereka menyerbu Pulau Kharg yang merupakan pusat industri ekspor minyak Iran, Iran memang akan memusatkan konsentrasi pasukan mereka di situ dan pertempuran yang terjadi akan merusakkan aneka fasilitas yang ada. Sementara jika pasukan AS mendarat di situ, mereka juga akan masuk ke dalam jarak jangkau serangan rudal Iran. Sementara dukungan dari udara dan laut juga akan menanggung risiko yang sama karena mereka akan berada tepat di depan mulut Iran.

Pilihan lain serangan darat melalui sisi barat Iran yang berhadapan dengan wilayah Irak juga bukan opsi yang “enak.” Pasukan juga akan terjebak dalam operasi darat berkepanjangan, sementara dukungan perlindungan dari udara juga takkan bisa terlalu diandalkan. Karenanya menurut Aslan operasi darat untuk menguasai wilayah Iran dan mempertahankannya sulit bisa berkelanjutan.

Sementara itu, Aslan melanjutkan, operasi darat juga akan berisiko korban yang besar di pihak pasukan AS dan AS tak punya pilihan selain melanjutkan terus serangan, bukan buru-buru mundur. Dan jatuhnya korban dalam jumlah besar akan makin memperlemah posisi Presiden Trump di dalam negeri. Apalagi argumen yang sudah beredar selama ini bahwa “Amerika berkorban besar demi Israel dan tentara Amerika dikirim untuk menjadi tumbal Israel” akan makin kuat jika operasi dijalankan dan korbannya besar. Anggaran AS juga akan berdarah-darah jika harus membiayai perang yang sulit diprediksi kapan rampungnya. Buntutnya, publik AS juga akan makin kritis terhadap penggunaan anggaran yang tersedot untuk dukungan bagi Israel dan perang terhadap Iran.

Hal ini mengingatkan pada era Perang Vietnam, ketika publik AS makin gencar bertanya apa yang pasukan mereka lakukan di negeri asing dengan korban besar, serta dengan anggaran yang terus tersedot untuk itu. Makin besarnya antipati terhadap Israel yang dianggap menyeret-nyeret AS untuk membela kepentingan dan egonya di Timur Tengah akan membuat lembaga lobi Israel di parlemen AS yang menyokong politikus dari Partai Republik yang berkuasa dan Partai Demokrat yang beroposisi sama-sama tertekan. Karena itu, tegas Aslan, opsi operasi militer darat di Iran sama sekali tidak memungkinkan dari berbagai aspek.

AS juga tidak mungkin bergantung pada dukungan negara-negara sekutunya di kawasan Timur Tengah seperti negara-negara Teluk Persia, Jordania, dan Arab Saudi. Selama ini mereka juga sudah ikut menanggung dampak serangan balasan dari Iran, dan konflik berkepanjangan akan ikut mencekik mereka. Cepat atau lambat mereka akan berupaya mencari penyelesaian sendiri dan tak hanya mengandalkan payung perlindungan dari pasukan AS yang dipangkalkan di negeri mereka.

Karenanya Aslan menyatakan pilihan yang paling masuk akal adalah tetap mengedepankan penyelesaian diplomatik dan terus memelihara kanal dialog. Perdamaian dan rekonsiliasi menurut Aslan harus diutamakan karena terlalu bernilai tinggi dibandingkan ego politik. Beban perang akan terlalu berat untuk ditanggung semua pihak yang terlibat, baik Iran, AS, Israel, maupun negara-negara lain. Sejarah sudah berkali-kali membuktikan bahwa perdamaian atau keteraturan yang ditegakkan lewat peperangan takkan bertahan lama, sementara perdamaian sebagai hasil dialog akan berusia lebih panjang dan masih lebih mudah dipelihara.

Baca Juga:

Belajar dari Keuletan Iran dalam Konflik Melawan AS-Israel

Belajar dari UEA, Ketika Negara Betul-betul Hadir di Tengah Kecamuk Perang AS-Israel vs Iran

Share the Post: