Kelompok vokal BTS asal Korea Selatan baru saja merilis album paling baru dengan judul Arirang. Namun ada misteri di salah satu lagu album terbaru BTS ini, yaitu pada lagu keenam. Lagu ini pun diberi judul “aneh” yaitu No. 29. Lebih aneh lagi yang disebut “lagu” di sini hanya sebuah nada mirip dengungan yang diperdengarkan panjang lalu menghilang pelan-pelan, dengan durasi 1 menit 38 detik.
Namun sebagaimana judul albumnya, Arirang, yang sebenarnya adalah judul sebuah lagu tradisional Korea yang dianggap sebagai simbol kekuatan dan ketahanan budaya Korea, lagu No. 29 ini pun sebenarnya menyiratkan sebuah nilai sejarah Korea. “Lagu nomor 29 ini adalah dentingan merdu Lonceng Suci Raja Seongdeok yang ditetapkan sebagai Harta Nasional Korea Selatan nomor 29,” ujar leader BTS Kim Nam-joon atau yang dikenal dengan nama panggung RM, saat siaran langsung di Weverse, seperti dikutip bisnis.com belum lama ini.
Lonceng Suci Raja Seongdeok atau dikenal sebagai Lonceng Emille merupakan salah satu artefak penting Korea Selatan yang dibuat pada 771 Masehi, tepatnya era Dinasti Silla. Lonceng berbahan perunggu dengan berat sekitar 19 ton itu kini disimpan di Museum Nasional Gyeongju dan ditetapkan sebagai Harta Nasional Korea Selatan nomor 29 pada 1962. Suara lonceng ini dikenal memiliki resonansi panjang, yang dapat terdengar hingga puluhan kilometer dan membutuhkan waktu lebih dari satu menit untuk benar-benar menghilang.
RM mengonfirmasi bahwa durasi lagu disesuaikan dengan waktu peluruhan suara lonceng tersebut. “Kami menetapkan durasi lagu menjadi 1 menit 37 detik agar sesuai dengan durasi resonansi lonceng saat dipukul,” tambah RM.
Lebih jauh, disebutkan bahwa dalam struktur album Arirang, lagu No. 29 ditempatkan sebagai titik transisi. Lima lagu awal, Body to Body, Hooligan, Aliens, FYA, dan 2.0 menampilkan nuansa hip-hop dengan tempo cepat. Kemudian, kehadiran suara lonceng menjadi jeda sebelum memasuki paruh kedua album yang lebih melankolis dan reflektif.
Singel utama Swim yang diproduseri oleh Ryan Tedder, membuka paruh kedua dengan suara yang lebih lembut dan didominasi synthesizer. Merry Go Round bersama Kevin Parker condong ke melankoli psikedelik. Normal mengkaji disorientasi kembali ke ketenaran BTS setelah personelnya menjalani wajib militer.
Sejumlah pengamat musik menilai pendekatan tersebut sebagai upaya menghubungkan elemen budaya tradisional dengan narasi modern. Billboard menyebut lagu ini sebagai simbol keheningan yang dirangkum dalam satu momen, sementara Rob Sheffield dari Rolling Stone menilainya sebagai pernyataan artistik yang kuat. Penggunaan elemen budaya Korea juga terlihat pada keseluruhan konsep album. Beberapa trek lain menyisipkan unsur musik tradisional seperti pansori.
Sejauh ini rilis album terbaru ini berkinerja kinclong. Pada hari pertama peluncuran akhir Maret lalu album kelima tersebut terjual sebanyak 3,98 juta kopi hanya dalam satu hari, melampaui capaian album sebelumnya, Map of the Soul: 7 (2020), yang membukukan penjualan 3,37 juta kopi di hari pertama.
Tak hanya dari sisi penjualan, performa Arirang juga mendominasi platform streaming global. Sebanyak 14 lagu dalam album tersebut secara bersamaan menempati posisi pertama hingga 14 dalam tangga lagu Global Daily Top Songs di Spotify. Lagu utama berjudul Swim memimpin di posisi puncak. Dominasi di Spotify dinilai signifikan karena performa di platform tersebut kerap menjadi indikator penting dalam menentukan posisi di tangga lagu Billboard di Amerika Serikat.
Selain itu, Arirang juga langsung merajai berbagai tangga lagu lainnya, mulai dari iTunes Top Albums, hingga platform musik domestik Korea Selatan seperti Melon dan Bugs, serta tangga penjualan album fisik.
Dari sisi kritik musik, album ini mendapatkan sambutan positif dari sejumlah media internasional. Majalah Rolling Stone memberikan rating 4,5 dari 5 bintang dan menyebut Arirang sebagai “comeback terbesar yang pernah ada” sekaligus menyoroti eksplorasi identitas budaya Korea yang makin kuat.
Sementara itu, Billboard menilai harmoni vokal para anggota BTS dalam album ini mampu merepresentasikan suara generasi yang menghadapi dinamika serupa. Lagu pembuka Body to Body, yang mengadaptasi elemen dari lagu rakyat Korea Arirang, disebut sebagai salah satu trek paling menonjol. Media Inggris, The Guardian, turut memberikan penilaian positif dengan rating 4 dari 5 bintang. Mereka menilai BTS berhasil menghadirkan karya yang sepadan dengan statusnya sebagai salah satu grup pop paling berpengaruh di dunia saat ini.
Lagu tradisional Arirang sendiri masuk ke dalam Daftar Warisan Budaya Benda Kemanusiaan di badan kebudayaan dan ilmu pengetahuan PBB, UNESCO, setelah diusulkan Korea Selatan dan Korea Utara secara terpisah. Meski bangsa di Semenanjung Korea itu terpecah menjadi dua negara akibat Perang Korea pada 1950-1953, Arirang dianggap sebagai simbol kesatuan hati dan budaya keduanya, serta ketahanan dan ketangguhan yang dibalut dalam cinta, khususnya di masa penjajahan Jepang di akhir abad ke-19 hingga 1945 yang penuh kepedihan.
Asal muasal lagu ini sendiri kurang jelas. Situs ensiklopedia Britannica menyebut rujukan yang paling awal diketahui soal Arirang adalah sebuah manuskrip dari tahun 1756. Namun tradisi turun-temurun di kawasan Jeongseon menyebut lagu itu sudah jauh lebih tua dan kemungkinan berasal dari periode Dinasti Goryeo pada 935-1392.
Arti “Arirang” sendiri juga tidak diketahui karena kata ini tidak ada dalam bahasa Korea modern. Sejumlah ilmuwan menawarkan pendapat bahwa nama ini berasal dari sebuah kata kuno “ari” yang artinya “indah” dan “rang” yang berarti “yang tercinta.” Ada pula yang berpendapat kata itu berasal dari bahasa Jurchen yang artinya “kampung halaman.” Pendapat lain menyebut Arirang berasal dari nama Alyeong, tokoh yang diyakini sebagai ratu pertama Kerajaan Silla. Silla adalah satu dari tiga kerajaan dari era Korea kuno, dan kerajaan yang pada tahun 668 menyatukan seluruh Semenanjung Korea ke dalam satu negara di bawah Dinasti Silla Bersatu, yang bertahan hingga tahun 935.

