Tragedi Mei 1998 dan Reformasi, Ketika Kota Solo Dimakan Api (Bagian I)

Mahasiswa yang berunjuk rasa di Bulevar Universitas Sebelas Maret berhadapan dengan aparat kepolisian. (Foto: 10 Tahun Kerusuhan Mei, Solo Bangkit)
Mahasiswa yang berunjuk rasa di Bulevar Universitas Sebelas Maret berhadapan dengan aparat kepolisian. (Foto: 10 Tahun Kerusuhan Mei, Solo Bangkit)

Tanggal 14 Mei 1998 menjadi mimpi buruk bagi Kota Solo. Kerusuhan dan perusakan pecah di berbagai sudut Kota Bengawan, menjadi ekses yang tak diinginkan dari gejolak perjuangan reformasi untuk mengoreksi arah negara di tengah impitan krisis moneter yang membuat kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden Soeharto menurun drastis.

Pemicu awalnya adalah krisis moneter di sejumlah negara Asia pada 1997, yang membuat nilai mata uang lokal melemah dan US dollar melonjak. Dampaknya khususnya di Indonesia terasa ke mana-mana. Apa yang bermula sebagai fluktuasi nilai mata uang di negara tetangga, dengan cepat berubah menjadi badai ekonomi yang menghantam sendi-sendi kehidupan rakyat, meruntuhkan kekuasaan yang telah bertahta selama 32 tahun, dan akhirnya melahirkan era baru bernama Reformasi.

Indonesia yang awalnya merasa memiliki fundamental ekonomi yang kuat, ternyata tidak kebal. Rupiah yang semula berada di kisaran Rp2.500 per US dollar mulai goyah. Investor asing menarik modal secara massal (capital flight), menciptakan kepanikan yang luar biasa. Meski pemerintah berusaha melakukan intervensi, rupiah terus merosot tanpa kendali.

Memasuki awal 1998, situasi semakin menekan. Rupiah sempat menyentuh angka Rp17.000 per US dollar. Pasar konsumsi dalam negeri yang masih banyak bergantung pada bahan baku impor pun makin tertekan akibat melejitnya nilai US dollar. Harga barang-barang kebutuhan pokok melonjak hingga 70%-100%. Di pasar-pasar, masyarakat mulai mengantre panjang demi seliter minyak goreng atau sekarung beras.

Sektor perbankan juga kolaps. Puluhan bank dilikuidasi karena utang luar negeri yang membengkak dalam denominasi US dollar. PHK terjadi di mana-mana; pabrik-pabrik berhenti beroperasi karena tidak mampu membeli bahan baku impor. Ekonomi Indonesia terkontraksi hingga minus 13%. Intervensi IMF (International Monetary Fund) yang memberikan dana talangan, namun dengan banyak syarat seperti pencabutan subsidi BBM membuat rakyat yang sudah tertekan jadi tersulut kemarahannya.

Krisis moneter pun bergulir  menjadi krisis kepercayaan. Rakyat mulai mempertanyakan efektivitas pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto. Isu korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang selama puluhan tahun tertutup oleh narasi pembangunan, kini mencuat ke permukaan sebagai terdakwa utama kehancuran ekonomi. Merujuk pada tulisan pengamat sejarah asal Universitas Sebelas Maret (UNS), M.T. Arifin, dalam buku 10 Tahun Kerusuhan Mei: Solo Bangkit, terbitan PT Aksara Solopos (2008), kemarahan masyarakat juga terpicu oleh kenyataan bahwa di negara-negara Asia yang lain, dalam waktu enam bulan sejak krisis yang muncul pada pertengahan 1997, perekonomian mereka sudah pulih berkat langkah sigap dan reformatif pemerintah masing-masing. Di sisi lain, Indonesia justru menjadi negara yang terdampak paling parah dan kompleks permasalahannya.

Tak kunjung pulihnya Indonesia menurut Arifin melahirkan pandangan dari dalam dan luar negeri bahwa pemerintah tidak tanggap dan tidak memiliki strategi yang mantap baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang untuk menyelesaikan krisis yang terjadi. Banyak langkah pemerintah yang terkesan sekadar mencari penyelamatan sesaat yang tidak menyentuh inti permasalahan. Kritik-kritik tajam dari berbagai pihak tidak direspons dengan baik. Akhirnya muncullah keinginan melakukan reformasi total.

Mahasiswa menjadi motor penggerak seruan reformasi di segala bidang, khususnya ekonomi dan politik. Mimbar-mimbar bebas di kampus berubah menjadi demonstrasi jalanan yang masif. Mereka menuntut satu hal yang sebelumnya tabu diteriakkan: “Turunkan Soeharto.” Pemerintah seperti tak belajar dari masa-masa sebelumnya. Pada April 1998 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiranto Arismunandar justru melarang mahasiswa melakukan aktivitas politik di dalam kampus. Namun bagaimana bisa membendung gejolak masyarakat. Aksi unjuk rasa yang dimotori mahasiswa justru makin meruyak di mana-mana, bahkan seperti dikutip dari buku 10 Tahun Kerusuhan Mei: Solo Bangkit, (Solopos, 2008), sejumlah pihak menilai aksi-aksi ini bahkan lebih besar dari aksi pada 1966 yang berujung pada runtuhnya Orde Lama, era Malari 1974, dan penentangan terhadap program Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Kegiatan Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1978.

Di kawasan Soloraya, dua kampus besar yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS) serta Universitas Muhammadiyah Surakarta menjadi pusat pergolakan. Di UNS, aksi besar kali pertama pecah pada 5 Maret 1998, di mana gerakan mahasiswa yang menamakan diri Solidaritas Mahasiswa Peduli Rakyat (SMPR) berunjuk rasa di bulevar UNS. Aksi kedua digelar pada Sabtu 7 Maret 1998.

Aksi yang lebih besar kemudian terjadi pada Senin 9 Maret 1999, baik di UNS maupun UMS. DI UNS, aksi melibatkan ribuan orang warga kampus, baik mahasiswa maupun pengajar. Aksi dengan jumlah massa yang juga besar berlangsung pula di kampus UMS di Pabelan, barat Solo. Rektor UNS Haris Mudjiman dan Rektor UMS Dochak Latif sama-sama terjun bersama massa. Pada hari-hari berikutnya, aksi unjuk rasa terus digelar di kedua perguruan tinggi itu.

Memasuki bulan Mei 1998 aksi unjuk rasa makin membesar dan memanas dengan banyak bentrokan antara massa pengunjuk rasa yang didominasi mahasiswa dengan aparat keamanan. Korban jiwa mulai jatuh, ditandai meninggalnya Mozes Gatotkaca, seorang aktivis mahasiswa yang ironisnya justru terbunuh di luar waktu demo. Dia dikeroyok dan dianiaya sekelompok orang tak dikenal pada malam hari saat mencari makan di kawasan Gejayan, Kota Jogja. Meninggalnya Mozes tak urung makin membangkitkan amarah mahasiswa dan masyarakat.

Korban Jiwa Berjatuhan, Kerusuhan Berkobar

Di Ibu Kota Jakarta, pada 12 Mei 1998, jatuh pula korban jiwa di kalangan mahasiswa yang diyakini akibat tembakan dari arah belakang oleh aparat keamanan dalam unjuk rasa di Universitas Trisakti. Dari enam orang  yang meninggal, empat di antaranya adalah mahasiswa yaitu Elang Mulia Lesmana, Hery Hariyanto, Hendriawan, dan Hafidhin Royan, semuanya mahasiswa Trisakti. Kematian mereka seolah menjadi bensins yang menyiram sekam yang sudah membara di dalam. Kerusuhan besar pun pecah di Jakarta pada 13-14 Mei yang didominasi perusakan dan pembakaran di pusat-pusat perekonomian. Meski ada sinyalemen bahwa kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan ini sebenarnya adalah dampak provokasi oleh pihak tertentu, namun ini semua adalah klimaks dari kemarahan yang sudah terpendam sekian lama.

Di Soloraya, bentrok dan kerusuhan berawal dari aksi besar ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang bergabung menyuarakan aspirasi di depan kampus UMS Pabelan, 14 Mei 1998. Bentrok akhirnya pecah ketika mahasiswa berupaya turun ke jalan raya Solo-Kartasura namun dihalangi aparat. Jatuhnya korban di kalangan mahasiswa akibat aksi kekerasan aparat menyulut emosi pengunjuk rasa dan masyarakat. Aksi unjuk rasa pun akhirnya bergerak di jalan raya Solo-Kartasura (Jl. A. Yani) menuju ke arah Kota Solo.

Ketika massa yang sudah bercampur antara mahasiswa dan masyarakat ini memasuki kawasan Kleco dan Kerten, Solo, buku 10 Tahun Kerusuhan Mei: Solo Bangkit, (Solopos, 2008), mencatat mulai ada seruan-seruan yang kemungkinan provokasi dari pihak tertentu untuk melakukan perusakan terhadap sejumlah bangunan. Sejumlah saksi saat berbicara dalam dialog tentang kerusuhan yang digelar Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) UMS, 12 Juni 1998, menyebutkan hal itu. Salah satunya yang disebut sebagai Teguh menyatakan pada Kamis 14 Mei 1998, siang hari sekitar pukul 14.00 WIB bertepatan dengan jam pulang sekolah terlihat sekelompok orang yang menurutnya punya penampilan khusus karena semuanya “seragam” mengenakan kain atau sapu tangan lebar untuk menutupi sebagian muka yang berjalan dari arah barat. Seraya berjalan kelompok yang berjumlah antara 10-20 orang itu merusak rambu lalu lintas dan pos polisi Kleco seraya berseru-seru seolah mengajak orang lain ikut dalam aksi mereka.

Teguh yang saat itu berada di kompleks SMA Batik 1 melihat orang-orang itu mengajak para siswa yang sedang bubaran sekolah untuk ikut dengan mereka. Mereka juga membakar ban di depan kompleks panti asuhan PAKYM Muhammadiyah, melempari gedung BTPN yang berseberangan dengan kompleks SMA Batik 1, lalu berjalan menyeberangi perlintasan KA Purwosari (waktu itu belum ada flyover Purwosari) dan terus ke timur. Selama aksi kelompok orang itu tak terlihat ada aparat, baik polisi atau TNI, padahal orang-orang itu melintas di depan Markas Korem 074/Warastratama. Ketika kelompok itu sudah berjalan lebih jauh ke timur menurut Teguh baru terlihat ada pasukan TNI berbaret hijau yang datang.  

Aksi kerusuhan yang terjadi menyasar sejumlah tempat. Salah satu sasaran pertama adalah ruang pamer mobil Timor di Kleco. Produk otomotif yang dulunya diusung oleh salah satu putra Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto dan dipromosikan sebagai “mobil nasional” ini pun jadi sasaran perusakan dan pembakaran.

Setelah itu massa terus bergerak hingga ke kawasan Purwosari. Pertokoan Purwosari Plaza dan sejumlah bangunan restoran dan perbankan jadi sasaran amuk massa. Aksi perusakan dan pembakaran juga pecah di sejumlah wilayah Kota Solo lainnya khususnya di pusat perekonomian seperti kawasan Coyudan, Jl. Urip Sumoharjo, dan Jl. Veteran.

Massa yang lain juga ada yang bergerak ke arah Kartasura, kota kecamatan di Kabupaten Sukoharjo yang menjadi lokasi strategis persilangan jalan raya utama penghubung Semarang-Solo-Jogja. Di ibu kota kecamatan yang sibuk ini massa merusak dan membakar kantor perbankan seperti Bank BCA, Lippo, dan Danamon. Supermarket Mitra serta sejumlah toko dan diler otomotif juga tak luput dari perusakan dan pembakaran.

Akibat kerusuhan yang meluas itu sejak setelah tengah hari 14 Mei transportasi umum lumpuh karena jalan-jalan utama Kota Solo dan sekitarnya terblokade aksi massa dan pembakaran sejumlah kendaraan bermotor. Saat hari mulai gelap, Kota Solo yang biasanya bermandi cahaya justru berselimut kegelapan yang mencekam karena padamnya aliran listrik di banyak kawasan khususnya di pusat kota.

Masyarakat menonton kebakaran hebat yang melalap bangunan pusat pertokoan Beteng Plaza di kawasan Gladag, Solo. (Foto: 10 Tahun Kerusuhan Mei: Solo Bangkit)

Esok harinya, Jumat 15 Mei 1998, kerusuhan ternyata belum mereda. Pada pagi hari pusat pertokoan Beteng Plaza di Gladag tiba-tiba sudah terbakar. Toko serba ada (Toserba) Ratu Luwes di Pasar Legi dan Luwes Gading di dekat Gapura Gading, Solo, ludes terbakar, bersama sejumlah toko dan bangunan lain. Perusakan dan pembakaran juga terjadi di kawasan Solo Baru, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, dan Klaten. Di Solo Baru, bioskop Atrium 21 dan rumah pribadi Ketua DPR/MPR Harmoko juga ludes terbakar. Di tengah aksi perusakan itu kalangan mahasiswa yang dikoordinasikan SMPR UNS berangkat berunjuk rasa dari kampus UNS di Kentingan berjalan kaki ke Balai Kota Solo. Dalam aksi itu SMPR menegaskan bahwa pemicu dan pelaku kerusuhan dan perusakan bukan dari kalangan mahasiswa.

Solidaritas Warga

Warga Kota Solo sendiri tak tinggal diam dengan meruyaknya kerusuhan dan perusakan, serta aksi penjarahan dan pembakaran. Warga di kampung-kampung bersiaga siang malam, menjaga gang-gang dan jalan-jalan masuk kawasan permukiman untuk mencegah masuknya perusuh ke lingkungan mereka. Warga juga tak luput menjaga rumah para tokoh Tionghoa yang selama ini akrab dengan mereka. Salah satunya adalah pengusaha yang juga tokoh masyarakat Solo, Sumartono Hadinoto.

Seperti diuraikan dalam tulisan di espos.id, Rabu (15/5/2024), Sumartono berkisah bahwa rumahnya di kawasan Sorogenen, Kampung Sewu, Jebres, sudah dikepung orang tak dikenal yang mulai melemparkan batu. “Saya dikabari RT/RW, lebih baik saya mengungsi ke belakang,” ujar dia dalam wawancara dengan espos.id. “Tembok belakang rumah saya akhirnya dibobol hingga berlubang seukuran badan, lalu saya sekeluarga dievakuasi lewat lubang tersebut,” terang dia.

Sumartono menilai inisiatif warga tetangganya ini tak lepas dari hubungan baik yang terjalin. “Saat itu saya rasakan betul prinsip pagar mangkuk,” aku dia.  Sumartono menceritakan dirinya dengan warga kampung di belakang rumahnya sudah benar-benar menyatu. Sehingga ketika ada ancaman yang membahayakan keluarga Sumartono, para tetangga mau melindungi. “Soalnya saya sejak kecil kalau main ke [kampung] belakang rumah. Dulu kalau nekeran istilahnya main kelereng, gobak sodor, layang-layang, di halaman belakang, dengan teman-teman kampung. Kami sudah menyatu,” urai dia.

Akibat dari kerusuhan dan pembakaran yang terjadi di Kota Solo dan sekitarnya, selain kerusakan berat di berbagai bangunan dan fasilitas umum, terhentinya sebagian besar aktivitas ekonomi berdampak pada sektor ketenagakerjaan. Akibat perusakan, pembakaran, dan penjarahan ratusan toko dan tempat usaha lainnya, setidaknya 40.000 hingga 50.000 orang menganggur.

Polisi mengevakuasi jenazah yang ditemukan di dalam salah satu toko di kawasan pertokoan Coyudan, Solo, yang ludes terbakar. (Foto: 10 Tahun Kerusuhan Mei: Solo Bangkit)

Hal yang mengenaskan juga terjadi yaitu ditemukannya 33 korban meninggal dunia saat terlibat penjarahan. Sebanyak 14 jenazah ditemukan hangus atau mengalami luka bakar berat di dalam bangunan Toserba Ratu Luwes, Pasar Legi, Solo, yang terbakar. Sebanyak 19 jenazah lainnya ditemukan di toko sepatu Bata yang habis terbakar di kawasan Coyudan, Solo, salah satu kawasan perekonomian yang paling terdampak akibat perusakan dan pembakaran. Banyak di antara jenazah itu yang rusak dan hangus terbakar hingga tak bisa dikenali lagi, sehingga mereka kemudian dimakamkan tanpa identitas di tempat permakaman umum Purwoloyo, Jebres, Solo.

Sungguh sebuah mimpi buruk yang traumatis bagi warga Soloraya. (Bersambung)

Baca Juga:

Sebuah Cerita Lama Ketika TNI Berupaya Membangun Ulang Profesionalism

Antara Isu Kerja Sama Militer Indonesia-AS dan Realitas Pertahanan Nasional

Share the Post: