Di tengah persiapan naskah pernyataan resmi kekaisaran yang menerima Deklarasi Potsdam, yang secara tidak langsung mengakui kekalahan Jepang dalam perang dan kesediaan untuk menyerah, upaya sejumlah perwira muda untuk memberontak demi menolak penyerahan diri terus berjalan. Sejumlah pejabat pemerintah sendiri sudah makin khawatir dengan isu pemberontakan itu.
Salah satunya adalah penasihat pribadi Kaisar, Marquis Koichi Kido. Pada tanggal 14 Agustus 1945 malam hari setelah Perdana Menteri Baron Kantaro Suzuki menyerahkan naskah pernyataan kekaisaran untuk ditandatangani Kaisar, Kido pun menghentikan Suzuki sejenak untuk mengungkapkan kekhawatirannya. Dia mengulangi apa yang disampaikan Pangeran Fumimaro Konoye yang juga mantan PM, soal kekhawatiran bahwa pasukan dari Divisi Pengawal Kekaisaran – sejenis Paspampres di Indonesia – bakal memberontak untuk menggagalkan pernyataan menyerah. Kido juga mengungkapkan keresahan serupa dari Kepala Ajudan Kaisar Jenderal Shigeru Hasunuma karena Letjen Takeshi Mori, Panglima Pengawal Kekaisaran, bersikap seolah tak peduli pada isu bakal adanya pemberontakan yang melibatkan pasukannya. Tapi jawaban Suzuki bikin Kido sedikit kecewa. “Saya enggak tahu soal itu,” ujar Suzuki. “Saya tidak dengar apa-apa, tidak percaya apa-apa soal kudeta. Pengawal Kekaisaran adalah orang terakhir yang saya khawatirkan di dunia,” katanya.
Sementara itu para perwira muda yang menolak menyerah juga terus mempercepat langkah. Mereka sadar, jika Kaisar jadi merekam pidato dan pidato itu kemudian disiarkan, mereka kehilangan kesempatan untuk bertindak. Karena itu Mayor Kenji Hatanaka, penggerak paling fanatik upaya pemberontakan, bersama sejumlah perwira lainnya, pada tanggal 14 Agustus malam itu juga memutuskan untuk segera bergerak. Modal utama mereka sebenarnya hanya optimisme bahwa sejumlah perwira “kunci” bisa dimintai dukungan. Kalau perwira kunci itu sudah memberi dukungan, maka pasukan di bawahnya diyakini akan ikut komandonya. Perwira kunci yang mereka incar adalah Kolonel Kazuo Mizutani, Kepala Staf Divisi I Pengawal Kaisar, dan Panglima Divisi Letjen Mori. Kalau Jenderal Mori bisa diyakinkan mendukung gerakan mereka, maka jajaran di bawahnya bakal mengikuti komandonya.
Di tempat lain, di ruang pers kediaman resmi PM, seorang wartawan koran Asahi Shimbun, Toshio Shibata, masih berupaya bersabar menunggu pernyataan resmi dari pemerintah soal penandatanganan pernyataan kekaisaran oleh Kaisar dan pengesahannya oleh kabinet. Seraya menunggu, dia mendengarkan siaran berita radio pukul 21.00, yang biasanya berisi pengumuman dari markas besar angkatan darat. Penyiar dengan nada tenang menyampaikan bahwa besok tengah hari akan ada siaran penting dan seluruh rakyat Jepang diharapkan menyimak pengumuman itu. Hanya itu isi berita malam itu, dan radio kembali memutar lagu-lagu patriotis. Hanya Shibata sebagai wartawan yang mangkal di kantor PM, dan sedikit orang di pemerintahan yang paham apa yang akan diumumkan tengah hari besok, pernyataan yang tak terbayangkan untuk menyerah, meletakkan senjata, dan bersiap membangun Jepang baru. Membayangkan apa yang akan terjadi besok siang membuat Shibata bergidik.
Di gedung Kementerian Peperangan di Ichigaya, Tokyo, Menteri Peperangan Jenderal Korechika Anami yang baru datang kaget karena gedung yang juga markas besar angkatan darat itu gelap dan sepi, bahkan tak ada penjaga di gerbang. Anami bergegas ke kantornya, lalu mulai membereskan meja kerjanya. Setelah itu dia mulai menulis. Yang pertama, pernyataan resmi kementerian untuk disiarkan ke segenap personel. “… Yang Mulia Kaisar sudah memutuskan. Angkatan Darat mengharapkan Anda semua menaati keputusan itu dan tidak melakukan hal-hal di luar perintah yang akan mencemarkan tradisi gemilang Angkatan Darat Kekaisaran dan jejak pengabdiannya yang luar biasa. Segenap prajurit harus bertindak dengan bijak, yang akan menjadi wujud kehormatan dan kejayaan Balatentara Jepang di mata dunia.
Menteri Peperangan dan Kepala Staf menerbitkan surat perintah ini dengan penuh keprihatinan dan mereka semua mengharapkan segenap prajurit menghormati sepenuhnya pedihnya perasaan Yang Mulia Kaisar saat beliau secara langsung menyiarkan pernyataan kekaisaran yang menghentikan pemerintah pada pukul 12.00 tengah hari besok.”
Setelah menulis pernyataan itu, Anami lantas menulis surat pengunduran dirinya, lalu melipat dan mengantonginya. Kolonel Okikatsu Arao, Kepala Seksi Hubungan Militer Biro Hubungan Militer Kementerian Peperangan, muncul di ruangannya. Kepadanya Anami langsung memberi perintah. “Arao, saya tidak mau perwira-perwira muda kita melakukan aksi-aksi bodoh yang menurut mereka heroik. Negeri ini masih butuh mereka. Saya ingin mereka melanjutkan hidup. Tak perlu ada yang melakukan seppuku [bunuh diri untuk membela harga diri, lebih populer diistilahkan sebagai harakiri]. Kamu bisa membantu,” tegas Anami.
“Bagaimana caranya?” tanya Arao, yang sebenarnya termasuk golongan perwira yang menentang rencana untuk menyerah. “Bicara ke mereka, sampaikan apa yang aku katakan tadi, bantu mereka untuk bergabung ke kepolisian,” kata Anami. Keduanya sebenarnya sadar, ini bukan hal mudah. Tentara yang selalu didoktrin untuk tidak pernah menyerah kepada musuh dan berjuang sampai tetes darah terakhir demi kejayaan negeri dan diri, tiba-tiba diminta meletakkan senjata dan harus menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
“Lalu bagaimana dengan kita, Jenderal? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Arao.

Anami tak langsung menjawab. Dia berdiri, lalu melangkah pelan-pelan ke jendela, memandang kegelapan. “Rakyat kita pekerja keras. Jepang pasti akan pulih. Dan meskipun Angkatan Darat tidak akan lagi punya peran bagi Jepang di era baru, orang-orangnya bisa. Kamu bisa Arao. Inilah yang mau kubilang padamu. Jaga energimu untuk tugas-tugas berat di masa depan yang akan sangat banyak, dan akan berpahala besar,” ujar Anami sambil menatap bawahannya. “Ayo, aku harus kembali ke rapat kabinet sekarang,” ajak Anami seraya mengambil sekotak cerutu dari mejanya dan membungkusnya dengan selembar kertas koran. Mereka kemudian berjalan menurun tangga ke lobi gedung. Anami lantas mengambil beberapa batang cerutu dari kotak yang dibawanya dan memberikannya kepada Arao. “Ambil ini. Sampai jumpa lagi,” ujarnya sambil tersenyum, lalu masuk ke mobil untuk pergi ke kediaman PM, tempat rapat kabinet akan digelar.
Di gedung Kementerian Luar Negeri, Wakil Menlu Shunichi Matsumoto baru saja menyetujui konsep naskah yang akan dikirimkan lewat sandi radio ke perwakilan-perwakilan Jepang di Swiss dan Swedia. Pesan itu nantinya akan diteruskan ke pemerintah AS, China, Inggris, dan Uni Soviet. Pesan itu akan dikirimkan jika seluruh anggota kabinet sudah menandatangani pernyataan resmi kekaisaran yang menerima Deklarasi Potsdam yang berarti menerima tuntutan penghentian perang dan meletakkan senjata.
Isi pesan itu berbunyi: “Pernyataan Pemerintah Jepang, 14 Agustus 1945 bagi Pemerintah Amerika Serikat, Inggris Raya, Uni Soviet, dan China:
Dengan merujuk kepada catatan pemerintah Jepang pada 10 Agustus terkait penerimaan terhadap syarat-syarat dalam Deklarasi Potsdam dan jawaban dari pemerintah AS, Inggris, Uni Soviet, dan China yang dikirimkan oleh Menteri Luar Negeri AS, Byrnes, yang bertanggal 11 Agustus, pemerintah Jepang dengan hormat menyampaikan kepada pemerintah keempat negara sebagai berikut:
- Yang Mulia Kaisar telah menyampaikan pernyataan resmi kekaisaran terkait penerimaan Jepang atas segala persyaratan Deklarasi Potsdam.
- Yang Mulia Kaisar sudah siap mengotorisasi dan menjamin penandatanganan oleh pemerintahnya dan Markas Besar Angkatan Bersenjata atas segala persyaratan terkait pelaksanaan Deklarasi Potsdam. Yang Mulia Kaisar juga siap mengumumkan titahnya bagi seluruh personel militer di darat, laut, dan udara dan semua kekuatan bersenjata di bawah wewenangnya di mana pun berada untuk menghentikan semua operasi, meletakkan senjata, dan menerbitkan perintah yang mungkin diminta oleh Panglima Tertinggi Balatentara Sekutu demi pelaksanaan semua persyaratan di atas.”
Meneken Keputusan Bersejarah
Di ruang sidang kabinet di kediaman resmi PM, para menteri mulai berkumpul untuk menandatangani pernyataan resmi kekaisaran, yang akan memberikan legalitas penuh atas dokumen itu. PM kemudian berdiri, membungkuk di atas kertas tebal dokumen pernyataan yang ditulis dengan tangan, lalu mengambil kuas, menyentuhkannya ke tinta, dan menggoreskan namanya, “Suzuki Kantaro.” Naskah itu kemudian beredar di meja, secara bergantian anggota kabinet lainnya membubuhkan tanda tangannya. Tiap kali naskah tiba di hadapan seseorang, dia akan berdiri tegak, membungkuk hormat, lalu duduk lagi, membaca ulang naskah itu, baru kemudian menggoreskan karakter namanya dengan kuas bertinta.
Direktur Biro Informasi Kabinet, Hiroshi Shimomura, juga ikut menandatangani naskah itu. Namun setelahnya dia berpamitan karena harus pergi ke istana, menunggui proses rekaman pidato Kaisar malam itu yang akan membacakan pernyataan resmi soal penyerahan diri Jepang untuk kemudian disiarkan tengah hari besok.
Pada saat yang lebih kurang sama, di markas Resimen Kedua Divisi Pengawal Kekaisaran, sang komandan resiman, Kolonel Takeshi Haga, sedang menerima dua tamu yang “berisik,” Mayor Hatanaka dan Letkol Jiro Shiizaki. Kedua anggota staf Kementerian Peperangan itu sudah sejam ngoceh membujuknya agar mengerahkan pasukan yang dipimpinnya untuk melindungi Kaisar dari apa yang mereka sebut sebagai “para pengkhianat” di sekitarnya. Gerakan perlindungan Kaisar ini akan mengisolasinya dari pihak-pihak yang mempengaruhinya untuk menitahkan diakhirnya perang dan penyerahan diri. Hatanaka dan Shiizaki juga menjelaskan bahwa jika nantinya Kaisar sudah bisa “berpikir jernih” dan menerima apa yang disampaikan oleh para pemimpin gerakan, maka Kaisar bakal membatalkan perintah menyerah, dan tentara pun akan melanjutkan perjuangan. Kehormatan dan kejayaan Jepang dan tentaranya akan terus terpelihara tanpa harus tunduk kepada musuh.
Kepada Haga yang terlihat masih tidak yakin, Hatanaka dan Shiizaki menambahkan hal yang sebenarnya bohong belaka. Mereka menyatakan bahwa Menteri Peperangan, Kepala Staf Umum AD, dan Panglima Komando Wilayah Timur dan Panglima Divisi Pengawal Istana sudah mendukung rencana mereka. Kalau Haga tak mau ikut, kata keduanya sedikit menggertak, dia akan kehilangan kesempatan berperan penting dan bahkan mungkin terjerat masalah yang lebih besar. Hatanaka dan Shiizaki memang terus memainkan kartu seperti ini. Mereka berharap memancing satu perwira kunci agar mendukung rencana mereka, dan jika dukungan didapat, mereka berharap hal ini akan memengaruhi perwira kunci lain untuk ikut serta.
Akhirnya Haga memanggil ajudannya, Kapten Soga. Soga kaget melihat dua perwira asing yang duduk dengan tegang di hadapan komandannya. “Soga, catat perintah ini,” ujar Haga. Tapi Haga tak kunjung berkata apa-apa. Soga, Hatanaka, dan Shiizaki hanya bisa menunggu Haga yang seperti sedang berpikir keras. “Baiklah,” kata Haga akhirnya memecah kesunyian. “Kalian semua silakan pergi. Saya berubah pikiran, terima kasih,” katanya. Soga hanya bisa bingung dengan kondisi itu.
Tak adanya sikap jelas dari Haga ternyata tak menghalangi Hatanaka dan Shiizaki untuk terus “menghalalkan segala cara” untuk menggulirkan gerakan mereka. Keduanya pergi ke Kementerian Peperangan, dan membangunkan Letkol Masataka Ida yang tidur di salah satu ruangan, tempatnya tinggal selama berhari-hari selama itu. “Pengawal Kekaisaran mendukung kita!” kata Hatanaka. “Yah, memang belum termasuk Jenderal Mori. Tapi dia pasti akan mendukung juga. Kolonel Haga sudah menyatakan dukungan,” katanya. “Kalau Kolonel Haga sudah mendukung, Jenderal Mori pasti akan mengikuti saran bawahannya,” imbuh dia.
“Bagaimana kalau Mori tidak mau?” tanya Ida. “Kalau memang begitu ya sudah. Tapi buat kami masalahnya bukan soal Jenderal Mori mendukung atau tidak, tapi bagaimana kita memaksimalkan semua upaya,” tegas Hatanaka. Ida masih menyanggah. “Semua rencanamu sangat bergantung pada Divisi Pengawal Kekaisaran, tapi kalau panglima mereka, Jenderal Mori, tidak mendukung, mau apa?” ujar dia. “Sebagai upaya terakhir, kita mungkin harus membunuh. Kita harus membunuh jika tak ada jalan lain untuk menyelamatkan negeri ini. Tolong pikirkan, apakah sepadan terbunuhnya satu dua orang jika dibandingkan dengan perjuangan menyelamatkan negara?” kata Hatanaka berapi-api.
“Kamu itu mau apa sebenarnya? Mau bikin huru-hara politik? Kekacauan? Mau apa?” tukas Ida. “Saya yakin gerakan ini aman. Bukan bikin kacau! Saya berjanji, kalau Bapak Letkol mau bicara dengan Jenderal Mori, tapi akhirnya gagal meyakinkan dia mendukung gerakan ini, saya akan lupakan semua rencana. Ini janji prajurit,” tegas Hatanaka. “Bisakah aku percaya padamu?” tanya Ida. “Ini janji pribadi saya,” sahut Hatanaka. “Baiklah, aku akan coba,” kata Ida.
Upaya Terakhir Membujuk Panglima Pengawal
“Tolong sampaikan ini untuk meyakinkan Jenderal Mori. Gerakan ini bukan gerakan kaum revolusionis. Justru kaum revolusionis itu adalah mereka yang mendorong agar Jepang menyerah. Jepang tidak bisa menyerah, itu bukan warisan leluhur kita! Kita semua hanya ingin agar Jepang sebagaimana yang diwariskan leluhur ini bertahan terus. Kita ini bukan revolusionis, kita ini tradisionalis!” tegas Hatanaka.

Hatanaka, Shiizaki, dan Ida, kemudian berangkat bersepeda menembus kegelapan Kota Tokyo ke Markas Divisi Pengawal Kekaisaran. Di ruang staf, ketiganya berjumpa dengan sesama perwira penggerak aksi yaitu Mayor Hidemasa Koga yang kebetulan juga menantu mantan Menteri Peperangan dan Perdana Menteri Hideki Tojo. Ada pula Mayor Ishihara dan Kapten Shigetaro Uehara dari Akademi Angkatan Udara. Niat mereka bertemu Jenderal Mori terhambat karena sang jenderal sedang ada tamu dan tak bisa diganggu. Hatanaka yang tak sabaran kemudian berteriak kalau ada sesuatu yang harus dia lakukan, dan dia pun pergi begitu saja bersama Kapten Uehara. Tinggallah Letkol Ida dan Shiizaki yang harus menghadapi dan meyakinkan Mori.
Ternyata tamu Mori adalah iparnya, Letkol Michinori Shiraishi, yang sehari-hari bertugas di markas Angkatan Darat II di Hiroshima, dan beberapa hari sebelumnya datang di Tokyo menyertai panglimanya, Marsekal Shunroku Hata. Lewat tengah malam, Ida dan Shiizaki akhirnya dipersilakan masuk ke ruang kerja Mori. Mori duduk di belakang mejanya, kedua tamunya duduk di depannya, dan Shiraishi berdiri di belakang Mori. Sepertinya Mori sudah sadar bahwa kedua tamu tengah malamnya ini akan membujuknya mendukung pemberontakan untuk menolak perdamaian. Mori pun mendahului berbicara, dengan nada tenang dan pelan dia membeberkan aneka filosofi hidup dan kekesatriaan. Dia selama ini sering dijuluki “biarawan” karena sikapnya yang tenang dan suka bicara soal filosofi. Tiap kali Ida mau menyela, Mori mengangkat tangan, tak mau disela, dan melanjutkan pesan-pesannya.
Akhirnya Ida bisa menyela dan membeberkan alasan kenapa perdamaian dan penyerahan diri harus ditolak. “Apa pun kebenaran dalam ucapanmu, Kaisar sudah menyatakan keputusannya. Sebagai Panglima Pengawal Kekaisaran saya harus menaati keputusan itu, dan saya harus memastikan anak buah saya juga menaatinya,” kata Mori. Ida masih memberikan argumen terakhir. “Kalau kita sampai menyerah tanpa sedikit pun bertempur melawan musuh di Tanah Air, ini adalah pengkhianatan terhadap semangat ksatria kita. Sekaranglah kesempatan untuk membangkitkan semangat Jepang, dan Pengawal Kekaisaran adalah yang paling pantas untuk memimpin kita semua,” kata Ida.
Ruangan sempat hening sampai Mori kemudian bicara. “Saya bersimpati padamu, menghargai tujuanmu, dan bahkan mungkin menghormatinya. Bahkan jika kondisinya lain, saya mungkin akan mendukung. Tapi ini sudah tak mungkin lagi, saya harus menaati perintah Kaisar,” kata dia. “Akan tetapi, saya ingin berdoa dulu di Kuil Meiji. Mungkin ada jawaban jelas dari doa saya,” imbuhnya.
Ida mengangguk hormat, sedikit merasa lega. Setidaknya dia sudah mengungkapkan semua alasan, dan meski nantinya Mori tetap menolak mendukung, apa yang sudah disampaikannya bagi dia tidak percuma. Tepat saat itu Kepala Staf Divisi Pengawal Kekaisaran, Kolonel Mizutani, melongok ke dalam ruangan Mori. “Nah, kebetulan. Letkol Ida sepertinya mau bicara sama Anda,” kata Mori kepada Mizutani. “Siap, saya tunggu di ruangan,” jawab Mizutani. “Coba, apa pendapat Kolonel Mizutani soal pemikiranmu,” kata Mori kepada Ida. Ida kemudian bangkit dan mengikuti Mizutani ke ruangannya, dan di koridor dia bertemu Hatanaka dan Uehara yang datang dengan terengah-engah. Ida tersenyum pada Hatanaka dan memintanya menunggu di ruangan Jenderal Mori.
Di ruangan Mizutani, Ida kembali menguraikan semua argumentasi soal perlunya pemberontakan untuk melawan keputusan penyerahan diri. Tapi belum lama dia bicara, terdengar letusan tembakan pistol menggema di dinding-dinding markas, sepertinya datang dari arah ruangan Mori. Ida dan Mizutani terlonjak kaget, lalu segera lari ke koridor. Pintu ruangan Mori terbuka dan Mayor Hatanaka keluar, tangannya menggenggam sepucuk pistol, ekspres wajahnya datar. “Sudah tak ada waktu lagi untuk bicara. Aku harus membunuhnya. Tak ada pilihan,” ujarnya. Ida dan Mizutani lalu masuk ke ruangan, menjumpai pemandangan mengerikan. Di lantai tergeletak tubuh Jenderal Mori dan iparnya, Letkol Shiraishi yang bersimbah darah. Kepala Mori nyaris lepas, sedangkan kepala Shiraishi sudah lepas sama sekali. Mayor Uehara terlihat sedang mengelap pedangnya yang rupanya dipakai untuk memenggal kepala keduanya. Letkol Shiizaki yang dari tadi duduk di situ terlihat bengong dan terguncang. Ruangan penuh cipratan dan genangan darah.
Darah sudah mengalir, nyawa sudah melayang. Apa yang selanjutnya terjadi? (Bersambung)

