Belajar dari Keuletan Iran dalam Konflik Melawan AS-Israel

Ilustrasi pasukan Iran dalam sebuah latihan militer di Teluk Persia. (Foto: aa.com.tr)
Ilustrasi pasukan Iran dalam sebuah latihan militer di Teluk Persia. (Foto: aa.com.tr)

Keuletan Iran dalam konflik melawan AS-Israel layak menjadi kajian serius di mana pun termasuk di Indonesia. Iran menunjukkan ketahanannya dalam menghadapi dua negara jago senjata yang kenyang pengalaman operasi tempur berskala besar. Dalam hitungan kekuatan di atas kertas, Iran memang tak sebanding dengan AS dan Israel dalam kuantitas dan kualitas persenjataan. Kekuatan militer Iran pun cukup banyak yang tersapu oleh gelombang serangan udara AS dan Israel. Akan tetapi kemampuan mereka bertahan hingga saat ini termasuk dalam melancarkan serangan-serangan udara balasan menggunakan rudal dan pesawat nirawak atau drone menjadi bukti bahwa Iran bukan lawan yang enteng.

Hal ini antara lain disorot oleh Ngasiman Djoyonegoro, analis intelijen, pertahanan, dan keamanan dalam tulisannya yang dipublikasikan di Antara, Rabu (25/3/2026). Dia menjelaskan bahwa perang konvensional berpegang pada kuantitas dan kualitas alat utama sistem senjata (alutsista) dan infrastruktur penunjang seperti satelit komunikasi dan intelijen, radar, dan sebagainya. Perang, menurut Ngasiman, dipahami sebagai perkara kecepatan sensor membaca ancaman dan menghalaunya, kecerdasan sistem komando mengolah data, dan presisi senjata menghantam sasaran. Cepat, akurat, dan menentukan.

Akan tetapi Ngasiman juga menyatakan bahwa keunggulan teknologi memang menghadirkan daya hancur luar biasa, tetapi tidak selalu berbuah kemenangan dan dominasi. Sudah berulang kali terjadi dalam medan konflik modern di mana dominasi militer justru banyak berujung dalam perang panjang yang mahal, melelahkan, dan menggerus legitimasi politik. Kemenangan tak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat memukul, melainkan siapa yang paling siap bertahan.

Hal ini pula yang terlihat dalam konflik Iran melawan AS-Israel. Iran sadar betul mereka tidak mungkin menang apabila bertarung di “arena bermain” AS-Israel.. Iran tidak memiliki armada kapal induk dan personel militer berjumlah besar dengan teknologi modern, tidak menguasai supremasi udara global, dan tidak menikmati akses bebas pada rantai pasok teknologi militer mutakhir sebagaimana AS-Israel. Apalagi mereka juga bertahun-tahun dicekik sanksi ekonomi yang membuat mereka tidak leluasa dan cepat mengakses dinamika teknologi modern. Namun mereka punya cara lain untuk menyiasatinya.

Dalam pandangan Ngasiman, Iran menggunakan doktrin Revolution in Civil-Military Affairs (RCMA). RCMA memandang perang sebagai orkestrasi total seluruh instrumen negara, yaitu militer, ekonomi, diplomasi, industri, informasi, bahkan psikologi publik. Garis pemisah antara sipil dan militer menjadi kabur. Negara tidak lagi bertempur hanya dengan tentaranya, melainkan dengan seluruh ekosistem kekuatannya.

Hal ini diwujudkan dalam Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Pengawal Revolusi Islam, sebuah angkatan berkemampuan militer yang terpisah dari struktur militer konvensional, yang memiliki satuan-satuan operasi khusus seperti Pasukan Quds. , Iran membangun jejaring pengaruh yang tidak menyerupai struktur militer konvensional. Mereka membangun jejaring dengan kelompok-kelompok di berbagai kawasan konflik, di mana kelompok-kelompok ini menjadi simpul-simpul perlawanan yang lentur, adaptif, dan sulit dipetakan dengan logika perang tradisional.

Jejaring semacam itu bukan sekadar alat tempur, melainkan instrumen politik, sosial, dan ideologis sekaligus. Lawan dipaksa menghadapi bukan hanya serangan bersenjata, melainkan juga tekanan opini global dan dinamika politik domestik. Iran juga memanfaatkan geografi sebagai bagian dari integrasi sipil-militer.

Pemanfaatan kelompok-kelompok proksi ini membuat Iran bisa dengan luwes memainkan aksi “tendangan tanpa bayangan” alias bertindak tanpa terlibat langsung dalam menyerang lawan-lawan mereka. Ngasiman menyebut dengan cara ini tidak ada pusat gravitasi tunggal yang bisa dihancurkan untuk mengakhiri konflik. Ketika satu titik ditekan, titik lain menyala. Ketika satu kelompok dilemahkan, jejaringnya tetap hidup. Konflik menjelma menjadi medan bayangan. musuh terasa nyata, tetapi sulit disentuh secara menentukan.

Mendiang Jenderal Qasem Soleimani yang meninggal dunia dalam serangan di Irak oleh AS pada 2020 adalah arsitektur utama di balik jaringan proksi Iran. Ia menghabiskan puluhan tahun di medan perang Irak, Suriah, dan Lebanon untuk menyatukan berbagai milisi menjadi satu kekuatan terkoordinasi. Dialah yang mengubah perang asimetris dari sekadar teori menjadi mesin geopolitik yang efektif.

Iran juga memanfaatkan posisi geografisnya di salah satu sisi Selat Hormuz yang menjadi pintu antara Teluk Persia dengan Samudera Hindia, yang menjadi jalur lalu lintas gas dan minyak bumi. Setiap eskalasi ketegangan di Selat Hormuz langsung memantul ke pasar energi internasional. Harga minyak berfluktuasi, biaya logistik melonjak, dan tekanan politik menjalar ke banyak ibu kota dunia. Dampaknya melampaui kalkulasi militer. Inilah paradigma multidimensional. Di sinilah militer berubah menjadi instrumen dengan efek sistemik. Bukan semata menghancurkan kekuatan lawan, melainkan memengaruhi stabilitas ekonomi dan kalkulasi politik internasional.

Aspek lain yang menonjol menurut Ngasiman adalah pemanfaatan teknologi berbiaya rendah dengan dampak strategis tinggi. Iran mengembangkan produksi massal drone dan rudal berbasis kemandirian industri domestik. Iran memiliki program rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Mereka fokus pada daya jangkau dan kuantitas. Drone murah seperti Shahed digunakan untuk menguras rudal pada sistem pertahanan udara musuh yang sangat mahal seperti Patriot atau Iron Dome. Secara ekonomi, ini adalah kemenangan asimetris di mana drone seharga US$20.000 harus diburu dan dijatuhkan dengan rudal pencegat seharga US$2.000.000.

Efektivitas tidak diukur dari kecanggihan tunggal, melainkan rasio dampak terhadap biaya. Ketika perangkat murah memaksa lawan mengaktifkan sistem pertahanan yang sangat mahal, tercipta asimetri ekonomi yang melelahkan bagi lawan. Strateginya bukan menghancurkan secara spektakuler, melainkan menguras secara perlahan. Lawan dipaksa berada dalam kondisi siaga berkepanjangan. Anggaran pertahanan terkuras, publik jenuh, dan tekanan politik meningkat.

Dimensi informasi pun menjadi medan tempur yang tak kalah penting. Di era konektivitas digital, persepsi publik adalah ruang pertempuran. Iran memanfaatkan diplomasi media untuk membangun narasi tandingan terhadap wacana dominan di media dan media sosial. Dari pernyataan berbagai pejabat negara para Mullah ini, strategi militer bukan sekadar manuver tempur, melainkan kerangka besar pertahanan nasional yang menyatukan seluruh instrumen kekuatan negara.

Ngasiman pun mengingatkan pemahaman strategi Iran ini penting untuk negara-negara berkembang. Kekuatan nasional tidak semata ditentukan oleh belanja militer besar, tetapi oleh kemampuan mengintegrasikan potensi negara dari aspek ketahanan ekonomi, kohesi sosial, diplomasi aktif, dan penguasaan narasi. Bukan lagi siapa yang paling unggul secara absolut dalam teknologi dan militer, melainkan siapa yang paling terintegrasi secara sistemik. Negara menjadi orkestrasi besar dan militer hanyalah salah satu instrumennya.

Negara maju mungkin unggul dalam satu pukulan telak, tetapi konflik panjang menuntut stamina dan menguras sumber daya secara cepat. Gabungan tekanan ekonomi, operasi siber, perang informasi, dan diplomasi koersif menjadi spektrum peperangan yang melelahkan. Siapa yang bertahan lebih lama dalam peperangan dialah pemenangnya.

Baca Juga:

Berapa Biaya Operasi Militer AS di Iran? Dalam 100 Jam Rp98 Triliun Dibakar!

Selat Hormuz Diblokade Dampak Konflik AS-Israel vs Iran, Ini Jalur Laut Vital Transportasi Minyak Dunia

Share the Post: