Serangan AS di Iran yang dibungkus dengan nama Operation Epic Fury (Kemarahan Epik) menelan biaya luar biasa besar. Biaya operasi militer AS di Iran kalau dihitung-hitung mencapai lebih kurang Rp98 triliun dalam 100 jam pertama eksekusinya. Jumlah ini seperti dilaporkan kantor berita Turki, Anadolu, yang dikutip bisnis.com, Rabu (11/3/2025), setara dengan 0,69% anggaran militer AS pada 2025.
Pada 24 jam pertama operasi tersebut, AS diperkirakan telah menghabiskan biaya sebesar US$779 juta atau setara dengan Rp13,1 triliun. Seiring berjalannya operasi, total biaya operasional serangan AS telah mencapai sekitar US$3,3 miliar dengan angka dari Center for Strategic and International Studies menunjukkan total yang serupa.
Tak hanya biaya operasional, Amerika juga diketahui mengalami kehilangan aset militer yang signifikan akibat serangan balasan dari Iran. Menurut perkiraan Anadolu, AS telah kehilangan aset militer mencapai sekitar US$2,52 miliar. Penyumbang dari kerugian AS ini berasal dari hancurnya sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar. Sistem radar yang diperkirakan bernilai US$1,1 miliar ini dikonfirmasi telah rusak setelah dihantam oleh rudal Iran pada Sabtu.
Selanjutnya, pada hari Minggu, tiga pesawat F-15E Strike Eagle juga dilaporkan jatuh dalam insiden tembakan salah sasaran yang melibatkan pertahanan udara Kuwait. Meskipun keenam awak pesawat selamat, tetapi pesawat-pesawat tersebut hancur dengan biaya penggantinya yang diperkirakan mencapai US$282 juta.
Pejabat Amerika Serikat juga menyebut bahwa tiga pesawat pengintai dan serang MQ-9 Reaper milik Angkatan Udara AS telah ditembak jatuh. Kerugian dari tiga pesawat pengintai tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$90 juta. Dalam serangan awal Iran, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain turut menjadi sasaran. Serangan oleh Iran telah menghancurkan dua terminal komunikasi satelit serta sejumlah bangunan lainnya. Laporan intelijen sumber terbuka mengidentifikasi terminal SATCOM yang menjadi target sebagai AN/GSC-52B, dengan perkiraan biaya sebesar US$20 juta, termasuk biaya penyebaran dan pemasangan.
Tak hanya terminal SATCOM yang hilang di Bahrain, citra satelit yang dianalisis oleh New York Times dari Camp Arifjan di Kuwait juga menunjukkan tiga radome lagi yang hancur, menambah biaya sekitar US$30 juta. Sejak laporan awal mengenai hancurnya komponen radar AN/TPY-2 dari sistem Rudal Anti-Balistik (ABM) THAAD yang ditempatkan di Kota Industri Al-Ruwais di Uni Emirat Arab, setidaknya satu sistem AN/TPY-2 lainnya di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania juga disebut telah hancur.
Berdasarkan laporan tersebut, komponen radar yang rusak diperkirakan bernilai US$500 juta per unit. Selain itu, terdapat juga laporan yang menyebutkan bahwa sistem lain telah terkena serangan di UEA, tetapi belum ada konfirmasi resmi maupun citra satelit yang mendukung laporan ini. Secara keseluruhan, Iran disebutkan telah merusak aset militer AS di kawasan tersebut dengan nilai sekitar US$2,52 miliar.
Potensi Konflik Berskala Global
Di sisi lain, seorang pakar memprediksi konflik Iran melawan Amerika Serikat–Israel berpotensi menjadi perang berkepanjangan yang dapat mengguncang sistem ekonomi global, memicu krisis energi, dan bahkan membuka kemungkinan eskalasi menuju konflik berskala dunia. Konflik tersebut tidak hanya melibatkan aspek militer, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor agama, geopolitik, energi, ekonomi, serta rivalitas kekuatan besar dunia.
Hal ini disampaikan Prof. Jiang Xueqin atau yang lebih dikenal dengan nama Prof. Jiang, dalam pernyataan di kanal Youtube-nya, Predictive History, Selasa (10/3/2026). Jiang merupakan pendidik, penulis, dan analis geopolitik kelahiran Guangdong, Tiongkok. Dia merupakan alumni Yale University, Amerika Serikat, dengan gelar sarjana (BA), serta memiliki kewarganegaraan Kanada. Prof. Jiang memiliki pengalaman di berbagai bidang, mulai dari jurnalisme, pembuatan film dokumenter, termasuk pernah bekerja dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Saat ini dia berbasis di Beijing dan mengajar di Moonshot Academy sejak 2022.
Prof. Jiang menjelaskan konflik bermula dari operasi militer yang disebut decapitation strike, yakni serangan yang bertujuan melumpuhkan kepemimpinan musuh. Dalam serangan yang terjadi di Teheran tersebut, Amerika Serikat dan Israel menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Pihak Amerika dan Israel mengklaim memiliki intelijen akurat mengenai lokasi Khamenei sehingga melancarkan serangan udara untuk menghancurkan target. Pada awalnya Iran membantah kabar kematian Khamenei. Kemudian media pemerintah Iran mengakui bahwa pemimpin tersebut meninggal dalam serangan tersebut.
Menurut Prof. Jiang, Iran kemudian membingkai kematian tersebut sebagai martyrdom (kematian syahid). Dia menjelaskan bahwa dalam tradisi Syiah, konsep syahid memiliki makna religius yang sangat kuat karena sejarah panjang kelompok Syiah yang sering mengalami penindasan. Karena itu, kematian pemimpin mereka dapat menjadi simbol perjuangan masyarakat Iran untuk melawan musuh secara total. Bagi masyarakat Iran, perang tersebut tidak lagi sekadar konflik geopolitik, melainkan berubah menjadi perang religius yang menuntut pembalasan.
Prof. Jiang menilai Selat Hormuz sebagai salah satu faktor paling krusial dalam konflik ini. Selat sempit dengan lebar sekitar 33 kilometer tersebut merupakan jalur utama distribusi energi dunia. Sekitar 20% minyak global melewati jalur ini setiap hari menuju berbagai negara di Asia. Beberapa negara sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan ini, antara lain India sekitar 60% kebutuhan minyak berasal dari kawasan Teluk, Tiongkok sekitar 40%, dan Jepang sekitar 75%. Menurut Prof. Jiang, Iran telah menutup jalur tersebut sebagai bagian dari strategi perang ekonominya. Jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama, dunia diperkirakan akan menghadapi krisis energi serius yang dapat memicu resesi global.
Dia juga menjelaskan bahwa kawasan Teluk Persia merupakan pusat dari sistem petrodollar, yaitu sistem perdagangan minyak global yang menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama. Jika sistem tersebut runtuh, dampaknya dapat sangat besar terhadap stabilitas ekonomi Amerika Serikat.
Prof. Jiang menilai konflik ini merupakan contoh klasik dari asymmetric warfare (perang asimetris). Iran menggunakan strategi militer yang sangat berbeda dari Amerika Serikat. Salah satu senjata utama Iran adalah drone Shahed yang relatif murah dengan harga sekitar US$35.000 hingga US$50.000 per unit. Drone tersebut dapat diproduksi secara massal dan mudah disembunyikan di berbagai lokasi. Menurut Prof. Jiang, Iran diperkirakan mampu memproduksi sekitar 500 drone per hari dan memiliki stok hingga 80.000 unit. Drone tersebut dapat digunakan untuk menyerang berbagai target strategis, seperti pangkalan militer, ladang minyak, instalasi energi, dan pabrik desalinasi air.
Sebaliknya, Amerika Serikat menggunakan sistem pertahanan seperti Terminal High Altitude Air Defense (THAAD) yang sangat mahal. Satu rudal THAAD dapat berharga sekitar US$1 juta, sehingga biaya pertahanan menjadi jauh lebih besar dibandingkan biaya serangan.
Meski memiliki beberapa keunggulan strategis, Iran juga memiliki kelemahan serius yaitu krisis air. Menurut Prof. Jiang, Iran mengalami kekeringan yang cukup parah selama beberapa dekade terakhir. Salah satu contoh paling nyata adalah menyusutnya Danau Urmia, yang dulunya merupakan salah satu danau terbesar di dunia. Penurunan volume air di danau tersebut menunjukkan tekanan lingkungan yang sangat besar terhadap Iran. Karena itu, Prof. Jiang menilai Amerika Serikat dan Israel kemungkinan akan menargetkan infrastruktur air Iran, seperti bendungan, waduk, jaringan distribusi air, dan pembangkit listrik. Strategi tersebut bertujuan membuat Iran tidak layak dihuni sehingga memicu krisis kemanusiaan dan tekanan politik internal.
Prof. Jiang menilai konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi menarik keterlibatan negara-negara besar lain. Beberapa negara Eropa kemungkinan akan berpihak kepada Amerika Serikat karena bergantung pada energi dari kawasan Teluk. Di sisi lain, Rusia kemungkinan akan mendukung Iran karena tidak ingin Iran jatuh ke tangan blok Barat. Tiongkok saat ini berada dalam posisi lebih netral, meskipun tetap memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan energi global. Jika kekuatan-kekuatan besar dunia mulai terlibat secara langsung, konflik tersebut dapat berkembang menjadi perang global yang lebih luas.

