Bubur India, Kuliner Buka Puasa Khas Masjid Jami Pekojan Kota Semarang, Warisan Pedagang Perantau

Bubur India yang menjadi kuliner khas buka puasa di Masjid Jami Pekojan Kota Semarang (Foto: Detikfood)
Bubur India yang menjadi kuliner khas buka puasa di Masjid Jami Pekojan Kota Semarang (Foto: Detikfood)

Bubur ternyata juga menjadi kuliner khas buka puasa di Masjid Jami Pekojan, Kota Semarang. Uniknya, bubur di masjid ini disebut bubur India. Kok bisa?

Istilah ini lekat dengan sejarah lingkungan tempat masjid itu berada. Seperti diuraikan dalam karya tulis berjudul Bubur India di Masjid Jami’ Pekojan Semarang: Kuliner Sebagai Sarana Islamisasi oleh Siti Maziyah, Alamsyah, dan Sutejo Kuwat Widodo dari Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, wilayah Pekojan mendapatkan nama dari para pemukim perantau muslim asal Gujarat, India, yang disebut orang Khoja atau Koja. Para perantau itu adalah pedagang yang berbisnis di kawasan perdagangan Pecinan dan Pasar Johar, Kota Semarang. Kota Semarang sejak abad ke-17 mulai tumbuh sebagai kota bandar perdagangan menggantikan Jepara yang lebih tua, yang pelabuhannya mengalami sedimentasi atau pendangkalan.

Seiring aktivitas mereka, terasa kebutuhan adanya masjid sebagai tempat beribadah. Sumber yang sama menyebut awalnya Masjid Jami Pekojan masih berupa musala kecil seluas sekitar 16 m2 yang dibangun dengan menggunakan kayu. Kemudian seorang pedagang yang juga ulama asal Koja, Syeh Latif, memprakarsai pembangunan masjid yang lebih besar. Bukti waktu pendirian masjid ini terlihat dari prasasti di dinding masjid, yang menunjukkan penanggalan tanggal 15 Sya’ban tahun 1309 H atau bertepatan dengan tanggal 15 Maret 1892 M. Pada prasasti itu terdapat nama lima toko yang turut serta dalam pembangunan masjid, yaitu  Haji Muhammad Ibrahim Akwan, Haji Muhammad Nur, Haji. Muhammad Ali, Haji Muhammad Ya’kub, dan  Haji Akhmad Azhari.

Kembali ke soal penamaan bubur India, menurut narasumber dalam karya tulis tersebut, dulunya untuk berbuka puasa bubur yang disajikan di masjid itu adalah bubur beras biasa. Kemudian ada pedagang asal India yang “ngide” mengusulkan kepada pengurus masjid agar bubur yang dibuat diganti dengan bubur gaya India yang lebih kaya rasa karena menggunakan bumbu aneka rempah. Ide ini diterima dan ketika dicoba dibuat, ternyata masyarakat yang berbuka di masjid memang menyukainya sehingga resep “bubur India” ini yang selanjutnya dipakai.

Bubur India menggunakan rempah-rempah khas yang biasa digunakan di kuliner India seperti kapulaga, kayu manis, dan cengkih, serta bumbu lain seperti bawang merah dan putih, sereh, daun salam, serta santan dari 20 butir kelapa, sementara bahan dasar bubur membutuhkan 20 kg beras. Tambahan berupa sayuran seperti kol dan wortel membuat bubur ini makin komplet cita rasanya. Beda jauh dengan bubur khas Jawa yang biasanya hanya menggunakan campuran santan dengan garam dan daun salam sebagai pemberi rasa.

Masyarakat setempat percaya bubur India ini selain memberi berkah juga dapat menyembuhkan beberapa penyakit, serta baik untuk ibu yang sedang mengandung. Tak heran selain masyarakat yang datang menikmati bubur di masjid untuk berbuka, ada juga yang datang membawa wadah untuk dibawa pulang.

Pada Ramadan 1447 H atau 2026 saat ini Masjid Jami Pekojan pun masih mempertahankan tradisi pembagian bubur India Koja untuk menu berbuka puasa. Marbot Masjid Jami Pekojan, Ahmad Sahirin, kepada bisnis.com, Rabu (11/3/2026) menuturkan dirinya meneruskan tradisi bubur India Koja ini sejak 2013 lalu. Sahirin juga mengungkap bahwa kegiatan pembagian bubur India Koja ini dilaksanakan selama satu bulan penuh hingga malam takbiran. Setiap hari, sekitar 200 porsi bubur dibagikan kepada para jemaah maupun warga sekitar yang rutin datang untuk beribadah sekaligus berbuka puasa bersama di masjid.

Interior Masjid Jami Pekojan Kota Semarang. Masjid yang dibangun pada tahun 1892 ini termasuk masjid tertua di Kota Semarang. (Foto: kompas.com/Sabrina Mutiara Fitri)

“Saya meneruskan orang-orang yang terdahulu. Alasan memilih bubur India Koja buat menu berbuka puasa karena makanan ini enak dan masaknya juga relatif mudah,” tutur Sahirin. Untuk memasaknya warga sekitar turut dilibatkan secara sukarela untuk membantu menyiapkan hidangan berbuka puasa tersebut. Warga yang terlibat memiliki beberapa tugas mulai dari memasak hingga menyiapkan makanan dan minuman tambahan. “Yang terlibat masak biasanya hanya 2-3 orang saja. Tapi yang membantu banyak, karena ada yang bikin teh, ada yang bikin susu, dan ada yang membagikan kurma juga,” tambahnya.

Setiap hari, persiapan memasak bubur India Koja dilakukan sejak pagi sekitar pukul 09.00-10.00 WIB. Berbagai bumbu akan disiapkan terlebih dahulu sebelum proses memasak dimulai setelah waktu salat Zuhur. Dibutuhkan waktu dua hingga dua setengah jam untuk memasak bubur hingga matang.

Semua bahan untuk memasak bubur berasal dari sumbangan masyarakat setempat atau dari wilayah lain yang sudah mengetahui adanya tradisi itu. Biasanya sumbangan sudah berwujud barang berupa beras dan bahan baku lainnya, termasuk gula, teh, kopi, susu, serta kurma untuk tambahan menu buka puasa.

Baca Juga:

Bubur Harisah, Kuliner Khas Ramadan di Kota Cirebon

Kanji Rumbi, Kuliner Khas Aceh untuk Buka Puasa Ramadan

Share the Post: