Filosofi Kue Keranjang Khas Imlek, Simbol Eratnya Hubungan dan Manisnya Kehidupan

Ilustrasi kue keranjang yang dibuat untuk perayaan Imlek (Foto: Antara/Bram Selo)
Ilustrasi kue keranjang yang dibuat untuk perayaan Imlek (Foto: Antara/Bram Selo)

Kue keranjang yang manis dengan tekstur kenyal dan lengket menjadi salah satu makanan yang lazim hadir dalam perayaan Imlek atau Tahun Baru China. Dan sebagaimana aneka makanan yang menjadi ciri khas Imlek, kue keranjang pun punya filosofinya sendiri.

Pemilik rumah produksi kue keranjang Hoki, di Sawangan, Depok, Jawa Barat, Kim Hin Jauhari, kepada kantor berita Antara beberapa waktu yang lalu menjelaskan rasa manis dari gula diyakini dapat memberikan berbagai hal positif dalam kehidupan di tahun yang baru yaitu Imlek seperti rezeki, hubungan yang jauh lebih baik antar sesama dan juga anggota keluarga.

Sedangkan tekstur kue berbahan dasar tepung ketan yang kenyal dan juga lengket, dipercayai oleh masyarakat Tionghoa akan dapat meningkatkan hubungan yang erat antar anggota keluarga, sanak saudara dan juga kerabat. Dengan wujud bulat, kue ini juga melambangkan keutuhan hubungan antar sesama, baik keluarga, tetangga serta masyarakat sekitar agar senantiasa bergandeng tangan tanpa harus mendahulukan ego masing-masing.

Meski begitu, filosofi tersebut menurut Jauhari hanya berlaku pada saat perayaan Imlek saja. Ketika kue keranjang itu dikonsumsi bukan saat perayaan Imlek, filosofi tersebut tidak berlaku lagi.

Sementara sejarawan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (FIB Unpad), Fadly Rahman, dalam kesempatan terpisah menyebut masyarakat Tionghoa sangat amat menghargai simbol-simbol dan juga keyakinan yang kuat. Hal itu juga terjadi pada dunia kuliner. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa kue keranjang ini memiliki simbol untuk saling merekatkan hubungan antara sesama. Hal itu terlihat karena tekstur yang lengket dari kue yang menjadi kudapan pada saat perayaan Imlek.

Dia menyebut pula kue keranjang menurut catatan sejarah kuliner Indonesia sudah hadir sejak abad ke-19 yang lalu. Kue ini juga bisa menjadi simbol akulturasi atau perpaduan antara budaya warga Tionghoa dengan warga lokal Indonesia. Hal itu lantaran adanya berbagai hidangan yang kemudian diadopsi menjadi sajian khas Nusantara. Kue keranjang juga punya kemiripan dengan dodol atau jenang di masyarakat suku Jawa dan juga Betawi.

“Kalau dari bukti-bukti tertulis dan sejarah, kue ini mulai tampak pada abad ke-19. Banyak keluarga peranakan Tionghoa di Betawi dan Pulau Jawa memunculkan home industry kue ini untuk perayaan Imlek,” jelas Fadly. Dia menjelaskan masyarakat Tionghoa yang merantau ke wilayah Nusantara tidak hanya membawa kepentingan agama, ekonomi dan budaya, mereka juga turut membawa berbagai komoditas pangan negara asal mereka yang saat ini telah menjadi makan sehari-hari masyarakat di Indonesia.

“Yang pasti, dalam perjalanan sejarah kuliner Indonesia memang tidak bisa dihindari dari pengaruh-pengaruh Tionghoa. Mereka banyak memperkenalkan komoditas pangan yang dibudidayakan di negara mereka. Sehingga, saat ini kita mengenal kedelai dan juga olahan turunannya seperti kecap, tahu maupun tauco,” tutur dia.

Kue Keranjang dalam Legenda

Nah yang mungkin unik juga, kue keranjang ini dalam filosofi yang lain ternyata punya arti sebagai kue untuk “membungkam” dewa. Sebuah legenda menyebut kue keranjang menjadi persembahan untuk dewa-dewa yang diyakini oleh masyarakat Tionghoa berada di setiap rumah. Dalam agama leluhur Tionghoa atau Taoisme, ada keyakinan bahwa setiap tahun baru Dewa Dapur akan melaporkan berbagai hal terkait rumah dan si empunya rumah yang ditinggali sang dewa kepada Kaisar Giok. Kaisar Giok atau Yu Huang Da Di dalam budaya China dan Taoisme adalah penguasa Surga dan semua alam lain di bawahnya, termasuk alam manusia dan neraka. Dia adalah salah satu dari dewata-dewata terpenting dalam agama tradisional China.

Untuk mencegah Dewa Dapur mengatakan hal-hal buruk, maka si pemilik rumah akan mempersembahkan kue keranjang yang legit dan lengket. Tujuannya, supaya mulut Dewa Dapur terkatup rapat sehingga tidak melaporkan hal-hal buruk kepada Kaisar Giok.

Legenda lain menyebut, kue keranjang yang juga disebut sebagai Nian Gao berasal dari kisah seorang pemuda bernama Gao, dan raksasa jahat bernama Nian. Saat itu Gao dikejar untuk dimangsa Nian. Ketika melarikan diri, Gao masuk ke sebuah desa. Dia lalu meminta penduduk desa membuat kue manis yang lengket yang kemudian ditempelkan di depan pintu rumah-rumah. Dengan begitu, maka Nian akan terkecoh dan teralihkan dengan kue tersebut.

Sementara istilah “kue keranjang” berasal dari proses pemasakan kue perpaduan tepung ketan dan gula yang diaduk hingga mengental itu. Setelah itu kue dimasukkan ke dalam wadah-wadah dan lantas dikukus menggunakan keranjang.

Kata Nian Gao sendiri dalam bahasa China terdengar seperti ucapan yang artinya “semakin tinggi dari tahun ke tahun,” misalnya pendapatan yang jauh lebih tinggi, jabatan lebih tinggi dan segala sesuatu yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Karena kue ini selain dijadikan makanan persembahan kepada dewa juga dibagikan kepada orang lain, maka kue itu menjadi simbol untuk mendoakan kemakmuran bagi yang memberi atau menerima kue tersebut. Nian Gao memiliki tiga filosofi yaitu Fu Lu Shou. Fu adalah fortune (keberuntungan), Lu adalah prosperity (kesuksesan), dan Shou adalah longevity (panjang umur).

Penyajian kue ini pun ternyata juga punya cara tersendiri. Menurut situs madame-chang.com, Orang harus menghindari menyajikannya dalam jumlah empat buah dalam satu wadah karena dalam kepercayaan Tionghoa, “empat” atau shi berarti “mati.” Lebih baik menyajikannya dalam jumlah ganjil. Penyajiannya juga sebaiknya berwujud tumpukan yang menjulang ke atas.

Konon di zaman dahulu, kemakmuran suatu keluarga ditentukan dari banyaknya tingkat kue keranjang yang disusun. Filosofinya, semakin tinggi tingkat kue keranjang yang disusun, maka semakin meningkat rezeki dan kemakmuran yang didapat. Selain itu, menyusun tinggi kue keranjang juga memiliki makna agar doa dapat tersampaikan kepada dewa yang berada di atas.

Baca Juga:

Hidangan Khas Imlek Tak Sekadar Camilan, Ada Nilai di Balik Sebutir Nastar

Kuliner Jadi Bagian Tak Terpisahkan Perayaan Imlek

Share the Post: