Hidangan Khas Imlek Tak Sekadar Camilan, Ada Nilai di Balik Sebutir Nastar

Perajin memproduksi kue keranjang di rumah industri Bak Cang Kue Mangkuk, Tukangan, Yogyakarta, Selasa (10/2/2026). Jelang perayaan Imlek 2026, rumah produksi tersebut mampu memproduksi sekitar 300 kg kue keranjang per hari yang dijual dengan harga Rp50 ribu per kg dan dipasarkan ke sejumlah daerah di Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera hingga Kalimantan. (Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko)
Perajin memproduksi kue keranjang di rumah industri Bak Cang Kue Mangkuk, Tukangan, Yogyakarta, Selasa (10/2/2026). Jelang perayaan Imlek 2026, rumah produksi tersebut mampu memproduksi sekitar 300 kg kue keranjang per hari yang dijual dengan harga Rp50 ribu per kg dan dipasarkan ke sejumlah daerah di Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera hingga Kalimantan. (Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko)

Imlek atau biasa disebut Tahun Baru China menjadi hari raya yang heboh. Dan sebagaimana lazimnya sebuah hari raya, selalu ada sajian hidangan khas Imlek. Namun makanan yang disajikan bukan sekadar buat pemantas, buat bikin kenyang, dan sebagainya. Ada nilai yang terkandung di balik setiap jenis makanan yang disajikan.

Pakar fengshui, Yulius Fang, kepada Antara, pun menjelaskan ada beberapa makanan yang lazim ada di rumah masyarakat Tionghoa saat merayakan Tahun Baru Imlek di antaranya kue nastar, kue lapis, dumpling (pangsit), dan kue keranjang.

Kue nastar misalnya, yang biasanya diisi selai nanas, ternyata punya filosofi pembawa kemakmuran. Yulius menyebut nanas disebut sebagai ong lai dalam bahasa Hokkien yang terdengar seperti “kemakmuran datang.”

“Jadi ‘ong’ itu dimaknai adalah suatu hal yang hebat, berkuasa, makmur dan sebagainya. Ditambah lai, artinya ‘datang’ seperti itu. Dan ini diartikan bahwa mereka yang menggunakan ‘ong lai’ ini, kalau dibuat sembayang itu supaya tahun ini pokoknya saya berkembang, hebat, makmur seperti itu,” kata Yulius, Rabu (11/2/2026).

Yulius mengatakan nastar dengan isian nanas yang disajikan di meja diharapkan dapat menjadi simbol kemakmuran dan kehidupan yang bertumbuh hebat pada siapa saja yang memakannya. Makanan lain yang juga sering ada pada saat perayaan Imlek adalah kue lapis, yang dijadikan simbol dan harapan bahwa rezeki akan datang berlapis-lapis.

Yulius menambahkan ada juga makanan yang menggambarkan suasana Imlek yaitu dumpling atau pangsit, yang memiliki keterkaitan dengan kondisi masa lalu di China. Perayaan sincia atau Imlek selalu bertepatan dengan musim dingin sehingga bahan makanan seperti sayur dan buah sulit didapat.

Salah satu bahan makanan yang mudah dibuat adalah adonan tepung dan daging sehingga dumpling lebih mudah diolah untuk dimakan pada saat hari raya.

Yulis menambahkan satu lagi makanan yang ada pada perayaan Imlek adalah kue keranjang yang populer sebagai antaran kepada sanak saudara. Namun dalam tradisi masyarakat Tionghoa, kue keranjang yang disajikan di meja tamu hanya boleh dimakan oleh tuan rumah dan bukan untuk dimakan tamu saat berkunjung

“Jadi meskipun kue keranjang disediakan, tapi kue keranjang itu kalau kamu lihat, tidak untuk dimakan oleh tamu yang datang ke rumah pas pada saat silaturahmi sincia, enggak. Tapi dimakan oleh tuan rumah sendiri,” jelasnya.

Ia menjelaskan hal ini karena kue keranjang yang ada biasanya masih basah atau terlalu lengket untuk disajikan kepada tamu secara langsung, sehingga harus ditunggu beberapa hari setelahnya sampai agak keras. Namun kue keranjang boleh diberikan kepada tamu sebagai hantaran atau hadiah yang melambangkan kebersamaan.

Untuk memberikan hantaran pada yang merayakan Imlek selain kue keranjang, Yulius mengatakan saudara atau kerabat bisa memberikan hadiah berupa buah jeruk atau apel, atau boleh langsung memberikan angpao.

Pada keluarga terdekat misalnya anak ke orang tua, biasa ada tradisi menghantarkan kue keranjang, kue-kue atau minuman pada orang tua atau mertua, agar saat ada tamu yang berkunjung tuan rumah sudah memiliki makanan dan tamu tidak perlu membawa makanan lagi.

Baca Juga:

Kuliner Jadi Bagian Tak Terpisahkan Perayaan Imlek

Mahesa Lawung, Ritual Keraton Solo untuk Keselamatan Negara

Share the Post: