Dua “kubu” dalam pemerintah Jepang, kubu pro-perdamaian yang ingin segera menerima Deklarasi Potsdam dan mengakhiri peperangan dan kubu antipenyerahan diri yang masih ingin terus berperang hingga “last man standing” masih terus bergulat beradu argumentasi dan pengaruh dengan cara masing-masing. Marquis Koichi Kido, penasihat pribadi Kaisar pada pagi hari Senin 13 Agustus 1945 mengundang Menteri Peperangan Jenderal Korechika Anami ke kantornya untuk kembali menekankan kehendak Kaisar untuk segera menghentikan peperangan dan menyiapkan perdamaian. Setelah itu giliran Kepala Staf Umum Angkatan Darat Jenderal Joshijiro Umezu dan Kepala Staf Umum Angkatan Laut Laksamana Soemu Toyoda yang dipanggil untuk langsung menghadap Kaisar. Kepada mereka Kaisar menekankan bahwa di tengah upaya negosiasi diplomatik untuk mengakhiri perang kedua angkatan harus menurunkan tensi serangan ke pihak musuh. Kedua kepala staf berjanji bahwa pasukan mereka hanya akan bertindak membela diri jika ada serangan dan bukan berinisiatif menyerang.
Jenderal Anami bisa dibilang ada dalam posisi paling sulit. Sebagai seorang tentara profesional dia tentu akan setia dan taat pada pemerintah dan terutama Kaisar, dan memang selama ini begitulah reputasi perwira pecinta olahraga memanah dan seni pedang ini. Namun di sisi lain dia juga memahami gejolak di kalangan para perwira mudanya yang sangat fanatik menolak menyerah dan ingin berperang habis-habisan membela Tanah Air. Dia merasa para perwira muda ini seperti dirinya juga di masa lalu, idealis, bersemangat tinggi, rela mengorbankan jiwa sekali pun demi negara.
Dalam kondisi itu pula dia siang itu menghadapi pergolakan di Kementerian Peperangan. Saat itu para perwira muda sudah menyusun rencana yang dalam pikiran mereka akan menyelamatkan negara dan Kaisar dari para “pengkhianat” atau “antek-antek asing” pengecut yang akan menggadaikan Tanah Air kepada musuh. Para perwira itu awalnya mendatangi Wakil Menteri Peperangan Letjen Tadaichi Wakamatsu dan menguraikan rencana mereka. Wakamatsu hanya diam mendengarkan, namun tidak memberikan reaksi apa pun. Karenanya mereka lantas langsung menemui Anami. Saat menemui mereka, Anami didampingi Wakamatsu, Direktur Biro Personel Letjen Hiroshi Nukada, dan Kepala Seksi Persiapan Perang Kolonel Hiroo Sato.
Salah satu perwira muda lantas menjelaskan rencana mereka. Namun dia dipotong oleh Sato yang menyatakan, “Dalam kondisi sekarang ini saya tidak bisa menyetujui rencana aksi kalian.” Para perwira muda itu sudah mau protes ketika Mayor Kenji Hatanaka, salah satu pelopor aksi, menerobos masuk dan langsung dengan penuh emosi membentak Sato. “Ada pengkhianat di Angkatan Darat! Dia harus dibebastugaskan,” teriaknya sambil menuding Sato. Ketegangan malah membuat suasana jadi hening. Suara tenang Anami kemudian memecah keheningan dalam tensi tinggi itu. “Saat ini, yang harus kita pertahankan adalah rasa saling percaya,” ujarnya seraya menoleh dan mengangguk kepada Hatanaka. Dia lantas pergi untuk menghadiri sidang kabinet.
Seorang perwira muda menghentikan langkahnya. “Seluruh perwira Kementerian Peperangan bertekad kuat mengikuti Menteri Peperangan ke mana pun. Percayalah kepada kami!” katanya. Anami mengangguk dan melanjutkan langkahnya.
Sidang kabinet hari itu pun masih saja belum bisa mengambil suara bulat untuk menerima atau menolak pernyataan AS dan Sekutu . Sumber perdebatan adalah kalimat bahwa pemerintah dan Kaisar akan harus merujuk kepada Panglima Tertinggi Sekutu dan soal bentuk pemerintahan yang akan diserahkan pada kehendak bebas rakyat Jepang. Kalimat ini menurut tafsir dari pihak yang menolak perdamaian tidak memberi jaminan akan kelangsungan sistem kekaisaran dan perlindungan terhadap Kaisar selaku pemegang muruah dan kedaulatan Jepang. Akhirnya Perdana Menteri Baron Kantaro Suzuki pun menyatakan akan mengajukan lagi masalah ini kepada Kaisar agar sang penguasa tertinggi yang di masa itu bahkan masih dianggap setengah dewa itu memberikan arahan untuk keputusan akhir yang harus diambil pemerintah. Untuk hal ini kabinet setuju dan sidang pun berakhir.
Jenderal Anami kemudian mencegat PM Suzuki. “Bisakah Anda memberi saya waktu dua hari sebelum Anda menghadap Kaisar?” Suzuki menggelengkan kepala. “Maaf, kesempatan kita tinggal saat ini, kita harus segera mengambilnya,” katanya. Sepeninggal Anami, seorang perwira AL gantian mencegat PM Suzuki dan menanyakan hal yang sama. “Tidak bisakah Anda memberi waktu dua hari?” tanyanya. Suzuki kembali menggeleng. “Tidak mungkin. Kalau kita tidak bertindak sekarang Rusia bukan hanya akan menguasai Manchuria dan Korea tapi juga akan menyerbu wilayah utara Jepang. Kalau ini sampai terjadi, riwayat Jepang akan benar-benar tamat. Kita harus bertindak sekarang, ketika musuh di hadapan kita hanya Amerika Serikat,” tegas dia. “Tapi Jenderal Anami bakal bunuh diri,” ujar perwira itu lagi. “Yah, hal itu akan sangat disesalkan,” jawab Suzuki.
Suzuki sendiri seperti halnya Kido dan Menteri Luar Negeri Shigenori Togo sebenarnya punya keyakinan bahwa meski di depan mereka Jenderal Anami seperti bersikeras menolak perdamaian tanpa syarat dan hanya mau berdamai jika Sekutu menerima sejumlah persyaratan dari Jepang, dia sebenarnya juga mati-matian berupaya agar pasukannya tidak memberontak dan berupaya melakukan kudeta demi mencegah perdamaian. Suzuki belakangan juga mengungkapkan bahwa sikap Anami untuk bertahan di kabinet meski punya sikap bertentangan sesungguhnya membantu upaya mengakhiri peperangan.

Anami malam itu di kediaman resminya kembali menghadapi sejumlah perwira muda yang terus mendesaknya mendukung rencana aksi mereka. Mereka menyampaikan rencana untuk memulai kudeta pukul 10.00 esok hari, tanggal 14 Agustus 1945. Mayor Hatanaka saat itu juga menyebut bahwa kubu pro-perdamaian bakal membunuh Anami jika dia terus menentang penyerahan diri. Anami tertawa kecil, lalu menengok ke arah Kolonel Okikatsu Arao, Kepala Seksi Hubungan Militer Kementerian Peperangan. Arao sendiri sebenarnya dalam posisi bimbang. Dia tahu betul bahwa Anami sebagai seorang perwira profesional dengan kesadaran moral tinggi tidak akan pernah menyetujui aksi nekat seperti kudeta. Namun posisi Arao saat itu sebagai salah satu penentang upaya perdamaian membuatnya harus berbicara mewakili kelompoknya.
Arao pun menjelaskan keyakinan bahwa Jepang tidak boleh menyerah sampai ada kepastian bahwa muruah bangsa yaitu kaisar dan sistem kekaisaran tidak diotak-atik. Selain itu, meski Kaisar telah mengambil keputusan untuk mengakhiri perang, namun semua pihak harus mewaspadai sejauh mana Kaisar telah mendapat pengaruh buruk dari orang-orang di lingkarannya yang membawanya kepada keputusan itu. Para pembawa pengaruh buruk itu yaitu sang penasihat pribadi Marquis Kido, Perdana Menteri Suzuki, Menteri Luar Negeri Togo, dan Menteri Angkatan Laut Laksamana Yonai harus ditangkap. Hukum darurat militer harus diberlakukan dan Istana Kekaisaran harus diisolasi. Untuk menjalankan kudeta ini dibutuhkan dukungan penuh dari Menteri Peperangan Jenderal Anami, Kepala Staf Umum Angkatan Darat Jenderal Umezu, Panglima Angkatan Darat Wilayah Timur Jenderal Shizuichi Tanaka, dan Panglima Divisi I Pengawal Kaisar Jenderal Takeshi Mori. Pelibatan keempat jenderal ini adalah prakarsa Kolonel Arao yang mendesak bahwa mereka harus dimintai dukungan dan persetujuan untuk bergerak melakukan kudeta.
Anami hanya berkomentar bahwa rencana itu masih kurang terperinci untuk dieksekusi secara efektif. Namun dia tidak menyatakan apakah mendukung atau menolaknya. Saat sejumlah perwira mendesaknya agar memberikan pernyataan yang tegas, Anami menolaknya dan memberi isyarat bahwa pertemuan harus diakhiri. Sepeninggal para perwira itu, ajudan Anami, Kolonel Hayashi, setengah mengkritik kenapa sang menteri tidak memberikan jawaban tegas soal sikapnya. “Nanti, aku perlu bicara sendiri dengan Arao,” katanya.
Menjelang tengah malam, Anami memanggil Arao. Kepada sang kolonel Anami kembali menyatakan rasa sangsinya bahwa rencana kudeta itu akan bisa dilakukan. Arao pun meminta penegasan, apakah Anami mendukung kudeta itu? Anami kembali mengulur waktu dan menyatakan bahwa Arao akan mendapatkan jawabannya besok pagi. Ketika Arao pergi, Anami bergumam kepada ajudannya,” Aku tak tahu apakah Arao bisa menangkap isyarat bahwa aku sebenarnya menolak ide kudeta itu.” “Saya juga tak tahu, Pak,” jawab Hayashi.
Pagi harinya, tanggal 14 Agustus 1945, Anami seraya bersantap pagi menerima kedatangan Panglima Angkatan Darat ke-2 Marsekal Shunroku Hata. Dari perwira senior yang bermarkas di Hiroshima itu Anami mendapatkan laporan mengenai bagaimana kondisi kota yang menjadi sasaran pertama bom atom Amerika itu. Hata menuturkan bagaimana warga yang tadinya selamat setelah pemboman akhirnya meninggal dunia atau sakit parah akibat dampak mengerikan radiasi. Anami kemudian meminta Hata membuat laporan terperinci soal kondisi Hiroshima untuk disampaikan ke Kaisar, dengan harapan Kaisar berubah sikap dan masih mau melanjutkan peperangan.
Setelah itu Anami berangkat ke kantornya di Ichigaya dan tiba pukul 07.00. Para perwira muda kembali mendesak bertemu dengannya karena dalam rencana kudeta akan dieksekusi pada pukul 10.00 alias tiga jam lagi. Mereka juga sudah mengundang dua jenderal panglima kesatuan utama, Jenderal Tanaka dan Mori, untuk datang ke Kementerian Peperangan. Anami didampingi Kolonel Arao kemudian mendatangi kantor Jenderal Umezu. Di situ, Umezu menegaskan lagi penolakannya mendukung kudeta karena dia yakin aksi itu bakalan gagal. Para perwira muda lantas mengarahkan desakan kembali ke Anami, dan Anami lagi-lagi menolak memberikan penegasan soal apakah dia akan mendukung kudeta itu atau tidak.
Pada saat yang sama, penasihat pribadi Kaisar, Marquis Kido, mendapatkan selebaran yang disebarkan oleh pesawat Sekutu di atas Tokyo yang dipungut dan kemudian diserahkan oleh seorang pejabat rumah tangga kekaisaran. Isi selebaran itu adalah pernyataan mendetail dari pemerintah Jepang soal penerimaan mereka atas Deklarasi Potsdam dan pernyataan balasan dari pemerintah AS yang berisi antara lain soal kedudukan Kaisar dan pemerintah Jepang yang akan harus “merujuk kepada” Panglima Tertinggi Sekutu. Membaca sekilas selebaran itu membuat Kido mulas. Kedua pernyataan itu selama ini dijaga betul agar jangan sampai tersebar luas ke masyarakat dan yang muncul di pemberitaan selama ini adalah versi yang sudah sangat diperlunak. Kido sadar, kalau pernyataan itu sampai jatuh ke tangan tentara secara umum dan juga masyarakat bisa terjadi pemberontakan skala besar, yang akan merusak upaya penghentian perang dan perdamaian yang selama beberapa hari terakhir sedang diperjuangkan mati-matian oleh pemerintah.
Kido pun buru-buru meminta izin menghadap Kaisar dan kemudian menunjukkan selebaran itu serta menjelaskan kekhawatirannya. Kaisar, saran Kido, perlu segera memanggil kabinet untuk bersidang di hadapannya dan mempertegas sikap untuk segera menghentikan perang dan berdamai. Kaisar pun memerintahkan Kido segera memanggil PM Suzuki. Ternyata selama Kido menghadap Kaisar, PM Suzuki sudah tiba pula di istana dan menunggu untuk bicara padanya. Ketika Kido selesai menghadap Kaisar dan menjumpai Suzuki, dia bertanya apakah sang PM sudah menyiapkan sidang kabinet. Dengan ekspresi lesu Suzuki menjawab bahwa dia sedang sangat tertekan. “Angkatan Darat minta sidang ditunda sampai pukul 13.00, dan Angkatan Laut bahkan meminta sidang dibatalkan,” ujarnya. Kido kemudian mengulangi apa yang disampaikan Kaisar barusan, lalu mengajak Suzuki menghadap Kaisar. Dalam pertemuan selama 12 menit Kaisar setuju memanggil kabinet dan Dewan Kebijakan Perang Tertinggi bersidang di hadapannya pada pukul 10.30 pagi itu. Kaisar juga menyatakan bahwa jika sidang kembali buntu tidak bisa mengambil keputusan maka dia akan “bertitah” agar pemerintah menerima sepenuhnya pernyataan balasan dari AS dan agar kabinet menyusun surat pernyataan resmi kekaisaran untuk memperkuat sikap itu.
Akhirnya kabinet dan sejumlah pejabat tinggi lainnya kembali bertemu di ruang rapat di ruang perlindungan bawah tanah istana kaisar. PM Suzuki membuka rapat dan meminta maaf kepada Kaisar bahwa kabinet masih belum mampu mencapai kata sepakat terhadap pernyataan balasan dari AS yang antara lain menyinggung soal posisi kaisar. PM Suzuki lantas meminta pihak-pihak yang masih belum setuju soal perdamaian kembali menyatakan pendapatnya. Jenderal Umezu, Laksamana Toyoda, dan Jenderal Anami kemudian berdiri dan menyampaikan pendapat mereka, yang belum berubah soal keyakinan bahwa tentara masih mampu memberikan perlawanan sehingga bisa menekan Sekutu agar bersedia menerima syarat-syarat tambahan sebelum Jepang betul-betul menyatakan menyerah.
Titah Kaisar
Kaisar bangkit dari duduknya dan berbicara. “Saya sudah menyimak semua argumentasi yang menentang pandangan bahwa Jepang harus menerima sepenuhnya pernyataan balasan dari Sekutu tanpa meminta persyaratan apa pun, tapi sikap saya sama sekali tidak berubah. Saya sudah mempelajari kondisi di Jepang dan di dunia secara umum, dan saya percaya perang yang berkelanjutan hanya akan berakibat pada kehancuran. Saya juga sudah mempelajari isi pernyataan balasan Sekutu dan menyimpulkan bahwa pernyataan itu selaras dengan sikap yang kita sampaikan sebelumnya. Singkat kata, saya nilai pernyataan Sekutu itu bisa diterima.
Saya juga sadar bahwa di antara Anda semua ada yang masih tidak yakin dengan niat Sekutu. Hal ini wajar, namun bagi saya pernyataan Sekutu itu bisa menjadi bukti niat damai dari mereka. Karenanya keyakinan dan tekad dari bangsa ini secara bulat harus menjadi faktor terpenting.
Saya sungguh menyadari bahwa akan begitu sulit bagi para prajurit dan pimpinan mereka untuk meletakkan senjata di hadapan musuh dan melihat tanah air mereka akhirnya jatuh ke tangan musuh. Tentu saja akan sangat sulit pula bagi saya untuk memerintahkan terjadinya semua ini dan membuka peluang bahwa para pembantu terpercaya saya akan diserahkan kepada musuh dan diadili sebagai penjahat perang. Meski begitu, yang jauh lebih berat bagi saya adalah membiarkan seluruh rakyat menderita lebih lama lagi. Berlanjutnya perang akan menelan korban jiwa lebih banyak, entah puluhan ribu, entah ratusan ribu jiwa. Seluruh negeri akan luluh lantak jadi debu. Kalau hal itu sampai terjadi, bagaimana mungkin saya menjaga wasiat dan amanah dari para leluhur saya?”
Kaisar melanjutkan berbicara, dengan suara yang makin terdengar dibebani emosi. “Keputusan yang saya ambil mirip dengan situasi yang dihadapi kakek saya, Kaisar Meiji, saat terjadi Triple Intervention. Seperti halnya beliau yang harus menanggung hal yang tak tertanggungkan, maka kini saya pun harus menanggung hal yang tak tertanggungkan itu, demikian pula dengan Anda semua,” katanya.
Sebagai catatan, Triple Intervention adalah peristiwa yang terjadi pada 1895, setelah Jepang dalam perang menghadapi China berhasil menguasai Semenanjung Liaodong. Perjanjian Shimonoseki antara Jepang dan China yang menindaklanjuti kemenangan ini menyepakati bahwa Semenanjung Liaodong, Taiwan, dan Kepulauan Penghu diserahkan kepada Jepang. Akan tetapi Rusia, Prancis, dan Jerman keberatan karena penguasaan Jepang atas wilayah tersebut dinilai mengancam kepentingan mereka di wilayah China. Ketiga negara Eropa itu lantas mengerahkan armada angkatan laut mereka untuk menekan Jepang. Jepang yang saat itu kelelahan seusai perang sadar tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan aliansi militer Eropa tersebut. Mereka pun akhirnya mengembalikan Semenanjung Liaodong kepada China sekaligus membayar biaya pampasan perang dalam jumlah besar. Rusia kemudian menduduki Semenanjung Liaodong pada 1898 yang kemudian menjadi salah satu penyebab utama pecahnya Perang Rusia-Jepang (1904–1905).
Kita kembali ke sidang dengan amanat dari Kaisar. Suasana sidang saat itu sudah sangat emosional. Air mata mulai mengalir di pipi seluruh pejabat saat mereka mendengar betapa Kaisar sangat siap mengorbankan dirinya demi keutuhan negerinya. “Saya tidak bisa menggambarkan betapa pedihnya perasaan saya ketika memikirkan semua yang gugur di medan perang atau di Tanah Air dan keluarga yang ditinggalkan. Saya cemas dengan masa depan mereka yang terluka atau yang kehilangan semua harta benda yang menjadi gantungan hidup mereka. Saya tegaskan, saya akan melakukan apa pun untuk membantu,” ujar Kaisar.
“Karena rakyat Jepang hingga kini masih belum tahu dan memahami situasi terbaru saat ini, saya paham kalau nantinya mereka akan sangat terguncang dengan keputusan kita. Jika dinilai layak bahwa saya perlu menjelaskan secara langsung kepada mereka, saya bersedia berbicara di depan pengeras suara. Tentara mungkin juga akan kecewa dengan keputusan kita. Menteri Peperangan dan Menteri Angkatan Laut mungkin akan kesulitan membujuk pasukan mereka untuk menerima keputusan ini. Saya bersedia turun langsung jika memang diperlukan untuk menjelaskan keputusan itu. Menjadi kehendak saya bahwa Anda semua, para menteri pemerintahan saya, untuk menaati sikap saya dan menerima pernyataan dari Sekutu demi mengakhiri peperangan. Agar segenap rakyat memahami keputusan saya, saya meminta Anda semua menyiapkan sesegera mungkin pernyataan resmi kekaisaran yang bisa saya siarkan langsung kepada seluruh bangsa. Akhirnya, saya menyerukan Anda semua agar secara pribadi melakukan seluruh daya dan upaya agar kita bisa menyongsong hari-hari sulit yang akan datang.”
Kaisar pun lantas berpaling dan meninggalkan ruangan. Deraian air mata dari segenap peserta sidang yang tadinya menyimak dalam diam mulai berganti menjadi isak tangis yang makin keras. Sejumlah pejabat bahkan terduduk bersimpuh di lantai, mengerang dalam kesedihan mendalam, menyadari bahwa sejarah yang begitu pahit akan harus mereka hadapi, dan kaisar mereka dengan begitu besar hati menyatakan bersedia berkorban demi keselamatan rakyat. Pernyataan Kaisar hari itu kembali mengulangi apa yang sudah disampaikannya dalam sidang pada malam pergantian tanggal 9 Agustus ke 10 Agustus, ketika kabinet juga tidak mampu mengambil keputusan untuk menanggapi Deklarasi Potsdam yang berisi tuntutan penyerahan diri dari Sekutu. Saat itu Kaisar menyatakan bahwa dirinya tidak peduli dengan keselamatan pribadinya, dan menegaskan keselamatan rakyat harus menjadi prioritas, yang hanya bisa dicapai dengan menghentikan perang.
Dengan wajah mendung para menteri dan pejabat lain meninggalkan istana kaisar, berpindah ke kediaman resmi perdana menteri untuk menyusun pernyataan resmi kekaisaran mengenai kesediaan menghentikan perang dan menyatakan penyerahan diri. Saat mereka tiba, sudah saatnya makan siang, namun tak ada yang bisa menelan apa yang dihidangkan. Apa yang disampaikan Kaisar tadi betul-betul sangat memukul mereka.
Jenderal Anami kemudian menjumpai iparnya, Letkol Takeshita, yang sebenarnya sudah sejak pagi menunggu untuk bicara dengannya, namun sang jenderal waktu itu sudah keburu pergi rapat di istana kaisar. Takeshita saat itu membawa dokumen berjudul Pengerahan Pasukan – Rencana Kedua. Dia mendesak Anami bertindak menggunakan kekuasaannya untuk mengerahkan pasukan. “Anda juga bisa bertindak banyak dalam rapat kabinet. Anda punya kekuasaan, Anda bisa gunakan itu,” katanya. “Tidak!” serta merta Anami menjawab. “Kaisar sudah mengambil keputusan. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Sebagai prajurit aku harus taat pada Kaisar,” tegasnya.
Takeshita masih belum menyerah. “Laksamana Onishi,” kata dia, merujuk pada Wakil Menteri Angkatan Laut Laksamana Takijiro Onishi, “Dalam sebuah pertemuan dengan para perwira sudah menyatakan bahwa meski Kaisar memerintahkan penghentian perang, dia bersedia mengorbankan dirinya untuk dianggap sebagai pengkhianat demi terus bertempur untuk mewujudkan kejayaan total bangsa.” Takeshita lalu berdiri, mengambil sikap sempurna, lalu bertanya, “Jenderal, apakah Anda sekarang bersedia untuk mengundurkan diri dari kabinet?” Dalam pikiran Takeshita, jika Anami menolak mengesahkan pernyataan kekaisaran yang membuat kabinet gagal mencapai keputusan bulat, dan secara bersamaan dia juga mundur dari jabatannya, maka kabinet harus mengundurkan diri. Kalau kabinet bubar, tidak akan ada yang bisa menjalankan amanat Kaisar, setidaknya hingga kabinet baru terbentuk. Anami terdiam sejenak, membuat Takeshita sejurus mengira bahwa kakak iparnya itu akan mengiyakan. Tapi harapannya langsung sirna dengan jawaban tegas Anami. “Perang akan tetap berakhir meski aku mundur. Itu sudah pasti,” katanya. “Lagi pula kalau aku mundur, aku tidak akan berjumpa lagi dengan Kaisar,” imbuhnya dengan tersenyum tipis.
Anami kemudian pergi ke kementeriannya. Baru saja hendak duduk di kursi ruang kerjanya, sekelompok perwira muda datang, dengan gelisah memintanya memberitahukan apa yang terjadi dalam rapat bersama Kaisar dan apa yang akan dilakukan Kementerian Peperangan. “Yang Mulia Kaisar menyatakan yakin bahwa muruah dan warisan nasional kita akan dipertahankan. Kita tak punya pilihan selain menaati keputusannya, keputusan itu didasarkan pada keyakinannya akan kesetiaan kita,” kata Anami.
Para perwira terdiam, tak percaya bahwa Sang Menteri akhirnya bersedia menyerah. Baru Jumat akhir pekan sebelumnya terbit pernyataan resmi yang mengatasnamakan dirinya yang menyerukan agar tentara melanjutkan perjuangan di medan perang, bukannya mundur dan menyerah. Belum ada sepekan, Sang Menteri justru menyatakan bakal mengakhiri peperangan dan menyerah. Letkol Masataka Ida, salah satu inisiator gerakan penolakan perdamaian, kemudian bereaksi. “Dapatkah Bapak Menteri Peperangan menjelaskan kenapa perubahan sikap ini bisa terjadi?” dia bertanya.
“Ya, saya jelaskan,” sahut Anami. “Yang Mulia Kaisar menyatakan sangat memahami perasaan saya. Namun beliau meminta saya untuk menjalankan semua amanat, sesulit apa pun itu. Saya tidak bisa lagi mengambil pandangan yang berlawanan dengan apa yang sudah diamanatkan Yang Mulia Kaisar,” ujarnya. “Yang Mulia Kaisar sudah bertitah, dan tak ada pilihan bagi kita kecuali menaatinya. Siapa pun yang menentang harus melangkahi dulu mayat saya,” pungkasnya tegas. (Bersambung)

