Ada yang menarik dalam acara Tingalan Jumenengan Kaping 4 Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng (S.I.J.) Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Mangkunegoro X di Pendhapa Ageng, Pura Mangkunegaran, Selasa (27/1/2025) lalu. Dalam peringatan kenaikan takhta ke-4 itu Mangkunegoro X bicara soal rumah dan kebahagiaan.
Hal ini disampaikan pemimpin Kadipaten Mangkunegaran itu dalam sabda dalem atau pidato titah pemimpin yang menjadi bagian rangkaian seremoni di Pendapa Pura Mangkunegaran tersebut. Dalam pidatonya Mangkunegoro X menyatakan bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang dikejar dengan tergesa, melainkan dijalani sebagai laku hidup. “Ia tidak lahir dari pencapaian semata, tetapi dari cara manusia menata batin, bersikap dengan jernih, dan memaknai perjalanan hidupnya dari hari ke hari,” ujar dia.
Mangkunegoro X menyatakan pula kebahagiaan berawal dari kesadaran akan diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Menurut dia dengan kesadaran, manusia mampu hadir sepenuhnya pada saat ini, eling lan waskita atau play the present, sehingga setiap budi, rasa, dan laku berjalan dengan selaras serta tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
“Dari kesadaran yang hidup, terpancar tata krama. Sikap hormat, andhap asor, dan keramahan bukan sekadar kebiasaan lahiriah, melainkan pancaran dari hati yang sadar. Tata krama adalah cara memanusiakan manusia dan menjaga ruang hidup agar tetap rukun, tenteram, dan saling menghargai,” sebut pria kelahiran 29 Maret 1997 ini
Lebih jauh Mangkunegoro X menyatakan dalam menjalani hidup, manusia harus memiliki tujuan, tetapi tidak boleh kehilangan arah dan cara. “Seperti falsafah penunggang kuda, arah perlu dipahami, melangkah dengan konsisten, serta kerja keras dijalani dengan ketekunan. Cara menentukan apakah tujuan membawa kebaikan atau justru kelelahan tanpa makna,” katanya.
“Pada akhirnya, kebahagiaan tidak hidup dalam kesendirian. Ia tumbuh dalam kebersamaan, dirawat melalui kesederhanaan, dan dijaga lewat kesadaran bersama, semoga Mangkunegaran bukan hanya sebagai wadah fisik, namun tempat kita merasakan apa arti rumah sesungguhnya,” ujar dia di akhir sabda dalem-nya.
Acara Tingalan Jumenengan Dalem Kaping 4 S.I.J. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X dibuka dengan penampilan Korps Musik Korem Warastratama bersama Bregada Mangkunegaran yang membawakan Mars Pareanom dan defile, sebagai sambutan kepada para tamu undangan yang telah hadir. Prosesi Tingalan Jumenengan berjalan dengan khidmat, terutama ketika Beksan Bedhaya Anglir Mendung ditampilkan. R.Ngt.T. Dr. Peni Candra Rini juga memberikan sebuah persembahan dengan judul Asmaradhana Djiwa Djiwa.

Selain itu digelar pula penganugerahan kekancingan atau penyematan gelar dari Praja Mangkunegaran kepada sejumlah tokoh. Mereka adalah K.R.M.H. Hariadhi Anggoro Kadarisman yang mendapat gelar Kanjeng Pangeran Hario, Wakil Ketua MPR Bambang Wuryanto dan Ketua Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana yang mendapat gelar Kanjeng Pangeran, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno dan Bupati Blora H. Arief Rahman yang mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung, serta Rektor ISI Solo Bondet Wrahatnala yang juga mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung.
Acara Tingalan Jumenengan juga menghadirkan lebih kurang 1.000 undangan dari kalangan masyarakat yang terdiri atas para siswa SMP, komunitas, serta warga di sekitar Pura Mangkunegaran. Hal ini merupakan upaya agar masyarakat, khususnya generasi muda, berperan aktif dalam berbagai kegiatan di Mangkunegaran, baik yang bersifat tradisi maupun nontradisi.
Dalam rangkaian Tingalan Jumenengan tahun ini dihadirkan pula pasar rakyat Mangkunegaran Night Market di Pamedan Mangkunegaran, yang bertepatan dengan Wiyosan Setu Pon. Penampilan beksan dari Panti Budaya Mangkunegaran, berbagai stan kuliner, fesyen, cendera mata, dan aktivitas dari komunitas di Kota Surakarta hadir memeriahkan Pamedan Mangkunegaran sebagai bentuk kolaborasi bersama Mangkunegaran dalam mengembangkan kebudayaan.

