Konflik AS-Israel vs Iran Memanas, Bagaimana Dampak untuk Indonesia?

Aksi unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. (Foto: Anadolu)
Aksi unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. (Foto: Anadolu)

Konflik AS-Israel vs Iran yang dipicu serangan udara AS dan Israel ke Iran yang direspons dengan serangan balasan oleh Iran ke berbagai target di Israel dan negara-negara yang menjadi basis pasukan AS di Teluk Persia sudah pasti akan membawa dampak besar bagi perekonomian dunia, tak terkecuali Indonesia. Seperti apa dampak perang Iran ini?

Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai dampak terhadap perekonomian Indonesia di antaranya kenaikan harga energi hingga gangguan jalur perdagangan internasional. Celios menyebut, perang di Timur Tengah berisiko mengakibatkan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Harga minyak mentah jenis Brent sejak awal 2026 sudah naik 20,7% menjadi US$72,8 per barel.

“Skenario terburuknya, harga minyak dunia berpotensi naik menjadi US$100 hingga US$120 per barel,” tulis Celios melalui akun Instagram resminya, seperti dikutip dari bisnis.com pada Minggu (1/3/2026). Sebagai negara importir bersih minyak, Indonesia berpotensi merasakan tekanan ketika harga minyak dunia meningkat. Dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel di atas asumsi APBN yang dipatok US$70 per barel diperkirakan dapat menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun.

Sebagai informasi, 20% kapal pengangkut minyak dunia melintasi Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Rata-rata volume pengiriman bulanan minyak mentah yang melalui Selat Hormuz berkisar 2 juta—4 juta metrik ton per Februari 2026.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga memicu kekhawatiran terjadinya fenomena flight to quality, yakni pergeseran portofolio investor dari aset berisiko ke instrumen yang dinilai lebih aman seperti emas. Kondisi tersebut berpotensi menekan nilai tukar rupiah sehingga pelemahannya dapat semakin dalam. Apalagi menurut Celios fenomena gold rush masih terjadi. Harga emas global naik 48,4% dalam 6 bulan terakhir, salah satunya dipicu oleh memanasnya tensi konflik di Timur Tengah.

Celios juga menyoroti potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pokok seperti ayam, telur, beras, dan sayuran, terlebih dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut dinilai berisiko menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah, sehingga pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) berpotensi semakin menyusut.

Lebih jauh, konflik yang kian memanas di Timur Tengah diprediksi bakal mendorong lebih banyak permintaan aset safe haven oleh investor. Investor digadang-gadang bakal mengalihkan dananya ke aset berisiko rendah, seperti obligasi atau emas.

Seperti diberitakan Bloomberg yang dikutip bisnis.com, analis memperkirakan pada perdagangan besok, para pelaku pasar akan menyoroti dampak perang tersebut terhadap pasar energi. Volatilitas diprediksi akan terjadi seiring dengan ketegangan yang kian memuncak. Karenanya kalangan manajer investasi dinilai bakal mengalihkan asetnya dari pasar ekuitas.

Kepala Strategi Suku Bunga AS Natixis, John Briggs, memprediksi pasar akan lebih mengadopsi strategi untuk mengamankan aset investasi mereka. Ini lantaran serangan balasan yang dilakukan Iran dinilai lebih besar ketimbang prediksi pasar. Dia memprediksi, obligasi pemerintah AS akan kembali melanjutkan tren pada hari Jumat, ketika yield jangka pendek merosot ke level terendahnya sejak 2022. “Skala serangan dan balasan Iran lebih besar dari yang diperkirakan pasar,” katanya.

Senada, Manajer Portofolio Columbia Threadneedle Investments, Ed Al-Hussainy, menerangkan bahwa valuasi yang terlampau tinggi di hampir seluruh saham dan kredit global juga semakin memudahkan investor untuk mengurangi risiko di pasar saham. Terlebih, pasar sebelumnya telah gelisah mengenai perubahan kebijakan tarif AS terhadap sejumlah negara mitra dagang. Belum lagi, belakangan pasar cenderung ragu terhadap disrupsi akal imitasi (artificial intelligence/AI) dan tekanan terkait kredit swasta. “Sejauh mana pengurangan risiko [de-risking] ini akan terjadi, tidak ada yang tahu,” kata Al-Hussainy.

Kecemasan pasar atas aksi militer di Timur Tengah sebetulnya telah tecermin sejak perdagangan Jumat (27/2/2026). Saat itu, harga minyak mentah Brent ditutup di harga tertinggi sejak Juli dan S&P 500 mengalami penurunan 0,4%. Begitu juga dengan indeks Tadawul All Share Arab Saudi dibuka turun hampir 5% sebelum mengurangi sebagian besar penurunannya pada perdagangan Minggu (1/3/2026).

Sementara itu, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$68.000. Data Derbit, menunjukkan bahwa opsi jual pada mata uang kripto tersebut senilai US$1,87 miliar terkonsentrasi di level $60.000, menandakan permintaan yang persisten untuk perlindungan terhadap penurunan harga.

Ahli strategi di Barclays Plc., Ajay Rajadhyaksha memperingatkan investor agar tidak terburu-buru membeli saat harga turun. Menurutnya, kondisi ini cenderung berbeda. Dia menekankan pada potensi korban jiwa dari pihak AS, serangan terhadap kepemimpinan Iran, dan disrupsi lalu lintas di Selat Hormuz. “Rasio risiko-imbalan saat ini tidak terlihat menarik. Jika ekuitas turun cukup dalam [katanya lebih dari 10% di S&P 500], mungkin akan tiba saatnya untuk membeli. Namun, belum sekarang,” tegasnya.

Sementara itu, Dave Mazza dari Roundhill Financial menekankan risiko yang mungkin terjadi jika Selat Hormuz ditutup oleh Iran sebagai salah satu upaya perlawanan. Dia menerangkan, jalur tersebut penting bagi perdagangan minyak dunia lantatan dilewati oleh seperempat pasar minyak melalui laut dunia. “Ini tentang risiko Hormuz, bukan sekadar pembalasan. Jika jalur pelayaran tetap terbuka, pasar saham mungkin bisa bertahan. Jika tidak, semua skenario bisa berubah,” katanya.

Baca Juga:

Pemimpin Iran Ayatullah Ali Khamenei Wafat, Aneka Pertanyaan Besar Muncul

AS Serang Iran, Begini Riwayat Konflik AS-Iran Sejak Dulu

Share the Post: