Lukisan di Gua Leang Metanduno Sulawesi Tenggara Mengungkap Peradaban Kuno Indonesia 70.000 Tahun Silam

Lukisan di gua Leang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang menunjukkan aktivitas manusia dan gambar hewan. (Foto: Antara/BRIN)
Lukisan di gua Leang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang menunjukkan aktivitas manusia dan gambar hewan. (Foto: Antara/BRIN)

Mungkin ada yang berpikir peradaban manusia di Indonesia “baru kemarin sore”? Salah, Bung! Justru salah satu bukti aktivitas tertua peradaban manusia ditemukan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara!

Bukti itu berupa cap tangan manusia yang berusia diperkirakan 67.800 tahun. Temuan baru soal peradaban kuno Indonesia ini dipublikasikan dalam jurnal Nature berjudul Rock Art from At Least 67,800 Years Ago in Sulawesi.

Dikutip dari situs resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jumat (23/1/2026), peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Octavian, menyebut salah satu situs penting di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yakni Leang Metanduno, memperlihatkan bahwa seni cadas tidak hanya berupa stensil cap tangan, tetapi juga menggambarkan hubungan manusia dengan hewan, alam, dan aktivitas sosial.

“Di Metanduno ini tidak hanya ada tiga cap tangan. Yang menarik, di sini muncul narasi manusia modern dengan hewan dan lingkungannya,” ujar Adhi dalam jumpa pers di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Adhi menjelaskan, tim peneliti telah membuat model 3D kondisi gua Leang Metanduno untuk melihat komposisi panel gambar secara lebih utuh. “Ini kondisi guanya, kami sudah membuat model 3D. Dan memang di Metanduno itu didominasi oleh gambar-gambar penutur Austronesia,” jelasnya.

Berbeda dengan situs seni cadas tertua yang umumnya berupa cap tangan prasejarah, Metanduno justru memperlihatkan fase budaya dan peradaban kuno yang lebih maju, ketika manusia telah mengenal pelayaran, domestikasi, dan perburuan terorganisasi.

Adhi menunjukkan temuan lukisan di Metanduno menunjukkan figur hewan berukuran besar yang menyerupai kuda atau sapi, disertai gambar-gambar perahu. Ini menjadi bukti kuat sudah adanya tradisi maritim masyarakat kala itu.

Tidak hanya hewan, figur manusia juga mendominasi panel. “Kebanyakan ada figur manusia. Dan panel pertanggalannya berada di bagian kanan, di langit-langit gua,” jelas Adhi.

Beberapa gambar kini tertutup lapisan mineral (koraloid) dan warna coklat, namun narasinya masih dapat dikenali. “Ada gambar seperti ayam, ada orang naik kuda mungkin sambil memegang parang. Ada juga figur warna hitam di sana,” tambahnya.

Adhi menyebut gambar cadas di Metanduno memperlihatkan seni prasejarah bukan sekadar ekspresi visual, tetapi juga arsip sosial yang merekam cara manusia berinteraksi dengan alam, hewan, teknologi, dan sesamanya. “Di sini kita tidak hanya melihat cap tangan, tetapi cerita tentang pelayaran, perburuan, domestikasi, dan kehidupan manusia modern di Nusantara,” pungkasnya.

Dengan demikian, temuan gambar cadas di Leang Metanduno memperkuat posisi Indonesia sebagai ruang penting narasi panjang peradaban manusia di Asia–Pasifik.

Dalam kesempatan yang sama, ahli arkeologi dan geokimia dari Griffith University dan Southern Cross University, Australia, Prof. Maxime Aubert, menjelaskan cara menghitung usia lukisan gambar cadas atau rock art di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara tersebut.

Maxime menjelaskan dia memakai teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua. Menurut dia prinsip penentuan usia seni cadas sebenarnya sederhana, namun sangat presisi. Prosesnya berawal dari air hujan yang meresap ke dalam batu kapur gua.

“Air hujan meresap melalui batu kapur, melarutkan sedikit kalsium dan uranium. Ketika air mengalir di atas permukaan seni cadas, air itu mengendap dan membentuk lapisan tipis di atas lukisan,” jelas Maxime.

Lapisan tipis kalsit inilah yang menjadi kunci. Di dalamnya terkandung uranium yang seiring waktu meluruh menjadi thorium. Dengan membandingkan jumlah atom uranium dan thorium, para peneliti dapat menghitung kapan lapisan itu terbentuk.

“Jika lapisan itu berada di atas lukisan, maka itu memberi kita usia minimum. Artinya lukisan setidaknya setua lapisan tersebut. Jika lapisannya berada di bawah, itu memberi usia maksimum,” kata Maxime.

Dia juga menjelaskan kemajuan teknologi yang digunakan timnya yaitu teknologi ablasi laser. “Kami mengambil inti sampel sangat kecil, sekitar lima milimeter, menembus lapisan pigmen. Kemudian kami mengarahkan laser untuk memetakan uranium dan thorium,” ujarnya. “Kami bisa menghitung usia di sini, di sini, dan di sini. Usia makin muda ke arah permukaan. Titik yang paling dekat dengan pigmen itulah usia minimum lukisan,” tambahnya.

Dari pemetaan itu, salah satu sampel di Pulau Muna menunjukkan lapisan berusia sekitar 71,6 ribu ± 3,8 ribu tahun, yang memberikan batas usia minimum sebesar 67.800 tahun bagi cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna, yang berarti lukisan di bawahnya setidaknya setua umur tersebut.

Lebih jauh Maxime menyayatakn temuan gambar stensil cap tangan yang berusia 67.800 tahun ini tidak hanya penting karena umurnya, tetapi juga karena gaya visualnya yang unik. Ia menekankan bahwa seni cadas tertua di dunia ini bukan sekadar cetakan tangan biasa. “Ini adalah jenis stensil yang hanya ditemukan di Sulawesi. Kami menyebutnya stensil jari sempit,” jelasnya.

Ciri khasnya, jari-jari tampak runcing dan memanjang. Cara pembuatannya pun masih menjadi teka-teki. “Kami tidak tahu apakah mereka memodifikasi bentuk tangan, atau menggerakkan jari saat meniup pigmen. Tapi ini menunjukkan pemikiran yang lebih maju,” katanya.

Menurut Maxime, motif tersebut mengindikasikan bahwa manusia purba tidak sekadar menempelkan tangan, tetapi secara sadar memodifikasi bentuk visualnya. Bahkan, ia menduga bentuk itu mungkin terinspirasi dari cakar hewan. “Kami menduga mungkin ada hubungannya dengan cakar hewan, tapi maknanya belum bisa dipastikan,” ujarnya.

Yang menarik, gaya stensil serupa juga muncul pada lukisan berusia 20.000 tahun di Sulawesi, menunjukkan tradisi visual ini telah berlangsung sangat lama.

Jalur Migrasi Antarbenua

Lebih jauh, peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Octavian, menjelaskan penelitian ini kembali membuktikan Indonesia berada di titik strategis yang menjadi koridor utama pergerakan manusia sejak puluhan ribu tahun lalu. “Kenapa kita banyak meneliti di wilayah Nusantara? Karena di sini ada dua model besar migrasi manusia modern awal yang masuk ke Asia Tenggara dan Australia,” ujar Adhi.

Ia menjelaskan, terdapat dua jalur utama migrasi early modern human yang melintasi Indonesia. Jalur pertama adalah rute utara, yang bergerak dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, sebelum menuju Australia. Jalur kedua adalah rute selatan, yang juga digunakan pada periode tertentu dalam sejarah manusia.

Adhi juga menyebut gelombang migrasi berikutnya yakni kedatangan penutur Austronesia yang bermigrasi dari Cina Selatan sekitar 4.000 sampai 3.000 tahun lalu ke Nusantara.

Namun, untuk periode yang lebih tua, data arkeologi masih terbatas. Studi paleoantropologi di Indonesia yang benar-benar merekam kehadiran manusia modern awal masih sangat sedikit.“Kita masih minim temuan paleoantropologi yang mencapai periode awal manusia modern sekitar 60.000 sampai 70.000 tahun lalu,” ungkap Adhi.

Ia menyebut salah satu bukti fisik manusia modern awal berasal dari situs Lidah Air yang berusia sekitar 70.000 tahun. Dalam konteks inilah, temuan gambar cadas di Leang Metanduno menjadi sangat penting sebagai bukti pendukung. “Gambar cadas menjadi salah satu bukti pendukung adanya manusia modern awal yang bermigrasi ke Nusantara,” tegasnya.

Adhi menjelaskan, seni cadas di Indonesia memiliki sebaran yang luas dan menunjukkan kontinuitas aktivitas manusia purba di Nusantara. “Sebaran gambar cadas itu mulai dari Sumatra sampai Papua, dan paling banyak ditemukan di Indonesia bagian tengah sampai Indonesia timur,” ujarnya.

Motifnya pun beragam, mulai dari warna merah, hitam, hingga putih. Beberapa situs bahkan telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. “Sudah ada empat situs gambar cadas yang menjadi cagar budaya nasional, yakni Gua Harimau, Leang Timpuseng, Leang Bulu’ Sipong 4, dan Leang Tedongnge,” katanya.

Sementara itu, Prof. Maxime Aubert mengatakan bahwa penanggalan 67.800 tahun ini juga berdampak besar bagi pemahaman migrasi manusia modern di kawasan Asia-Pasifik. “Sekarang kita benar-benar membuktikan bahwa manusia sudah berada di wilayah ini sekitar 68.000 tahun lalu,” ujar Maxime.

Pada masa itu, permukaan laut lebih rendah sehingga Papua dan Australia masih terhubung. Selama ini, arkeolog memperdebatkan apakah manusia mencapai Australia lewat jalur selatan atau utara. “Dengan temuan ini, kita tahu pasti manusia menggunakan jalur utara. Semua seni cadas kuno di Indonesia juga berada di jalur tersebut,” katanya.

Baca Juga:

Tamiang di Aceh, Salah Satu Kerajaan Tertua Nusantara

Menguak Misteri Aji Galeng, Sosok Pahlawan di Wilayah yang Kini Jadi Ibu Kota Nusantara

Share the Post: