Uroe got buleuen got, beumeutume pajoh leupek Mak peugot. “(Pada) hari baik bulan baik, setiap orang harus dapat makan gulai buatan ibu”.
Ini adalah ucapan yang menunjukkan salah satu tradisi yang lekat pada masyarakat Aceh yaitu meugang atau makmeugang. Tradisi meugang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Aceh. Berbagai sumber menuliskan, tradisi meugang telah hadir pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam, ketika Sultan Iskandar Muda memerintah. Perayaan meugang merupakan wujud rasa syukur raja, sekaligus menyambut datangnya bulan Ramadan. Dipotonglah lembu atau kerbau dan dibagi-bagikan dagingnya kepada rakyat.
Seiring bergulirnya waktu, meugang bergeser menjadi perayaan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Akademisi UIN Ar Raniry Banda Aceh Marzuki Abubakar, dalam penelitiannya yang berjudul Tradisi Meugang dalam Masyarakat Aceh seperti dikutip Antara, Rabu (18/2/2025), menyampaikan setidaknya ada empat model yang dipraktikkan oleh masyarakat Aceh dalam mengadakan daging meugang.
Model pertama adalah meuripee atau iuran oleh sekelompok masyarakat untuk membeli hewan sembelihan. Melalui metode ini, daging akan dibagikan, sesuai dengan jumlah orang yang ikut mengumpulkan uang. Model yang kedua adalah mengadakan daging dengan membeli dari agen yang akan menyembelih pada hari meugang. Agen penyembelih akan menawarkan daging dari rumah ke rumah. Setelah mendapat jumlah pembeli, barulah agen menentukan berapa lembu yang akan disembelih.
Selanjutnya adalah model membeli di pasar. Dua hari sebelum Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, pasar akan diramaikan dengan penjual daging dan masyarakat bisa memilih daging yang ingin mereka beli. Sementara model keempat adalah masyarakat menyembelih ayam atau bebek untuk hidangan meugang.
Namun bagaimana kini ketika sebagian masyarakat Aceh masih bergulat dengan nestapa pascabencana banjir bandang yang melanda sejumlah kabupaten dan kota di wilayah itu? Hal itu juga yang dialami Imam Zamzami, warga Dusun Lhok Pungki, Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Wilayah itu termasuk yang disapu banjir bandang yang membawa gelondongan kayu dan bebatuan.
Imran sudah nyaris tiga bulan tinggal tenda pengungsian. Kepada Antara, Imam menceritakan kerinduannya akan tradisi meugang, yang biasa dilakukan sehari sebelum bulan Ramadan. Menjelang Ramadan, Imam terbiasa membeli daging sapi di pasar yang kemudian disulap menjadi masak merah oleh istrinya. Masak merah merupakan masakan khas Aceh Utara, saat menjalankan tradisi meugang.
Ciri khas dari masak merah adalah penggunaan rempah-rempah, seperti cabai kering, daun temurui atau daun kari, daun pandan, dan lain-lain. Untuk anak-anaknya, terkadang dibuatkan porsi khusus atau ditambah kecap manis bila dirasa terlalu pedas. Masak merah tersebut lantas disantap bersama keluarganya dalam suasana suka cita menyambut Ramadhan, tak terkecuali bersama ibu mertua.
Imam merindukannya; suasana meugang bersama keluarga dalam rangka menyambut kehangatan bulan baik, bulan yang penuh berkah. Tradisi meugang biasa digelar pada H-2 atau H-1 Ramadhan, H-2 dan H-1 Idul Fitri, serta H-2 dan H-1 Idul Adha. Hari pertama meugang biasa disebut dengan meugang ubit (kecil) dan hari kedua disebut dengan meugang rayeuk (besar/puncak).
Wujud Kegembiraan Sambut Ramadan
Bagi Marzuki, meugang merupakan bagian dari ajaran agama yang dijalankan atau diamalkan oleh masyarakat Aceh dalam bentuk budaya atau tradisi yang telah melekat. Dia merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “man fariha bi dukhuli ramadhan, harramallahu jasadahu ‘alan nirani”, yang artinya, “barang siapa yang senang dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka”.
Marzuki mengartikan makan daging sebagai salah satu bentuk “senang”, sebab daging merupakan makanan yang tergolong mahal. Oleh karenanya, makan daging menjelang Ramadan merupakan cara masyarakat Aceh mengekspresikan rasa senangnya.
Lantas, bagaimana tradisi meugang berlangsung, setelah nyaris tiga bulan bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh berlalu? Untung saja ada perhatian dari berbagai pihak agar tradisi meugang ini masih bisa berlangsung khususnya bagi masyarakat yang belum pulih dari dampak bencana. Sementara para pengungsi berupaya untuk memulihkan aktivitas perekonomian mereka, bantuan berupa sapi maupun kambing datang guna menjaga tradisi meugang tetap lestari.
Kepala Dusun Lhok Pungki Firmadi mengapresiasi bantuan berupa daging yang disalurkan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) asal Malaysia. Bantuan itu pun segera dimasak untuk disantap bersama pengungsi lainnya. Perasaan serupa diungkapkan oleh Kepala Desa Krueng Lingka Efendi Noerdin yang menerima bantuan sapi dari Presiden Prabowo Subianto, juga dari Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian-Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK). Desa Krueng Lingka berlokasi di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Aceh.
Bantuan demi bantuan memungkinkan para orang tua menyajikan sepiring masak merah untuk anak-anak mereka di pengungsian. Aroma kari yang begitu gurih menarik minat mereka yang kelaparan. Anak-anak yang sedari awal telah menyaksikan proses memasak masak merah pun merapat dengan semangat.
Senyuman lebar yang terlukis di wajah anak-anak, kala sibuk bertukar canda satu sama lain menjadi pelipur lara pada tradisi meugang pascabencana banjir dan tanah longsor. Seketika itu pula, kehangatan kembali menyelimuti hati. Sebelum melahap sepiring masak merah, doa dipanjatkan untuk masa depan yang lebih baik. Semoga Aceh lekas pulih. Semoga Aceh lekas bangkit.

