Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam kondisi tegang di tengah upaya negosiasi untuk “menjinakkan” kemampuan penguasaan teknologi nuklir oleh Iran. AS meningkatkan tekanannya terhadap pemerintah Iran dengan terus meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
Dalam posisi negosiasinya seperti diberitakan Antara Washington menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup larangan pengayaan uranium, penghapusan material yang telah diperkaya, pembatasan rudal jarak jauh, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proksi regional. Pemerintah AS menyatakan diplomasi adalah opsi utama, namun Presiden Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa AS bisa menyerang Iran jika negara itu menolak membatasi program nuklirnya.
Di sisi lain Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan meninggalkan teknologi nuklir yang disebutnya bersifat damai. Meski begitu dia juga menyatakan keterbukaan terhadap segala bentuk verifikasi untuk membuktikan bahwa program tersebut tidak ditujukan untuk pengembangan persenjataan.
Akan tetapi Trump sudah menggertak bahwa Iran memiliki waktu terbatas untuk mencapai kesepakatan. Trump mengatakan Iran memiliki waktu 10-15 hari untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Jika tidak, ia memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” dapat terjadi. Menanggapi hal itu, perwakilan tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan Teheran akan membalas secara tegas dan proporsional setiap agresi militer, serta menyatakan AS akan memikul “tanggung jawab penuh dan langsung” atas konsekuensinya.
Melihat kembali sejarah, AS dan Iran memang sering berkonflik meski dulu juga pernah sangat mesra. Konflik AS-Iran khususnya pecah sejak terjadinya Revolusi Islam di Iran pada 1979 yang membuat pemerintahan kerajaan Shah Iran, Shah Reza Pahlevi, jatuh, dan negeri itu berganti pemerintahan menjadi Republik Islam Iran.
Di tengah gejolak revolusi itulah pecah konflik pertama AS dan Iran. Asal-muasalnya adalah saat kelompok mahasiswa pendukung pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khomeini, menyerbu gedung Kedutaan Besar AS di Teheran, Ibu Kota Iran, pada 4 November 1979. Sebanyak 52 diplomat dan warga AS yang sedang berada di sana disandera. Iran menyebut aksi itu sebagai wujud perlawanan dan kemarahan terhadap pengaruh AS di Iran. Apalagi AS memang selama itu adalah salah satu pendukung utama pemerintahan Shah Iran yang kemudian terguling.
Pemerintah AS pun punya dua pilihan, bernegosiasi dengan pemerintahan baru Iran demi pembebasan sandera, atau melakukan operasi militer. Sebenarnya hanya dua hari sejak aksi penyanderaan dilakukan militer AS sudah bersiap-siap seandainya diperintahkan terjun langsung ke Iran. Pada 6 November 1979, Mayor Jenderal James B. Vaught dari Angkatan Darat AS ditunjuk sebagai komandan satuan tugas operasi militer pembebasan sandera dan bermarkas di Wadi Kena, Mesir, yang menjadi pangkalan persiapan. Dia diberi akses melapor langsung ke presiden. Vaught dibantu dua perwira menengah, Kolonel James H. Kyle dari Angkatan Udara AS sebagai komandan lapangan untuk operasi udara dan Kolonel Charlie Beckwith dari AD AS sebagai komandan operasi darat.
Operasi militer AS dirancang dengan melibatkan semua matra militer yaitu AD, AU, AL, dan Korps Marinir. Operasi ini bisa dibilang “gila” karena pasukan penyerbu dan pembebas sandera akan menyusup jauh ke dalam wilayah Iran. Helikopter-helikopter pengangkut pasukan dan pesawat angkut serba guna C-130 Hercules akan menyusup masuk ke dalam wilayah Iran dengan mengambil rute yang berbeda, lantas mendarat di titik kumpul di dalam wilayah Iran yaitu di sebuah padang garam di daerah gurun pasir.
Dari situ pasukan yang diangkut dengan Hercules akan pindah ke helikopter-helikopter. Helikopter penyerbu itu juga akan diisi dengan BBM yang dibawa oleh Hercules. Selanjutnya helikopter-helikopter berisi pasukan gabungan pembebasan sandera akan menuju titik kumpul kedua yang lebih dekat dengan Ibu Kota Iran, Teheran. Dari titik kumpul kedua inilah serbuan akan dilakukan dengan menyasar gedung Kedubes AS.
Dalam perencanaannya, para sandera lantas akan dibawa ke pangkalan penjemputan, yaitu sebuah lapangan terbang yang tak terpakai di dekat Teheran. Dari situ mereka dijemput dengan pesawat jet angkut militer untuk dievakuasi ke Mesir.
Titik kumpul pertama yang disiapkan adalah padang garam di gurun pasir Dasht-e-Lut di wilayah Provinsi Khorasan Selatan, Iran, sekitar 200 km selatan Teheran, yang diberi nama sandi Desert One. Lokasi ini bisa dibilang sudah berada di tengah wilayah Iran. Sementara titik kumpul kedua diberi kode Desert Two dan berada di wilayah pegunungan yang hanya sekitar 50 km dari Teheran.
Persiapan Awal Penyerbuan
Pada 31 Maret 1980, ketika opsi militer untuk membebaskan sandera makin menguat, persiapan lanjutan pun dilakukan dan “semakin gila.” Mayor John T. Carney Jr., seorang personel combat controller AU AS atau dalam istilah di TNI Angkatan Udara adalah pengendali tempur (dalpur) AU AS disusupkan ke dalam wilayah Iran dengan menggunakan pesawat angkut ringan De Havilland Twin Otter yang diawaki dua agen intelijen AS, CIA, Jim Rhyne dan Claude “Bud” McBroom.
Merujuk pada definisi di TNI AU, dalpur adalah satuan yang bertugas menyusup ke wilayah musuh secara senyap untuk memetakan situasi dan kondisi medan. Mereka juga berfungsi sebagai penunjuk koordinat sasaran tempur udara-ke-darat agar serangan udara tepat sasaran. Selain itu personel dalpur juga bertugas menyiapkan tempat pendaratan pesawat atau parasut (dropping zone) untuk serbuan pasukan. Tim dalpur di TNI AU tergabung dalam satuan Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat).
Hal seperti inilah yang dilakukan oleh Mayor Carney. Dia harus mensurvei padang garam yang akan dipakai sebagal titik kumpul pendaratan pesawat angkut C-130 Hercules dan helikopter-helikopter yang akan membawa pasukan pembebasan sandera, apakah cukup keras untuk menerima beban pesawat Hercules dan helikopter berat CH-53 pengangkut pasukan. Di lokasi berkode Desert One itu Carney juga memasang lampu-lampu inframerah yang bisa dioperasikan dari jarak jauh, yang nantinya akan menjadi pemandu lokasi bagi pesawat-pesawat yang datang.

Persiapan lain dilakukan oleh badan intelijen AS, CIA, dari unit Special Activities Division. Sebuah tim yang dipimpin Richard J. Meadows, seorang mantan anggota Pasukan Khusus AD AS (US Army Special Forces) mendapat tugas mengumpulkan informasi mengenai kondisi dan posisi sandera serta situasi di gedung Kedubes AS di Teheran. Mereka juga harus menyiapkan angkutan darat yang akan membawa pasukan penyerbu pembebas sandera dari Titik Kumpul Dua atau Desert Two menuju Kedubes.
Tim ini juga menyiapkan personel yang terdiri atas sejumlah warga Iran yang “sudah dibina” dan personel AS yang mahir berbahasa Persia. Sebagian besar dari mereka akan bertugas sebagai pengemudi kendaraan pengangkut pasukan untuk berjaga-jaga seandainya ada pencegatan atau pemeriksaan di jalan oleh aparat keamanan Iran mereka bisa berkomunikasi dengan baik tanpa mengundang kecurigaan. Sebuah gudang juga disiapkan untuk menyimpan kendaraan-kendaraan yang akan dipakai pasukan penyerbu.
Personel penyerbu yang disiapkan terdiri atas 93 anggota unit khusus Pasukan Khusus AD AS yang disebut Delta Force. Mereka akan bertugas menyerbu gedung Kedubes AS dan membebaskan sandera di sana. Selain itu ada 13 personel Detasemen A Pasukan Khusus AD AS yang ditugasi menyerbu gedung Kementerian Luar Negeri Iran di mana tiga sandera asal AS diketahui ditahan di tempat itu.
Kelompok ketiga pasukan penyerbu adalah 12 personel dari satuan Rangers AD AS yang bertugas mengamankan Titik Kumpul Satu atau Desert One. Tim Rangers juga bertugas mengamankan bekas pangkalan udara Manzariyeh yang akan menjadi tempat penjemputan akhir para sandera dan seluruh pasukan penyerbu untuk keluar dari Iran. (Bersambung)

