Operasi Cakar Elang: Demi Pembebasan Sandera, Butuh Perencanaan Rumit dan Eksekusi Penuh Risiko Tinggi (Bagian II)

Pesawat helikopter RH-53D Sea Stallion yang sudah dicat dengan warna kamuflase gurun dan tidak dilengkapi tanda-tanda identifikasi dipersiapkan di geladak kapal induk USS Nimitz untuk operasi pembebasan sandera di Iran. (Foto: By US Navy - DoD photo, USA, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=6021962)
Pesawat helikopter RH-53D Sea Stallion yang sudah dicat dengan warna kamuflase gurun dan tidak dilengkapi tanda-tanda identifikasi dipersiapkan di geladak kapal induk USS Nimitz untuk operasi pembebasan sandera di Iran. (Foto: By US Navy - DoD photo, USA, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=6021962)

Eksekusi operasi pembebasan warga AS yang disandera di Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran, akibat konflik Iran-AS pascameletusnya Revolusi Islam Iran memang rumit dan berisiko tinggi. Dalam perencanaannya, pada malam pertama akan diberangkatkan tiga pesawat angkut AU AS jenis EC-130, pesawat varian Hercules yang berkemampuan perang elektronika. Ketiga pesawat yang bersandi Republic 4,5, dan 6 ini membawa perbekalan termasuk pasokan BBM.

Mereka akan berangkat bersama tiga MC-130 Combat Talon, varian Hercules yang diperuntukkan bagi operasi-operasi komando dengan peralatan yang lebih lengkap dibandingkan varian standar. Ketiga pesawat ini diberi sandi Dragon 1,2, dan 3, dan membawa 132 personel gabungan Delta Force dan Ranger yang menjadi eksekutor operasi pembebasan sandera.

Keenam pesawat itu akan diberangkatkan dari pangkalan di Masirah, di pesisir Oman untuk menuju Titik Kumpul 1 atau Desert One yang berjarak lebih kurang 1.600 km. Dalam penerbangan mereka akan diisi bahan bakar di udara oleh pesawat “SPBU” alias air refueling tanker KC-135. Setibanya di Desert One, setelah pasukan Ranger yang bertugas mengamankan lokasi menyatakan semua aman, tempat pengisian bahan bakar lantas disiapkan.

Helikopter-helikopter yang akan mengangkut pasukan ke Titik Kumpul Dua atau Desert Two bakal diisi ulang menggunakan BBM yang dibawa oleh Hercules dari tangki-tangki khusus pembawa bahan bakar yang diangkutnya. Total BBM yang dibawa untuk semua helikopter itu adalah 23.000 liter.

Sementara itu helikopter-helikopter yang akan dipakai membawa pasukan penyerbu pembebasan sandera adalah delapan RH-53D Sea Stallion dengan sandi Bluebeard 1 hingga Bluebeard 8. Mereka semua berpangkalan di kapal induk USS Nimitz yang berada 100 km di lepas pantai Iran. Kedelapan helikopter itu akan terbang sejauh 1.000 km ke Desert One, turun dan mengisi ulang BBM, serta memuat para personel penyerbu dari Delta Force dan Ranger.

Kedelapan helikopter lantas akan terbang ke Desert Two. Dalam jadwal, kedelapan helikopter itu akan tiba di Desert Two menjelang fajar. Karena operasi pembebasan baru akan dilakukan pada malam kedua, maka sepanjang hari itu kedelapan helikopter dan pasukan yang dibawa harus “bersembunyi” dulu menunggu malam tiba.

Secara terpisah, para agen intelijen CIA yang sudah ada di dalam wilayah Iran akan membawa mobil-mobil pengangkut yang sudah dipersiapkan ke Desert Two untuk menjemput pasukan penyerang. Melalui jalur darat mereka akan masuk ke Teheran dan menyerbu gedung Kedubes AS dan Kementerian Luar Negeri Iran tempat sandera ditahan dan membebaskan para sandera. Pergerakan mereka akan dipantau dan dijaga dari atas oleh pesawat AC-130 yang merupakan pesawat gunship yang dipasangi senapan mesin berat dan meriam.

Setelah semua sandera berhasil dibebaskan, mereka selanjutnya akan dibawa lewat darat ke Stadion Amjadieh yang lokasinya berdekatan. Dari situ mereka bersama pasukan penyerbu akan dijemput oleh helikopter-helikopter yang tadinya menunggu di Desert Two.

Bersamaan dengan berlangsungnya operasi penyerbuan dan pembebasan sandera, sebuah unit Ranger akan menguasai lapangan udara Manzariyeh, sebuah pangkalan udara yang tidak aktif sekitar 100 km di barat daya Teheran. Di pangkalan ini akan mendarat dua pesawat angkut C-141 Starlifter AU AS yang datang dari Arab Saudi.

Pesawat-pesawat A-7 Corsair II AL AS di atas kapal induk USS Coral Sea yang akan memberikan dukungan udara untuk penyerbuan ke Iran. Di sayap pesawat terlihat penanda khusus berupa garis oranye dan hitam. (Foto: USN – scan from Robert L. Lawson (ed.): The History of US Naval Air Power. The Military Press, New York (USA), 1985)

Helikopter-helikopter yang membawa para sandera dan pasukan penyerbu kemudian akan datang ke tempat ini dari Stadion Amjadieh. Seluruh sandera dan pasukan penyerbu akan pindah ke pesawat angkut dan diterbangkan ke sebuah pangkalan AS di Mesir. Kedelapan helikopter yang dipakai dalam operasi itu tidak ikut pulang, namun ditinggalkan dan dihancurkan di tempat.

Sebagai bentuk antisipasi jika operasi ketahuan dan pasukan Iran bergerak, perlindungan dari udara disediakan oleh pesawat-pesawat tempur AL AS yang berpangkalan di kapal induk USS Nimitz dan USS Coral Sea yang bersiaga di lepas pantai selatan Iran. Karena Iran punya pesawat tempur F-4 Phantom dan F-14 Tomcat buatan AS yang dulu dibeli di era Shah Iran (dan masih beroperasi hingga 2026 sekarang ini!), yang sama dengan pesawat yang dioperasikan militer AS, maka tanda pengenal khusus pun dipasang di pesawat-pesawat AS.

Pesawat F-4N Phantom milik Marinir AS yang berpangkalan di USS Coral Sea diberi tanda garis tebal berwarna merah atau kuning yang diapit garis hitam pada sayapnya, sementara pesawat tempur A-7 Corsair II dan A-6 Intruder diberi tanda garis tebal oranye yang diapit garis hitam pada sayapnya.

Sementara persiapan operasi militer terus dilakukan, pemerintah AS juga melakukan bebagai upaya negosiasi untuk membebaskan para sandera itu. Namun kesemuanya gagal dan akhirnya AS pun menyatakan memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran pada 7 April 1980. Kondisi ini secara politis memberikan tekanan bagi pemerintahan AS di bawah Presiden Jimmy Carter.

Penasihat Keamanan Nasional Zbigniew Brzezinski pun mendorong opsi operasi militer pembebasan sandera yang sudah dipersiapkan, meski Menteri Luar Negeri AS, Cyrus Vance, menentang opsi itu dan masih ingin melakukan negosiasi lanjutan. Sikap Brzezinski mendapat dukungan Presiden Carter yang juga ingin agar ada solusi cepat untuk memulangkan para sandera. Apalagi karena saat itu Iran juga tengah berkonflik dengan tetangganya, Irak, yang selama itu dicap pemimpin Iran Ayatullah Khomeini sebagai “boneka” AS dan Eropa. Pemerintah AS juga khawatir pecahnya konflik Iran-Irak akan makin memperburuk nasib para sandera.

Pemerintahan Carter juga tertekan secara politis di dalam negeri karena pemilihan umum bakal digelar, sementara negosiasi pembebasan sandera tak kunjung memberikan hasil yang positif sehingga hal ini dikhawatirkan memperlemah citra Presiden Carter.

Operasi militer yang sudah lama disiapkan pun diputuskan digelar dan diberi nama Operasi Cakar Elang (Operation Eagle Claw). Tanggal eksekusi operasinya ditetapkan yaitu pada 24 April 1980. (Bersambung)

Baca Juga:

Operasi Cakar Elang: Aksi “Gila” Militer AS untuk Bebaskan Sandera di Iran (Bagian I)

Isu Indonesia Mau Beli Jet Tempur China, Begini Sejarah Kemandirian Industri Alutsista China

Share the Post: