Pemberontakan di Kapal Perang Belanda De Zeven Provinciën: Dikejar dan Dihabisi Sejawat Sendiri (Bagian II)

Dornier Do J "Wal," jenis pesawat amfibi yang digunakan untuk mengejar dan menyerang kapal perang De Zeven Provincien yang dibajak awak kapalnya sendiri dalam rangka protes atas pemotongan gaji dan penahanan rekan-rekan mereka yang berdemo. Pesawat di foto ini adalah varian sipil. (Foto: Wikimedia Commons/public domain)
Dornier Do J "Wal," jenis pesawat amfibi yang digunakan untuk mengejar dan menyerang kapal perang De Zeven Provincien yang dibajak awak kapalnya sendiri dalam rangka protes atas pemotongan gaji dan penahanan rekan-rekan mereka yang berdemo. Pesawat di foto ini adalah varian sipil. (Foto: Wikimedia Commons/public domain)

Pembajakan kapal perang Hr. M.S De Zeven Provincien oleh sejumlah awak kapal gabungan pribumi dan Belanda yang memberontak sebagai wujud unjuk rasa untuk menentang pemotongan gaji personel Angkatan Laut (AL) Belanda dan penangkapan rekan-rekan mereka yang mogok kerja di Surabaya jelas mengejutkan pimpinan AL di Batavia (Jakarta) dan Surabaya. Panglima AL di Hindia Belanda, Laksamana J.F. Osten, segera memerintahkan tindakan tegas.

Sementara itu komandan De Zeven Provincien, Letkol Laut Eikenboom dan sejumlah perwira yang ditinggal pergi oleh Zeven di Kutaraja (Banda Aceh), buru-buru mengejar dengan kapal pemerintah Aldebaran yang tadinya sandar di pelabuhan Ulee Lheue di sebelah Zeven. Karena lebih kecil, Aldebaran bisa dengan cepat mengejar Zeven.

Saat Aldebaran mencoba mendekat, para pemberontak di atas Zeven mengancam akan menembak. Aldebaran tak punya pilihan lain kecuali menjauh. Meski juga menjalankan fungsi sebagai kapal patroli, Aldebaran sama sekali tak punya senjata. Upaya komunikasi Letkol Eikenboom agar diizinkan naik ke Zeven gagal. Akhirnya Aldebaran pun hanya bisa membuntuti Zeven dari jauh.

Pada 7 Februari Aldebaran ditarik dan digantikan oleh Eridanus untuk membuntuti Zeven. Selanjutnya pada 9 Februari kapal itu juga ditarik, dan digantikan Orion. Namun kesemua kapal itu sama sekali tak bersenjata. Tiap kali terjadi pergantian kapal yang membuntuti Zeven, para perwira Zeven yang tertinggal itu pun harus berpindah kapal.

Sementara itu upaya membuka perundingan beberapa kali dilakukan. Organisasi Serikat Pelaut menawarkan mengirim utusan naik ke Zeven untuk berunding, namun hal ini ditolak. Upaya yang sama oleh pengurus Persatuan Pegawai Pemerintah (Vereniging van Overheidsdienaren) juga tak membuahkan hasil.

Akhirnya para pejabat AL dan sipil memutuskan bahwa dalam situasi ini hanya ada dua pilihan yaitu para pemberontak menyerah atau dikenai tindakan kekerasan. Mereka mempelajari rute pelayaran Zeven ke Surabaya yang sejauh itu menempuh perjalanan menyusuri lepas pantai barat Sumatra, di mana mereka kemudian diyakini akan melintasi Selat Sunda, lalu berlayar di Laut Jawa untuk mencapai Surabaya. Diputuskan bahwa Zeven harus sudah bisa dicegat dan dihentikan sebelum melintasi Selat Sunda.

Ada alasan praktis dalam keputusan ini yaitu karena pesawat-pesawat pembom AL Belanda tidak mampu menjangkau terlalu jauh seandainya harus menyerang Zeven dalam pelayarannya di lepas pantai barat Sumatra. Sementara itu ada fasilitas pangkalan di Teluk Betung, Lampung, sehingga ideal untuk persiapan penyergapan.

Pesawat yang diterjunkan adalah pesawat amfibi Dornier Do J Wal (Ikan Paus) dengan kode D 35, D 16 dan D 24 yang dipimpin M. Schoo. Namun pesawat D 24 mengalami gangguan teknis sehingga batal bertugas. Mereka juga didukung pesawat amfibi yang berukuran lebih kecil dengan kode T. Sementara itu di Selat Sunda sejumlah kapal perang juga sudah berjaga-jaga yaitu kapal penjelajah Java, kapal fregat Evertsen dan Piet Hein, serta kapal selam K VII dan K XI.

Rencana penyergapan yang disiapkan adalah kali pertama akan disampaikan peringatan agar para pemberontak di kapal Zeven menyerahkan diri. Jika hal ini tidak dipenuh, maka bom udara akan dijatuhkan di depan kapal. Jika hal ini juga tak dihiraukan maka akan dilanjutkan dengan pengeboman dari udara. Pilihan melakukan serangan udara pada tahap pertama dan kedua berdasarkan pertimbangan bahwa Zeven tidak punya senjata penangkis serangan udara.

Selanjutnya jika hal ini masih juga belum bisa menghentikan Zeven, maka penembakan selanjutnya akan dilakukan oleh kapal selam dengan menggunakan torpedo. Pilihan terakhir adalah mengerahkan kapal penjelajah dan fregat untuk memberikan serangan pamungkas. Semua pilihan ini disiapkan dengan pertimbangan bahwa Zeven memiliki meriam berukuran besar yang berpotensi dipakai untuk melawan.

Persiapan Menyerang

Pada tanggal 9 Februari 1933, malam hari, penerbang C.J. van Asbeck yang memimpin seluruh kelompok pesawat penyerang (kode D dan T) mengumpulkan seluruh kru untuk membahas rencana penyerangan. Namun komandan pesawat D 11, Th. H.J. Coppers, absen lantaran malam sebelumnya dia dinas malam sehingga saat pertemuan itu dia tengah beristirahat tidur.

Komandan kelompok-D kedua, W. Van Prooyen, esok paginya menjelaskan secara mendetail isi pertemuan semalam kepada Coppers. Sedangkan Van Asbeck meski memimpin kelompok pesawat penyerangan dia tidak ikut terjun langsung dalam pelaksanaannya.

Selanjutnya operasi udara pun dilaksanakan. Schoo menjadi pemimpin operasi dengan peawat D 35-nya. D 16 tetap tinggal sebagai cadangan. Secara total ada tujuh pesawat yang dikerahkan untuk mencegat Zeven. Namun lain dari rencana, lain juga pelaksanaannya. Beratnya bom yang dibawa membuat pesawat-pesawat penyerang ini kesulitan lepas landas. Hanya D 35 yang membawa komandan operasi Schoo, dan D 11 yang dikomandoi Coppers yang bisa lepas landas. Tapi masalah kembali terjadi. D 35 mengalami kendala teknis sehingga harus buru-buru mendarat darurat. Namun karena lokasi pendaratannya ada di balik sebuah pulau tinggi, komunikasi radio dengan pesawat lain jadi terhalang.

Praktis hanya tingga D 11 yang masih mengudara. Coppers yang tidak tahu bahwa D 35 mendadak harus mendarat darurat sempat bingung. “Siapa yang memimpin?” tanya dia lewat radio. Karena tak kunjung ada yang merespons, dia lantas mengambil inisiatif. “D 11 memimpin,” ujarnya lewat radio. Dia langsung mengarah ke posisi De Zeven Provinciën. Sementara itu di belakangnya menyusul pesawat-pesawat berkode T yang lebih kecil dan berfungsi sebagai pesawat pemburu.

Tak lama Coppers sudah mencapai posisi Zeven. Dia langsung mengirim pesan radio. “Peringatan terakhir. Menyerah tanpa syarat atau akan digunakan kekerasan. Kibarkan bendera putih atau kain putih di atap dek, hentikan kapal. Saya beri waktu 10 menit,” ujar dia, yang lantas diulang tiga kali.

Sementara itu, di anjungan ruang kemudi Zeven, sejumlah pemberontak baik pribumi maupun Belanda tengah berkumpul. Mendapat pesan dari Coppers, mereka umumnya yakin bahwa pesan itu hanya gertakan dan tindakan kekerasan dengan senjata takkan dilakukan. Namun ada beda pendapat. Sejumlah orang termasuk Kopral Maud Boshart, awak kapal beretnis Belanda yang sedari awal menjadi salah satu pendorong aksi pemberontakan, memang juga merasa ancaman itu hanya gertakan. Namun mereka menilai sekarang saatnya untuk mengakhiri aksi.

Meski begitu karena jumlah mereka lebih sedikit, mereka kalah suara dari yang masih ingin melanjutkan aksi dan meneruskan pelayaran ke Surabaya. Akhirnya mereka yang ingin aksi diakhiri menyingkir dari anjungan. Yang masih tinggal lantas mengirim pesan yang berbunyi:

“Kepada yang berwenang, sama sekali tak ada unsur komunistis, tak ada kekerasan, hanya protes terhadap pengurangan gaji dan penahanan anggota angkatan laut yang memprotes. Jangan halangi kami. Semua baik-baik saja di kapal, tak ada yang terluka, tugas berjalan seperti biasa. Selanjutnya serah terima pimpinan pada komandan satu hari sebelum tiba di Surabaya.”

Walaupun ada pesan itu, Coppers memutuskan bertindak. Pesawat D 11-nya menjatuhkan bom seberat 50 kg dari ketinggian terbang 1.200 meter. Namun yang terjadi tidak seperti rencana tindakan yang sebelumnya sudah dibuat bahwa jika bom digunakan, maka bom akan diarahkan agar jatuh ke air di depan kapal sebagai peringatan. Bom yang dijatuhkan mengenai kapal baru menjadi tindakan kedua jika peringatan pertama diabaikan. Bom yang dijatuhkan pesawat Coppers ternyata langsung mengenai bagian kapal Zeven, tak jauh dari anjungan dan meledak.

Dampaknya cukup dahsyat. Sebanyak 19 orang meninggal dunia di tempat yaitu tiga awak etnis Belanda/Eropa, dan 16 awak pribumi. Sejumlah tokoh pemberontak seperti Martin Paradja juga meninggal dunia. Selain itu 11 orang luka berat yaitu tiga awak etnis Belanda/Eropa dan delapan awak pribumi, di mana kemudian empat orang menyusul meninggal dunia. Tujuh orang luka ringan yaitu dua orang Belanda, salah satunya A.N. de Vos van Steenwijk yang menjadi satu-satunya awak Belanda berpangkat perwira yang terluka, dan lima orang awak pribumi. Sebagai catatan, Van Steenwijk adalah perwira yang berhasil menyelinap ke ruang radio dan mengabarkan kalau Zeven dibajak saat berada di pelabuhan Ulee Lheue.

Awak lain yang selamat segera mengibarkan bendera putih dan membentangkan kain putih di geladak kapal. Kebakaran yang terjadi akibat pemboman segera bisa diatasi. Salah satu tokoh pemberontak, Kopral Rumambi, dalam kondisi luka berat, masih mencoba melawan dengan menodongkan pistol saat ada yang mendekatinya. Namun maut lebih cepat dan dia pun meninggal. (Bersambung)

Baca Juga:

Pemberontakan di Kapal Perang Belanda De Zeven Provinciën: Tindakan Potong Gaji yang Menuai Aksi (Bagian I)

26 Januari, Hari Kemerdekaan India yang Dideklarasikan 17 Tahun Sebelum Realisasinya

Share the Post: