Pemimpin Iran Ayatullah Ali Khamenei Wafat, Aneka Pertanyaan Besar Muncul

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei (Foto: Anadolu/Iranian President's Press Office)
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei (Foto: Anadolu/Iranian President's Press Office)

Serangan udara AS-Israel terhadap Iran telah menewaskan pemimpin tertinggi negeri itu, Ayatullah Ali Khamenei. Wafatnya Ali Khamenei akibat serangan musuh ini pun membuat Iran mengalami situasi yang sangat tak terduga yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aneka pertanyaan besar pun muncul soal siapa penggantinya dan apa pengaruhnya bagi masa selanjutnya.

Seperti diberitakan Channel News Asia, Minggu (1/3/2026), Khamenei sedang berada di kantornya di Teheran saat serangan udara terjadi pada Sabtu (28/2/2026). Media resmi Iran menyebut putri, cucu, menanti perempuan dan menantu laki-laki Khamenei juga meninggal dunia akibat serangan itu.

Cedomir Nestorovic, guru besar geopolitik ESSEC Business School Asia Pacific menyebut hal ini adalah pukulan besar buat Iran karena siapa pengganti Khamenei sama sekali belum pernah ditentukan sebelumnya sehingga berbagai kemungkinan bisa terjadi. Nestorovic yakin pemerintah, kesatuan bersenjata elite Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), dan parlemen akan melakukan upaya terbaik untuk melanjutkan kepemimpinan. Namun menurut dia butuh waktu lama untuk mengumumkan pemimpin tertinggi baru.

Dia menjelaskan berdasarkan sistem politik Iran, pemimpin tertinggi memiliki kekuasaan mutlak atas angkatan bersenjata, pemerintahan, kehakiman, dan keamanan nasional. Karena belum ada kandidat pengganti, Nestorovic menyebut secara konstitusional kepemimpinan akan berada di tangan Presiden Masoud Pezeshkian dan Dewan Pakar. Dewan Pakar terdiri atas para ulama senior yang dipilih tiap delapan tahun. Lembaga ini bertanggung jawab atas pemilihan pemimpin tertinggi.

“Sementara ini Pengawal Revolusi yang akan mengambil alih tanggung jawab,” ujar Nestorovic. IRGC yang merupakan kesatuan bersenjata mandiri di luar struktur angkatan bersenjata memiliki pengaruh politik yang sangat kuat. Kesatuan ini juga menguasai sejumlah aset perekonomian strategis dan membina kelompok-kelompok bersenjata anti-AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Sebagai reaksi atas serangan Israel dan AS, Iran sudah membalas menyerang dengan menembakkan rudal yang menyasar berbagai sasaran di Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk Persia seperti Dubai, Qatar, Bahrain, dan Abu Dhabi. Hanya Oman yang luput dari serangan karena saat ini tengah berperan sebagai mediator perundingan tak langsung antara AS-Iran mengenai program nuklir Iran. Nestorovic meyakini Pengawal Revolusi akan terus melancarkan serangan ke target AS dan Israel.

Para analis juga ragu bahwa pembunuhan terhadap Khamenei bakal berdampak pada pemberontakan di dalam negeri Iran untuk menggulingkan dan mengganti pemerintahan. “Prediksi yang terlalu optimistis bahwa Khamenei sendiri adalah figur yang sangat sentral sehingga meninggalnya dia akan memberi pukulan berat bagi rezim terlalu dibesar-besarkan,” kata Eyal Mayroz, dosen senior bidang perdamaian dan konflik di University of Sydney, Australia. Dia menyebut pemerintahan Iran secara keseluruhan dan Pengawal Revolusi sangat besar kekuatannya.

Dia juga menilai Iran sudah belajar dari aneka tekanan yang pernah dihadapinya sehingga melakukan desentralisasi struktur komando militer. Hal ini membuat respons terhadap serangan dari luar jauh lebih cepat dibandingkan komando yang terlalu terpusat. Dia mencontohkan cepatnya reaksi pembalasan atas serangan udara AS-Israel dengan serangan rudal ke target-target AS dan Israel.

Pembalasan yang cepat ini menyiratkan bahwa rencana keberlanjutan sudah dipersiapkan sebelumnya sehingga mengurangi dampak risiko hilangnya kepemimpinan. Serangan dari AS-Israel yang menyasar tokoh-tokoh penting dengan begitu bisa diantisipasi sehingga struktur komando tidak guncang dan terputus.

Serangan ke Iran yang menyasar secara spesifik pemimpin negara adalah aksi agresif kedua AS terhadap pemimpin sebuah negara. Januari lalu Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya diculik dan dibawa ke AS dalam sebuah serangan singkat ke Ibu Kota Caracas. Operasi yang menyasar pemimpin negara ini pun memicu pertanyaan apakah hal ini mencerminkan sebuah doktrin tertentu atau upaya untuk menata ulang tata politik global.

Dalam pandangan Nestorovic, ini adalah perubahan besar dari diplomasi tradisional ke diplomasi destruktif atau merusak. Dia menyebut langkah-langkah ini adalah wujud strategi Trump yang penuh kejutan, yang menggunakan gaya yang sulit diprediksi sebagai alat strategi. Kesulitan untuk diprediksi ini bahkan membuat para pendukung domestik Trump sering tak nyaman.

“Selama ini Trump selalu menyatakan dirinya layak menerima Nobel Perdamaian. Hal ini pun didukung kuat oleh gerakan pendukung fanatiknya yaitu MAGA (Make America Great Again). Tapi mereka juga lantas kaget karena AS tiba-tiba terjun dalam peperangan yang bukan menghadapi negara kecil, tapi musuh serius yaitu Iran,” kata Nestorovic.

Baca Juga:

Wafatnya Sang Ayatullah: Siapa Ali Khamenei, Apa yang akan Terjadi Setelah Kematiannya dalam Serangan Udara AS?

AS Serang Iran, Begini Riwayat Konflik AS-Iran Sejak Dulu

Share the Post: