Peran Vital Kantor Berita Merekam Perjalanan Sejarah Kemerdekaan

Suasana saat peristiwa perobekan bendera triwarna Belanda menjadi dwiwarna Indonesia di Hotel Yamato Surabaya. (rri.co.id)
Suasana saat peristiwa perobekan bendera triwarna Belanda menjadi dwiwarna Indonesia di Hotel Yamato Surabaya. (rri.co.id)

Dalam dunia pemberitaan, ada lembaga yang bernama kantor berita atau news agency. Lembaga ini memiliki jaringan jurnalis di berbagai wilayah di dalam satu negara atau bahkan di banyak negara. “Hidupnya” salah satunya berasal dari penjualan lisensi untuk mengakses aneka berita termasuk foto jurnalistik atau video kepada media-media yang tidak memiliki jangkauan jejaring jurnalis seluas kantor berita.

Di Indonesia ada Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, yang dirintis dalam semangat menegakkan kedaulatan dan martabat pribumi di era kolonialisme, yang berdiri pada 13 Desember 1937. Salah satu perintisnya adalah Adam Malik, yang kemudian menjadi Wakil Presiden ke-3 Indonesia, mendampingi Presiden Soeharto pada 1978-1983.

Salah satu kantor cabangnya ada di Surabaya, Jawa Timur, yang berdiri pada 1 Oktober 1945. Cabang Antara di Surabaya ini menjadi salah satu penyebar kabar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Memang saat kabar proklamasi kemerdekaan itu diterima, cabang Antara di Surabaya belum resmi berdiri. Kantornya masih merupakan Kantor Berita (KB) Indonesia Cabang Surabaya, atau kantor berita Jepang, Domei.

Seperti diberitakan oleh Antara pada 12 Desember 2025, naskah proklamasi dalam bentuk sandi morse dari KB Domei Pusat di Jakarta, 15 menit setelah dideklarasikan Soekarno-Hatta di Jakarta, Jumat, 17 Agustus 1945. Berita proklamasi itu diterima markonis atau juru sandi radio Jakoeb dan Soewardi pada pukul 11.44 WIB, lalu disalin dari morse ke huruf latin dalam bahasa Indonesia dan diserahkan ke R.M. Bintarti dan Soetomo di bagian redaksi.

Pada era perjuangan itu, KB Domei Cabang Surabaya dipimpin oleh Ohara (Jepang), dengan anggota redaksi Soetomo (kemudian lebih dikenal sebagai Bung Tomo), R.M. Bintarti, Soemadji Adji Wongsokoesoemo, Wiwiek Hidayat, dan Fakih. Sejumlah mantan wartawan KB Domei Cabang Surabaya akhirnya memisahkan diri dari KB Domei dan mendirikan KB Indonesia Cabang Surabaya di Jl. Tunjungan 100 pada 1 September 1945, hingga akhirnya menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Cabang Surabaya, pasca-pelucutan senjata Jepang (1 Oktober 1945).

Antara Surabaya kemudian menjadi perekam dan penyebar informasi mengenai berbagai peristiwa penting seperti perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato atau Hotel Oranje (17 September 1945), dan rapat raksasa di Tambaksari (21 September 1945).

Peristiwa penting lainnya yang juga kemudian disebarkan informasinya adalah terbitnya fatwa Resolusi Jihad oleh pengurus pusat Nahdlatul Ulama (21-22 Oktober 1945) yang disiarkan Antara pada 25 Oktober 1945, peristiwa pendaratan pasukan Sekutu di Surabaya pada 25 Oktober 1945, meninggalnya komandan pasukan Sekutu, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby (30 Oktober 1945), dan Pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Wartawan Kantor Berita Antara yang menjadi “saksi mata” perjuangan arek-arek Surabaya dalam perobekan bendera merah-putih-biru di puncak Hotel Yamato pada 17 September 1945 adalah Wiwiek Hidayat yang memberitakan lewat naskah berita, Abdoel Wahab Saleh yang mengabadikan lewat foto, dan Djohan Sjahrozah (pelaku pengerahan massa ke Hotel Yamato.) Kantor Berita Antara Cabang Surabaya saat itu berlokasi di Jl. Tunjungan 100 Surabaya, yang berada di seberang hotel itu, sehingga Wiwiek menjadi saksi mata proses perobekan bendera di hotel itu.

Dalam kesaksiannya, Wiwiek menyebut nama dua pelaku penyobekan bendera Belanda. “Kain warna biru itu dirobek dengan digigit. Setelah robek, dua warna merah dan putih yang tersisa pun kembali diikatkan ke tiang bendera dan dinaikkan kembali menjadi merah-putih. Orang yang merobek itu adalah Kusno Wibowo, dibantu Onny Manuhutu, dan ada dua orang lagi yang saya tidak kenal sebut Wiwiek dalam sebuah wawancara.

Wartawan Antara juga punya andil dalam mencetuskan pikiran yang akhirnya bermuara pada terbitnya fatwa Resolusi Jihad oleh pengurus pusat Nahdlatul Ulama (NU). Fatwa itu bermula dari upaya Pemimpin Redaksi Antara Cabang Surabaya, Soetomo alias Bung Tomo menemui Presiden Soekarno untuk mengusulkan agar rakyat Jakarta digerakkan meniru aksi para pemuda Surabaya dalam perobekan bendera Belanda. Namun Soekarno tidak setuju, karena mempertimbangkan ancaman Sekutu yang saat itu belum tiba.

Akhirnya, Bung Tomo bersama Mayjen Moestopo (komandan sektor perlawanan Surabaya), Soengkono, dan tokoh lain datang menemui tokoh pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari untuk meminta fatwa untuk melakukan perang suci (jihad), guna mengusir Sekutu-Inggris dan NICA-Belanda. Arek-arek Surabaya khawatir NICA yang datang membonceng Sekutu akan berkuasa kembali melalui penunjukan Sekutu pada NICA,.

Di tengah situasi yang memanas, K.H. M. Hasyim Asy’ari memerintahkan K.H. Wahab Chasbullah untuk mengumpulkan para pengurus wilayah atau konsul NU se-Jawa dan Madura untuk membahas permintaan Bung Tomo di Hoofd Bureau Nahdlatul Oelama (HBNO) atau kantor Pengurus Besar NU di Jl. Bubutan VI/2, Surabaya. Pertemuan para pengurus NU itu akhirnya mencetuskan fatwa Resolusi Jihad yang akhirnya digelorakan Bung Tomo dalam pidatonya yang berapi-api. LKBN Antara pun memberitakan resolusi jihad itu pada 25 Oktober 1945.

Selain Antara, media yang juga memberitakan adanya Resolusi Jihad itu adalah koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (26 Oktober 1945 pada edisi No.26 Tahun ke-1), dan koran Berita Indonesia Jakarta 27 Oktober 1945.

Resolusi Jihad yang diberitakan media ini cukup mampu menggalang semangat dan kekuatan masyarakat. Pasukan Sekutu dari Inggris yang mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945 dengan mandat mengurus dan memulangkan warga asing yang ditawan Jepang dan juga tentara Jepang sendiri ternyata memang bertindak terlalu jauh. Akibatnya perlawanan pun meledak.

Terjadi sejumlah bentrokan pada 27-29 Oktober 1945. Pada 27 Oktober 1945, pesawat Sekutu menyebarkan selebaran yang memerintahkan pelucutan senjata untuk warga Surabaya. Menanggapi hal ini Soetomo alias Bung Tomo berpidato berapi-api di radio mengobarkan semangat pejuang.

Pasukan Sekutu Inggris terdesak sehingga mereka akhirnya meminta bantuan Presiden Soekarno untuk menenangkan pejuang. Bersama Wakil Presiden Hatta dan Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin, Soekarno pun datang ke Surabaya pada 29 Oktober 1945. Tidak sulit bagi Soekarno menenangkan pejuang, yang ditokohi sesama pejuang bawah tanah. Kesepakatan gencatan senjata pun tercapai. Namun, meninggalnya Brigadir Mallaby, Komandan Brigade Infanteri India yang merupakan salah satu unsur pasukan Sekutu akhirnya memicu Pertempuran Surabaya 10 November.

Baca Juga

Share the Post: