Pada November ini, tahun 1678 silam, pasukan gabungan Mataram dan perusahaan dagang Belanda, VOC, menyerbu dan merebut benteng pertahanan Pangeran Trunojoyo di Kediri. Trunojoyo pun terpaksa mundur ke Malang, menjadi pertanda pelemahan perlawanannya.
Memanfaatkan momentum ini mari kita lihat lagi perjuangan tokoh yang satu ini, yang berani menantang kekuatan besar Kerajaan Mataram dan juga legiun asing Belanda.
Untuk memahami mengapa Trunojoyo mengangkat senjata melawan Kesultanan Mataram, kita harus melihat jauh ke belakang, ke dalam silsilah darahnya dan ikatan politik yang membelenggu keluarganya. Trunojoyo lahir sekitar tahun 1649 di Arosbaya, Bangkalan, Madura, sebagai seorang bangsawan keturunan penguasa Madura Barat.
Ayahnya, Raden Tumenggung Mlaya (atau Mudhin Mlaja), adalah putra dari Pangeran Cakraningrat I, penguasa Bangkalan yang merupakan menantu dari raja Mataram terbesar, Sultan Agung. Dari garis ibu, ia juga memiliki darah bangsawan dari Keraton Sumenep. Secara silsilah, Trunojoyo sebenarnya masih memiliki hubungan darah yang dekat dengan keraton Mataram; ia bahkan merupakan cicit dari Sultan Agung.
Namun, kedekatan darah ini justru menjadi awal intrik politik panjang. Setelah Mataram di bawah Sultan Agung berhasil menaklukkan Surabaya dan Madura pada tahun 1624, keluarga penguasa Madura, termasuk kakek Trunojoyo, Cakraningrat I, dipaksa tinggal di Keraton Plered, Mataram, sebagai semacam jaminan kesetiaan. Status ini secara tidak langsung mengubah mereka dari penguasa menjadi tawanan terhormat yang hidup di bawah bayang-bayang kecurigaan.
Api dendam kali pertama tersulut ketika ayah Trunojoyo, Raden Tumenggung Mlaya, dibunuh atas perintah Sultan Amangkurat I, pewaris takhta Sultan Agung, pada tahun 1656. Pembunuhan ini, yang terjadi di dalam istana, meninggalkan trauma dan kebencian yang mendalam bagi Trunojoyo. Ia merasa jiwanya sendiri terancam oleh berbagai intrik dan persekongkolan di lingkungan keraton yang kejam.
Amangkurat I memang dikenal sangat kejam. Dia tak segan menghukum mati para ulama dan bangsawan yang dianggap berpotensi memberontak, termasuk membantai para bangsawan dan pemuka agama dari kawasan Tapal Kuda Jawa Timur, bersama keluarga mereka. Kawasan ini sekarang meliputi Kabupaten Pasuruan bagian timur, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Banyuwangi. Kekejaman ini mulai memicu kebencian terhadap kekuasaan Mataram.
Atmosfer teror ini juga membuat Trunojoyo memutuskan pindah ke sebuah daerah bernama Kajoran, yang terletak sekitar 26 kilometer barat laut dari keraton, di wilayah yang masuk Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, saat ini.
Di Kajoran, ia menemukan sekutu penting, Raden Kajoran, seorang bangsawan yang merupakan keturunan keluarga Sunan Bayat atau Sunan Tembayat, salah satu penyebar agama Islam di Jawa Tengah, dan masih memiliki hubungan dengan Wangsa Mataram. Trunojoyo kemudian menikahi putri sulung Raden Kajoran, yang semakin menguatkan posisinya.
Raden Kajoran berbagi keprihatinan yang sama soal kekejaman pemerintahan Amangkurat I. Melalui mertuanya ini, Trunojoyo diperkenalkan dengan putra mahkota Mataram, Raden Mas Rahmat, yang pada tahun 1670 sedang dalam kondisi berselisih dengan ayahnya dan bahkan pernah dibuang karena sebuah skandal.
Pertemuan ini memunculkan persekongkolan. Trunojoyo yang membenci raja karena pembunuhan ayahnya, dan Raden Mas Rahmat yang dendam karena perlakuan ayahnya, menemukan titik temu dalam kebencian mereka terhadap Amangkurat I. Mereka sepakat untuk bekerja sama menjatuhkan sang raja. Sebagai imbalannya, jika pemberontakan berhasil, Raden Mas Rahmat akan menjadi raja baru Mataram, sementara Trunojoyo akan diberikan kekuasaan atas Madura, sebagian besar Jawa Timur, dan mungkin posisi patih (perdana menteri) untuk seluruh kerajaan. Kesepakatan ini menjadi dasar dari pemberontakan besar yang akan segera meletus.
Api Perang di Pulau Jawa: Kemenangan Gemilang dan Puncak Kekuasaan
Dengan kesepakatan ini Trunojoyo kembali ke Madura pada 1671. Menggunakan pengaruh dan legitimasi yang ia peroleh, ia berhasil menghimpun kekuatan, mengalahkan pemimpin lokal yang setia pada Mataram, dan menguasai seluruh Pulau Madura.
Ia tidak sendirian. Ia menjalin aliansi penting dengan Karaeng Galesong, seorang pemimpin prajurit Makassar yang melarikan diri setelah kekalahan Kesultanan Gowa di tangan VOC. Para prajutir Makassar ini banyak yang melarikan diri ke Jawa dan sebagian hidup sebagai bajak laut. Para prajurit Makassar yang terlatih menguasai strategi perang, menjadi tulang punggung militer Trunojoyo.
Pada tahun 1674, Trunojoyo secara resmi menyatakan perang terhadap Amangkurat I. Ia mendeklaraskan dirinya sebagai Panembahan Maduretna Panatagama.
Dengan segera pasukan gabungan Madura dan Makassar, mulai melakukan serangan ke kota-kota pesisir utara Jawa. Pada tahun 1676, pertempuran besar pertama terjadi di Gegodog, dekat Tuban. Pasukan Mataram yang jumlahnya jauh lebih besarmengalami kekalahan telak.
Ironisnya, pasukan Mataram ini dipimpin langsung oleh putra mahkota, Raden Mas Rahmat, yang dulunya sudah bersekongkol dengan Trunojoyo untuk menguasai Mataram. Sejumlah sumber menduga kekalahan ini ada unsur kesengajaan, di mana Raden Mas Rahmat sengaja mengulur waktu untuk tidak segera menyerang Trunojoyo.
Kemenangan di Gegodog membuka gerbang bagi Trunojoyo. Dalam waktu singkat, ia berhasil merebut hampir semua kota pelabuhan penting Mataram, dari Surabaya hingga Cirebon, seperti Tuban, Gresik, dan Demak. Hanya Jepara yang berhasil bertahan karena adanya bantuan pasukan VOC yang memperkuat pertahanannya tepat waktu.
Keberhasilan ini semakin memperluas dukungan bagi Trunojoyo. Para penguasa lokal dan bangsawan Jawa yang anti-Amangkurat I, termasuk ayah mertuanya Raden Kajoran dan Sunan Giri, seorang pemimpin spiritual Islam yang sangat dihormati, bergabung dalam barisan pemberontak.
Puncak dari pemberontakan ini terjadi pada pertengahan tahun 1677. Pasukan Trunojoyo berhasil menyerbu dan merebut ibu kota Mataram di Plered. Amangkurat I, yang sudah sakit-sakitan, terpaksa melarikan diri ke arah barat laut bersama putra mahkota, Raden Mas Rahmat.
Dalam pelariannya, Amangkurat I meninggal dunia di Tegal dan dimakamkan di sana. Raden Mas Rahmat pun naik takhta sebagai Amangkurat II. Namun, kemenangan Trunojoyo membuatnya lupa diri. Alih-alih mendukung Raden Mas Rahmat sebagai Amangkurat II sesuai kesepakatan dulu, Trunojoyo menjarah Keraton Plered dan kemudian mundur ke bentengnya di Kediri, meninggalkan keraton yang hancur lebur.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh adik Amangkurat II, Pangeran Puger, yang selama itu tidak ikut mengungsi bersama ayahnya, Amangkurat I, namun bertahan di Plered mencoba menahan serangan Trunojoyo dengan maksud membuktikan bahwa keluarga ibunya, istri lain dari Amangkurat I, yang berasal dari Kajoran yang mendukung Trunojoyo, tidak sepenuhnya memberontak. Ketika pasukan besar Trunojoyo sudah menyingkir dari Plered, Pangeran Puger segera menguasai keraton dan menyatakan dirinya sebagai raja.
Di sisi lain Amangkurat II yang menjadi raja tanpa pasukan dan keraton, membuat keputusan yang kembali mengubah perjalanan sejarah. Ia meminta bantuan kepada VOC. Dia menjanjikan penyerahan wilayah Semarang dan konsesi perdagangan yang sangat menguntungkan bagi VOC.
Bagi VOC, ini adalah kesempatan emas. Mereka bisa membantu mengembalikan seorang raja yang akan berutang budi besar kepada mereka, sehingga memastikan dominasi perdagangan mereka di Jawa. VOC pun setuju dan mengirimkan pasukan mereka yang terdiri dari tentara Eropa, prajurit pribumi, dan pasukan Bugis di bawah pimpinan Arung Palakka untuk membantu Amangkurat II.
Dengan bantuan VOC, angin perang berbalik arah. Pasukan gabungan Mataram-VOC berhasil merebut kembali Surabaya dan Madura dari tangan pemberontak. Pada November 1678, mereka berhasil merebut benteng utama Trunojoyo di Kediri.
Trunojoyo terpaksa melarikan diri ke pegunungan di sebelah timur. Akhirnya, pada akhir tahun 1679, ia berhasil ditangkap oleh pasukan VOC di dekat Ngantang, Malang. Sebagai tawanan perang yang dihormati, Trunojoyo dibawa ke hadapan Amangkurat II. Namun, Amangkurat II, yang takut pengaruh Trunojoyo akan tetap menjadi ancaman, memutuskan memberi hukuman sendiri. Pada sebuah upacara seremonial di desa Payak, Kediri, pada tanggal 2 Januari 1680, Amangkurat II secara langsung menghukum mati Trunojoyo dengan menusuknya menggunakan keris pusakanya yang bernama Kyai Balabar.
Tak cukup hanya itu, sejumlah sumber menggambarkan Amangkurat II juga lantas memerintahkan jasad Trunojoyo dimutilasi. Kepalanya dipenggal, jantungnya dikeluarkan dan dipaksa untuk dimakan oleh para petinggi kraton. Aksi ini dilakukan untuk memberikan pelajaran yang keras kepada siapa pun yang berani memberontak terhadap kekuasaan Mataram.
Dengan kematian Trunojoyo, pemberontakan besar yang hampir menggulingkan Kesultanan Mataram secara resmi berakhir, meskipun perang saudara antara Amangkurat II dan Pangeran Puger masih berlanjut hingga tahun 1681.
Antara Pahlawan dan Pemberontak
Meskipun pemberontakannya gagal dan berakhir dengan tragis, nama Trunojoyo tidak pernah padam dalam ingatan masyarakat Madura. Bagi mereka, ia adalah seorang pahlawan nasional, seorang putra daerah yang dengan gagah berani melawan tirani Mataram dan kolonialisme VOC.
Ia menjadi lambang dari harga diri dan semangat perlawanan orang Madura terhadap kekuatan asing yang ingin mendominasi mereka. Namanya diabadikan menjadi nama jalan di berbagai kota besar di Indonesia, nama bandara di Sumenep, dan nama universitas negeri di Bangkalan. Usulan untuk menjadikannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia terus digaungkan sejak tahun 1967 hingga saat ini, meskipun belum juga terwujud.
Dalam pandangan lain, warisan Trunojoyo juga bersifat dualistis. Di sisi lain, ia dilihat sebagai seorang pemberontak yang melanggar sumpah setia kepada keraton yang secara silsilah adalah keluarganya sendiri, dan yang tindakannya telah membawa kehancuran dan kekacauan besar atas kerajaan.
Kisahnya adalah sebuah pengingat bahwa sejarah tidak pernah hitam putih dan bahwa politik akan selalu membawa konflik kepentingan. Namun, ia juga adalah seorang pemimpin militer yang brilian, seorang pemberani yang hampir saja berhasil menggulingkan sebuah kekuatan besar, dan seorang simbol perlawanan yang terus menginspirasi hingga hari ini.
Kisah Trunojoyo adalah sebuah cerminan dari kompleksitas kekuasaan, ambisi, dan perjuangan identitas yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang bangsa Indonesia.
Baca Juga:
Daftar Lengkap Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat dari PB II hingga PB XIII
Perjanjian Giyanti & Perjanjian Jatisari: Dampak terhadap Keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Warisan hingga Masa Kini

