Salah satu tampilan foto dalam berita yang umum dipublikasikan adalah foto adegan berbincang-bincang antara para tokoh yang ada di dalam berita, atau tokoh tertentu yang menjadi sumber berita dengan orang-orang lain.
Sepintas gaya seperti ini biasa saja dan malah menarik karena bukan foto dengan gaya berpose yang monoton: sekelompok orang berdiri menghadap kamera, lalu tangannya mengepal atau mengacungkan jempol – pose bapak-bapak kalau kata orang sekarang. Namun ternyata khususnya di Indonesia, gaya foto dengan pose berbincang-bincang ini ada “sejarahnya.” Sejarah itu diungkap oleh seorang mantan fotografer Kantor Berita Antara, Audy Mirza Alwi.
Dia seperti dikutip di Antara beberapa waktu lalu terlebih dulu menjelaskan foto bincang-bincang dianggap yang paling memenuhi syarat untuk dibuat maupun dimuat di koran-koran. Karena subjek foto lebih dari satu maka komposisi foto tampak penuh dan seimbang. Pembuatan fotonya pun cukup mudah, yakni satu kamera, plus lensa wide (lebar), fixed maupun zoom, ditambah lampu flash kalau kurang cahaya. Nara sumber foto bincang-bincang juga lengkap, sehingga memenuhi syarat untuk menjadi apa yang disebut Foto Berita Tunggal (Single News Photo), atau foto ilustrasi berita atau tulisan.
Lantas siapakah pencetus ide foto dengan pose bincang-bincang? Ternyata menurut Audy pencetusnya adalah wartawan foto Istana Kepresidenan RI khususnya di era Presiden Soeharto. Di era itu berita-berita dari Istana biasanya menjadi berita utama dan fotonya pun menjadi foto utama. Karena itu wartawan foto yang bertugas di Istana berperan besar memotret acara seremonial di Istana, baik acara kenegaraan atau pertemuan-pertemuan antara Presiden dengan berbagai kalangan.
Menurut Audy saat itu para undangan yang hadir pada acara di Istana umumnya ingin sekali diabadikan bersama Presiden Soeharto, baik untuk dokumentasi pribadi atau agar dimunculkan di media massa. Permintaan berfoto bersama Presiden biasanya cukup banyak. Saking banyaknya, sehingga protokol Istana maupun fotografer resmi Istana, seperti almarhum Saidi dan Bek Tohir menjadwalkan sesi foto khusus untuk para undangan pada setiap acara Presiden Soeharto.

Pada sesi foto itu, para undangan bisa bersalaman dan berfoto bersama Presiden Soeharto. Bahkan juga bisa berbincang-bincang. Dalam sesi ini tentu saja perlu ada “pengarah” agar hasil foto sesuai seperti yang diinginkan. Untuk itu, para undangan diarahkan untuk berdiri berdekatan dengan Presiden. Lalu Presiden akan mengajak tamu-tamu itu berbincang-bincang. Tentunya dalam berbincang itu pose jadi lebih santai dan natural, tidak kaku.
Maka sejak saat itulah “foto bincang-bincang” selalu ada pada setiap acara Presiden Soeharto, di Istana maupun di luar Istana.
Hanya sayangnya kadang terjadi hal yang sebenarnya tergolong melanggar etika kewartawanan karena sejumlah wartawan foto lantas “menjual” foto orang yang sedang bersama Presiden Soeharto. Atau ada orang yang sengaja “memesan” agar foto yang menampilkan dirinya dengan Presiden dimuat di media massa, dengan memberikan sejumlah imbalan. Audy yang bertugas di lingkungan Istana Presiden dan Istana Wapres pada 1993-2006 mengaku dirinya dan seorang fotografer senior Antara, Ali Anwar, termasuk yang tidak melakukan hal tersebut.
Sedangkan Ali Anwar menyebut dirinya memahami kenapa orang sangat ingin terlihat bersama Presiden. “Iya kan dulu setiap acara raker [rapat kerja] atau seminar [tingkat nasional] yang buka Pak Harto. Saat itu pengaruh Pak Harto kuat sekali, sehingga orang ingin berfoto bersamanya,” kenang Ali Anwar.
Meskipun tergolong wartawan foto senior, Ali Anwar mengaku tidak pernah menjual foto kepada para undangan saat acara Presiden Soeharto. “Saya motret hanya untuk disiarkan di Antara saja. Karena Antara pelanggannya tidak hanya satu media, tetapi banyak, ” tambah Ali Anwar yang bergabung di Kantor Berita Antara sejak 1972, dan meliput di Istana sejak 1980.

