Terungkap, Ini Penyebab Meninggalnya Tentara Perdamaian PBB asal Indonesia di Lebanon

Prosesi kedatangan jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan tugas sebagai anggota pasukan penjaga perdamaian di Lebanon di Pangkalan TNI Angkatan Udara Adisutjipto Yogyakarta pada Sabtu (4/4/2026) malam. (Foto: Antara/Hery Sidik)
Prosesi kedatangan jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan tugas sebagai anggota pasukan penjaga perdamaian di Lebanon di Pangkalan TNI Angkatan Udara Adisutjipto Yogyakarta pada Sabtu (4/4/2026) malam. (Foto: Antara/Hery Sidik)

Penyebab meninggalnya tiga tentara perdamaian PBB asal Indonesia di Lebanon dalam dua insiden terpisah akhir Maret lalu akhirnya terungkap. Hasil penyelidikan sementara PBB yang dipublikasikan pada Selasa (7/4/2026) menyebut tembakan dari tank Israel menjadi penyebab kematian pada satu insiden, sedangkan ledakan bahan peledak terekayasa atau improvised explosive device (IED) yang dipasang kelompok militan Hezbollah menjadi penyebab kematian pada insiden lainnya.

Hasil penyelidikan itu disampaikan juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, dalam sebuah konferensi pers seperti diberitakan Channel News Asia. “Kami sudah meminta kepada para pihak yang terlibat agar kasus ini diselidiki dan dilanjutkan ke penuntutan hukum oleh pihak berwenang untuk membawa para pelakunya ke dalam proses peradilan dan memastikan bahwa mereka yang melakukan kejahatan terhadap personel penjaga perdamaian mendapatkan hukuman,” ujar Dujarric.

Dalam kasus meninggalnya Farizal Rhomadhon, 28, anggota TNI yang menjadi bagian pasukan perdamaian PBB di Lebanon atau UNIFIL pada 29 Maret lalu, saat itu sebuah peluru meriam meledak di dekat posisi pasukan UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Penyelidikan kemudian mengungkap peluru meriam itu berasal dari meriam 120 mm milik tank Merkava Israel yang berada di sebelah timur. Dia menambahkan UNIFIL sudah menginformasikan semua posisi dan fasilitasnya kepada Israel dua kali dalam beberapa hari sebelum terjadinya insiden penembakan itu.

Sementara dalam insiden pada 30 Maret, terjadi ledakan yang menewaskan dua personel pasukan perdamaian PBB asal Indonesia yatu Zulmi Aditya Iskandar, 33, dan Muhammad Nur Ichwan, 26, sementara dua personel TNI lainnya terluka. Ledakan yang menghancurkan kendaraan yang ditumpangi personel TNI itu berasal dari bahan peledak terekayasa (IED). “Penyelidikan menemukan bahwa berdasarkan lokasi insiden, kondisi ledakan, dan konteks yang ada, IED itu diduga kuat dipasang oleh Hezbollah,” ujar Dujarric.

Sebelumnya UNIFIL memperingatkan bahwa baku tembak antara Israel dan Hizbullah yang terus berlangsung membahayakan pasukan penjaga perdamaian yang beroperasi di Lebanon selatan. Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel menyatakan keprihatinannya atas tentara Israel dan pejuang Hizbullah yang “terus menerus menembakkan proyektil dan peluru ke atau di dekat posisi” misi PBB tersebut.

Dalam pernyataannya, Minggu (5/4/2026) yang dikutip Antara, Ardiel juga mencatat bahwa insiden tersebut telah mengakibatkan sejumlah personel penjaga keamanan gugur dan cedera. Kedua belah pihak juga telah melakukan serangan dari dekat posisi PBB, yang “berpotensi memicu tembakan balasan,” ujarnya.

Ardiel mengacu pada keberadaan kombatan di dekat area tempat pasukan penjaga perdamaian tinggal dan bekerja. “Aksi-aksi ini membahayakan pasukan penjaga perdamaian,” kata dia. Ia mengingatkan semua negara tentang kewajiban mereka untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel PBB, serta untuk selalu menghormati kekebalan wilayah PBB.

UNIFIL selanjutnya mendesak semua pihak untuk “meletakkan senjata dan bekerja serius menuju gencatan senjata,” karena “tidak ada solusi militer untuk konflik ini”.

Israel melancarkan serangan udara dan serangan darat di Lebanon selatan sejak serangan lintas batas oleh kelompok Hezbollah Lebanon pada 2 Maret, meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak November 2024. Sejak awal Maret, para petempur Hezbollah menembakkan rentetan roket ke Israel sebagai tanggapan atas serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon, serta pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari.

Sementara itu juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Veronica Vicka Ancilla Rompis, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu, menyatakan sudah menerima hasil penyelidikan sementara PBB terkait meninggalnya tiga personel penjaga perdamaian asal Indonesia. Dia menegaskan operasi militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon selatan akan terus membawa ancaman bagi para personel penjaga perdamaian.

“Semua tindakan yang membahayakan personel pasukan perdamaian adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan tak boleh berlanjut,” tegas Veronica. Dia menambahkan Indonesia sudah mengirimkan surat kepada Presiden Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jenderal PBB yang berisi kutukan keras atas berulangnya serangan terhadap personel pasukan perdamaian khususnya dari Indonesia.

Sementara merespons pertanyaan apakah Indonesia mempertimbangkan penghentian penempatan personel pasukan perdamaian di Lebanon, juru bicara Kemenlu, Yvonne Mewengkang menyatakan semua keputusan terkait masalah ini akan dipertimbangkan dengan seksama.

Baca Juga:

Personel TNI Gugur dalam Misi Perdamaian PBB di Lebanon Bertambah

Personel Pasukan Perdamaian TNI Meninggal di Lebanon, Begini Sejarah Peran Serta Indonesia

Share the Post: