Tahun 2029 memang masih lama, namun bagi dunia politik, waktu bisa begitu singkat. Tak heran kalau sekarang saja sudah ada survei soal kandidat yang layak masuk bursa calon presiden pada Pemilu Presiden 2029.
Yang terbaru, Indonesian Public Institute (IPI) dalam surveinya mengungkap sejumlah wajah untuk bursa bakal calon presiden 2029. Nama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, sejumlah gubernur, serta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut masuk dalam kriteria calon presiden Pemilu Presiden 2029menurut survei itu.
Peneliti IPI Abdan Sakura dalam pernyataan resmi yang dikutip Antara, Selasa (10/2/2025), menjelaskan munculnya para wajah baru tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor mempengaruhi elektabilitas mereka, seperti kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, visi-misi dan program kerja.
Abdan mencontohkan empat indikator yang memperkuat elektabilitas Menteri Pertahanan Sjafrie berupa kepemimpinan dan ketokohannya (44%), rekam jejak kepemimpinan (17%), rekomendasi lingkungan dan media (12%), serta integritas 10%.
Dia menuturkan elektabilitas Sjafrie bersaing ketat dengan sejumlah tokoh kepala daerah yang populer di tingkat nasional, seperti mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang berada di urutan ke-4 dengan elektabilitas 8,5%, lalu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di urutan ke-5 dengan elektabilitas 7,9% serta Gubernur Jakarta Pramono Anung di urutan ke-6 dengan elektabilitas 7,8%.
Abdan menjelaskan pula Presiden Prabowo Subianto masih ada di puncak elektabilitas dengan angka 22,3%. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di urutan kedua dengan angka 12,2%, sedangkan mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di angka 9%.

“Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral,” ujar Abdan. Dia menilai celah itu membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya “pemain utama”.
“Wajah-wajah baru tersebut masuk dalam 10 besar tokoh untuk menjadi bakal capres 2029. Sjafrie berada di urutan ke-7 dengan tingkat elektabilitas di angka 7,5%, disusul Purbaya 4,9%, dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda 3,8%,” ucap dia.
Sementara itu, dirinya menyebutkan rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual. Dengan demikian, menurut dia, berbagai nama besar masih mendominasi persepsi publik, baik dalam penilaian kelayakan maupun elektabilitas, yang menunjukkan kuatnya pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, dan eksposur media dalam imajinasi pemilih.
“Namun, jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang relatif moderat mengindikasikan satu hal penting, publik mengenal dan menilai, tetapi belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan,” ucap Abdan.
Survei Indonesian Public Institute digelar 30 Januari 2026 hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden yang merupakan masyarakat berusia 17-65 tahun dan berasal dari 35 provinsi di Indonesia.
Teknik sampel yang digunakan pada riset ini adalah sampel acak bertingkat atau multistage random sampling. Metode tersebut merupakan teknik di mana pemilihan sampel dilakukan dalam beberapa tahap dari unit besar ke unit yang lebih kecil, dan setiap tahap dilakukan secara acak.
Berdasarkan teknik itu, sampel berasal dari 35 provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional. Sementara tingkat kesalahan alias margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar 2,78% pada tingkat kepercayaan lebih kurang 95%.
Baca Juga:
Refleksi Hari Pers Nasional 2026, Seberapa Nyata Ruang Gerak Pers?
Tak Kalah dari James Bond! Ini Kiprah Intelijen Nusantara di Masa Kerajaan Dulu

