Soekarno, Presiden Indonesia dengan Varian Mobil Kepresidenan Terbanyak

Presiden Soekarno dan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru naik mobil terbuka saat kunjungan Nehru ke Indonesia. (Foto: gesuri.id)
Presiden Soekarno dan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru naik mobil terbuka saat kunjungan Nehru ke Indonesia. (Foto: gesuri.id)

Sosok Soekarno tak habis-habisnya jadi pusat perhatian. Sebagai tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia dan proklamator kemerdekaan, Soekarno memang punya kharisma besar, mulai dari gaya pidatonya yang sepertinya juga “menginspirasi” Presiden Prabowo Subianto, hingga gaya-gaya pribadinya seperti busana.

Nah, kebetulan pula, Soekarno bisa dibilang adalah satu-satunya Presiden Indonesia yang punya mobil kepresidenan paling banyak, yaitu dari sisi merek, model, atau varian yang digunakan selama dia menjabat. Presiden penerusnya, mulai dari Soeharto hingga Joko Widodo, umumnya menggunakan mobil kepresidenan Mercedes Benz. Sebagai catatan, Soeharto pada periode awalnya menjabat sebagai presiden masih sempat menggunakan mobil Cadillac buatan Amerika Serikat, namun setelah itu berganti Mercedes Benz. Tentu variannya berganti mengikuti perkembangan, namun mereknya tetap sama. Sementara Presiden Prabowo saat ini lebih banyak menggunakan mobil buatan PT Pindad yaitu Maung Limousine, yang basisnya adalah kendaraan taktis militer dengan mesin SsangYong, mesin dari Korea Selatan yang memegang lisensi mesin Mercedes.

Uniknya, mobil-mobil kepresidenan era Bung Karno justru didominasi merek asal Amerika Serikat. Dalam catatan berbagai sumber yang dikutip lalulalangmasa.com, tidak ada mobil kepresidenan era Bung Karno yang buatan Eropa, yang lazim jadi tunggangan pejabat tinggi atau raja-raja di Nusantara era kolonial seperti Mercedes Benz atau Rolls-Royce. Sebenarnya rada ironis juga karena di masa pemerintahannya, Soekarno beberapa kali jadi “musuh” politik Amerika.

Buku Jejak Roda Petualang (2003), karya EM Samudera dan Uslik Kristimilia, yang merupakan buku peringatan ulang tahun Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) menjadi salah satu literatur yang mencatat deretan mobil-mobil dinas Presiden Soekarno. Kebetulan mobil-mobil yang pernah dipakai Bung Karno itu kini dimiliki dan dirawat oleh anggota PPMKI.

Mobil Rampasan

Mobil pertama yang menjadi mobil kepresidenan uniknya adalah sebuah mobil “rampasan.” Konon ceritanya seusai proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, para orang dekat Presiden Soekarno mulai memikirkan mobil dinas khusus baginya. Masa, presiden sebuah negara merdeka tidak punya mobil dinas, bagaimana “marwah”-nya nanti kalau tidak punya, begitu mungkin kira-kira pikir mereka.

Salah satu tokoh pemuda pejuang, Soediro, tahu bahwa ada mobil yang dinilainya “pantas” untuk jadi mobil presiden. Mobil itu sebuah Buick 8, mobil mewah buatan Amerika Serikat keluaran 1937 yang jadi mobil dinas orang Jepang yang menjadi direktur perusahaan kereta api.

Buick 8 buatan 1937, mobil kepresidenan pertama. (Foto: Antara/Fatchur Rochman)

Dia mendatangi garasi kantor perusahaan kereta api yang kini menjadi bagian kompleks Kementerian Perhubungan, tempat mobil itu biasa terparkir. Kebetulan sopir yang biasa membawa mobil itu ada di sana. Tanpa banyak basa-basi Soediro yang juga kakek artis Tora Sudiro ini langsung meminta sang sopir menyerahkan mobil itu kepadanya.

Jelas saja sang sopir bertanya, mungkin kira-kira “mau buat apa, enak bener?” Soediro dengan nada tegas menjawab bahwa mobil itu akan berganti “tuan.” “Mobil ini untuk presidenmu!” katanya. Si sopir lantas diberi sedikit uang dan disuruh pulang. Jadilah mobil rampasan itu menjadi mobil dinas kepresidenan pertama. Pelat nomornya pun berubah menjadi “REP-1,” alias “Republik (Indonesia)-1.” Soediro sendiri kemudian menjadi Wali Kota Jakarta tahun 1950-an.

Chrysler Windsor Limousine 1947 (Foto: ibid.astra.co.id)

Setelah mobil “rampasan” itu, Presiden Soekarno lantas berganti lagi mobilnya yaitu saat ibu kota negara pindah ke Kota Jogja. Dia saat itu kemudian menggunakan sebuah Chrysler Windsor Limousine 1947. Mobil buatan AS dengan mesin berkapasitas 4.000 cc itu awalnya digunakan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman, lantas beralih menjadi mobil kepresidenan pada 1948. Sejumlah sumber menyebut mobil ini termasuk “awet” digunakan Soekarno, bahkan sampai saat penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika di Bandung 1955 mobil ini masih dipakai Soekarno.

Cadillac Fleetwood 75 Limousine, hadiah dari perusahaan otomotif AS, General Motors, pada 1950. (Foto: Arsip Nasional RI)

Pada 1950, mobil kepresidenan bertambah dengan datangnya sebuah Cadillac Fleetwood 75 Limousine. Berdasarkan keterangan foto koleksi Arsip Negara RI, mobil ini adalah hadiah dari produsennya, General Motors. Penyerahan mobil bermesin 5.000 cc ini berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, pada 1950.

Hadiah dari Negara Sahabat

Presiden Soekarno kemudian kembali mendapatkan mobil kepresidenan bermerek Chrysler, kali ini dari varian Crown Imperial 1954. Menurut situs penggemar mobil antik Indonesia, www.imperialclub.info, sejatinya mobil ini dibeli Presiden Jozep Bros Tito dari Yugoslavia. Mobil ini kemudian menjadi hadiah dari Tito untuk Bung Karno saat dirinya menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Non-Blok di Beograd, Yugoslavia, pada 1955. Yang unik lagi, tak seperti umumnya mobil limusin kepresidenan yang berwarna hitam, mobil ini bercat hijau ala militer.

Chrysler Crown Imperial 1954, yang sejenis dengan mobil yang dihadiahkan pemimpin Yugoslavia, Tito, kepada Presiden Soekarno. (Foto: octanefilmcars.com)

Sementara pada 1955 pula, Presiden Soekarno mendapat hadiah mobil, kali ini dari Raja Arab Saudi, Saud bin Abdul Aziz. Mobil Chrysler Imperial C-70 1955 itu tadinya adalah fasilitas transportasi untuk Soekarno selama di Arab Saudi saat menunaikan ibadah haji, namun kemudian dihadiahkan kepadanya. Mobil ini kemudian menjadi salah satu “korban” aksi terorisme serangan granat oleh sejumlah simpatisan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pada 30 November 1957. Dalam peristiwa yang kemudian dikenal dengan sebutan “Peristiwa Cikini” itu, pelaku melemparkan granat ke arah Soekarno yang hendak pulang setelah menghadiri resepsi ulang tahun sekolah Perguruan Cikini di Jakarta. Ledakan itu merusakkan sejumlah bagian mobil, namun Soekarno lolos dari maut.

Chrysler Imperial C-70 tahun 1955 yang setipe dengan mobil yang dihadiahkan Raja Arab Saudi, Saud bin Abdul Aziz kepada Presiden Soekarno setelah menunaikan ibadah haji. (Foto: Instagram/@rachelgoenka)

Armada mobil kepresidenan kembali bertambah dengan kehadiran Cadillac Fleetwood 75 Limousine 1957.  Model ini kabarnya menjadi tunggangan kegemaran Soekarno saat menjalankan tugas kenegaraaan. Koleksi Chrysler juga bertambah dengan hadirnya Chrysler Imperial Ghia Parade Limousine 1959.

Mobil ini biasa menjadi tunggangan Bung Karno untuk menjemput tamu negara dan memeriksa barisan kehormatan saat upacara-upacara besar. Atapnya memang bisa dibuka dan dilipat, sehingga bisa berubah menjadi mobil inspeksi. Menurut situs penggemar mobil antik Indonesia, www.imperialclub.info, Soekarno memerintahkan modifikasi terhadap mobil ini, di antaranya pemotongan bagian belakang sirip mobil yang desain aslinya melekuk lancip. Kelengkapan interiornya mewah, salah satunya adalah adanya kulkas kecil di bagian belakang.  

Chrysler Imperial Ghia Parade Limousine 1959. (Foto: www.webimperialclub.info)

Mobil jenis Cadillac Fleetwood 75 Limousine, kali ini keluaran 1960, juga belakangan hadir. Model ini merupakan salah satu mobil terakhir Bung Karno di akhir masa jabatannya hingga menjelang wafat pada 1970. Produksi mobil ini sangat terbatas karena memang khusus untuk mobil kepresidenan.

Cadillac Fleetwood 75 Limousine 1960, mobil kepresidenan resmi di akhir masa kekuasaan Soekarno. (Foto: otomotif.kompas.com)

Satu-satunya mobil Eropa yang pernah memperkuat armada mobil kepresidenan era Soekarno adalah GAZ Chaika M13 Limousine buatan Uni Soviet. Tidak banyak catatan atau dokumentasi foto saat mobil ini digunakan oleh Bung Karno. Namun sejumlah situs yang mengutip biografi Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat garapan Cindy Adams, salah satunya mobilmotorlama.com, menyebut mobil ini adalah hadiah pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev pada 1961. Kabarnya, mobil untuk Soekarno ini spesifikasinya persis dengan mobil yang dipakai Khruschev sendiri. Bahkan, mobil desain 1959 untuk Soekarno ini adalah mobil pesanan khusus kedua. Mobil pesanan pertamanya adalah yang ditunggangi Khruschev.

GAZ Chaika M13 Limousine, mobil hadiah pemimpin Uni Soviet, Nikita Khruschev, kepada Presiden Soekarno pada 1961. (Foto: mobilmotorlama.com)
Chrysler Imperial LeBaron 1962. (Foto: mobimoto.com)

Ada lagi sebuah mobil kepresidenan yaitu Chrysler Imperial LeBaron 1962. Namun hampir tidak ada keterangan atau dokumentasi soal mobil ini saat dipakai Soekarno. Meski tergolong mewah, namun LeBaron ini bukan kategori eksklusif atau punya spek khusus untuk level presiden. Mobil sejenis juga menjadi tunggangan resmi sejumlah menteri dan Gubernur DKI Jakarta.

Baca Juga:

Jelang Kedatangan Kapal Induk dari Italia, Ini Kapal Perang Raksasa yang Pernah Dimiliki TNI AL

Ketika Makanan Menjadi Alat Revolusi di Era Presiden Soekarno

Dukung Lalu lalang masa

Setiap artikel di situs ini membutuhkan waktu untuk riset, membaca sumber,
dan menyusun tulisan. Jika tulisan ini bermanfaat, Anda dapat membantu
agar kami terus menghadirkan kisah-kisah sejarah Indonesia dan dunia.

Saweria Lalu Lalang Masa

Terima kasih atas dukungannya.

Share the Post: