Ketika Makanan Menjadi Alat Revolusi di Era Presiden Soekarno

Sampul buku "Mensukseskan Tavip dengan Revolusi Menu" (Foto: Pribadi)
Sampul buku "Mensukseskan Tavip dengan Revolusi Menu" (Foto: Pribadi)

Urusan makanan sudah menjadi isu politik sejak dulu. Jika sekarang isunya adalah makan bergizi gratis yang menjadi program mahkota pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serta swasembada pangan, maka di zaman Presiden Soekarno dulu isunya juga hampir sama yaitu kemandirian bahan pangan.

Isu ini terkait dengan pidato bertema Tahun Vivere Pericoloso (Tavip) yang disampaikan Soekarno pada 17 Agustus 1964 adalah salah satu pidatonya yang paling agresif dan sarat dengan semangat revolusioner. Vivere Pericoloso adalah istilah bahasa Italia yang artinya “menyerempet bahaya” atau lebih kurang “bertarung dengan risiko.” Saat itu Soekarno menyatakan bahwa Indonesia sedang berada dalam situasi internasional yang sangat berbahaya. Ia mengajak rakyat untuk tidak takut “hidup menyerempet bahaya” demi mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman imperialisme.

Latar belakang isu internasional yang sedang dihadapi Indonesia adalah konfrontasi yang dikobarkan Soekarno untuk menentang pendirian negara Malaysia yang dinilainya adalah proyek neokolonialisme Inggris. Soekarno juga menolak program-program bantuan ekonomi Barat. Pada masa itu muncul slogan terkenal yang dilontarkan Soekarno yaitu “Go to Hell with Your Aid” alias “Persetan dengan Bantuanmu.”

Dalam pidato itu Soekarno juga memperkenalkan konsep Trisakti yaitu:

  • Berdaulat dalam Politik: Indonesia harus menjadi bangsa yang merdeka sepenuhnya dalam menentukan nasib dan kebijakannya sendiri tanpa campur tangan atau tekanan dari kekuatan asing.
  • Berdikari dalam Ekonomi: Berdikari adalah singkatan “Berdiri di Atas Kaki Sendiri,” yang berarti Indonesia harus mampu mengelola sumber daya alamnya secara mandiri dan tidak menggantungkan ekonomi pada bantuan atau pasokan negara lain.
  • Berkepribadian dalam Kebudayaan: Bangsa Indonesia harus menjunjung tinggi jati diri, sejarah, dan nilai-nilai luhur budayanya sendiri, serta menolak pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa.

Upaya Berdikari ini antara lain kemudian diterjemahkan melalui kampanye penggunaan bahan pangan asli Indonesia untuk mencegah penggunaan bahan pangan impor. Salah satu kampanye itu adalah melalui penerbitan buku Mensukseskan Tavip dengan Revolusi Menu. Buku ini memberikan panduan penggunaan bahan pangan asli Indonesia seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan serta aneka pangan alternatif lain.

Coba kita simak pengantar buku karya Ny. Is Satrio ini, yang disampaikan oleh Hurustiati Soebandrio, Ketua Koordinator Kongres Wanita Indonesia (Kowani):

Dengan diterbitkannja buku ,,Menu Gaja Baru” oleh Ibu Is. Satrio sekiranja para wanita merasa lega. Pada umumnja para wanita Indonesia bersedia untuk merobah menu makanannja bagi seluruh keluarganja seperti dikomandokan oleh P.J.M. [Paduka Yang Mulia] Presiden pada amanat ,,Tavip”.

Kita bersedia untuk menjadjikan makanan jang selezat-lezatnja bagi seluruh keluarga kita dengan memakai bahan makanan jang dilipat-gandakan setjara mudah di tanah air kita, misalnja djagung, singkong, daging kelintji, daging dan telor bebek, berbagai-bagai sajuran jang tumbuh setjara meluas di tanah air kita jang belum lazim dimakan rakjat hingga kini. Kita sanggup untuk mempopulerkan segala hidangan jang baru, hidangan ,,Gaja Baru” ini, sehingga kita tidak perlu sama sekali mengimpor bahan makanan. Inilah sesuai dengan prinsip ,,berdiri diatas kaki sendiri”.

Hubungan antara masalah pangan dan politik juga dijelaskan di buku ini dalam tulisan dr. Dradjat Prawiranegara, Kepala Lembaga Makanan Rakyat Departemen Kesehatan. Dia menjelaskan bahwa:

Masalah makanan jang meliputi berbagai tingkat mulai daripada produksi sampai pada penjadjian makanan sehari-hari di-medja makan kita tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. Selandjutnja masalah ekonomi tidak lepas daripada masalah politik.

Dengan demikian pemetjahan masalah pangan dialam revolusi kita ini tidak lepas daripada pengaruh” perdjuangan ekonomi dan politik. Sedjarah telah membuktikan berulangulang bahwa salah satu sendjata ampuh untuk menundukkan lawan didalam perang adalah melalui pangan, dengan bebagai djalan seperti mengurung kota, sehingga pengaliran makanan ke kota tersebut putus setjara besar-besaran dan dengan blokade di darat maupun di laut. Pula dengan tindakan” dibidang ekonomi dan politik.

Hal’ tersebut tadi memberi peringatan kepada kita didalam perdjuangan mengkonfrontasi ,,Malaysia”, bahwa kita harus waspada mengenai masalah pangan. Pemerintah dan masjarakat harus merupakan suatu front jang kuat dalam mengatasi masalah ekonomi pada umumnja, masalah pangan pada chususnja. Setjara gotong-rojong semua daja upaja harus kita pusatkan pada pengamanan pangan: untuk menjelamatkan revolusi kita.

Pengertian ilmu gizi perlu kita pergunakan untuk perdjuangan di bidang pangan. Belum semua potensi masjarakat dan alam kita gali, sedangkan beberapa usaha masjarakat sendiri untuk mengatasi masalah pangan seperti telah didjalankan di daerah Wonogiri dan Giritontro (Djawa Tengah) membuktikan bahwa potensi tersebut ada.

Pola makanan Indonesia menguntungkan sekali untuk usaha variasi menu dengan tidak mengabaikan nilai gizi. Pola makanan tersebut sebagaimana kita ketahui terdiri dari makanan pokok, lauk pauk dan sajur. Lalap dan sambal sering menjertai pula.

Makanan pokok tersebut dapat terdiri daripada nasi, djagung, sago, singkong, ubi atau pisang, menurut kesukaan dan kebiasaan daerah. Hal ini membuktikan bahwa bukanlah semata-mata beras jang mendjadi sjarat mutlak untuk makanan pokok, apalagi djika kita harus mengatasi kesulitan ekonomi pada masa perdjuangan ini.

Sayur Perjuangan

Buku ini juga memuat sejumlah contoh sayur-mayur yang layak konsumsi, yang mungkin buat kita di zaman sekarang terasa lucu istilahnya yaitu “Sayur-Sayuran Dwikora.” Dwikora adalah Dwi Komando Rakyat, seruan Presiden Soekarno untuk: 1) Perhebat ketahanan revolusi Indonesia, dan 2) Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Serawak, Sabah, dan Brunei untuk menggagalkan negara boneka Malaysia.

Sayur-sayuran “perjuangan” itu ada 44 macam, selain daun-daunan yang lazim kita kenal saat ini seperti kangkung dan daun singkong serta daun ubi jalar, bayam, dan daun pepaya, ada juga daun-daun yang mungkin sudah nyaris tak akrab bagi kita, khususnya orang yang tinggal di perkotaan. Daun-daun itu di antaranya daun bluntas, daun puring, daun pace (mengkudu), daun dadap teh, daun antikan, daun puring, daun tapul lerang, daun paktis, dan daun tekokah.

Buku itu juga memuat daftar protein murah pengganti daging sapi atau ayam. Yang dituliskan di antaranya adalah bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, aneka kacang seperti kacang arab, Bogor, guda, kacang tolo, kacang kedelai, lalu kelapa tua, kemiri, kecipir biji, koro wedus biji, kwaci, biji lamtoro tua, oncom, tempe gembus dari ampas tahu, tempe gembus dari ampas jagung, biji kembang matahari dan biji kembang teratai.

Protein lain yang dikampanyekan adalah daging kelinci, bebek, keong, kerang, serta uut (sompil) yaitu siput kecil yang biasanya menjadi hama tanaman.

Kampanye daging alternatif di luar ayam dan sapi terlihat cukup ditonjolkan di buku ini. Misalkan saja ada lagu yang dimuat, yang bertema kampanye makan daging kelinci. Coba lihat lirik lagunya:

Sangat enak masakan ibuku

Sate kelinci dan gule kelinci

Daging putih rasa seperti ayam

Tak kalah lezat serta murah

Ada pula lagu lain yang mengampanyekan konsumsi bebek:

Potong bebek angsa angsa di kuali

Masak daging bebek enak sekali

Buang amisnya buang minyaknya

Tambah jeruk jadi lezat rasanya

Sedangkan kampanye menu gaya baru berupa bahan pangan alternatif juga ada lagunya. Misalkan saja lagu soal revolusi menu yang mengadopsi melodi lagu anak-anak Jawa, Dondong Apa Salak.

Revolusi menu, merobah makanan

Beras atau jagung, singkong atau ubi

Sagu dan pisang kita makan juga

Guna mensukseskan usaha Dwikora

Kembali ke Menu Tradisional

Jadi sebenarnya kalau melihat isi buku ini, sebenarnya yang dikampanyekan adalah kembali ke menu-menu tradisional yang sudah dikonsumsi masyarakat sejak zaman dahulu, namun kemudian tergeser oleh pola konsumsi makanan ala Barat yang banyak menggunakan tepung terigu yang tidak berasal dari Indonesia. Tidak heran kalau membaca buku ini, berbagai makanan yang dijelaskan sebenarnya akrab bagi kita karena sudah biasa kita kenal sebagai “jajan pasar” seperti sawut (singkong yang diparut dan dikukus dan dihidangkan dengan dicampur kelapa parut), botok, lepet jagung, dan sebagainya.

Dalam buku ini dijelaskan pula tiga macam menu yang disebut “Menu Gaya Baru” alias MGB (bukan MBG, hlo, ya!). MGB model pertama adalah yang masih sepenuhnya menggunakan nasi dari beras dengan sayur dan lauk pauk. MGB model kedua menggunakan nasi dari beras yang dicampur dengan apa yang disebut “beras jagung.” Tujuannya adalah untuk mengurangi konsumsi beras. Sedangkan MGB model ketiga adalah menu yang sepenuhnya tidak menggunakan beras, di mana sebagai pengganti beras digunakan olahan singkong atau ubi berupa gaplek atau tiwul, atau jagung.

Menu Gaya Baru di buku ini didefinisikan sebagai:

  •  Susunan makanan revolusioner, berdasarkan kesehatan daan tidak tergantung dari satu bahan makanan pokok (teristimewa beras).
  • MGB menambah pemakaian bahan-bahan seperti jagung, gaplek, sagu, singkong, ubi, dan mengurangi jumlah pemakaian beras.
  • Biaya MGB rata-rata lebih murah daripada menu “gaya lama” karena mengurangi pemakaian beras yang harganya memang paling mahal dibandingkan sumber pangan karbohidrat lainnya.

Tak hanya memberikan penjelasan mengenai menu untuk konsumsi harian, buku ini bahkan memberikan panduan sajian makanan untuk keperluan pesta/resepsi/acara-acara peringatan. Jadi walaupun ada acara party, menunya tetap berdikari bestiiiiiieee!

Lantas apa sarannya? Salah satu contohnya adalah lontong komplit, namun lontongnya tidak dibuat dari beras melainkan jagung. Sedangkan hidangan pendamping lontongnya adalah sambal goreng hati, udang, sambal kelapa parut, dan abon serta kerupuk udang. Sementara untuk sajian kudapan berupa kue dicontohkan kue yang dibuat dari tepung jagung serta suguhan dari bahan-bahan tradisional lain.

Baca Juga:

Mi Lethek Khas DIY Ternyata Makanan Sehat, Cocok untuk Pengidap Diabetes

Inasua, Ikan Fermentasi Kuliner Khas Maluku Tengah

Share the Post: