Operasi Cakar Elang: Upaya Pembebasan Sandera yang Kandas Sebelum Tuntas (Bagian III/Habis)

Bangkai helikopter RH-53D yang ludes terbakar setelah bertabrakan dengan pesawat angkut EC-130 di padang garam di gurun pasir Dasht-e-Lut, Iran, yang menjadi lokasi titik kumpul pertama pasukan pembebasan sandera AS. Di latar belakang terlihat helikopter RH-53D AS yang terpaksa ditinggalkan dalam kondisi utuh tanpa sempat dihancurkan. (Foto: Bahram Mohammadifard - http://www.ir-psri.com/Show.php?Page=ViewPhoto&PhotoID=628&SP=Farsi, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=22913810)
Bangkai helikopter RH-53D yang ludes terbakar setelah bertabrakan dengan pesawat angkut EC-130 di padang garam di gurun pasir Dasht-e-Lut, Iran, yang menjadi lokasi titik kumpul pertama pasukan pembebasan sandera AS. Di latar belakang terlihat helikopter RH-53D AS yang terpaksa ditinggalkan dalam kondisi utuh tanpa sempat dihancurkan. (Foto: Bahram Mohammadifard - http://www.ir-psri.com/Show.php?Page=ViewPhoto&PhotoID=628&SP=Farsi, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=22913810)

Operasi militer untuk membebaskan warga AS yang disandera di gedung Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran, sebagai salah satu dampak Revolusi Islam Iran yang menggulingkan penguasa sekutu AS, Shah (Raja) Mohammed Reza Pahlevi, resmi dinamai Operasi Cakar Elang (Operation Eagle Claw). Eksekusinya ditetapkan untuk dilakukan pada 24 April 1980.

Sesuai skenario, kali pertama sebuah pesawat angkut MC-130 dengan sandi Dragon 1 yang membawa personel pasukan penyerbu untuk pembebasan sandera, logistik, dan pasokan BBM mendarat di Titik Kumpul Satu atau Desert One, di sebuah padang garam yang menjadi bagian gurun pasir Dasht-e-Lut di wilayah Provinsi Khorasan Selatan, Iran, sekitar 200 km selatan Teheran. Lokasi ini bisa dibilang sudah berada di tengah wilayah Iran.

Pesawat angkut itu harus mendarat dalam kondisi gelap total. Satu-satunya pemandu titik pendaratan hanyalah lampu-lampu inframerah yang sudah dipasang personel yang jauh hari sudah disusupkan ke tempat itu untuk mensurvei lokasi. Lampu inframerah ini hanya bisa dilihat menggunakan kaca mata khusus untuk melihat di kegelapan  atau night vision goggles. Dragon 1 butuh empat kali terbang melintas lokasi pendaratan untuk memastikan bahwa tidak ada benda apa pun yang bisa bikin celaka kalau sampai tertabrak.

Pesawat itu akhirnya mendarat pada pukul 22.47 waktu setempat. Dengan segera personel pengamanan lokasi yang menggunakan jip dan personel tim pengendalian tempur (dalpur) AU AS turun. Tim pengamanan lokasi langsung mengambil posisi, sementara personel dalpur menyiapkan titik pendaratan kedua di sisi utara sebuah jalan tanah yang melintasi padang garam itu yang dijadikan landasan pesawat angkut. Mereka juga memasang peranti pemancar Tactical Air Navigation System (Tacan) yang menjadi pemandu arah bagi helikopter-helikopter yang menyusul datang.

Di tengah persiapan itu, tanpa diduga sebuah bus penumpang Iran yang membawa sopir dan 43 penumpang lewat di jalan yang digunakan untuk mendarat pesawat angkut. Pasukan Ranger AD AS yang bertugas sebagai tim pengamanan landasan segera menyetop bus itu dan melarang seisi bus turun. “Gangguan” berikutnya datang ketika sebuah truk tangki minyak juga melewati jalan yang sama. Truk itu jalan terus meski sudah diberi kode agar berhenti. Personel Ranger pun melakukan “tindakan tegas terukur” dengan menembak truk itu menggunakan rudal panggul jarak dekat hingga meledak dan terbakar. Penumpang truk meninggal, sementara sopir truk berhasil meloloskan diri lalu menumpang sebuah mobil pikap yang berjalan mengiringinya.

Namun pasukan pengamanan tak mengejarnya karena mereka menduga orang di truk dan di pikap itu adalah para penyelundup BBM yang memang lazim ada di Iran. Para penyelundup ini mestinya juga tak mau berurusan dengan aparat setempat seandainya mereka berniat melaporkan aktivitas di tengah gurun yang jelas mencurigakan. Karena itu pasukan pengamanan tak bertindak lebih lanjut karena orang-orang itu diyakini takkan menimbulkan ancaman serius.

Sementara itu, truk yang terbakar jadi sangat menyolok karena kobaran apinya jadi menyinari gurun. Namun dengan begitu helikopter-helikopter yang datang hendak mendarat jadi tak susah-susah lagi menemukan lokasinya. Tapi momen kedatangan helikopter-helikopter itu justru jadi saat munculnya sejumlah masalah  baru.

Masalah Bermunculan

Salah satu helikopter RH-53D dengan sandi Bluebeard 6 terpaksa mendarat darurat di gurun sebelum tiba di lokasi pendaratan yang seharusnya ketika salah satu sensornya menunjukkan adanya retakan di baling-balingnya. Para awaknya pun dijemput oleh helikopter lain bersandi Bluebeard 8, sementara helikopter yang apes itu terpaksa ditinggalkan. Helikopter-helikopter lainnya mendadak berjumpa dengan badai pasir pekat yang disebut haboob dan harus terbang menembusnya. Salah satu helikopter itu yang bersandi Bluebeard 5 terpaksa balik kanan dan kembali ke kapal induk USS Nimitz yang menjadi pangkalannya karena mengalami gangguan di sistem kelistrikannya yang membuat peranti-peranti vitalnya mati.

Dengan insiden yang dialami kedua helikopter itu, helikopter yang tersisa untuk menjalankan misi tinggal enam. Mereka semua berhasil mencapai titik kumpul Desert One 50 hingga 90 menit terlambat dari waktu yang direncanakan. Tapi lagi-lagi muncul masalah. Kali ini helikopter bersandi Bluebeard 2 yang mendarat paling akhir ternyata juga mengalami kegagalan fungsi sistem hidrolik cadangan. Padahal sistem hidrolik ini menjadi pengendali sistem kemudi sehingga meski masih ada sistem utama yang berfungsi penerbangan jadi sangat riskan kalau ada gangguan juga karena sistem cadangannya sudah tidak ada.

Insiden terbaru ini membuat helikopter yang tersisa untuk menjalankan operasi tinggal lima buah. Padahal jumlah minimal helikopter yang ditentukan untuk melaksanakan operasi harus enam buah. Para komandan lapangan pun langsung berdiskusi. Komandan unit helikopter, Letkol Marinir Edward R. Seiffert, menolak memaksakan Bluebeard 2 tetap terbang menjalankan misi karena terlalu berisiko dengan kondisi sistem hidrolik yang sudah tak punya cadangan, sementara Kolonel Charles “Charlie” A. Beckwith, komandan unsur darat, juga menolak jika harus mengurangi jumlah personel yang diterjunkan untuk menyerbu dan membebaskan sandera karena jumlah helikopter pengangkut berkurang satu dari jumlah minimal untuk melakukan serbuan.

Menghadapi kondisi ini Kolonel AU James H. Kyle selaku komandan lapangan untuk operasi udara menyarankan kepada Mayjen James B. Vaught, komandan satgas operasi pembebasan sandera, agar operasi dibatalkan sepenuhnya dan seluruh pasukan ditarik mundur. Laporan kondisi lapangan dan rekomendasi untuk membatalkan operasi kemudian disampaikan ke Presiden AS Jimmy Carter melalui telepon satelit.

Setelah menunggu selama dua setengah jam, akhirnya izin dari presiden untuk membatalkan misi turun. Namun selama masa tunggu itu semua mesin helikopter dan pesawat angkut EC-130 tetap hidup karena harus dalam kondisi siaga. Akibatnya isi tangki BBM mereka pun menyusut. Kolonel Kyle lantas mengizinkan pesawat-pesawat angkut untuk menyedot BBM dari tangki cadangan yang mereka bawa untuk diisikan ke tangki mereka masing-masing.

Namun salah satu pesawat angkut yang bersandi Republic 4 sudah tak lagi punya BBM di tangki pasok cadangannya karena sudah habis dipakai mengisi ulang BBM untuk tiga helikopter. Karena itu dia harus segera terbang pulang untuk diisi ulang sembari terbang oleh pesawat tangki terbang sebelum BBM yang tersisa habis sama sekali.

Sementara itu salah satu helikopter bersandi Bluebeard 4 juga harus diisi ulang BBM-nya. Namun untuk bisa mengisi BBM dia harus pindah posisi. Di saat yang sama, helikopter bersandi Bluebeard 3 juga harus berpindah dari posisi semulanya di belakang pesawat angkut EC-130. Untuk bisa pindah, dia harus terbang melayang sedikit di atas permukaan tanah lalu bergeser ke tempat lain sesuai arahan.

Saat itu, seorang personel dalpur berdiri di depan helikopter untuk memberikan aba-aba arah. Tapi debu dan pasir yang mengepul akibat embusan angin dari putaran baling-baling pesawat membuat si petugas dalpur melangkah mundur menghindar. Sialnya, pilot Blubeard 3, Mayor James Schaefer, yang tak bisa melihat jelas karena pekatnya kepulan debu pasir, mengira gerakan langkah mundur si petugas dalpur sebagai indikator bahwa pesawatnya bergerak mundur. Kondisi malam ditambah kepulan debu memang dengan mudah membuat orang bisa kehilangan orientasi. Schaefer pun menggerakkan helikopternya maju.

Akibat gerakan maju ini helikopter Schaefer tanpa disadari makin mendekati posisi EC-130 di depannya. Baling-baling helikopter pun menghantam sayap vertikal atau sayap tegak pesawat EC-130 di belakang ekor. Ledakan dan kebakaran yang terjadi kemudian menelan delapan korban jiwa, yaitu lima dari 14 kru di EC-130, dan tiga dari lima awak helikopter. Pilot dan kopilot helikopter terluka parah akibat luka bakar, namun belakangan bisa diselamatkan.

Dalam upaya menyelamatkan para kru kedua pesawat, para personel juga berupaya mengamankan dokumen rahasia operasi yang ada di pesawat. Namun karena kekacauan yang ada, upaya ini gagal, termasuk menjalankan prosedur menghancurkan total kedua pesawat. Kru dari semua helikopter kemudian naik ke pesawat EC-130 yang tersisa. Lima helikopter RH-53D terpaksa ditinggalkan begitu saja tanpa dimusnahkan karena di helikopter-helikopter itu ada amunisi sehingga kalau dibakar atau diledakkan amunisi itu bisa meledak hebat dan membahayakan pesawat-pesawat angkut.

Pesawat-pesawat EC-130 berhasil meloloskan diri dari wilayah Iran dengan membawa seluruh personel termasuk para korban luka kecelakaan. Mereka kemudian mendarat di pangkalan Masirah, di pesisir Oman. Di situ mereka dijemput dua pesawat angkut berat C-141 Starlifter yang dalam skenario awal berfungsi sebagai penjemput para sandera dan pasukan pembebas. Mereka semua lantas dibawa ke pangkalan di Wadi Kena, Mesir, sementara para korban luka diterbangkan ke Landstuhl Army Regional Medical Center di Jerman untuk menjalani perawatan intensif.

Bagaimana nasib tim pendukung darat dari CIA yang seharusnya menyelundupkan pasukan penyerbu ke Teheran lewat jalur darat? Mereka baru tahu sehari kemudian bahwa operasi itu gagal setelah memantau siaran berita dari media lokal Iran. Mereka pun diam-diam berhasil menyelundup keluar dari Iran tanpa ketahuan aparat setempat.

Kantor kepresidenan AS, Gedung Putih, mengumumkan kegagalan operasi itu itu sehari kemudian pada 25 April 1980. Tentara Iran yang memeriksa lokasi menemukan delapan jenazah warga AS yang kesemuanya korban tabrakan helikopter dengan pesawat angkut, dan satu jenazah warga Iran yaitu penumpang truk tangki pengangkut BBM yang ditembak tentara AS dan meledak. Namun salah satu ulama Iran, Ayatullah Sadegh Khalkhali membuat pernyataan yang menyebut sembilan orang AS ditemukan meninggal dunia.

Meski  begitu delapan jenazah personel AS kemudian dikirimkan pulang ke AS pada 6 Mei 1980. Sopir dan 43 penumpang bus yang tak sengaja melewati jalan yang dipakai untuk mendarat pesawat-pesawat AS sehingga sempat ditahan pasukan AS juga kemudian dibebaskan. Mereka kemudian menjadi saksi mata dan sumber keterangan mengenai jalannya operasi AS.

Meski operasi ini kandas sebelum tuntas, namun ini menjadi pelajaran berharga bagi militer AS. Hasil penyelidikan kemudian menyimpulkan perlunya komando tunggal yang bersifat permanen untuk mengoordinasikan semua operasi pasukan khusus dari semua matra dan satuan, dan agar seluruh pasukan untuk operasi khusus punya standar yang sama meski datang dari satuan atau matra yang berlainan.

Pelajaran dari operasi gabungan ini akhirnya melahirkan The United States Special Operations Command (Ussocom) atau Komando Operasi Khusus AS pada 16 April 1987. Di dalam Ussocom terdapat satuan pasukan khusus dari masing-masing matra (AD, AU, AL, dan Marinir) yang kesemuanya hanya menerima komando dari Ussocom.

Pelajaran lain yang dipetik adalah masih kurangnya pilot helikopter yang mampu terbang rendah di kegelapan malam, kemampuan yang dibutuhkan dalam operasi penyusupan. Dari kesadaran ini kemudian lahirlah Resimen Penerbangan Operasi Khusus 160 atau 160th Special Operations Aviation Regiment (SOAR), yang lantas terkenal dengan julukan Night Stalkers. Departemen Pertahanan AS kemudian juga meningkatkan pelatihan khusus bagi para pilot helikopter dalam terbang malam, penggunaan alat penglihatan malam (night-vision goggles), dan kemampuan penyusupan serta pengisian bahan bakar darurat.

Lantas bagaimana nasib para sandera? Sebenarnya pihak militer sudah langsung mempersiapkan lagi upaya operasi penyelamatan kedua. Namun dalam proses persiapan terbukti ada begitu banyak kerumitan yang muncul sehingga akhirnya rencana operasi kedua pun dibatalkan. Sebaliknya proses diplomasi intensif yang dilakukan pun pada akhirnya berhasil membuat para sandera bebas pada 20 Januari 1981, atau setelah 444 hari mereka ditawan.

Baca Juga:

Operasi Cakar Elang: Aksi “Gila” Militer AS untuk Bebaskan Sandera di Iran (Bagian I)

Operasi Cakar Elang: Demi Pembebasan Sandera, Butuh Perencanaan Rumit dan Eksekusi Penuh Risiko Tinggi (Bagian II)

Share the Post: