Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok penting dalam perjalanan sejarah dengan wafatnya mantan wapres Try Sutrisno pada Senin (2/3/2025). Nama Try Sutrisno tak bisa dipisahkan dari dinamika perjalanan bangsa di era Orde Baru di mana dia menjabat sejumlah posisi penting dengan puncaknya sebagai wakil presiden bagi Presiden Soeharto di periode terakhir masa pemerintahan sang presiden.
Lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur, masa kecil Try Sutrisno penuh perjuangan. Ayahnya, Subandi, seorang sopir ambulans di Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dan ibunya, Mardiyah, seorang ibu rumah tangga, membesarkannya dalam kesederhanaan. Saat Agresi Militer Belanda, keluarganya bahkan harus mengungsi ke Mojokerto, dan Try kecil sempat bekerja sebagai kurir untuk Batalyon Poncowati, mengantarkan obat dan mencari informasi bagi pejuang kemerdekaan.
Meski sempat terputus, ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat (1942-1950), SMP Negeri II Surabaya (1950-1953), dan SMA Bagian B di Surabaya (1953-1956). Tak heran karena sekolah yang “putus nyambung” karena keadaan itu, Try baru lulus SMA pada usia 20-an tahun. Ketertarikannya pada dunia militer muncul sejak usia muda. Setelah lulus SMA, Try Sutrisno mendaftar ke Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada tahun 1956. Meski sempat gagal dalam tes fisik, bakat dan semangatnya menarik perhatian Mayor Jenderal G.P.H. Djatikusumo, salah satu putra Sinuhun Paku Buwono X dari Solo yang meniti karier di TNI. Perhatian Djatikusumo membawanya diterima di Atekad.
Berdasarkan catatan di situs tokoh.id, di Atekad, Try mengikuti pendidikan pada Cabang Zeni. Ketika berpangkat Kopral Taruna, Try ditugaskan ke Aceh. Kemudian pada saat menjadi Sersan Taruna, dia bersama teman-temannya sempat dikirim ke daerah Operasi Penumpasan Pemberontakan PRRI/Permesta di daerah Sumbar. Mayjen TNI G.P.H. Djatikusumo yang saat itu menjabat sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat (Dirziad) memang sengaja mengirimkan para taruna ke daerah operasi yang sebenarnya, agar mereka memiliki bekal pengalaman nyata pada pelaksanaan tugasnya kelak, pengalaman yang tak mungkin didapatkan di Lembaga Pendidikan.
Try lulus dari Atekad pada 1959, dengan pangkat Letda CZI. Penugasan pertamanya di Kodam IV/Sriwijaya sebagai komandan peleton zeni tempur. Kemudian pada tahun 1962 ditugaskan pada Yon Zikon Komando Mandala operasi pembebasan Irian Barat di Kendari, Sulawesi Tenggara. Try yang waktu itu sudah berpangkat Lettu Czi kembali ke satuan Induknya Kodam IV/Sriwijaya sebagai Dan Kima Yon Zikon-2/Dam IV SWJ.
Pada tahun 1962 Lettu Try mengikuti pendidikan MOS Pazikon. Dan tahun 1964 ia mengikuti Latihan Dasar Para. Tahun 1965 ia pindah ke Jakarta sebagai Dan Ki Dump Truck. Setelah lulus mengikuti pendidikan Kupaltu di tahun 1965, ia dilantik menjadi Kapten pada 1 Januari 1966 dan diangkat menjadi Dan Ki I/Dump Truck, kemudian menjadi Wadan Denma Ditziad. Pada tahun 1967 Kapten Try Sutrisno ini sempat mengikuti Latihan MOS Amfibi. Kemudian dari Ditziad tahun 1968, ia dipindahtugaskan ke Bandung sebagai Wadan Yonzipur-9/Para. Tahun itu pula ia mengikuti tugas belajar di Suslapa Zeni. Pada tahun 1970 naik pangkat menjadi Mayor CZI, dan dipercaya memimpin Yonzipur/Amfibi di Pasuruan.
Tahun 1972 seusai mengikuti pendidikan Seskoad, ia naik pangkat menjadi Letkol CZI dan pindah ke Mabesad Jakarta sebagai Karo Binlatsat Staf Operasi TNI AD. Pada tahun 1977 ia dikirim ke Bandung untuk mengikuti pendidikan Seskogab ABRI.
Kesempatan yang langka akhirnya diperoleh pada saat ia berpangkat Letkol. Pada tahun 1974 ia ditugaskan menjadi Ajudan Presiden RI, Soeharto ketika itu. Selang dua tahun, ia naik pangkat menjadi Kolonel CZI.
Menurut tempo.co, Try terpilih karena kecerdasan yang ditunjukkannya saat menjadi siswa Seskoad. Ketika itu, dalam sebuah seminar Seskoad tentang Pewarisan Nilai-Nilai ‘45 Mayor CZI Try Sutrisno membawakan makalah berjudul Masalah Pewarisan dalam TNI AD dan Integrasi TNI-Rakyat. “Try sangat tangkas menjawab berbagai tanggapan dari Jenderal Soemitro, Pangkopkamtib ketika itu,” kata seorang peserta seminar. Penampilan itu pula yang membuat Pak Harto dan mantan wakil presiden Mohammad Hatta yang hadir terkesan.
Sejak itu, perwira lulusan Atekad 1959 ini mulai naik bintangnya. Dari Komandan Batalyon Zipur 10, Letkol Try dinaikkan menjadi kepala biro di Staf Umum Mabes TNI Angkatan Darat (SUAD). Tahun 1974, Try ditarik ke Istana sebagai ajudan Presiden Soeharto. Adalah Letjen Sayidiman Suryohadiprojo, ketika itu sebagai Deputi KSAD, yang mengajukan nama Try sebagai ajudan presiden. “Latar belakang intelektualnya cukup, lulus dari Seskoad dengan baik, dan tugas sebagai kepala biro pun baik,” kata Sayidiman, sebagai dikutip Majalah Tempo edisi 20 Februari 1988. “Dia kami ajukan juga karena human relationship-nya baik. Itulah memang kekuatannya.”
Tak cuma Sayidiman yang mengajukan nama Try. Letjen Tjokropranolo, yang ketika itu menjadi Sekretaris Militer, juga termasuk yang menjaring Try. Kenapa? “Ketika itu Pak Harto butuh ajudan yang mendalami masalah pembangunan. Dan perwira pembangunan itu adanya kan di Zeni. Makanya Try kami ambil,” kata Tjokro. Try menjadi ajudan empat tahun, hingga 1978. Dalam periode itu, Try selain pangkatnya naik jadi kolonel juga merasa dididik dan dimatangkan oleh Pak Harto.

Try menganggap bahwa jabatan ajudan presiden sebaga“masa belajar tersendiri untuk menambah mantapnya proses pematangannya sebagai perwira ABRI”. Tugas itu dianggapnya berat tapi mulia karena menyangkut keamanan dan ketenteraman pribadi presiden dan keluarganya. Banyak pengalaman berharga yang berhasil dia timba selama dirinya bertugas sebagai Ajudan Presiden. Ia mengetahui tentang aturan protokoler, etiket kalangan atas, pergaulan dengan para pejabat tinggi negara, sistem pengamanan VVIP, sistem administrasi level puncak, mekanisme pengambilan keputusan dalam berbagai masalah kenegaraan, kesibukan tugas seorang Kepala Negara, bagaimana cara pejabat tinggi membagi waktu, sikap pemimpin negara dalam menghadapi situasi kritis, tingginya semangat juang dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam mengemban amanah kepemimpinannya, dan lain-lain.
Pada tahun 1978, ia ditugaskan menjabat sebagai Kasdam XVI/Udayana yang bermarkas di Denpasar, mendampingi Mayjen TNI Dading Kalbuadi yang kala itu menjabat Pangdam. Setahun kemudian yakni tahun 1979, ketika masih menjabat sebagai Kasdam XVI/Udayana, pangkatnya dinaikkan menjadi Brigjen TNI, dan tak lama kemudian diangkat menjadi Pangdam IV/Sriwijaya. Pada saat menjabat Pangdam IV/Swj itu ia melaksanakan Operasi Ganesha, yakni sebuah operasi lingkungan hidup berupa pengembalian gajah-gajah ke habitatnya. Selain itu, ia yang sekaligus bertindak selaku Laksusda Sumatera Selatan, juga giat menjalankan operasi pemberantasan penyelundupan timah, dan pemberantasan kriminalitas yang amat meresahkan masyarakat setempat pada masa itu. Dan pada saat menjabat Pangdam itu pulalah yakni pada tahun 1980, ia diangkat menjadi Anggota MPR RI Utusan Daerah Sumatera Selatan. Kemudian, pada 1 Desember 1982, ia diangkat menjadi Pangdam V/Jaya hingga tahun 1985 dan pangkatnya juga naik menjadi Mayjen TNI.
Di masa pengabdiannya memimpin Kodam V/Jaya inilah Try dihadapkan dengan beberapa peristiwa gangguan keamanan ibu kota yang cukup menyita perhatian. Di antaranya, yaitu peristiwa terbakarnya Toserba Sarinah, bentrokan berdarah di Tanjung Priok, dan peristiwa peledakan bom di sebuah Kantor Cabang Bank BCA.
Agustus 1985 pangkatnya dinaikkan lagi menjadi Letjen TNI sekaligus diangkat menjabat Wakasad mendampingi KSAD Jenderal TNI Rudini ketika itu. Tak lama menjabat sebagai Wakasad, pada bulan Juni tahun 1986 atau sepuluh bulan sejak diangkat menjadi Wakasad, ia pun kemudian diangkat menjadi KSAD. Selama menjadi KSAD yang hanya sekitar satu setengah tahun, Try mengakui tak sempat berbuat banyak dalam membina TNI AD. Ia dengan jujur mengatakan hanya bisa melakukan beberapa pembenahan terbatas di bidang pembinaan personil (terutama pendidikan dan latihan serta pembinaan karier) dan pembinaan material (terutama penataan persenjataan satuan tempur dan asrama prajurit).
Awal tahun 1988 ia dipromosikan menjadi Pangab menggantikan Jenderal TNI L.B. Moerdani. Namun walaupun begitu ia masih sempat merintis berdirinya Badan TWP TNI AD (Tabungan Wajib Perumahan TNI AD), yang bertujuan membantu para prajurit TNI AD dan PNS TNI AD dalam pengadaan rumah murah yang terjangkau oleh kemampuan mereka, dengan dilandasi oleh semangat gotong royong seluruh warga TNI AD. Jenderal TNI Try Sutrisno memimpin ABRI, sejak tahun 1988 hingga tahun 1993. Ketika itu ABRI masih terdiri dari institusi TNI AD, TNI AL, TNI AU, dan POLRI.
Banyak peristiwa penting yang patut dicatat selama kepemimpinannya, seperti meletusnya kembali pemberontakan kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh pada pertengahan tahun 1989. Selain gangguan keamanan di Aceh, pada awal tahun 1990 itu di Lampung juga terjadi Peristiwa Talangsari. Peristiwa ini terjadi karena adanya di sana sebuah gerakan perlawanan terhadap pemerintah yang sah, yang berbau radikalisme dan fanatisme aliran keagamaan.
Dan pada tahun 1991, terjadi juga Peristiwa Santa Cruz yang memakan banyak korban jiwa. Saat itu terjadi bentrokan antara massa aksi masyarakat Timtim dan mahasiswa dengan personel TNI saat pemakaman seorang korban bentrokan sebelumnya.
Setelah masa pengabdiannya sebagai Panglima ABRI, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) masa bakti 1992 – 1997 melalui Sidang Umumnya pada tahun 1993, akhirnya memilih putra bangsa ini menjadi Wakil Presiden RI mendampingi HM. Soeharto, presiden terpilih saat itu. Adalah Fraksi ABRI MPR-RI yang lebih dahulu mencalonkannya, mendahului pilihan terbuka dari Presiden Soeharto ketika itu. Suatu hal yang tidak lazim pada era Orde Baru itu. Konon, Presiden Soeharto merasa didahului. Namun Soeharto memilih diam agar tak menunjukkan pertentangan di level atas.
Meskipun telah menerima Try sebagai wapres namun Soeharto sebenarnya kurang cocok pada mantan ajudannya itu. Dia bahkan tidak berkonsultasi dengan Try dalam proses pembentukan kabinet. Saat Soeharto berkunjung ke Mesir pada 1995, Try dalam sebuah pemberitaan di harian nasional menyatakan jika dalam bisnis, anak pejabat jangan pakai nama bapaknya. Pihak penguasa marah dan sejak itu pemberitaan Try Sutrisno di harian mana pun ditiadakan.
Pengabaian lainnya datang pada akhir 1997 ketika Soeharto harus pergi ke Jerman untuk menjalani perawatan kesehatan. Bukannya mengalihkan tanggung jawab pengelolaan negara kepada sang wakil presiden, Soeharto justru menunjuk Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono. Try juga tidak dikirim menghadiri KTT APEC yang hanya dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Ali Alatas.

Pada 1998, pada Sidang Umum MPR banyak yang menginginkan Try Sutrisno untuk mengemban masa jabatan kedua sebagai Wakil Presiden. Meskipun ada dukungan yang kuat, Try Sutrisno tidak berambisi. Pada akhirnya Soeharto memilih B.J. Habibie sebagai pendampingnya.
Try Sutrisno menikah dengan Tuti Sutiawati seorang mojang Bandung, putri pertama dari pasangan Sukarna – Hj. Hasanah. Pak Sukarna ini adalah seorang guru yang dikenal jujur, cakap dan berdisiplin, yang hingga akhir hayatnya sepenuhnya mengabdikan diri di lingkungan pendidikan. Pada tanggal 5 Februari 1961, Try resmi menikah dengan Tuti dan kemudian telah melahirkan baginya 4 orang putera dan 3 orang puteri.
Dari 4 orang puteranya, seorang mengabdikan diri sebagai anggota Polri yaitu Firman Shantyabudi yang jabatan terakhirnya sebelum pensiun adalah sebagai Kepala Korps Lalu Lintas Polri dalam pangkat Inspektur Jenderal. Yang seorang lagi mengabdikan diri sebagai anggota TNI AD yaitu Kunto Arif Wibowo yang kini masih berdinas dalam pangkat Letnan Jenderal (bintang tiga) sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan). Sementara puteri sulungnya yang berprofesi sebagai dokter gigi, bersuamikan seorang anggota TNI AD juga, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, yang menjabat KSAD pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri dan menteri pertahanan pada kabinet periode pertama Presiden Joko Widodo.
Diluar jabatan militer dan pemerintahan, Try juga pernah dipercaya memimpin organisasi olahraga bulutangkis PB. PBSI, yang merupakan cabang olahraga idola masyarakat. Pada masa jabatannya di organisasi tersebut, ia banyak mengadakan penyegaran di tubuh PB. PBSI yang saat itu sedang mengalami krisis pemain dan krisis prestasi. Ia bersama Pengurus Pusat bekerjasama dengan seluruh Pengurus Daerah membuat Program Pembinaan PBSI jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.
Ia juga merintis berdirinya Pelatda-Pelatda dan Pelatnas serta mendirikan Yayasan PBSI sebagai wadah pembibitan kader pemain di daerah-daerah dan pusat. Hasil dari pembinaannya selama dua periode itu beberapa tahun kemudian langsung terlihat, dan puncaknya adalah diraihnya 2 (dua) medali emas, 2 (dua) medali perak dan 1 (satu) medali perunggu pada event Olimpiade Barcelona tahun 1992. Ia memimpin PB. PBSI selama dua periode yakni dari tahun 1985 hingga tahun 1993, dan kemudian digantikan oleh Letjen TNI Suryadi.
Masa pensiunnya bukan berarti berhentinya aktivitas seorang Try Sutrisno. Dia ikut membidani lahirnya Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) bersama sejumlah purnawirawan TNI. Dia pun pernah menjadi Ketua Dewan Pembina PKPI. Selain itu dia juga pernah menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri). Try juga aktif dalam berbagai kelompok kajian dan forum kebangsaan termasuk menyuarakan pandangan mengenai berbagai hal.
Nama Try Sutrisno kembali mencuat di era Presiden Prabowo Subianto. Saat itu hubungan antara Try Sutrisno dan Gibran sendiri sempat menjadi perbincangan publik setelah muncul pernyataan Forum Purnawirawan TNI-Polri yang mengusulkan agar Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mencopot Gibran dari posisi wakil presiden. Pernyataan itu disebut didukung pula oleh Try Sutrisno.
Namun segala pemberitaan dan ulasan lantas segera teredam saat Wapres Gibran Rakabuming Raka menyambangi kediaman Try Sutrisno, Rabu (13/8/2025). Saat itu Gibran memberikan bingkisan serta undangan untuk menghadiri upacara HUT ke-80 RI di Istana Merdeka. Gibran dan Try Sutrisno kemudian berbicara banyak hal. Saat pamit pulang Try Sutrisno mengantar Gibran dan memegang tangannya.
Dia kemudian berkelakar menegur ajudan yang membiarkan Gibran melepas sepatu saat hendak masuk ke rumahnya di awal kunjungan. “Mana ajudan, ini bukan masjid, ini rumah enggak boleh buka sepatu,” kelakar Try Sutrisno sambil tersenyum.

