Kanji Rumbi, Kuliner Khas Aceh untuk Buka Puasa Ramadan

Sejumlah warga menjadi koki memasak bubur Kanji Rumbi sebagai tradisi takjil berbuka puasa bulan Ramadhan untuk dibagikan kepada jamaah, warga sekitar dan musafir di halaman Masjid Darussalam, Kota Langsa, Aceh, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Antara/Dede Harison)
Sejumlah warga menjadi koki memasak bubur Kanji Rumbi sebagai tradisi takjil berbuka puasa bulan Ramadhan untuk dibagikan kepada jamaah, warga sekitar dan musafir di halaman Masjid Darussalam, Kota Langsa, Aceh, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Antara/Dede Harison)

Kuliner jenis bubur rupanya menjadi ciri khas di banyak daerah, salah satunya di Aceh. Ada kuliner khas Aceh untuk buka puasa Ramadan yaitu kanji rumbi. Bagi masyarakat Aceh, kanji rumbi bukan sekadar pengganjal perut. Kandungan rempahnya yang hangat dipercaya memiliki khasiat medis untuk melancarkan pencernaan dan menambah stamina setelah seharian berpuasa.

Konon, tradisi kanji rumbi sudah ada sejak zaman Kesultanan Aceh Darussalam sejak ratusan tahun silam. Pada masa itu, kanji rumbi disajikan untuk para raja dan tamu istimewa kerajaan. Dalam perkembangannya kanji rumbi menjadi hidangan masyarakat khususnya untuk buka puasa Ramadan.

Banyak masjid yang biasanya memasak kanji rumbi untuk hidangan berbuka puasa bersama. Misalkan saja di Masjid Darussalam Gampong Baroh, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh. Bubur ini biasa disajikan untuk sebagai kuliner berbuka puasa masyarakat setempat maupun musafir.

“Ini sudah menjadi tradisi setiap bulan Ramadan, penuh selama 30 hari,” kata Mansur, 72, seorang juru masak kanji rumbi di masjid itu seperti dikutip Antara. Kesibukan di dapur masjid dimulai sejak pagi hari. Beras sebagai bahan utama sudah harus direndam satu malam sebelumnya. Untuk menghasilkan satu dandang besar kanji rumbi, Mansur menghabiskan sekitar 15 kilogram beras.

Menurut Mansur ciri khas kanji rumbi terletak pada ramuan rempah peurancah yang beragam, hasil bumi Serambi Mekkah. Bumbu dasarnya terdiri atas ketumbar, jintan manis, merica, buah pala, bawang merah, putih, serta jahe, berpadu dengan rempah utuh seperti kayu manis, cengkeh, kapulaga, dan bunga lawang. “Semua bumbu digiling di rumah sebelum dibawa ke masjid. Untuk satu dandang ini, kami juga menggunakan santan dari 40 butir kelapa agar rasanya gurih,” ujarnya.

Selain bumbu-bumbu tersebut, bubur makin lezat dengan tambahan potongan wortel, kentang, daun bawang, serta daun temurui (salam koja) yang memberikan aroma khas. Menariknya, seluruh proses memasak yang memakan waktu berjam-jam ini dilakukan oleh tenaga pria, tanpa melibatkan perempuan, sesuai tradisi turun-temurun di masjid tersebut.

Salah seorang pengurus masjid, Zailani menambahkan bahwa tradisi pembagian bubur kanji di Masjid Darussalam ini telah berjalan selama lebih dari satu dekade. Biaya operasional untuk satu dandang bubur mencapai Rp1 juta per hari, bersumber sepenuhnya dari donatur dan sumbangan masyarakat dermawan.

“Pembagian bubur dimulai setelah shalat Asar hingga menjelang waktu berbuka. Sasaran utamanya adalah jamaah masjid dan para musafir yang melintas di Kota Langsa. Siapa pun yang datang boleh mengambilnya secara gratis,” kata Zailani. Setiap pukul 16.00 WIB, puluhan bungkus plastik berisi kanji rumbi telah tersusun rapi di atas meja, siap dibawa pulang oleh warga atau dinikmati bersama di pelataran masjid saat berbuka.

Pembuatan kanji rumbi di Masjid Al Furqon, Beurawe, Banda Aceh. (Foto: nu.or.id/Wahyu Majjah)

Masjid Al-Furqan, Desa Beurawe, Banda Aceh, juga biasa menghidangkan bubur ini selama Ramadan. Biasanya yang menyiapkan bahan dan memasaknya adalah para remaja masjid setempat. Penanggung jawab masaknya adalah Budi Darma, 51. Seperti diberitakan nu.or.id, Budi adalah generasi keenam yang terus menjaga kelestarian kanji rumbi di daerah tersebut. Ia bertugas sebagai koki untuk memasak dua belanga besar kanji rumbi yang kemudian dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat setempat “

Menurut Budi kanji rumbi khas Desa Beurawe terdiri atas beras, serai, wortel, jahe, daun sop, dan beberapa bahan lainnya. Sebagian bahan diiris-iris, kemudian disatukan dalam belanga besar. “Agar buburnya matang sempurna butuh waktu tiga jam untuk memasak, dan setelah shalat asar dibagikan ke masyarakat,” jelas dia.

Dia menyebutkan panitia menghabiskan dana sebesar Rp800.000 per belanga untuk memasak kanji rumbi. Setiap hari panitia memasak kanji dua belanga, sehingga harus merogoh kocek Rp1,6 juta. “Semua dana itu juga dari hasil sedekah masyarakat di sini untuk memasak kanji rumbi,” kata dia.

Baca Juga:

Bubur Harisah, Kuliner Khas Ramadan di Kota Cirebon

Mempertahankan Tradisi Meugang di Tengah Nestapa Pascabencana Alam di Aceh

Share the Post: