Salah satu tradisi di bulan Ramadan yang dilakukan di keraton-keraton pewaris Kerajaan Mataram Islam adalah perayaan Malem Selikuran. Tradisi Malem Selikuran merupakan salah satu wajah Islam Nusantara, yang mewarisi semangat akulturasi Islam-Jawa versi Wali Songo dalam berdakwah. Para wali sengaja mengumpulkan massa dengan cara memasukkan syiar Islam ke dalam tradisi lokal yang sudah mengakar di masyarakat sebelum Islam masuk ke Jawa.
Raja-raja dinasti Mataram meneruskan ajaran Wali Songo dengan tidak menghilangkan unsur kejawen dalam setiap peringatan hari-hari besar Islam. Selain Malem Selikuran, keraton juga melestarikan Grebeg Gunungan pada Maulid Nabi, Idulfitri, dan Iduladha.
Seperti diterangkan di situs kratonjogja.id, ada yang mengartikan selikur sebagai sing linuwih ing tafakur. Tafakur berarti usaha untuk mendekatkan diri pada Allah, sehingga sing linuwih ing tafakur dapat diartikan sebagai ajakan untuk lebih giat mendekatkan diri pada Allah. Karena itu tradisi Malam Selikur diharapkan menjadi sarana pengingat untuk memperbanyak sedekah, merenung dan instropeksi diri, juga menggiatkan ibadah-ibadah lain dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Sementara dalam bahasa Jawa, Malem Selikur berasal dari kata malem yang berarti malam dan selikur yang berarti dua puluh satu. Dua puluh satu yang dimaksud mengacu pada tanggal 21. Tanggal 21 menjadi hari pertama dari sepertiga akhir bulan Pasa, awal penantian bagi malam Lailatul Qadar yang akan tiba pada salah satu malam pada tanggal ganjil periode tersebut.
Di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, perayaan Malem Selikuran ditandai dengan Kirab Malem Selikuran. Perjalanan diawali dari Kori Kamandungan Lor, pintu utama keraton di sisi utrara menuju Masjid Agung Keraton di sisi barat Alun-alun Utara. Dengan dikawal prajurit keraton, rombongan para pejabat dan abdi dalem keraton berjalan membawa jodhang atau tandu pembawa makanan berisi 1.000 porsi nasi tumpeng dan membawa 1.000 lampu lentera atau lampu ting.
Sebagian abdi dalem berbaris sambil menabuh gamelan, sementara lainnya melantunkan tembang Macapat Dandanggula, yang diambil dari Serat Wulangreh karya Sunan Pakubuwono IV yang bertutur tentang Al-Qur’an sebagai sumber ajaran sejati serta rahasia malam 1.000 bulan. Namun kirab tidak berhenti di Masjid Agung, melainkan terus ke Taman Sriwedari atau yang dulu juga dikenal sebagai Bonraja, taman yang dibangun oleh Sinuhun Paku Buwono X. Sesuai tradisi dari era Paku Buwono X, ketika kirab yang menempuh rute sepanjang lebih kurang 3 km menyusuri Jl. Slamet Riyadi, jalan protokol utama Kota Solo itu berakhir di Sriwedari, makanan yang dibawa lantas dibagikan untuk disantap bersama para peserta kirab dan juga masyarakat.
Nasi yang disajikan itu pun punya filosofi tersendiri. Nasi itu terdiri atas nasi gurih, cabai hijau besar utuh, kedelai hitam goreng, irisan mentimun, dan telur puyuh. Nasi putih melambangkan kesucian hati untuk menyambut sepertiga terakhir bulan Ramadan, sedangkan sebiji cabai warna hijau sebesar telunjuk jari melambangkan ketauhidan dan persaksian atas keesaan Allah.
Sedangkan lampu ting atau lentera menjadi pengingat peristiwa Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan wahyu untuk kali pertama mengenai Al-Qur’an. Lampu ting juga menjadi simbol cahaya penerang dari Al-Qur’an sebagai kitab suci yang memandu perjalanan hidup manusia.
Di keraton pewaris lain Kerajaan Mataram Islam yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, perayaan Malem Selikuran juga dilakukan, namun dengan cara yang berbeda. Biasanya perayaan Malem Selikur diselenggarakan di Bangsal Sri Manganti. Acara dimulai pukul 17.00, pada tanggal 20 Pasa yang bertepatan dengan tanggal 20 Ramadan. Perayaan Malem Selikur selesai tidak lama setelah azan magrib penanda buka puasa berkumandang. Dalam penanggalan Hijriah ataupun Jawa yang didasarkan pada penanggalan bulan, pergantian hari dimulai saat matahari tenggelam sepenuhnya. Maka dapat dikatakan, acara ini berakhir pada awal malam tanggal 21, atau bisa juga disebut malem selikur.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari tepas-tepas dan kawedanan-kawedanan yang ada di Keraton Yogyakarta, juga seluruh Abdi Dalem Punakawan Kaji dan Abdi Dalem Suranata yang memang bertanggung jawab pada hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan di keraton. Sebelum acara dimulai, telah ditata besek-besek (kotak dari anyaman bambu) berisi nasi lengkap dengan lauknya di tengah-tengah bangsal. Terdapat juga buah-buahan dan susunan kecil nasi bungkus, juga jodhang, sebuah kotak kayu besar yang digunakan untuk memikul makanan itu ke bangsal. Makanan ini nantinya dibagikan untuk seluruh peserta yang hadir sebagai bentuk sedekah dari Sultan.
Selain itu, ritual lain yang dilakukan adalah tiap tanggal 21 Pasa dan tanggal-tanggal ganjil setelahnya di bulan itu, Abdi Dalem Keparak menyalakan lilin-lilin saat matahari mulai terbenam. Sebuah lilin diletakkan di pintu gerbang menuju Keraton Kilen, dua di Gedhong Sedahan, tiga belas di Gedhong Prabayeksa, satu di Bangsal Pengapit, dan empat di Bangsal Kencana. Lilin yang berada di pintu gerbang menuju Keraton Kilen dilengkapi dengan cawan berisi bunga dan bokor berisi air.
Tradisi ini juga diyakini telah ada sejak masa para Wali dan masih lestari sampai sekarang di pelosok-pelosok Yogyakarta. Masyarakat percaya bahwa pada malam Lailatul Qadar, pintu surga akan terbuka dan arwah-arwah para leluhur akan datang berkunjung. Lilin, atau biasa juga menggunakan lampu ting (minyak), menjadi simbol penerangan bagi jiwa yang pulang, juga mewakili makna padhang atine (hati yang terang). Air mewakili makna ayem tentrem atine (hati yang tentram). Sedang bunga merupakan ganda arum, semerbak memberikan keharuman.

