Dalam peperangan selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Misalkan dalam konflik AS-Israel melawan Iran, pada satu sisi kita bisa belajar soal keteguhan dan keuletan Iran menghadapi dua seterunya yang di atas kertas jauh lebih unggul dalam persenjataan dan teknologi. Di sisi lain, kita juga bisa belajar soal bagaimana kesiapan tempur, sumber daya manusia, dan dukungan teknologi militer AS bisa dioptimalkan untuk mengatasi berbagai perkembangan situasi yang sangat cepat di medan pertempuran.
Hal ini yang terjadi ketika sebuah pesawat F-15E Strike Eagle Angkatan Udara AS yang tengah menjalankan misi tempur di ruang udara Provinsi Isfahan, Iran, jatuh. Iran mengklaim mereka menjatuhkan pesawat tempur itu pada Jumat (3/4/2026). Kedua awak pesawat berhasil menyelamatkan diri dengan menggunakan kursi lontar dan jatuh di tempat terpisah. Sang pilot berhasil diselamatkan oleh operasi penyelamatan tentara AS, namun awak kedua yang disebut weapons specialist officer (WSO) terpaksa harus menyembunyikan diri seraya menunggu penyelamatan.
Sebagaimana umumnya kru pesawat tempur militer, para penerbang AS ini juga terlatih dalam teknik Survival, Evasion, Resistance and Escape (SERE), teknik untuk bertahan hidup, menghindar dari kejaran musuh, membela diri dari serangan musuh, dan meloloskan diri. Sang WSO dikabarkan keseleo kakinya dan kemudian menyembunyikan diri di celah-celah tebing sebuah bukit.
Channel News Asia yang mengutip sejumlah sumber pemberitaan menyebut si WSO berhasil mengontak militer AS, memberitahukan posisinya dan memberikan autentifikasi mengenai dirinya. Proses autentifikasi ini adalah proses vital untuk memastikan bahwa si pengrim pesan adalah betul awak pesawat yang dicari, dan agar pasukan penyelamat tidak masuk dalam jebakan pesan palsu.
Tapi misi penyelamatan ke garis belakang jauh di dalam wilayah musuh juga sebuah tantangan besar. Militer AS punya pelajaran berharga pada 1980-an ketika misi untuk membebaskan orang-orang yang disandera di Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran, di awal Revolusi Islam yang menggulingkan pemerintahan kerajaan di bawah Shah Reza Pahlavi dan mewujudkan pemerintahan yang ada hingga sekarang, gagal total di awal.
Dalam operasi kemarin ini, selama persiapan operasi penyelamatan berlangsung, secara paralel upaya untuk menyesatkan Iran juga dilakukan. Badan intelijen AS, CIA, sejak ada kabar jatuhnya pesawat tempur F-15 itu, sudah menyebar isu di dalam wilayah Iran bahwa awak pesawat sudah ditemukan dan sudah dievakuasi. Kabar ini disebarkan meski operasi penyelamatan yang sebenarnya bahkan belum berlangsung,
Sementara itu pasukan AS juga melakukan upaya lain yaitu dengan terus melakukan perang elektronika untuk mengacaukan radar-radar dan sistem komunikasi militer Iran. Mereka juga gencar membom jalanan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat dan posisi awak pesawat untuk mencegah pasukan atau orang Iran lainnya mendekat.
Tantangan operasi di dalam wilayah musuh memang besar. Hal ini terbukti saat dua pesawat helikopter Black Hawk AS masuk ke dalam wilayah Iran untuk melacak penerbang yang masih hilang pada Jumat. Kedua helikopter itu dihujan tembakan militer Iran namun berhasil kabur keluar dengan mengalami sejumlah kerusakan.
Dalam operasi penyelamatan kali ini pasukan komando operasi khusus AS berhasil diangkut menyusup jauh ke dalam wilayah Iran tanpa ketahuan, mendaki pegunungan setinggi 2.000 meter, dan menemukan serta menyelamatkan sang WSO yang terjebak. Mereka kemudian bergerak ke titik jemput yang sudah direncanakan menjelang fajar pada Minggu (5/4/2025).
Tapi mimpi buruk operasi militer sempat terjadi. Dua pesawat angkut khusus MC-130 yang sebelumnya membawa pasukan penyelamat dan menunggu di sebuah tempat pendaratan di dalam wilayah Iran ternyata mengalami masalah teknis dan tak bisa terbang menjemput. Akhirnya komandan lapangan menempuh risiko besar dengan meminta pesawat baru datang untuk terbang menyusup ke dalam wilayah Iran dan menjemput pasukan penyelamat dan penerbang yang mereka selamatkan. Pesawat ini ukurannya lebih kecil dari MC-130 sehingga dia harus terbang bolak-balik untuk menyelesaikan penjemputan. Untunglah hal yang lebih buruk lagi tak terjadi dan semua pasukan bisa diterbangkan keluar Iran. Yang jadi tumbal adalah dua MC-130 dan empat helikopter yang harus ditinggalkan di dalam wilayah Iran dengan dimusnahkan terlebih dulu agar tak ada data sensitif yang bisa dimanfaatkan Iran.
Operasi penyelamatan yang dramatis ini menjadi salah satu momentum paling menegangkan dalam konflik AS-Israel melawan Iran yang sudah berlangsung selama lima pekan. Besarnya tantangan dalam menggelar operasi di dalam wilayah Iran juga menjadi catatan penting di saat Presiden AS Donald Trump berulang kali melontarkan wacana menggelar operasi darat di Iran. Konflik dengan Iran sejauh ini telah menewaskan 13 personel militer AS dan melukai setidaknya lebih dari 100 personel.
Dalam pandangan Allan Behm, penasihat senior lembaga kajian Australia Institute’s International and Security Affairs Program, operasi penyelamatan ini kembali menunjukkan kemampuan AS untuk menggelar operasi militer yang rumit. Namun dia juga menunjukkan sisi lain yang perlu dinilai dari operasi ini, yaitu tuntutan digelarnya sebuah operasi yang besar dan kompleks demi penyelamatan satu orang. “Tetap saja ada kepanikan dalam operasi ini,” kata dia dalam wawancara di acara Asia First di Channel News Asia.
Dia juga yakin AS tidak akan mewujudkan wacana menggelar operasi serbuan darat di Iran karena hal seperti ini sangat berisiko tinggi. Namun dia tetap yakin AS kemungkinan akan menggelar operasi-operasi khusus dengan target tertentu, dengan meningkatkan kehati-hatian agar tak ada korban jiwa dan material yang lebih besar.
Seperti halnya banyak pengamat lainnya, Behm pun mengingatkan bahwa konflik dengan Iran akan sulit diakhiri, apalagi dimenangkan hanya dengan upaya militer. Negosiasi akan lebih penting untuk mencapai penghentian konflik yang berkelanjutan. “Kalau menurut saya pribadi kita semua kini memasuki masa yang sulit diprediksi,” ujar dia. Dia menyebut kondisi saat ini tetap sulit diprediksi dan terus menjadi bahaya berskala global.

