Inasua, Ikan Fermentasi Kuliner Khas Maluku Tengah

Warga Teon Nila Serua dan aneka sajian berbasis olahan ikan khas inasua dalam Festival Kor'a Inasua, di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), Maluku Tengah, Sabtu (11/4/2026). (Foto: Antara/Nanien Yuniar)
Warga Teon Nila Serua dan aneka sajian berbasis olahan ikan khas inasua dalam Festival Kor'a Inasua, di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), Maluku Tengah, Sabtu (11/4/2026). (Foto: Antara/Nanien Yuniar)

Sebagai negara maritim, Indonesia sangat kaya dengan aneka makanan berbasis hewan laut. Salah satu kuliner khas berbasis ikan adalah inasua dari Maluku Tengah. Nama makanan ini dalam bahasa setempat menunjukkan unsurnya, yaitu ikan (ina) dan garam (sua). Jadi inasua memang merupakan makanan berbahan dasar ikan yang digarami atau diasinkan. Namun tidak seperti produk ikan pindang atau ikan asing kering, inasua adalah ikan yang setelah digarami kemudian difermentasikan di dalam wadah tertutup.

Dengan cara ini ikan fermentasi bisa awet hingga berbulan-bulan dan bahkan hingga tahunan. Seperti dijelaskan di situs Yayasan Konservasi Alam Nasional (YKAN), ykan.or.id, inasua menjadi simpanan makanan yang penting seandainya terjadi paceklik. Inasua juga menjadi bekal para nelayan, pelaut, dan pedagang yang berlayar ke tengah lautan lepas atau pergi beraktivitas dari pulau ke pulau.

Hidangan tradisional ini merupakan warisan budaya dari nenek moyang masyarakat di Pulau Teon, Pulau Nila, dan Pulau Serua yang merupakan pelaut ulung. Bagi masyarakat asal ketiga pulau itu, inasua bukan hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga bagian dari identitas etnik, pengikat keluarga, dan sumber penghasilan. Ykan.or.id menjelaskan produk ini dikenal dengan berbagai nama lokal, seperti  di Pulau Teon disebut dengan nama ina manna, masyarakat di Pulau Serua menyebutnya ina skua, sementara inasua adalah sebutan dari masyarakat di Pulau Nila.

Bahan baku inasua adalah ikan laut, hasil tangkapan nelayan di laut setempat. Jenis ikan yang umumnya digunakan adalah ikan babi, ikan kakatua, kerong-kerong, bobara, dan ekor kuning. Ferymon Mahulette dan Tri Santi Kurnia dalam karya ilmiah mereka, Karakteristik Mikrobiologi dan Kimia Inasua Ikan Babi (Ruvettus Tydemani Weber) dengan dan Tanpa Nira Kelapa di Jurnal Pengolahan Pangan 6 (1) 1-6, Juni 2021 menjelaskan salah satu ikan yang dianggap paling baik untuk bahan baku inasua adalah ikan babi (Ruvettus tydemani weber). Ikan babi adalah ikan berminyak (oily fish) sehingga kalau dikonsumsi begitu saja dalam jumlah banyak bisa memicu diare. Karenanya masyarakat Teon, Nila dan Serua (TNS) di Maluku Tengah mengolah ikan babi menjadi inasua.

Pada tahun 2015, inasua ditetapkan oleh pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) melalui No SK 186/M/2015 dengan kode referensi AA000809 dalam kategori Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Penetapan ini menjadi bukti Inasua adalah bagian identitas masyarakat Teon Nila Serua TNS yang hidup di pulau-pulau kecil Laut Banda. Status ini sekaligus menegaskan bahwa inasua adalah bagian dari warisan budaya nasional yang perlu dilestarikan, dipromosikan, dan dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.

Pemrosesan inasua ala masyarakat Teon: 1.) Ikan dipotong, 2.) Dibersihkan dari jeroan, sisik, dan sirip, 3.) Dibasuh dengan dalam cuka nira, 4.) Digarami, 5.) Ditekan dengan batu, 6.) Dimasukkan ke dalam wadah dan ditambahkan air nira, 7.) Cara lain adalah langsung dimasukkan ke dalam wadah tanpa diberi air nira, 8.) Ikan dibiarkan berfermentasi di dalam wadah yang diletakkan di suhu ruangan. (Foto: Processing of Inasua as Local Wisdom from Teon, Nila and Serua Communities in Ceram Island, March 2022, researchgate.net)
Pemrosesan inasua menurut cara warga Nila: 1.) Ikan dibelah dua, lalu dibersihkan dari jeroan, sisik dan sirip, 2.) Garam dihaluskan, 3.) Ikan digarami, 4.) Ikan diperas dengan tangan, 5.) Ikan dimasukkan ke dalam wadah yang kemudian ditutup rapat. Ikan dibiarkan berfermentasi dalam suhu ruangan. (Foto: Processing of Inasua as Local Wisdom from Teon, Nila and Serua Communities in Ceram Island, March 2022, researchgate.net)

Salah satu upaya untuk lebih mempopulerkan inasua adalah Festival Kor’a Inasua di Kecamatan Teon Nila Serua, Maluku Tengah, Sabtu (11/4/2026). Dalam festival ini disajikan aneka hidangan berbasis inasua. Inasua yang biasanya hanya diberi perasan air jeruk nipis, kemangi, potongan cabai, dan bawang merah, kini diolah menjadi perkedel, sate, bakso, ikan asam manis, pizza, bahkan rendang. Semua hidangan itu merupakan hasil karya ibu-ibu di Kecamatan Teon Nila Serua dalam lomba cipta kreasi inasua. Para ibu menciptakan menu-menu yang menggabungkan unsur modern dalam kuliner tradisional yang sudah ada turun temurun.

Masyarakat di Pulau Teon, Nila, dan Serua sendiri sudah direlokasi ke Pulau Seram sejak akhir 1970-an. Namun nilai-nilai leluhur mereka tak hilang dan tetap menjadi jati diri mereka. Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, yang membuka Festival Kor’a Inasua yang baru kali pertama ini digelar, mengatakan acara itu adalah upaya merawat sejarah dan budaya daerah. “Inasua bukan hanya makanan, melainkan identitas dan kearifan lokal masyarakat TNS [Teon Nila Serua],” kata Zulkarnain.

Festival yang didukung oleh Yayasan Konservasi Alam Nasional (YKAN) ini bertujuan menjaga kelestarian olahan pangan tradisional yang sudah berakar ratusan tahun. Kehadiran festival juga diharapkan bisa mempromosikan budaya yang biasanya cuma dilakukan orang-orang dalam jumlah terbatas pada saat-saat tertentu.

Baca Juga:

Hidangan Khas Imlek Tak Sekadar Camilan, Ada Nilai di Balik Sebutir Nastar

Bubur Harisah, Kuliner Khas Ramadan di Kota Cirebon

Share the Post: