Sejak 21 April hingga 28 April 2026 ujian tertulis berbasis komputer (UTBK) sebagai seleksi masuk perguruan tinggi negeri kembali digelar di Indonesia. Meski namanya berubah-ubah, dulu sempat disebut Sipenmaru (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru), lalu UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), hingga ke istilah yang sekarang, secara umum semuanya sama yaitu ujian khusus agar bisa diterima di perguruan tinggi negeri yang menjadi pilihan.
Dan dari dulu sampai sekarang pun umumnya para siswa juga melakukan persiapan khusus, seperti mengikuti bimbingan belajar (bimbel). Ada yang sudah ikut bimbel sejak kelas X SMA karena ingin mengejar dulu kesempatan lolos masuk PTN tanpa tes, yang dulu istilahnya PMDK atau penelusuran minat dan kemampuan, dan sekarang diistilahkan sebagai SNBP atau seleksi nasional berbasis prestasi. Jika tidak lolos SNBP, masih ada kesempatan mengikuti UTBK atau tes masuk PTN.
Lalu bagaimana proses tes masuk perguruan tinggi di negeri lain? Sebagai sesama negara besar, mari kita lihat China. Di Negeri Tirai Bambu ini ada tes yang begitu terkenal yaitu gaokao. Waktu ujiannya sudah pasti yaitu tiga hari di bulan Juni. Seperti dijelaskan di situs World Education News + Reviews, tujuan utama peserta tes adalah berburu skor. Skor tinggi berarti layak masuk ke perguruan-perguruan tinggi papan atas. Semakin rendah skor, level perguruan tinggi yang bisa dimasuki juga makin rendah. Level perguruan tinggi ini bakal berpengaruh ke masa depan mereka soalnya, karena lulusan perguruan tinggi top tentu akan lebih “dicari” sehingga bakal mempengaruhi status sosial dan prospek ekonominya.
“Masuk ke perguruan tinggi yang bagus, yang setara dengan Universitas Oxford atau Cambridge [di Inggris] seperti Universitas Tsinghua atau Universitas Peking, bisa menjadi dasar meraih pekerjaan di perusahaan-perusahaan Barat atau posisi elite birokrasi pemerintah,” ujar wartawan Lu-Hai Liang dalam tulisannya di The Guardian pada 2010. “Mereka yang gagal akan mendapat tempat di universitas tingkat daerah atau di perguruan tinggi swasta yang lebih longgar seleksinya,” imbuh dia. Lulusan perguruan tinggi papan atas lebih berkesempatan studi lanjut di China atau di luar negeri, dan mendapatkan pekerjaan tingkat tinggi.
Sementara seperti diulas pengamat pendidikan internasional Philip G. Altbach mereka yang harus puas masuk ke perguruan tinggi kelas yang lebih rendah biasanya akan mendapat pendidikan berkualitas lebih rendah pula. Jika lulus mereka biasanya tidak siap untuk masuk dunia kerja sehingga sulit pula mendapat pekerjaan.
Gaokao sendiri berakar dari era saat China masih berupa negara kekaisaran. Saat itu selama beberapa abad ada sebuah tes khusus berskala nasional bernama Keju yang digunakan untuk menyeleksi kelayakan akademisi atau lulusan sekolah-sekolah untuk bisa menjadi pegawai pemerintah kekaisaran. Keju kemudian dihapuskan pada 1905 ketika China mulai gonjang-ganjing dan pemerintahan kekaisaran melemah. Baru pada 1952 gaokao diperkenalkan sebagai tes nasional untuk seleksi menempuh pendidikan lanjutan yang berlaku bagi semua. Revolusi Kebudayaan sempat menghentikan tes ini ketika rezim saat itu justru menutup pendidikan tinggi dan mempersekusi kaum akademisi.
Gaokao baru kembali digelar pada 1977 ketika China mulai membangun diri kembali dan menata ulang banyak hal. Gaokao pun menjadi wujud komitmen pemerintah untuk mengevaluasi kemampuan akademik para pelajar secara objektif tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi mereka. Asesmen ini pun menjadi dasar pembangunan angkatan kerja yang berkualitas tinggi untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dan modernisasi.
Gaokao digelar pada tanggal 7-9 Juni tiap tahun, dan hasilnya akan diumumkan pada akhir Juni. Para pesertanya, sebagaimana UTBK di Indonesia, adalah siswa kelas terakhir SMA. Namun di China sebenarnya tidak ada batasan usia peserta. Suasana penyelenggaraan gaokao pun berbeda dibandingkan Indonesia. Di kota-kota tempat tes digelar khususnya di lokasi penyelenggaraan, semua ‘dikondisikan’ demi kelancaran dan kenyamanan peserta. Misalkan saja semua proyek pembangunan yang berdekatan dengan lokasi harus disetop dulu agar tak ada kebisingan dari aktivitas. Polisi lalu lintas juga diterjunkan untuk memastikan agar lalu lintas lancar sehingga para peserta tidak datang terlambat. Seperti halnya di Indonesia para peserta juga diperiksa dengan ketat untuk mencegah adanya praktik ‘joki.’ Identifikasi ketat seperti pemeriksaan sidik jari banyak diterapkan, begitu pula pemeriksaan untuk memastikan bahwa peserta tidak membawa alat komunikasi tersembunyi.
Lantas seperti apa isi tes gaokao? Strukturnya umumnya digambarkan sebagai “3+X.” “3” melambangkan tiga mata uji utama yaitu bahasa Mandarin, matematika, dan bahasa Inggris. Sementara “X” adalah mata uji yang kandungannya fleksibel. Jadi bisa saja berupa mata uji gabungan ilmu pasti (biologi, kimia, fisika), atau ilmu humaniora seperti geografi, sejarah, politik. Isi mata uji X ini menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi tempat ujian digelar, jadi antarprovinsi bisa saja isi ujiannya beda.

Di Indonesia kita mengenal istilah passing grade atau nilai minimal untuk lulus dan diterima. Dalam gaokao, tiap perguruan tinggi punya standar passing grade sendiri. Tentu saja standar nilai minimal untuk perguruan tinggi top tier atau peringkat atas bakal berbeda dengan perguruan tinggi level di bawahnya. Siswa yang nilainya tidak cukup untuk masuk perguruan tinggi top tier harus memilih level di bawahnya. Kalau orang tuanya punya duit lebih, masuk perguruan tinggi di luar negeri jadi pilihan meski harus bayar sendiri agar tetap dapat status yang lebih baik. Tak heran kalau banyak perguruan tinggi di AS, Australia, Kanada, dan negara-negara Asia lainnya yang mulai menerima nilai gaokao sebagai syarat masuk guna membuka pasar terhadap para calon mahasiswa asal China.
Perguruan tinggi di China punya tiga tataran. Perguruan tinggi level atas atau top tier menerima anggaran setara triliunan rupiah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas bidang riset mereka serta memperkuat daya saing global. Perguruan tinggi level dua dan tiga tentu kualitasnya berada lebih rendah dan jumlahnya juga mencapai ribuan.
Saking tingginya gengsi gaokao, tentu saja para siswa China harus berjuang keras mempersiapkan diri. Banyak foto dan video yang beredar di media sosial yang memperlihatkan bagaimana para siswa yang belajar di kelas-kelas khusus persiapan gaokao sampai seperti “tenggelam” di balik tumpukan buku dan diktat. Guna melonggarkan tekanan terhadap para siswa, Kementerian Pendidikan China pada 2014 melakukan reformasi agar gaokao tidak lagi menjadi syarat mutlak yang terlalu keras untuk masuk ke perguruan tinggi. Reformasi itu mencakup di antaranya:
- Mata uji bahasa Inggris bisa ditempuh dua kali yaitu pada Januari dan pada Juni, dan nilai yang diambil adalah yang tertinggi di antara keduanya.
- Penghapusan penjurusan antara ilmu pasti dan ilmu humaniora di sekolah sehingga siswa tidak lagi harus memilih salah satu, tapi bisa memilih sesuai peminatannya sehingga lebih fleksibel ketika menempuh gaokao.
- Perguruan tinggi juga diminta mempertimbangkan faktor di luar nilai gaokao seperti prestasi-prestasi akademik dan nonakademik.
Berikut adalah penjelasan lebih mendalam mengenai sistem penilaian dan penentuan jurusan:
- Sistem Skor dan “Garis Batas” (Cutoff)
Skor total Gaokao biasanya adalah 750 poin, meskipun beberapa provinsi memiliki standar berbeda. Setiap tahun, pemerintah provinsi mengeluarkan “Garis Kontrol” (Sheng Kong Xian) yaitu Tier 1 (Yi Ben): Skor minimal untuk masuk ke universitas riset elit nasional, dan Tier 2 (Er Ben): Skor untuk universitas provinsi atau perguruan tinggi reguler. Jika skor siswa berada di bawah garis Tier 2, mereka biasanya hanya bisa mendaftar ke sekolah vokasi atau mengulang ujian tahun depan (fudu).
- Strategi Pengisian Jurusan (Zhiyuan)
Siswa tidak hanya memilih universitas, tapi juga urutan jurusan di dalam universitas tersebut. Ada aturan penting yang disebut “Zhiyuan Fucong” (Kesediaan untuk Penyesuaian). Jika siswa diterima di universitas pilihannya tetapi skornya tidak cukup untuk jurusan favorit (misal: Ilmu Komputer), dan dia mencentang kolom Fucong, maka universitas akan memasukkannya ke jurusan yang sepi peminat (misal: Pertanian atau Sejarah). Jika dia tidak mencentang Fucong dan skor jurusannya tidak cukup, dia akan langsung ditolak oleh universitas tersebut dan harus menunggu seleksi gelombang berikutnya di universitas yang levelnya lebih rendah.
- Jurusan Populer vs. Jurusan “Dingin”
Tren jurusan di China sangat dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi negara dan prospek kerja. Jurusan “Panas” (Hot): Kecerdasan Buatan (AI), Semikonduktor, Teknik Elektro, Keuangan, dan Kedokteran. Persaingan di sini sangat brutal; skor yang dibutuhkan bisa jauh melampaui skor minimal universitas.
Jurusan “Dingin” (Cold): Arkeologi, Filsafat, atau Pertanian. Seringkali jurusan ini diisi oleh siswa yang “terlempar” karena sistem penyesuaian otomatis tadi.
- Sistem “Parallel Volunteer”
Saat ini, sebagian besar provinsi menggunakan sistem pendaftaran paralel. Artinya, siswa bisa mencantumkan 5 hingga 10 universitas secara setara dalam satu batch. Sistem akan memproses peringkat siswa terlebih dahulu. Komputer akan mengecek pilihan pertama siswa; jika penuh, langsung cek pilihan kedua, dan seterusnya. Ini lebih adil dibandingkan sistem lama di mana pilihan pertama sangat menentukan nasib.
- Bonus Poin dan Jalur Khusus
Tidak semua orang hanya mengandalkan skor murni. Ada beberapa kondisi yang bisa menambah poin (sekitar 5–20 poin tambahan) seperti siswa dari kelompok etnis minoritas, keluarga pahlawan yaitu anak dari personel militer yang gugur dalam tugas, atlet nasional atau pemenang olimpiade sains internasional (meskipun aturan ini mulai diperketat untuk menjaga keadilan).
Saking rumitnya, banyak orang tua di China yang rela membayar mahal untuk layanan Big Data yang bisa memprediksi peluang anak mereka masuk ke jurusan tertentu berdasarkan tren skor lima tahun terakhir.

