Presiden Prabowo Terima Hadiah Miniatur Kapal Perang Jepang Mikasa, Apa Istimewanya?

Kapal perang Jepang, Mikasa, yang dijadikan kapal museum di pangkalan Angkatan Laut Jepang di Yokosuka, Jepang. (Foto: By 江戸村のとくぞう - Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=111184816)
Kapal perang Jepang, Mikasa, yang dijadikan kapal museum di pangkalan Angkatan Laut Jepang di Yokosuka, Jepang. (Foto: By 江戸村のとくぞう - Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=111184816)

Belum lama ini diberitakan bahwa Menteri Pertahanan Jepang, Shinjirō Koizumi mengungkapkan pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto. Dalam unggahan di akun Instagramnya, Shinjirō Koizumi mengatakan dirinya menyerahkan kenang-kenangan berupa sebuah model kapal perang legendaris Jepang, Mikasa.

“Saya baru saja kembali dari perjalanan satu hari ke Indonesia. Semalam, dalam pertemuan di kediaman pribadi Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, saya memberikan beliau sebuah model kapal perang Mikasa, yang berbasis di kota kelahiran saya, Yokosuka, sebagai hadiah. Presiden Prabowo, mantan perwira militer dan Menteri Pertahanan, sangat senang,” tulis Shinjirō Koizumi seperti diberitakan detik.com, Minggu (14/6/2026).

Yang menarik di sini adalah Mikasa merupakan kapal komando yang digunakan Laksamana Jepang, Togo Heihachiro, dalam serangkaian pertempuran laut melawan armada Angkatan Laut Kekaisaran Rusia dalam perang Jepang-Rusia 1904-1905. Armada Rusia mengalami sejumlah kekalahan dalam perang tersebut, dengan puncaknya pada Pertempuran Selat Tsushima 27-28 Mei 1905, di mana armada Rusia yang berupaya mencapai pangkalan mereka di Vladivostok, Rusia Timur Jauh, hancur dibantai armada Jepang yang dipimpin Laksamana Togo di atas kapal perangnya, Mikasa.

Kemenangan Jepang atas Rusia ini mengejutkan dunia Barat karena untuk kali pertama sebuah negara di luar Eropa dan Amerika Serikat mampu mengalahkan armada laut Eropa yaitu Rusia. Mikasa bisa dibilang menjadi salah satu simbol modernisasi cepat Jepang di era Kaisar Mutsuhito atau Kaisar Meiji yang dimulai pada pertengahan abad ke-19, yang dikenal sebagai era Restorasi Meiji. Tradisi maritim modern Jepang pun baru dibangun pada masa itu, di mana Jepang banyak belajar dari Prancis dan kemudian dari Inggris untuk membangun kekuatan angkatan laut dan mendidik para pelautnya.

Presiden Prabowo Subianto menerima miniatur kapal perang Mikasa dari Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi. (Foto: detik.com)

Mikasa dibangun di galangan kapal Vickers, Sons & Maxim, di Barrow-in-Furness, Inggris. Pembangunannya dimulai pada 24 Januari 1899, diluncurkan pada 8 November 1900, lalu menjalani tahap penyelesaian akhir hingga resmi dioperasikan pada 1 Maret 1902. Nama Mikasa sendiri berasal dari nama Gunung Mikasa di wilayah Nara, Jepang.

Mikasa berukuran panjang 131,7 meter, lebar 23,2 meter, dengan bobot 15.380 ton. Kapal ini diawaki 830 orang. Penggeraknya adalah dua mesin uap yang masing-masing menggerakkan satu propeler/baling-baling, dengan uap yang dipasok dari 25 ketel uap dengan bahan bakar batu bara. Kecepatan maksimal yang bisa dicapai adalah 18 knots atau 33 km per jam. Daya angkut batu baranya maksimal 2.000 ton, yang memungkinkannya mencapai jarak berlayar 17.000 km dengan kecepatan rata-rata 10 knots atau 19 km per jam.

Persenjataan Mikasa terdiri atas empat meriam utama berkaliber 12 inci (lebar laras meriam 305 mm) yang masing-masing diposisikan berpasangan 2-2 di depan dan belakang, dengan peluru berbobot 386 kg. Meriam pendukungnya berjumlah 14 buah berdiameter laras 152 mm, 20 buah berdiameter laras (kaliber) 76 mm, delapan meriam kaliber 47 mm, empat meriam kaliber 47 mm dengan peluru yang lebih kecil, serta empat tabung peluncur torpedo berdiameter 450 mm.

Kapal perang Mikasa pada 1905. (Foto: By Unknown author – 呉市海事歴史科学館所蔵品 (Sakai City Maritime History Science Museum Collection), Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=3661200)

Mikasa adalah kapal terakhir dari enam kapal perang yang dipesan dari Inggris, yang mengalami sejumlah modifikasi seperti penambahan meriam sehingga kapal ini berbeda dari kapal yang terlebih dulu dipesan. Mikasa dan kelima “saudaranya” juga menjadi simbol perubahan doktrin AL Jepang dari doktrin Prancis yang mengandalkan kapal perang berukuran lebih kecil dan meriam yang lebih kecil namun berkemampuan tembak cepat namun lebih gesit menjadi doktrin Inggris yang mengandalkan kapal berukuran lebih besar dan meriam berukuran lebih besar dengan daya hancur lebih dahsyat. Uniknya, kapal-kapal perang baru Jepang bikinan Inggris ini dibiayai oleh uang pampasan perang dari China setelah China kalah perang dari Jepang dalam Perang China-Jepang 1894-1895.

Tugas tempur pertama Mikasa terjadi saat Perang Rusia-Jepang, ketika Laksamana Togo menyerang pangkalan AL Rusia di Port Arthur, Manchuria (wilayah China yang diduduki Rusia), pada 9 Februari 1904. Dalam pertempuran itu Mikasa terkena dua tembakan yang melukai tujuh awaknya. Mikasa kemudian kembali terlibat dalam operasi yang dipimpin Togo pada 13 April 1904 untuk memancing keluar armada Rusia dari Port Arthur. Sejumlah kapal perang Rusia yang dipimpin langsung Laksamana Stepan Makarov kemudian berlayar untuk mengejar kapal perang Jepang, namun ketika Makarov mengetahui bahwa dia dihadang lima kapal perang dari armada Togo, dia memerintahkan semua kapalnya balik arah pulang ke Port Arthur. Malangnya, Petropavlovsk, kapal perang yang ditumpangi Makarov, justru terkena ranjau yang dipasang armada Jepang. Ledakan akibat ranjau memancing ledakan di gudang pelurunya, yang membuat kapal perang Makarov meledak dahsyat dan tenggelam hanya dalam dua menit. Makarov menjadi salah satu korban meninggal dari 677 korban jiwa awak Rusia.

Mikasa kembali berperan dalam Pertempuran Laut Kuning pada 10 Agustus 1904 melawan armada Rusia. Namun kali ini Mikasa terkena tembakan yang cukup parah. Sebanyak 20 tembakan mengenainya, dua di antaranya merusakkan salah satu kubah meriam utamanya. Sebanyak 125 awaknya juga menjadi korban.

Lukisan yang menggambarkan Laksamana Togo Heihachiro (keempat dari kanan) di atas anjungan kapal perang Mikasa menjelang Pertempuran Selat Tsushima melawan armada AL Rusia, 27 Mei 1905). (Foto: By Tōjō Shōtarō – Pinterest https://www.pinterest.com/pin/322077810850195861/, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=113129410)

Peran terbesar Mikasa adalah dalam Pertempuran Selat Tsushima pada 27 Mei 1905. Kali ini Armada I Jepang di bawah Laksamana Togo menghadapi Skuadron Pasifik II dan III dari Armada Baltik Rusia yang dikirim untuk memperkuat armada di pangkalan Vladivostok. Mikasa memimpin serangan terhadap kapal perang Knyaz Suvorov yang menjadi kapal komando komandan armada Rusia, Laksamana Madya Zinovy Petrovich Rozhestvensky yang melumpuhkan kapal itu sekaligus membuat Rozhestvensky terluka parah. Selama pertempuran Mikasa terkena 40 kali tembakan, namun hanya mengalami kerusakan ringan. Kemenangan dalam pertempuran ini membuat Laksamana Togo menjadi pahlawan nasional Jepang.

Nasib sial justru dialami Mikasa di luar operasi tempur. Pada malam antara 11-12 September 1905, terjadi kebakaran di dalam kapal yang tengah sandar di pangkalan AL Sasebo, Jepang. Kebakaran ini memicu ledakan di gudang peluru yang membuat kapal tenggelam dan 251 awak meninggal dunia. Mikasa berhasil diapungkan lagi pada 7 Agustus 1906 dan menjalani perbaikan besar-besaran selama dua tahun termasuk penggantian meriam.

Setelah itu Mikasa tak lagi menjalankan peran utama di garis depan. Dia difungsikan sebagai kapal pertahanan pantai hingga kemudian resmi dipensiunkan pada 23 September 1923 sebagai dampak Traktat Angkatan Laut Washington (Washington Naval Treaty) 1922 yang membatasi kekuatan angkatan laut negara-negara utama di dunia sebagai dampak berakhirnya Perang Dunia I. Berdasarkan perjanjian itu Mikasa seharusnya dibesituakan dan dibongkar habis. Namun pemerintah Jepang berhasil memperjuangkan agar kapal itu tidak dimusnahkan dan diizinkan untuk dijadikan kapal museum untuk mengenang sejarah istimewanya.

Mikasa pun hanya dibongkar mesin dan persenjataannya, lalu dijadikan kapal museum terapung yang diresmikan pada 1926. Ketika Perang Dunia II terjadi, Mikasa tak luput dari serangan udara pasukan Sekutu dan kondisinya jadi sangat memrihatinkan karena terbengkalai seusai perang. Kapal ini bahkan sempat dijadikan tempat hiburan malam untuk personel militer AS yang ditugaskan pascaperang di Jepang.

Mikasa baru mulai bisa diperbaiki lagi pada 1950-an atas kerja sama Jepang dan AS. Karena sebagian besar bagian kapal sudah dibongkar lama sebelumnya, bagian-bagian itu dikembalikan dengan cara mengambil dari bekas kapal perang Chile dan Argentina yang berasal dari era yang hampir sama dengan saat Mikasa dibuat. Upaya perbaikan dan pemulihan Mikasa kemudian juga dilakukan dengan dukungan mantan panglima Armada Pasifik AS dari era Perang Dunia II yang waktu itu berhadapan dengan Jepang, Laksamana Chester W. Nimitz. Mikasa akhirnya berhasil dipulihkan kondisinya dan dibuka lagi sebagai kapal museum pada 1961.

Baca Juga:

Pemberontakan di Kapal Perang Belanda De Zeven Provinciën: Tindakan Potong Gaji yang Menuai Aksi (Bagian I)

Antara Isu Kerja Sama Militer Indonesia-AS dan Realitas Pertahanan Nasional

Share the Post: