Kabar bahwa Presiden Prabowo Subianto menerima cendera mata berupa miniatur kapal perang Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Mikasa, dari Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dalam sebuah pertemuan belum lama ini memicu pertanyaan soal kenapa Mikasa yang diberikan. Nah, seperti sudah diungkapkan dalam tulisan di situs ini soal Mikasa, maka perlu kita lihat lebih jauh kisah pertempuran laut besar yang melibatkan kapal perang tersebut.
Dalam pertempuran itu Rusia mengalami kekalahan memalukan ketika armada angkatan lautnya dibantai di Selat Tsushima oleh Angkatan Laut Jepang pada 1905. Kekalahan armada Rusia ini juga menyentak negara-negara Barat karena untuk kali pertama sebuah negara di luar Barat (dalam hal ini Eropa dan Amerika), mampu mengalahkan salah satu negara Barat yang hingga saat itu dianggap sebagai salah satu super power di dunia.
Negara-negara Barat sesungguhnya sudah memahami semaju apa Jepang saat itu, namun mereka sama sekali belum pernah tahu dampak kemajuan itu ketika diuji dalam sebuah konflik nyata. Sebelum kita menggali lebih jauh kisah mengenai pertempuran laut bersejarah yang mempermalukan Rusia itu, lebih baik kita memahami dulu latar belakang semuanya.
Abad ke-19 khususnya di masa-masa menjelang peralihan ke abad ke-20 menjadi salah satu masa perkembangan teknologi yang cepat dan banyak mengubah kehidupan manusia. Kreasi mesin uap melahirkan revolusi industri yang kemudian berkembang ke berbagai sektor, tak terkecuali sektor pertahanan. Dan pada masa inilah penguasa Jepang mengambil keputusan cepat untuk merengkuh segala teknologi baru dan mengakhiri sepenuhnya masa pengucilan diri dari dunia luar.

Restorasi Meiji yang diprakarsai Kaisar Mutsuhito atau Tenno Meji pada pertengahan abad ke-19 dengan cepat mengubah Jepang dari negara tradisionalis agraris menjadi negara industri baru. Visi Restorasi Meiji adalah membawa Jepang setara dengan negara Barat. Akan tetapi yang ingin dicapai adalah Jepang yang modern seperti negara Barat dan bukannya “pembaratan” atau “westernisasi” Jepang.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah abad Jepang sudah mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa Barat atau Eropa dan Amerika Serikat, termasuk di bidang kemiliteran. Alat utama sistem senjata (alutsista) baru dan doktrin-doktrin militer modern untuk matra darat dan laut juga diadopsi, membuat Jepang mampu memosisikan diri sejajar dengan kekuatan militer utama Barat di masa itu. Dari segi sumber daya manusia, pasukan kekaisaran Jepang juga dibangun dengan profesionalisme model Barat. Di era sebelum Restorasi Meiji, kekuatan bersenjata yang ada bertautan dengan para penguasa wilayah atau warlords. Dengan pembangunan modern, pasukan yang terbentuk adalah sebuah pasukan nasional dengan komando terstruktur dan bersifat profesional, bukan relawan seperti di era para penguasa tradisional atau shogun dengan para samurainya.
Namun modernisasi ini kemudian memicu hal baru yaitu keinginan untuk lebih sejajar dengan kekuatan Barat melalui pembangunan ruang pengaruh atau sphere of influence yaitu di kawasan sekitar Jepang. Kalau di era Nazi Jerman beberapa dekade kemudian ada ide soal lebensraum atau ruang hidup/ruang tinggal untuk bangsa Jerman dengan segala mimpi besarnya yang memicu invasi rezim Hitler itu untuk menyerbu ke seluruh penjuru Eropa, maka ide soal ruang yang serupa ini juga tumbuh sebagai dampak Restorasi Meji.
Jawaban untuk impian ini tentu saja dengan kolonialisme, dan Jepang mengincar wilayah-wilayah tepi China serta Semenanjung Korea untuk dicaplok. China sendiri, meskipun punya riwayat sebagai sebuah imperium yang nyaris seusia peradaban manusia, pada masa abad ke-19 itu sudah mulai melemah karena kekolotan pemerintahnya yang setengah hati mengadopsi modernisasi. Sedangkan Semenanjung Korea meski dikuasai oleh kerajaan mandiri, namun mereka cenderung tunduk ke China. Jepang pun memandang negara Korea sebagai negara yang kolot dan terbelakang, sehingga layak diambil alih untuk “dimodernisasi.” Dinasti yang berkuasa di Korea beserta pendukungnya terbagi menjadi dua faksi besar yaitu yang pro-China dan yang pro-Jepang.
Rusia saat itu juga sedang dalam upaya ekspansi yang sama. Mereka sedang mengembangkan wilayah timur jauh, dan membutuhkan pelabuhan yang di musim dingin tetap bisa diakses tanpa terganggu laut yang membeku. Wilayah yang mereka incar adalah Manchuria, di sisi timur laut China. Rusia di masa yang sama juga menginvasi Afghanistan, dan giat mengembangkan wilayah Siberia yang iklimnya keras dan ekstrem namun kaya sumber daya alam.
Berebut Korea
Ambisi kedua negara ini “bertemu” di wilayah China dan Korea. Pada 1894-1895 pecah perang antara China dan Jepang yang dipicu pemberontakan kelompok pro-Jepang di Korea melawan pemerintahan yang pro-China pada 1884. China mengirimkan pasukan untuk membantu Korea memadamkan pemberontakan itu, dan lantas mendirikan pemerintahan perwalian China di Korea. Setelah itu pecah pula pemberontakan dari kelompok religius Tonghak. Korea kembali minta bantuan pemerintah Dinasti Qing di China untuk menangani pemberontakan itu. Namun Jepang memanfaatkan kesempatan dengan mengirimkan pasukan pula untuk menumpas pemberontak Tonghak, lalu mendirikan pemerintahan boneka pro-Jepang di Seoul.

Merespons aksi Jepang ini China pun bertindak dengan mengirimkan pasukan untuk menyerbu Korea sehingga pecahlah perang antara kedua negara. Namun militer Jepang jauh lebih unggul dari China dan mereka pun mampu merebut Semenanjung Liaodong di barat Semenanjung Korea serta menghancurkan armada laut China. Perang berakhir dengan ditekennya Perjanjian Shimonoseki di mana China sebagai pihak yang kalah menyerahkan Semenanjung Liaodong dan Pulau Taiwan/Formosa kepada Jepang.
Perjanjian ini direspons Rusia, Jerman, dan Prancis yang juga punya kepentingan atas wilayah timur dan timur laut China. Mereka bertiga menekan dan mengancam Jepang agar membatalkan perjanjian itu. Jepang yang sadar bakalan sulit untuk menghadapi tiga negara Barat yang termasuk terkuat itu hanya bisa menurut. Meski begitu Jepang masih bertahan untuk menguasai Korea dan dalam upaya memadamkan perlawanan kelompok anti-Jepang mereka membunuh Ratu Min, tokoh anti-Jepang yang pro-China. Pembunuhan ini memicu aksi anti-Jepang di Korea.
Pada awal 1896, Raja Korea, Gojong, meminta suaka ke perwakilan Rusia di Seoul karena merasa terancam oleh Jepang. Setelah itu pecah pula aksi pemberontakan yang menggulingkan pemerintahan pro-Jepang di Seoul. Pengaruh Jepang yang sementara meredup di Korea dimanfaatkan Rusia yang lantas menguasai Semenanjung Liaodong pada 1897, membangun perbentengan di kota pelabuhan Port Arthur di semenanjung itu, dan menjadikannya sebagai pangkalan utama Armada Pasifik AL Kekaisaran Rusia.
Sebenarnya langkah Rusia ini dilakukan untuk mencegat Inggris yang di masa itu menguasai wilayah Wei-hai-Wei yang posisinya ada di sudut lain yang berhadapan dengan Port Arthur dan Semenanjung Liaodong, berseberangan dengan dibatasi Laut Kuning. Namun bagi Jepang, keberadaan Rusia di situ dinilai sebagai upaya untuk menghalangi Jepang. Selanjutnya pada 1897-1903 Rusia membangun perusahaan kereta dan jaringan rel kereta api China Timur di wilayah Manchuria. Perusahaan kereta ini dimiliki bersama oleh Rusia dan China, namun manajemennya sepenuhnya dipegang orang Rusia dan infrastruktur relnya dibangun berdasarkan standar Rusia. Pasukan Rusia kemudian juga ditempatkan di Manchuria untuk melindungi jalur rel dan keretanya dari serangan penjahat. Kantor pusat perusahaan KA itu berada di Harbin, kota baru di Manchuria yang sepenuhnya dibangun Rusia dan kemudian dijuluki sebagai “Moskow dari Timur.” Dengan segala pembangunan ini Manchuria yang di atas peta resminya adalah wilayah China, dalam kenyataannya segala aktivitasnya didominasi Rusia.
Rusia bertindak makin jauh untuk mengamankan penguasaan atas Port Arthur dan kawasan sekitarnya dengan membuat perjanjian sewa wilayah dengan China pada 1898. Setahun kemudian Rusia mulai membangun jalur kereta api baru dari Harbin ke Port Arthur. Rusia juga makin merambah ke Korea memanfaatkan perkembangan situasi sejak Kaisar Gojong meminta suaka ke perwakilan Rusia. Sebuah pemerintahan Korea pro-Rusia pun kemudian muncul.
Di sisi lain, Rusia dan Jepang sama-sama bergabung ke dalam Aliansi Delapan Negara yang mengirimkan pasukan menghadapi Pemberontakan Boxer di China, ketika para pendekar tradisional China memberontak terhadap bangsa-bangsa asing yang dianggap sudah terlalu jauh mengacak-acak China dan menyerang serta mengepung kompleks-kompleks perwakilan asing di Ibu Kota Beijing. Para pemberontak Boxer ini bersama pasukan pemerintah Dinasti Qing China juga berupaya menghancurkan infrastruktur kereta api yang dibangun Rusia di Manchuria. Namun pasukan Rusia yang memang sudah ada di wilayah itu untuk melindungi jalur kereta api berhasil menangkal serangan itu dan bahkan memukul mundur pasukan Boxer dan pemerintah China. Kondisi ini pun semakin memantapkan posisi Rusia dalam menguasai Manchuria.
Berbagai perkembangan yang memperlihatkan makin kuatnya Rusia bercokol di wilayah-wilayah tepian China yang strategis membuat Jepang bersiasat menghadapinya. Negarawan terkemuka Jepang, Hirobumi Ito, yang menjadi salah satu anggota Genro atau dewan penasihat pemerintah, memilih jalan negosiasi karena dia merasa Jepang masih belum kuat jika harus berperang dengan Rusia. Dia mengusulkan Jepang siap mengakui klaim Rusia atas Manchuria asalkan Rusia juga mau mengakui klaim Jepang atas wilayah utara Korea. Namun para anggota Genro tak sepakat soal jalan menghadapi Rusia. Ito bersama Kaoru Inoue yang juga menjabat sebagai menteri luar negeri memilih jalan negosiasi, sementara tiga anggota lainnya, Taro Katsura, Jutaro Komura, dan Marsekal Aritomo Yamagata lebih memilih perang.
Di sisi lain Jepang juga meneken perjanjian aliansi dengan Inggris pada 1902. Motivasi Inggris adalah memanfaatkan Jepang sebagai penyeimbang untuk mencegah meluasnya kekuatan Rusia di kawasan timur dan timur laut China. Dalam aliansi itu, ada kesepakatan bahwa jika ada negara mana pun yang mendukung atau bersekutu dengan Rusia jika terjadi perang dengan Jepang, maka Inggris akan melibatkan diri dalam perang sebagai sekutu Jepang. Tercapainya kesepakatan ini menempatkan Rusia dalam posisi sulit. Dia tak bisa mengharapkan dukungan atau keterlibatan negara kuat lain seperti Jerman atau Prancis jika berperang melawan Jepang karena berisiko memicu ikut campurnya Inggris sebagai sekutu Jepang. Keberadaan aliansi dengan Inggris ini bikin Jepang makin “pede” seandainya harus berperang melawan Rusia.
Hasutan Jerman
Sementara itu Kaisar Jerman, Wilhelm II, yang masih bersaudara dengan Tsar (Kaisar) Nicholas II dari Rusia, justru getol mengompori agar Rusia tidak segan melakukan kekerasan untuk menjinakkan Jepang. Dalam surat-suratnya, Wilhelm sering menyatakan adanya “ancaman kuning” alias berbahayanya situasi jika “bangsa berkulit kuning” yaitu China dan Jepang sampai bersatu dan menguasai Asia. Wilhelm bahkan menyebut Nicholas sebagai “pemimpin yang dipilih Tuhan” untuk melindungi Eropa dari ancaman Asia. Dalam surat bertanggal 1 November 1902, Wilhelm juga menyebut bahwa ada tanda-tanda di kawasan timur bahwa Jepang makin bertingkah dan sudah sangat jelas bahwa Korea harus dikuasai Rusia.


Sikap Wilhelm ini sendiri dikecam oleh Presiden AS, Theodore Roosevelt (memerintah 1901-1909). Dia yang berupaya memediasi untuk mencegah pecahnya perang menilai hasutan Wilhelm soal “ancaman [bangsa] kuning” membawa keyakinan bahwa Jerman akan ikut berperang mendukung Rusia melawan Jepang, dan membuat Rusia mengabaikan semua kesempatan untuk berunding. Pernyataan-pernyataan Wilhelm ini memang kemudian memicu blunder di kalangan pengambil keputusan Rusia karena mereka yakin Jerman akan siap membantu kapan pun Rusia meminta saat pecah perang dengan Jepang.
Memang sebenarnya apa yang disampaikan Kaisar Wilhelm itu adalah “jebakan Betmen” agar Rusia lepas dari pakta aliansinya dengan Prancis, dan pindah bikin aliansi baru dengan Jerman. Rusia sebelum itu membuat persekutuan dengan Prancis. Namun ketika Rusia mulai berkonflik dengan Jepang, pihak Prancis jaga jarak dan menyatakan bahwa pakta aliansi dengan Rusia hanya berlaku untuk kawasan Eropa, dan bukan untuk Asia. Artinya, kalau Rusia “ada apa-apa” di Eropa, Prancis bakal membantu, namun di luar Eropa Prancis lepas tangan.
Jerman, dalam hal ini Kaisar Wilhelm, yakin bahwa jika Rusia memang jadi berperang dengan Jepang, maka persekutuan Rusia dengan Prancis akan bubar karena Prancis ogah mendukung aksi Rusia di Asia. Di sisi lain, Rusia akan mencari dukungan dan itu akan bisa didapatkannya dari Jerman, karena kekuatan lain yaitu Inggris sudah jelas mendukung Jepang. Jerman sendiri memang ingin membatasi perluasan pengaruh Inggris di mana-mana khususnya di Asia. Kaisar Wilhelm juga yakin, jika akhirnya terbentuk pakta Jerman-Rusia, maka Prancis pada akhirnya akan ikut bergabung karena mereka semua ingin menahan pengaruh Inggris. Motivasi lain Wilhelm memanas-manasi Rusia agar berkonflik dengan Jepang adalah agar Rusia “punya kesibukan di sudut dunia lain” dan kehilangan fokusnya atas Semenanjung Balkan yang selama ini juga jadi ajang perebutan pengaruh antara sekutu Jerman lainnya, Kekaisaran Austria-Hungaria, dengan Rusia.
Apa yang selanjutnya terjadi? (Bersambung)
