Ketika akhirnya proses pengesahan naskah pernyataan resmi kekaisaran tentang penerimaan terhadap Deklarasi Potsdam dilakukan oleh kabinet, 14 Agustus 1945 malam, persiapan perekaman pidato Kaisar Hirohito juga sudah matang, tinggal menunggu kehadiran Kaisar di gedung Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran tempat perekaman dilakukan. Kaisar sendiri sebenarnya sudah siap di Gobunko, gedung perpustakaan di kompleks kekaisaran yang menjadi tempat tinggal sementaranya karena gedung utama istananya sudah rata dengan tanah akibat pemboman Amerika. Dia mengenakan seragam militer, dan sudah siap naik mobil yang akan mengantarnya. Namun terdengar suara sirene peringatan bahaya serangan udara. Menurut protokol keamanan, Kaisar tidak boleh keluar sampai ada klarifikasi bahwa bahaya serangan sudah tak ada.
Kaisar pun terpaksa menunggu. Setelah lebih kurang sejam, Kaisar tak sabar dan meminta kepada Chamberlain [asisten pribadi kekaisaran] Sukemasa Irie agar dia segera diantar untuk merekam pidato. Irie meminta Kaisar bersabar menunggu setidaknya sampai ada info sahih di mana lokasi serangan udara terjadi. Untung saja segera ada kejelasan. Letnan Tsune Fujii dari Komando Wilayah Timur Angkatan Darat melaporkan kepada Kepala Seksi Pertahanan Udara Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran Shinjiro Okamatsu bahwa pesawat-pesawat musuh yang memicu alarm bahaya serangan udara tidak menuju Tokyo namun ke wilayah lain yang jauh. Okamatsu pun meneruskan laporan ini ke Irie, dan Kaisar pun dengan segera diantar untuk melakukan rekaman pidato.
Di Kementerian Rumah Tangga, Kaisar disambut Direktur Biro Informasi Kabinet Shimomura, lalu diantar naik ke lantai dua ke ruangan tempat studio rekaman darurat disiapkan. “Seberapa keras suara saya nanti?” tanya Kaisar ketika mengambil posisi di depan mikrofon. Shimomura menjawab bahwa Kaisar cukup berbicara seperti biasa. Kaisar masih bertanya lagi, apakah perlu melakukan tes suara dan mikrofon sebelum dia menyampaikan pidato. Rapat kecil secara spontan terjadi, dan diputuskan bahwa Chamberlain Toda yang suaranya mirip Kaisar yang akan melakukan tes suara dan mikrofon.
Akhirnya semua siap, Shimomura membungkuk hormat kepada Kaisar sebagai tanda bahwa pidato sudah bisa dimulai. Kaisar dengan berdiri tegak membacakan naskah pernyataannya. Awalnya suaranya terdengar sedikit melengking bernada tinggi, seperti tertekan. Namun kemudian nadanya menjadi lebih rendah dan tenang. Pembacaan naskah pidato berlangsung lebih kurang lima menit. “Apakah bagus?” tanya Kaisar kemudian. Para teknisi NHK langsung memeriksa rekaman. Kualitas rekamannya bagus, namun ada kata-kata yang kurang terdengar jelas karena di beberapa bagian suara Kaisar terdengar bergetar. Para teknisi agak bingung juga, bagaimana mungkin mereka harus mengoreksi Kaisar? Untungnya Kaisar sendiri yang kemudian menawarkan diri untuk merekam ulang pidatonya. Rekaman kedua pun segera dilakukan dan hasilnya bagus. Akan tetapi justru Kaisar sendiri yang merasa ada kalimat yang kurang pas diucapkan dan dia meminta rekam ulang lagi. Namun Direktur Biro Informasi Shimomura memutuskan bahwa dua kali perekaman sudah cukup. Dia tak mau “menyiksa” Kaisar lebih lama karena dia melihat sendiri saat Kaisar membacakan naskah, ada saat air mata Kaisar berlinang. Waktu menunjukkan pukul 00.05, tanggal 15 Agustus 1945, saat Kaisar Hirohito meninggalkan gedung Kementerian Rumah Tangga untuk kembali ke tempat tinggalnya di perpustakaan istana, Gobunko.
Saat Kaisar pulang, para teknisi NHK masih merampungkan proses penggandaan rekaman sambil mengecek ulang kualitasnya. Diputuskan bahwa rekaman pertama adalah yang paling bagus, yang akan disiarkan besok siang, dan rekaman kedua akan menjadi cadangan. Penggandaan menghasilkan dua set rekaman, yaitu dua rekaman tiap set. Rekaman yang disimpan di media piringan hitam itu kemudian dimasukkan ke dalam wadah metal, namun ternyata sulit ditutup. Tim NHK meminta tolong Motohiko Kakei dari Seksi Umum Kementerian Rumah Tangga untuk mencarikan wadah yang layak. Setelah mencari-cari sejenak, Kakei membawa dua kantung kain yang sebenarnya merupakan kemasan untuk seragam petugas pertahanan udara. Masing-masing set rekaman kemudian dimasukkan ke dalam kantung-kantung itu.
Pengamanan Rekaman Suara Kaisar
Ternyata muncul lagi masalah. Siapa yang akan menyimpan rekaman yang sangat penting itu sampai tiba waktunya disiarkan besok siang? Bagi pihak Kementerian Rumah Tangga, jawabannya mudah, ya jelas NHK dong, kan mereka yang punya rekaman. Tapi pihak NHK punya pandangan lain. Membawa rekaman suara Kaisar di tengah malam buta terasa tidak menghormati Sang Pemimpin Tertinggi. Selain itu adanya isu bahwa ada unsur Angkatan Darat yang mau berontak karena menolak penyerahan diri juga membuat risiko perjalanan membawa rekaman itu malam itu juga makin tinggi.
Akhirnya dicapai kesepakatan. Rekaman-rekaman itu dititipkan dulu di Kementerian Rumah Tangga, dan akan “dijemput” esoknya ketika kondisi keamanan sudah bisa dipastikan. Kakei yang kemudian “ketiban sampur” menyimpan rekaman itu jadi bingung juga, mau disimpan di mana? Dia merasa di kantornya tak ada tempat yang betul-betul aman dan layak untuk menyimpan rekaman itu. Dia lantas berpaling ke dua chamberlain yang masih ada di situ, Yoshihiro Tokugawa dan Yasuhide Toda, bertanya apakah keduanya punya ide yang lebih baik. Tokugawa teringat bahwa di kantor yang biasa digunakan pengiring Permaisuri Nagako ada lemari besi kecil. Dia lantas membawa kedua set rekaman itu dan menaruhnya di dalam lemari besi itu. Setelah menguncinya, dia lalu menumpukkan berkas-berkas dokumen di depannya sehingga lemari besi itu tak terlihat.
Pada kurun waktu yang lebih kurang sama dengan rampungnya proses perekaman pidato Kaisar, di Markas Divisi Pengawal Kekaisaran, para perwira muda penggerak aksi pembangkangan terhadap rencana damai pemerintah mempercepat langkah. Mayor Kenji Hatanaka dan Kapten Uehara baru saja dengan keji membunuh Jenderal Takeshi Mori, Panglima Divisi Pengawal Kekaisaran, dan iparnya, Letkol Shiraishi yang kebetulan sedang ada di tempat itu. Mori sebelumnya menolak mentah-mentah permintaan para pembangkang untuk mendukung gerakan mereka.
Kolonel Mizutani, Kepala Staf Divisi Pengawal Kekaisaran, dalam kepanikan melihat atasannya sudah terkapar bersimbah darah, menyebut kejadian ini harus dilaporkan ke Komando Wilayah Timur Angkatan Darat, yang mengampu keamanan kawasan Ibu Kota Tokyo dan sekitarnya. Hatanaka mendukungnya dan meminta Letkol Masataka Ida menemani Mizutani. Sebenarnya mereka mau memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta dukungan terhadap aksi mereka dari Komando Wilayah Timur.
Sepeninggal Ida dan Mizutani, Hatanaka dan -rekan-rekannya, Mayor Hidemasa Koga dan Mayor Ishihara serta Kapten Shigetaro Uehara, langsung mengeluarkan dokumen yang sudah mereka persiapkan, yang berbunyi Perintah Divisi 584. Surat perintah itu berbunyi:
15 Agustus, ___________ [bagian ini masih kosong, yang akan diisi dengan jam saat surat perintah itu diterbitkan].
Surat Perintah Divisi Pengawal Kekaisaran
- Divisi akan menggagalkan strategi musuh dan mempertahankan Kaisar untuk menjaga negara kita.
- Komandan Resimen Infantri I akan menguasai wilayah Markas Komando Timur Kedua dan Ketiga termasuk kawasan Honmaru Baba [bagian utama kompleks istana kaisar dan lapangan parade di sekitarnya] sehingga akan melindungi Keluarga Kekaisaran dari sisi ini. Komandan juga harus menugaskan satu kompi untuk menguasai Stasiun Penyiaran Tokyo dan mencegah semua siaran.
- Komandan Resimen Infantri II akan menggunakan kekuatan utamanya untuk menjaga Keluarga Kekaisaran di wilayah Fukiage di kompleks istana kekaisaran.
- Komandan Resimen Infantri VI akan melanjutkan tugasnya yang biasa.
- Komandan Resimen Infantri VII akan mengamankan wilayah Gerbang Nijubashi [gerbang masuk utama kompleks istana] dan mencegah semua kontak dari luar ke istana.
- Komandan Resimen Kavaleri akan menugaskan satuan tank ke Jalan Daikan dan menunggu perintah selanjutnya.
- Komandan Resimen Artileri I harus menunggu perintah selanjutnya.
- Komandan Resimen Zeni harus menunggu perintah selanjutnya.
- Komandan Batalion Mekanis akan menjaga komplek istana dengan kekuatan yang dimiliki.
- Komandan Unit Sandi akan memutus semua komunikasi di dalam kompleks istana kecuali yang melalui Markas Besar Divisi.
- Panglima Divisi akan berada di Markas Besar Divisi.
Tertanda
Mori
Panglima Divisi
Surat perintah ini palsu karena disusun oleh Hatanaka dan kawan-kawannya. Hatanaka kemudian mengambil stempel milik Jenderal Mori dan mencapkannya ke surat perintah palsu itu dan salinan-salinannya sehingga seolah-olah berasal dari sang panglima yang sesungguhnya sudah meninggal dibantai. Surat-surat itu kemudian dikirim ke para komandan di lingkup Divisi Pengawal Kekaisaran.
Pemberontakan Bermodal Surat Palsu
Hatanaka bersama Uehara dan satu rekannya yang lain, Letkol Shiizaki, lantas mengambil mobil dinas Divisi I Pengawal Kekaisaran, lalu pergi ke istana. Mereka langsung menemui Kolonel Haga, Komandan Resimen II dan mengaku baru saja ditugaskan oleh Markas Besar AD di Divisi Pengawal Kekaisaran untuk memastikan bahwa surat perintah khusus untuk memastikan keamanan Kaisar dan keluarganya serta kompleks istana dijalankan dengan baik. Kebetulan pula kurir yang membawa surat perintah yang sebenarnya abal-abal itu sudah datang pula ke markas sehingga Haga pun menerima surat itu.

Haga yang sudah tahu isu penolakan terhadap perintah damai dan penyerahan diri itu mengira bahwa ini adalah sikap resmi Angkatan Darat dan tujuannya adalah untuk membujuk Kaisar agar membatalkan perintah damai itu. Dia sama sekali tak tahu bahwa justru Angkatan Darat sudah secara resmi menerima perintah damai itu, sehingga upaya pembangkangan ini sama sekali bertentangan dengan kebijakan Angkatan Darat. Makin yakin dengan surat perintah yang diterimanya, dia pun segera menggerakkan pasukannya. Seluruh pintu akses ke kompleks istana ditutup dan semua lalu lintas disetop. Polisi istana yang bukan bagian dari Divisi Pengawal Kekaisaran dilucuti. Pasukan penjaga gerbang ditambah dan sisanya disebar ke segala penjuru kompleks. Aksi pembangkangan yang dipelopori Mayor Hatanaka pun makin bergulir.
Ironisnya, situasi ini sama sekali tak diketahui oleh semua orang di Kementerian Rumah Tangga. Para teknisi NHK sibuk mengemasi peralatan yang tadi dipakai untuk merekam pidato Kaisar. Direktur Informasi Kabinet, Shimomura, bahkan masih sempat menikmati teh bersama Menteri Rumah Tangga, Sotaro Ishiwatari. Setelah itu Shimomura minta diri dan bersama sekretarisnya, Nobumasa Kawamoto, mereka naik mobil bersama satu pengawal dan satu sopir dengan tujuan kembali ke rumah dinas perdana menteri untuk melaporkan bahwa perekaman pidato sudah dilakukan.
Saat melintasi Gerbang Sakashita, mobil mereka dicegat dan dihentikan tentara bersenjata senapan dengan bayonet terpasang. Satu tentara melongok ke dalam mobil. “Apa kamu Direktur Biro Informasi?” tanya dia. “Ya,” jawab Kawamoto yang berada paling dekat dengan si tentara. Sekelompok tentara langsung mengepung mobil dan melucuti senjata pengawal Shimomura.
Setelah itu mereka meminta sopir putar balik. Dengan sejumlah tentara bergelantungan di pelat pijakan di sisi mobil, si sopir diarahkan ke sebuah bukit kecil dan berhenti di situ. Ada sebuah gubuk kayu tua dengan tulisan “Markas Batalion Korps Pengawal.” Mereka lalu disuruh masuk. Rupanya ini semacam barak kecil dengan sejumlah tempat tidur di sepanjang sisi dinding, dan sebuah meja dengan bangku panjang di kedua sisinya di bagian tengah. Shimomura, Kawamoto, serta pengawal dan sopirnya disuruh berdiri di ruangan itu. Beberapa saat kemudian datang rombongan lain, yang ternyata adalah para pejabat badan penyiaran publik NHK dan teknisi-teknisi. Mereka juga dicegat dan ditangkap dalam perjalanan keluar dari kompleks istana. Dalam rombongan itu ada pemimpin NHK Hachiro Ohashi, Kepala Biro Domestik Kenjiro Yabe, dan Kepala Biro Teknik Daitaro Arakawa, dan enam teknisi yang tadinya mengoperasikan peranti rekaman.
“Jangan ada yang bicara!” bentak kopral yang dari tadi memimpin pasukan yang menangkap dan menahan mereka. Seorang prajurit kemudian menyodorkan secarik kertas dan sebatang pensil. “Tulis nama dan jabatanmu. Jangan sampai salah!” katanya. Kawamoto yang kali pertama menulis nama semua orang dari Biro Informasi. Setelah itu salah satu orang NHK menuliskan nama-nama timnya dan jabatan masing-masing. Kertas itu lantas diambil oleh prajurit yang tadi memberikannya. “Dilarang bicara!” bentak seorang letnan yang juga datang. Pintu ditutup dan dikunci dari luar, dan dua tentara bersenjata senapan berbayonet menjaganya.
Apa yang selanjutnya terjadi? Bagaimana nasib rekaman pidato Kaisar? (Bersambung)

