Moda angkutan massal kereta api makin diminati dan menjadi andalan masyarakat dalam bepergian, baik jarak dekat maupun jauh. Hal ini terlihat dari kinerja grup KAI yang menjadi satu-satunya operator kereta di Indonesia.
Sepanjang semester I/2026, grup KAI melayani 258.993.359 pelanggan, meningkat 7,55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 240.805.920 pelanggan. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, seperti dikutip bisnis.com belum lama ini menilai peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran kereta api dalam mendukung perjalanan untuk bekerja, menempuh pendidikan, menjalankan usaha, mengakses pusat pelayanan, berwisata, serta melakukan perjalanan antardaerah.
Jauhnya jangkauan layanan kereta bisa dilihat di dua pulau Indonesia yang memiliki jaringan kereta terbanyak, yaitu Pulau Jawa dan Sumatra. Di Pulau Jawa ada lima kereta api dengan relasi perjalanan terpanjang yang menempuh jarak sekitar 825 kilometer hingga lebih dari 1.000 kilometer.
KA Blambangan Ekspres menempati peringkat pertama sebagai kereta api dengan relasi terpanjang di Indonesia. Perjalanannya menghubungkan Jakarta dengan Ketapang di Banyuwangi melalui sejumlah kota di pesisir utara dan timur Pulau Jawa, seperti Cirebon, Semarang, Cepu, Bojonegoro, Surabaya, Probolinggo, dan Jember.
Kereta ini pun menjadi pembuka akses untuk perjalanan lanjutan ke berbagai destinasi wisata di ujung timur Pulau Jawa seperti Kawah Ijen, Taman Nasional Alas Purwo, Pantai Pulau Merah, kawasan kota Banyuwangi, maupun Pelabuhan Ketapang untuk perjalanan lanjutan menuju Bali.
Kereta dengan jangkauan terjauh kedua adalah KA Sangkuriang yang menghubungkan Bandung dengan Ketapang melalui lintas selatan Pulau Jawa. Dalam perjalanannya, kereta api ini melayani sejumlah kota seperti Tasikmalaya, Banjar, Kroya, Joga, Solo, Madiun, Surabaya, Probolinggo, Jember, dan Banyuwangi.
Keberadaan KA Sangkuriang memperluas pilihan perjalanan langsung bagi masyarakat Jawa Barat menuju Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Pelanggan dapat melakukan perjalanan panjang dalam satu kereta api tanpa perlu berpindah layanan di tengah perjalanan.
Di posisi ketiga ada KA Pandalungan yang menghubungkan Stasiun Gambir (Jakarta)–Jember. Kereta api ini menghubungkan pusat Ibu Kota Jakarta dengan kawasan Tapal Kuda Jawa Timur melalui Cirebon, Semarang, Bojonegoro, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, hingga Jember. Dari Jember, pelanggan juga dapat melanjutkan perjalanan menuju berbagai destinasi alam dan budaya di kawasan Jember, Lumajang, Bondowoso, dan sekitarnya.

KA Gajayana menjadi kereta dengan jangkauan rute terjauh keempat, melayani perjalanan antara Stasiun Gambir dan Malang. Jalurnya melewati sejumlah kota di lintas selatan, seperti Cirebon, Purwokerto, Jogja, Solo, Madiun, Kediri, Tulungagung, Blitar, dan Kepanjen. Kereta ini pun menjadi pembawa akses ke berbagai destinasi wisata alam, sejarah, serta pusat-pusat pendidikan seperti di Jogja, Solo, serta Malang.
Layanan jangkauan terpanjang kelima dipegang oleh KA Gaya Baru Malam Selatan menghubungkan Pasarsenen dengan Surabaya Gubeng. Kereta api ini melintasi Cirebon, Purwokerto, Kutoarjo, Jogja, Solo, Madiun, Nganjuk, Kertosono, Jombang, dan Mojokerto. KA ini pun menjadi alternatif lain bagi masyarakat yang berkepentingan di lintas selatan Jawa.
“Perjalanan panjang dengan kereta api memberi ruang bagi pelanggan untuk beristirahat, berbincang bersama keluarga, membaca, bekerja, atau menikmati pemandangan. Pengalaman berlibur pun dapat dimulai sejak kereta api meninggalkan stasiun keberangkatan,” ujar Anne.
Akses untuk Aneka Kebutuhan
Sementara itu layanan KAI di Sumatra juga memiliki lima kereta dengan rute terpanjang. Layanan dengan relasi terpanjang di Sumatra adalah KA Rajabasa yang menghubungkan Stasiun Tanjungkarang (Lampung) dan Kertapati (Sumatra Selatan) dengan jarak sekitar 388 kilometer. Sepanjang Semester I 2026, KA Rajabasa melayani 469.028 pelanggan, meningkat 35,65% dibandingkan Semester I 2025 sebanyak 345.770 pelanggan.
KA tersebut menghubungkan Bandar Lampung dan Palembang, dua ibu kota provinsi dengan aktivitas pemerintahan, perdagangan, pendidikan, kuliner, dan pariwisata yang kuat di bagian selatan Sumatra. Dari Stasiun Kertapati, pelanggan dapat melanjutkan perjalanan menuju kawasan Sungai Musi, Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, pusat kuliner, serta sentra kerajinan khas Sumatra Selatan. Dari Tanjungkarang, pelanggan dapat menjangkau pusat Kota Bandar Lampung dan meneruskan perjalanan menuju beragam destinasi alam serta bahari di Provinsi Lampung.

Selanjutnya ada KA Sindang Marga dan KA Bukit Serelo. Kedua layanan tersebut sama-sama menempuh relasi Kertapati–Lubuklinggau (pp) dengan jarak sekitar 305 kilometer. Meskipun menempuh relasi yang sama, kedua layanan memberikan pilihan pelayanan bagi segmen pelanggan yang berbeda. KA Sindang Marga memberikan layanan kelas bisnis dan eksekutif, sedangkan KA Bukit Serelo memberikan layanan kelas ekonomi.
Kedua kereta itu menghubungkan Palembang dengan sejumlah wilayah di bagian barat Sumatra Selatan, antara lain Prabumulih, Muara Enim, Lahat, Tebing Tinggi, hingga Lubuklinggau. Perjalanan tersebut mendukung kebutuhan pekerjaan, kegiatan usaha, kunjungan keluarga, pendidikan, dan akses menuju pusat pelayanan publik. Pelanggan juga dapat melanjutkan perjalanan menuju beragam destinasi wisata, mulai dari kawasan Sungai Musi di Palembang, peninggalan megalitik di Kabupaten Lahat, hingga Air Terjun Temam dan Bukit Sulap di Lubuklinggau.
Sementara KA Bukit Serelo mengambil nama dari bentang alam khas Kabupaten Lahat yang dikenal pula sebagai Bukit Jempol karena bentuknya menyerupai ibu jari. Penamaan tersebut memperkenalkan kekayaan alam dan identitas daerah yang dilalui kereta api. KA Bukit Serelo banyak digunakan oleh pekerja, pelajar, pedagang, keluarga, serta masyarakat yang melakukan perjalanan menuju pusat pendidikan, kesehatan, perdagangan, pemerintahan, dan pelayanan publik.
“KA Sindang Marga dan KA Bukit Serelo memperlihatkan bagaimana satu relasi dapat melayani kebutuhan pelanggan yang beragam. Masyarakat memiliki pilihan kelas pelayanan dan jadwal perjalanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhannya,” jelas Anne.
Layanan terpanjang lain terdapat di Sumatra Utara, berupa KA Sribilah Utama yang melayani relasi Medan–Rantau Prapat (pp) sepanjang sekitar 266 kilometer. KA Sribilah Utama menghubungkan Medan dengan sejumlah pusat aktivitas masyarakat di bagian timur Sumatra Utara, antara lain Tebing Tinggi, Kisaran, Membang Muda, hingga Rantau Prapat. Medan menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, jasa, kuliner, dan pariwisata perkotaan. Sementara wilayah yang dilalui menuju Rantau Prapat memiliki basis kegiatan perkebunan, perdagangan, pelayanan publik, dan usaha masyarakat.
Layanan terjauh kelima di Sumatra diberikan KA Kuala Stabas yang menghubungkan Tanjungkarang dan Baturaja dengan jarak sekitar 215 kilometer. KA Kuala Stabas melayani perjalanan masyarakat di sejumlah wilayah Lampung dan Kabupaten Ogan Komering Ulu. Layanan ini digunakan untuk bekerja, menempuh pendidikan, berdagang, mengakses layanan kesehatan, serta mengunjungi keluarga. Dari Baturaja, pelanggan dapat meneruskan perjalanan menuju sejumlah destinasi alam dan sejarah, seperti Gua Putri dan kawasan Situs Gua Harimau. Sementara Tanjungkarang menjadi salah satu pintu perjalanan menuju pusat Kota Bandar Lampung serta beragam destinasi wisata di Provinsi Lampung.
Di Sumatra Barat, KAI juga melayani masyarakat melalui KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, dan KA Lembah Anai. Layanan tersebut mendukung perjalanan harian, akses menuju Bandara Internasional Minangkabau, serta konektivitas menuju kawasan wisata pesisir. Menurut Anne Sumatra memiliki basis perkeretaapian yang kuat dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama puluhan tahun.
“Melalui perjalanan kereta api, masyarakat dapat melihat luasnya Sumatra, mengenal kota-kota yang dilalui, serta menemukan beragam potensi ekonomi, budaya, dan wisata di setiap daerah. KAI ingin setiap perjalanan semakin aman, nyaman, menyenangkan, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Anne.

