Film Odyssey karya sutradara dan produser Christopher Nolan sedang ditayangkan di bioskop saat ini, kembali menghadirkan legenda Yunani dengan segala macam karakter dewa, monster, dan kisah-kisah perjuangan dan kepahlawanan. Film dengan lama tayang lebih kurang tiga jam ini bisa dibilang adalah “perasan” dari sebuah epos klasik Yunani yang digubah penyair Homer. Siapa Homer, dan siapakah sebenarnya karakter Odysseus dalam film Odyssey?
Homer seperti dijelaskan dalam artikel Mark Cartwright berjudul Odyssey: Homer’s Epic Poem of Redemption di situs World History Encyclopedia, worldhistory.org menurut kebanyakan peneliti Yunani diyakini berasal dari wilayah Chios atau Ionia, Yunani. Namanya dikenal dengan epos gubahannya, Odyssey, dan epos prequel atau pendahulunya, Iliad. Odyssey diyakini digubah pada abad ke-6 atau ke-8 Sebelum Masehi. Epos ini sebenarnya berupa kumpulan syair yang kemudian dikumpulkan oleh para cendekiawan sastra di Alexandria atau Iskandariah, Mesir, menjadi 24 buku.
Sajak-sajak itu sendiri digubah Homer (atau dalam bahasa Latin diistilahkan sebagai Homerus) berdasarkan tradisi sastra lisan Yunani kuno yang bertutur soal mitologi. Sastra lisan ini pun terwujud dalam karya Homer yang menggunakan cara penuturan berulang, dengan pengenalan-pengenalan latar belakang di setiap awal bagian dan pelukisan situasi yang juga berulang.
Sebenarnya ada perbedaan pendapat juga di kalangan para akademisi kesejarahan dan sastra soal siapa penggubah Odyssey sebenarnya. Ada yang berpendapat Odyssey adalah wujud kerja Homer di usia senjanya, karena gaya berceritanya terlihat berbeda dari Iliad meski latar ceritanya sama. Ada pula yang berpendapat bahwa Odyssey sama sekali bukan karya Homer, namun juga tidak jelas siapa pembuatnya.
Odyssey berkisah soal perjalanan pulang Odysseus, raja Ithaca, setelah terjun dalam Perang Troya di wilayah Anatolia (kini wilayah Turki). Perang Troya adalah klimaks dari pengepungan panjang terhadap wilayah Troya oleh bangsa Yunani. Namun dalam perang penutup itu pasukan Yunani beraksi begitu brutal, merusak dan menjarah serta membantai rakyat Troya sehingga para dewa pun jadi gusar.
Seperti halnya Iliad yang sebenarnya hanya berkisah soal 52 hari dalam Perang Troya, Odyssey pun meringkas perjalanan pulang Odysseus selama 10 tahun ke Ithaca hanya menjadi total 42 hari. Peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi atau dialami Odysseus dikisahkan melalui kilas balik atau flashback. Perjalanan sang tokoh melalui berbagai petualangan di dunia asing, berjumpa aneka sosok aneh dan monster, sebenarnya adalah gambaran perbandingan antara peradaban tinggi Yunani, dalam hal ini wilayah Ithaca, dengan wilayah-wilayah jauh di luarnya. Perjuangan Odysseus menyabung nyawa, godaan, dan aneka hal lain, adalah perjuangan yang dimotivasi oleh kehendak untuk pulang ke peradaban. Pesan yang ingin disampaikan adalah “apa pun tantangannya, peradaban akan bertahan dan menjadi sumber kehidupan.”
Kita harus maklum bahwa film yang bersumber dari sebuah karya sastra memang tidak bisa sepenuhnya “setia” pada hal-hal yang disampaikan dalam karya aslinya. Ada kebutuhan dramatisasi visual dan penceritaan, peringkasan dan modifikasi jalan cerita agar waktu tayang bisa dimanfaatkan secara efektif. Karena itu dalam tulisan ini akan disajikan ringkasan kisah Odysseus sesuai dengan urutan penceritaan oleh Homer.

Pada awal cerita, pada Buku 1, dikisahkan soal Odysseus yang ditahan di sebuah pulau terpencil oleh sesosok nimfa, Calypso. Nimfa, atau nymph, dalam mitologi Yunani adalah sosok dewa atau dewi “level rendah” berkemampuan terbatas yang hanya berkuasa di tempat tinggalnya saja seperti di sungai, pohon, kolam, dan sebagainya. Mungkin dalam konteks orang Jawa atau keagamaan, nimfa ini bisa dianggap sebagai sosok jin penunggu atau dhanyang. Hanya Odysseus yang belum bisa pulang sementara para veteran Perang Troya lainnya sudah kembali. “Penahanan” ini lantaran Poseidon, dewa samudra, masih marah karena Odysseus telah membunuh anaknya, Polyphemus, sesosok Cyclops atau raksasa bermata satu. Namun akhirnya Poseidon mengizinkan Odysseus pulang juga ke Ithaca.
Sementara itu di Ithaca gerombolan “suitors” yang dalam bahasa Indonesia mungkin bisa diterjemahkan sebagai “penggugat” atau “penuntut” menyesaki istana raja, bersaing mencoba memikat hati Sang Ratu, Penelope, permaisuri Odysseus. Di bagian ini kita juga diperkenalkan dengan Telemachus, putra Odysseus. Dewi Athena, dewi kebijaksanaan, strategi perang, dan seni kriya, mendatangi Telemachus dan memintanya pergi berlayar mencari kabar soal ayahnya demi bisa mengusir semua penggugat dari istana. Jika Telemachus gagal menemukan sang ayah, maka dia harus segera pulang dan mengusir semua penggugat itu serta mendapatkan laki-laki yang layak menjadi pasangan untuk sang ibu.
Pada Buku 2 diceritakan tentang Penelope yang sangat lihai mengelak dari semua tekanan para penggugat. Salah satunya dengan berjanji bahwa dia akan bersedia menikah lagi jika tenunan kain untuk ayah mertuanya, Laertes, sudah selesai dibuatnya. Namun sebenarnya dia sengaja menunda selesainya tenunan itu dengan mencabuti lagi semua benang di malam hari. Kemudian Halitherses, seorang peramal yang juga teman Odysseus, melihat dua burung elang sedang bertarung di udara di atas istana. Dia meramalkan bahwa Odysseus yang sudah 20 tahun pergi bakal pulang dan menumpas gerombolan penggugat yang sekarang menguasai istananya. Athena kembali mendesak Telemachus agar segera berlayar mencari ayahnya.
Selanjutnya pada Buku 3 dikisahkan Telemachus tiba di Pylos dan bertemu penguasanya, Nestor, yang dulu juga terlibat dalam Perang Troya. Nestor menuturkan setelah Troya kalah, armada laut Yunani berpisah dan dia tak lagi tahu nasib Odysseus dan armada yang dipimpinnya. Dia juga memperingatkan Telemachus agar tak terlalu lama pergi meninggalkan Ithaca yang dikuasai gerombolan penggugat.
Buku 4 meneruskan kisah soal perjalanan Telemachus yang kali ini tiba di Sparta untuk menjumpai rajanya, Menelaus, yang dulu juga bertempur di Troya bersama Odysseus. Menelaus juga tak tahu kabar Odysseus. Sang istri, Helen, berkisah soal bagaimana Odysseus menyamar sebagai pengemis untuk memasuki Troya. Menelaus berkisah soal taktik Yunani menggunakan patung kuda raksasa untuk menyelundupkan prajurit ke dalam benteng Kota Troya. Menelaus juga menuturkan perjumpaannya dengan sosok Orang Tua Samudera, sosok dewa laut yang merupakan bawahan Dewa Samudera Poseidon, yang mengungkapkan bahwa Odysseus ditawan oleh nimfa bernama Calypso di sebuah pulau terpencil. Sementara itu di Ithaca, para penggugat tahu soal kepergian Telemachus dan berencana menyergap dan membunuhnya di Asteris. Athena meyakinkan Penelope bahwa sang putra akan baik-baik saja.
Buku 5 berkisah soal Athena yang membujuk Dewa Utama Zeus agar membebaskan Odysseus dari tawanan Calypso. Dewa Penyampai Pesan, Hermes, pun dikirim untuk menjumpai Calypso. Calypso sebenarnya enggan melepas Odysseus yang dulu diselamatkannya dari kapalnya yang tenggelam. Namun karena dia harus manut ke Zeus, dia akhirnya melepas Odysseus meski masih berupaya memberi tawaran terakhir yang menggiurkan yaitu kehidupan abadi bersamanya. Odysseus menolak, lantas membuat rakit untuk berlayar pulang.

Kilas Balik Kisah Petualangan
Di bawah perlindungan Athena, Odysseus kemudian mendarat di pulau tempat tinggal bangsa Phaeacians. Putri penguasa setempat, Nausicaa, menemukan Odysseus terdampar di pantai. Dia lantas merawatnya, memberinya pakaian yang layak, lantas membawanya ke sang ayah, Alcinous. Sang raja mengabulkan permintaan bantuan Odysseus agar bisa pulang ke Ithaca. Keberadaan Odysseus di Phaecian dilanjutkan kisahnya pada Buku 8, di mana penguasa setempat menggelar pesta besar dan kompetisi olahraga yang bisa dimenangi dengan mudah oleh Odysseus. Pada Buku 9, dikisahkan bahwa Raja Alcinous meminta Odysseus bercerita soal petualangan yang dialami sejak pulang dari Perang Troya. Odysseus pun bertutur soal bagaimana dia dan pasukannya mendarat di wilayah Cicones dan menyerang kaum yang dulu bersekutu dengan Troya itu. Namun ternyata kaum Cicones balik melawan dan memaksa Odysseus dan pasukannya kabur.
Mereka kemudian dihantam badai dan mendarat di tanah kaum pemakan bunga teratai. Sejumlah anggota pasukan Odysseus memakan buah teratai yang membuat mereka mabuk dan hilang ingatan. Odysseus dan pasukannya lantas segera pergi dari tempat itu, dan kemudian tiba di tanah tempat tinggal bangsa Cyclops atau raksasa bermata satu. Bangsa ini tergolong primitif, hidup dari beternak domba, namun mampu membuat keju lezat dari susu domba. Odysseus dan pasukannya menemukan sebuah gua yang penuh keju dan makanan, dan menunggu si empunya pulang. Namun saat sang Cyclop, Polyphemus, pulang, dia menutup pintu gua dengan batu besar, menjebak mereka di dalamnya. Dua orang anggota pasukan Odysseus tertangkap dan dimakan oleh si raksasa, dan dua lagi dimakan di esok harinya.

Odysseus berhasil membuat si raksasa mabuk minum anggur, lalu membutakannya dengan menusuk matanya. Mereka lantas meloloskan diri dengan cara menyelundup di bawah domba-domba yang berlarian keluar gua. Polyphemus pun mengutuk mereka, menyerukan kepada ayahnya, Dewa Samudera Poseidon agar tak membiarkan mereka pulang hidup-hidup.
Pada Buku 10, dikisahkan bahwa Odysseus dan pasukannya tiba di Pulau Aeolia, tempat tinggal Dewa Angin Aeolus. Aeolus membantu mereka pulang dengan memberikan angin yang meniup layar kapal hingga mencapai tujuan. Aeolus juga memberi Odysseus hadiah khusus yaitu tas kulit berisi angin. Namun saat mereka sudah dekat dengan tujuan, Odysseus tertidur dan tak tahu kalau sejumlah anggota pasukannya yang “kepo” dengan isi tas hadiah Aeolus lantas mengambil dan membukanya, mengira isinya emas permata. Angin yang ada di dalam tas itu pun keluar dan mengembus layar kapal hingga kembali lagi ke Aeolia.
Aeolus jadi ogah membantu lagi kelompok yang dianggapnya sudah terkutuk itu. Meski begitu Odysseus dan pasukannya berhasil kembali berlayar lagi dan tiba di Telepylus, tempat tinggal kaum Laestrygonians. Namun kaum itu melempari kapal-kapal pasukan Odysseus dengan batu dan menangkap serta menyantap anggota pasukan yang mendarat di pantai. Rombongan Odysseus yang kembali berlayar kemudian tiba di Pulau Aeaea, tempat tinggal Dewi Sihir Circe. Anggota pasukan Odysseus dipikat dengan minuman yang membuat mereka semua hilang ingatan dan mengubah mereka menjadi babi.
Odysseus yang mengetahui nasib anak buahnya berusaha membebaskan mereka. Dia mendapat bantuan dari Dewi Hermes yang memberinya ramuan yang membuatnya kebal dari jampi-jampi Circe. Akhirnya Odysseus berhasil membujuk Circe membebaskan anak buahnya dari sihirnya, dan mereka semua kemudian tinggal di pulau itu selama setahun. Saat tiba waktunya mereka semua melanjutkan perjalanan, Circe meminta Odysseus terlebih dulu pergi ke Negeri Arwah, Hades, dan menemui cenayang Teiresias.
Peringatan Bahaya
Buku 11 kemudian mengisahkan apa yang dialami Odysseus di Negeri Arwah. Di sana Teiresias memberitahunya bahwa dia punya kesempatan untuk pulang ke Ithaca, membasmi para penggugat yang mengincar istrinya, dan meninggal dunia dalam damai di usia lanjut. Namun Teiresias juga menegaskan agar Odyssey dan rombongannya tidak mengganggu, apalagi sampai memakan hewan ternak suci milik Dewa Matahari Helios di Pulau Thrinacie. Odysseus kemudian juga berkesempatan berjumpa dengan arwah sejumlah tokoh seperti Leda, ibunya; Agamemnon, Achilles, Minos, Orion, Tantalus, Sisyphus, dan Hercules.
Buku 12 mengisahkan saat Odysseus kemudian kembali menemui Circe yang lantas memperingatkannya akan bahaya perjumpaan dengan Sirens, makhluk setengah burung setengah perempuan yang suka memangsa para pelaut yang melintasi tempat tinggal mereka. Untuk mencegah mereka mendengar nyanyian Sirens yang bisa memikat para pelaut dan menjebak mereka menuju kematian, Circe menasihati anak buah Odysseus agar menyumbat telinga mereka dengan lilin. Sementara Odysseus diminta memerintahkan anak buahnya mengikatnya di tiang kapal agar dia tetap bisa mendengar suara nyanyian Sirens, namun tidak terbujuk. Circe juga memberitahu bahwa tantangan lain yang akan dihadapi adalah monster berkepala enam Scylla yang menjaga sebuah jalur pelayaran, serta pusaran air mematikan Charybdis. Circe juga mengulangi peringatan Teiresias agar pasukan Odysseus tidak mengganggu kawanan ternak suci Dewa Helios.
Odysseus dan pasukannya kembali berlayar, dan dalam pelayaran menghadapi hal-hal yang sudah diperingatkan Circe. Mereka kemudian tiba di Pulau Thrinacie, dan harus menunggu berubahnya arah angin agar bisa melanjutkan pelayaran. Dalam penantian bekal mereka habis, dan saat Odysseus tertidur, sejumlah anak buahnya yang sudah kelaparan melanggar pesan dengan menyembelih dan menyantap sejumlah hewan ternak suci Dewa Helios. Hukuman pun datang saat mereka kembali berlayar. Badai besar menghantam dan menghancurkan kapal, di mana hanya tinggal Odysseus yang hidup, terkatung-katung dan hanyut kembali ke pusaran air Charybdis. Namun dia bisa selamat dan setelah kembali terkatung-katung di atas potongan badan kapalnya, dia terdampar lagi, kali ini di Pulau Ogygia, tempat tinggal nimfa Calypso.
Buku 13 menjadi bagian di mana Odysseus mengakhiri penuturan panjang soal petualangannya di hadapan Raja Alcinous. Dia lantas pulang menumpang kapal dari Phaeacia dan akhirnya kembali mendarat di Ithaca, mengakhiri 10 tahun petualangan dan 20 tahun masa “menghilangnya.” Dia kembali bertemu Athena yang memintanya untuk tidak buru-buru mengungkap identitasnya dulu saat kembali ke istana karena dia harus menghadapi gerombolan penggugat. Athena lantas mengubah penampilan Odysseus menjadi pengemis, lalu pergi menjemput Telemachus yang masih berada di Sparta.
Kembali ke Ithaca dan Perjuangan Akhir
Pada Buku 14 dikisahkan Odysseus menemui pembantunya dulu, Eumaeus, seorang penggembala ternak, di rumahnya di perbukitan. Dia tetap menyamar sebagai pengemis dan mengaku berasal dari Creta. Eumaeus yang tak mengenali rajanya menjamunya sebagai tamu, dan dia pun bercerita tentang kondisi negeri dan istana. Eumaeus menggambarkan betapa ganteng dan gagah Telemachus, putra yang dulu ditinggalkan Odysseus saat masih bayi untuk berperang di Troya.
Selanjutnya di Buku 15 Athena menjumpai Telemachus dan mendesaknya untuk segera pulang ke Ithaca. Dia juga memperingatkan Telemachus bahwa kaum penggugat akan mencegat dan membunuhnya dalam perjalanan pulang. Dia juga diminta tidak langsung pulang ke istana, namun menemui Eumaeus dulu. Setelah berpamitan kepada Raja Menelaus dan dilepas dengan pesta serta dihadiahi benda-benda emas, Telemachus pun pulang ke Ithaca.
Sementara itu Odysseus juga mendapat informasi dari Eumaeus bahwa ayahnya, Laertes, masih hidup dan tiap hari selalu mendoakan keselamatannya. Telemachus pun kemudian tiba kembali di Ithaca. Kisah berlanjut ke Buku 16 ketika Telemachus sesuai pesan Athena pergi menemui Eumaeus dulu di rumahnya. Di sana dia berjumpa Odysseus yang masih mempertahankan penyamarannya, namun kemudian mengungkapkan jati dirinya. Bapak dan anak itu pun kemudian berpelukan penuh haru. Odysseus lantas meminta Telemachus segera pulang ke istana, dan dia akan menyusul dengan tetap menyamar sebagai pengemis. Telemachus juga dipesan agar mengeluarkan semua jenis senjata dari balairung istana, dan dalam situasi apa pun tak boleh mengungkap penyamaran sang ayah.
Pada Buku 17, dikisahkan bahwa Telemachus tiba kembali di istana dan disambut gembira sang ibu, Penelope, sementara para penggugat melihatnya dengan jengkel. Odysseus juga datang dalam penyamaran sebagai pengemis dan tak dikenali siapa pun kecuali anjingnya, Argus. Di balairung istana Odysseus berkeliling di antara para penggugat, meminta-minta. Di situ dia dilecehkan baik secara fisik maupun perkataan.
Buku 18 melukiskan bahwa kemudian datang seorang pengemis lain, Irus, dan dia lantas berkelahi melawan Odysseus. Odysseus bisa mengalahkannya, sebenarnya bisa dengan mudah, namun dia sengaja mengulur pertarungan agar tak mengungkap jati dirinya . Sementara itu Penelope yang sudah dibuat menjadi makin cantik oleh Athena lantas meminta para penggugat agar mempersembahkan kepadanya hadiah yang paling indah.

Buku 19 kemudian bercerita bahwa saat malam tiba Odysseus mengingatkan Telemachus agar memindahkan semua jenis senjata dari balairung. Masih dalam penyamarannya sebagai pengemis, Odysseus kemudian berhasil bercakap-cakap dengan Penelope, yang mengungkapkan bahwa dia sengaja mengulur waktu agar para penggugat tak buru-buru menuntut pernikahan. Odysseus sendiri berkisah soal perjalanannya sebagai seorang petualang dari Creta. Kemudian seorang pelayan, Eurycleia, yang diperintahkan membersihkannya mengenali Odysseus dari bekas luka lama yang ada di tubuhnya. Dia pun segera diminta tutup mulut. Penelope kemudian juga mengungkap kepada Odysseus bahwa besok dia akan menguji para penggugat dengan mengadakan lomba memanah. Pemenangnya adalah siapa pun yang bisa menembakkan anak panah melewati 12 mata kapak. Odysseus yang masih menyamar sebagai pengemis mendukung cara Penelope. Besok adalah ajang pembuktiannya pula.
Hari berganti pada Buku 20, dan Odysseus masih terus memikirkan cara menghadapi gerombolan pengincar Penelope yang tengah berpesta di balairung istana. Selama pesta berlangsung Odysseus terus berkeliling mengemis, dan terus mengalami pelecehan fisik dan verbal. Berlanjut ke Buku 21, Penelope mengambil busur milik suaminya dan menantang para penggugat untuk menembak jitu dengan panah. Siapa pun pemenangnya akan menjadi suaminya. Busur sendiri itu sangat kokoh, tak seorang pun bisa memasang talinya, apalagi sampai lantas menembakkannya. Sementara itu Odysseus meminta para pelayan mengunci semua pintu balairung agar tak ada yang bisa keluar. Dia lantas dengan mudah memasang tali busur dan memetik talinya hingga mendengung seperti siulan burung layang-layang. Burung ini, yang tiap tahun bermigrasi lalu pulang ke rumahnya, adalah simbol dirinya. Odysseus lantas menembakkan anak panah yang bisa melesat lurus melintasi 12 mata kapak.
Seterusnya di Buku 22, Odysseus kemudian mengungkapkan siapa dia sesungguhnya di hadapan semua orang. Dengan sigap dia langsung menghabisi para penggugat satu demi satu dengan tembakan panah, sabetan pedang, dan lemparan tombak. Para penggugat pun bergelimpangan tak bernyawa, balairung jadi penuh cipratan dan genangan darah, serta kepala-kepala yang terlepas dari badannya. Setelah itu para pelayan yang ketahuan berkhianat juga dikumpulkan dan dihukum gantung.
Buku 23 berkisah soal Odysseus dan Penelope yang bersatu kembali sebagai suami-istri, raja dan ratu. Tuturan Homer berkisah soal mereka berdua yang bertukar cerita mengenai apa yang terjadi selama mereka berpisah bertahun-tahun. Buku 24 menjadi penutup kisah. Dewi Hermes membawa arwah para penggugat ke Balairung Hades di Negeri Arwah. Para arwah itu bertemu arwah Achilles dan Agamemnon dan menuturkan ulang kisah balas dendam Odysseus. Odysseus kemudian juga bertemu kembali dengan ayahnya, Laertes.
Perang singkat kemudian pecah antara Odysseus dengan keluarga-keluarga para penggugat yang mencoba menuntut balas. Namun para dewa campur tangan membantu Odysseus dan akhirnya perdamaian bisa terwujud kembali di Ithaca. Kisah Odyssey pun berakhir.

