Armada Rusia Dibantai di Selat Tsushima: Jepang Tak Selalu Menang, Rusia Makin Tersudut (Bagian IV)

Rusia mengalami kerugian besar dengan gugurnya Laksamana Stepan Osipovich Makarov, komandan gugus tempur Pasifik Angkatan Laut Kekaisaran Rusia di Port Arthur pada 13 April 1904 setelah kapal perangnya, Petropavlovsk, meledak dan tenggelam akibat terkena ranjau laut. Namun Jepang pun tak luput dari kesialan.

Seperti dicatat dalam buku Thrilling Stories of the Russian-Japanese War (J. Martin Miller, 1904), pada 26 April 1904 dua kapal serang torpedo Rusia yang berpatroli dari pangkalan mereka di Vladivostok bertemu dengan sebuah kapal angkut militer Jepang, Kinshiu Maru. Kapal itu mengangkut pasukan dan logistik. Di bawah todongan senjata, kapten kapal dan sejumlah perwira dibawa naik ke kapal Rusia. Namun yang masih tersisa di kapal angkut itu menolak untuk menyerah. Kapal angkut itu pun ditenggelamkan bersama 73 orang yang ada di dalamnya. Meski begitu sejumlah personel masih bisa menyelamatkan diri dengan sekoci penyelamat. Pada hari yang sama Rusia menenggelamkan kapal barang Jepang, Nakamaiira Maru.

Nasib buruk kembali menimpa Jepang pada 15 Mei 1904 ketika dua kapal perang besarnya tenggelam dalam insiden terpisah. Seperti dicatat di buku yang sama, Panglima Armada Gabungan AL Kekaisaran Jepang, Laksamana Heihachiro Togo, dalam laporannya menjelaskan musibah itu. “Pukul 13.14 tanggal 15 Mei, di tengah kabut tebal di lepas pantai Port Arthur [kapal perang] Kasuga menabrak [kapal perang] Yoshino, yang menyebabkan kapal yang ditabrak tenggelam beberapa menit kemudian. Pada hari yang sama, [kapal perang] Hatsuse, saat berlayar keluar dari kawasan perairan Port Arthur untuk melindungi operasi pendaratan pasukan, menabrak ranjau di bagian tenggara alur masuk pelabuhan. Dia mengirim isyarat minta bantuan, lalu menabrak ranjau lain. Dia tenggelam dalam waktu 30 menit. Sebanyak 300 awaknya diselamatkan oleh kapal-kapal serang torpedo,” tulis Togo dalam laporannya.

Kapal perang Yoshino yang berbobot 12.320 ton dan tenggelam akibat tabrakan kehilangan 210 dari 300 awaknya. Kapal perang Hatsuse dengan bobot 15.300 ton dan tenggelam akibat menabrak ranjau kehilangan 441 personel, sehingga total Jepang kehilangan 651 personel dalam kedua insiden itu. Ini menjadi kehilangan terbesar bagi AL Jepang dalam sehari sepanjang perang Jepang-Rusia 1904-1905.

Laksamana Nikolai Skrydlov yang sempat ditunjuk memimpin gugus tempur AL Rusia di Port Arthur. Pengepungan Jepang membuat Skridlov tak pernah bisa tiba di Port Arthur untuk menjalankan tugasnya. (Foto: dlib.rsl.ru)

Sementara itu gugus tempur AL Rusia di Port Arthur yang “kehilangan induk” sejak gugurnya Laksamana Makarov mendapatkan pengganti yaitu Laksamana Nikolai Illarionovich Skrydlov [sejumlah literatur menuliskan namanya sebagai “Skrydloff]. Skrydlov bukan orang baru di lingkup armada AL Rusia di kawasan Pasifik karena pada 1900-1902 dia pernah memimpin armada itu sebelum kemudian berpindah memimpin Armada Laut Hitam.

Pada Juni 1904, dari pangkalan AL Rusia di Vladivostok, Skrydlov memimpin sejumlah kapal perang menuju Port Arthur. Tak jauh dari pelabuhan Port Arthur, sejumlah kapal perang Jepang yang selama itu memang mengepung wilayah itu untuk mendukung perang di daratan memergoki mereka. Kapal-kapal perang Jepang segera menembaki gugus tempur Rusia yang mendekat. Baku tembak sempat pecah, namun karena kapal-kapal perang Rusia di Port Arthur tak bereaksi memberikan bantuan, gugus tempur Skrydlov pun mundur dan berlayar balik ke Vladivostok.

Gugus tempur AL Jepang di bawah pimpinan Laksamana Hikonojo Kamimura seharusnya mengejar gugus tempur Skrydlov itu. Namun ternyata tugas itu lebih mudah dikatakan daripada diwujudkan, setidaknya begitu “point of view” alias POV dari Kamimura. Medan yang harus diawasinya memang luas, dengan panjang hampir 1.400 km dan lebar 1.000 km. Konsekuensinya, gugus tempur Skrydlov dalam pelayaran pulang ke Vladivostok tak sekadar pulang, namun juga melakukan berbagai aksi yang merugikan Jepang,

Misalkan saja saat melintasi Selat Korea mereka menenggelamkan tiga kapal angkut Jepang hanya dalam jarak kurang dari 100 km dari pantai Jepang. Mereka pun dengan berani berlayar dekat dengan pantai Jepang. Dalam perjalanan mereka juga sempat mencegat dan menggeledah sebuah kapal angkut milik AS, James Johnson. Setelah itu mereka seperti lenyap. Aksi yang dilakukan gugus tempur Skrydlov ini selain membuat Jepang kehilangan tiga kapal angkut, mereka juga kehilangan hampir 1.000 personel serta logistik dalam jumlah besar, termasuk material konstruksi untuk proyek pembangunan jalur rel kereta di Korea.

“Ulah” kapal-kapal Rusia ini tak urung membuat Laksamana Kamimura menjadi bulan-bulanan kritik dari masyarakat yang mengikuti jalannya konflik melalui koran, berdasarkan laporan para koresponden yang berada langsung di medan perang, baik yang ikut di kapal perang Jepang atau Rusia, atau yang berada di wilayah perang di daratan. Dia dianggap tidak cukup gercep memburu gugus tempur Skrydlov dan menerjunkan kapal perang  yang lebih banyak dalam upaya mencegah mereka pulang ke Vladivostok. Bahkan banyak opini yang muncul bahwa jika Kamimura gagal total mencegah kapal-kapal Rusia kembali ke Vladivostok, dia lebih baik pensiun dini atau bahkan bunuh diri saja sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Namun tentu saja jadi pengamat lebih gampang dalam memberi penilaian dan penghakiman, dibandingkan orang yang berada langsung di lapangan dan memahami situasi yang sesungguhnya. Seperti diuraikan dalam buku Thrilling Stories of the Russian-Japanese War (Miller, 1904), Kamimura sebenarnya sudah memahami pergerakan kapal-kapal Rusia dan langsung bertindak mengejar ketika mengetahui posisi mereka. Akan tetapi saat cuaca buruk dan hujan lebat membuat armadanya tak bisa bergerak cepat dan melihat dengan jelas kondisi di sekitar.

Laksamana Hikonojo Kamimura yang gugus tempurnya ditugaskan berjaga di perairan antara Semenanjung Korea dan Kepulauan Jepang untuk mencegat setiap upaya AL Rusia untuk keluar dari Port Arthur dan mencapai pangkalan lain Rusia di Vladivostok dan juga sebaliknya. (Foto: ndl.go.jp)

Ya maklum saja, pada masa awal abad ke-20 itu belum ada teknologi radar untuk melacak obyek yang berada jauh dari posisi pencari. Badai petir juga membuat komunikasi radio telegrafi dengan sinyal morse terganggu sehingga Kamimura sulit berkoordinasi dengan kapal-kapalnya, sementara komunikasi visual dengan sinyal lampu, bendera, atau isyarat semafor juga tak bisa dilakukan karena gelapnya cuaca akibat hujan badai. Dengan begitu, sebenarnya meski Kamimura selama itu tercatat sebagai perwira yang brilian dalam kepemimpinan dan strategi, dia saat itu sedang apes saja karena berbagai kondisi yang tak menguntungkannya sehingga tugas memburu armada Rusia tak bisa sepenuhnya dijalankannya.

Kamimura sendiri dalam laporan panjangnya mengenai upayanya mengejar gugus tempur laut Rusia menyebut operasi pengejaran berlangung empat hari. Dia bersyukur tak ada insiden yang terjadi selama ini karena buruknya cuaca. Dia pun menyatakan penyesalannya bahwa operasi pengejaran tak membuahkan hasil. Tenggelamnya tiga kapal angkut akibat serangan kapal-kapal Rusia disebutnya disebabkan karena gugus tempur yang dipimpinnya terlalu kecil untuk melakukan dua tugas besar sekaligus yaitu mengejar kapal-kapal Rusia dan mengamankan lalu lintas kapal angkut. Aksi kapal-kapal perang Rusia yang berbasis di Vladivostok selanjutnya masih berhasil menimbulkan kerugian di pihak Jepang.

Akan tetapi Laksamana Skrydlov tidak pernah bisa mendarat untuk memimpin langsung di Port Arthur yang juga sudah dikepung pasukan darat Jepang sehingga selama itu dia lebih banyak berada di Vladivostok. Serangan-serangan oleh gugus tempur AL Rusia dari Vladivostok pun lebih bersifat hit and run alias hantam, lalu segera berbalik pulang. Mereka tidak pernah bisa sepenuhnya mengamankan jalur lalu lintas dari dan ke Port Arthur.

Sementara itu bersamaan dengan tugasnya mengepung Port Arthur dari laut, Laksamana Togo dan kapal-kapal perangnya juga memberikan bantuan tembakan untuk mendukung pergerakan pasukan darat Jepang dalam upaya merebut Port Arthur dari daratan. Pertempuran darat antara pasukan Rusia dan Jepang saat itu juga tak kurang dahsyatnya demi memperebutkan Port Arthur yang strategis. Kota pelabuhan itu berada di dalam teluk yang dikelilingi bukit-bukit. Siapa pun yang bisa menguasai puncak-puncak bukit dan menempatkan meriam di sana akan bisa menjangkau kota dan kawasan sekitarnya termasuk perairan, sehingga perebutan bukit-bukit itu menjadi sangat sengit.

Di Port Arthur sendiri pimpinan gugus tempur AL setempat akhirnya diambil oleh Laksamana Vilhelm Vitgeft (dalam sejumlah literatur penulisan nama ini bervariasi, ada yang menuliskan Withoeft, ada pula yang menuliskan Withoff). Vitgeft tadinya adalah Wakil Raja Muda (Viceroy, jabatan penguasa wilayah yang lebih tinggi tingkatannya dibandingkan gubernur jenderal) Rusia untuk wilayah Timur Jauh yang mencakup kawasan timur laut dan timur China, Manchuria, dan Korea, Yevgeni Alekseyev.

Laksamana Vilhelm Vitgeft, yang akhirnya mengambil alih komando gugus tempur AL Rusia di Port Arthur. (Foto: photoarchive.spb.ru)

Berbeda dari mendiang Laksamana Makarov yang agresif dan berani membawa kapal-kapal perangnya keluar ke laut lepas untuk menantang armada Jepang, Vitgeft mengambil pendekatan yang sama dengan pendahulu mereka berdua yaitu Laksamana Oskar Starck. Dia kembali menempatkan gugus tempurnya sebagai fleet-in-being yang mementingkan penguasaan pangkalan dan bersikap defensif. Sebenarnya sikap Vitgeft juga tidak bisa disalahkan karena itu juga salah satu doktrin AL Kekaisaran Rusia saat itu, yaitu jika tidak punya kekuatan memadai maka lebih baik memilih bertahan di pangkalan.

Namun Raja Muda Alekseyev yang juga seorang laksamana senior tidak sabar dengan cara begitu. Dia terus mendesak Vitgeft dan juga Markas Besar AL di Ibu Kota Rusia, St. Petersburg, agar armada yang ada di Port Arthur bergerak keluar menembus kepungan AL Jepang, bersatu dengan gugur tempur yang ada di Vladivostok, lalu kembali sebagai sebuah kesatuan gabungan yang lebih kuat untuk membuyarkan kepungan Jepang dan membebaskan Port Arthur dari blokade laut. Akhirnya setelah “Pusat” turun tangan dan mengancam bakal menyeret Vitgeft ke mahkamah militer atas dakwaan tidak menjalankan tugas, sang laksamana pun “menyerah.”

Upaya pertama menembus blokade laut Jepang dilakukan pada 23 Juni 1904, namun upaya ini gagal. Upaya kedua dilakukan pada 10 Agustus 1904. Vitgeft memimpin gugus tempurnya berangkat dari Port Arthur untuk menembus blokade Jepang dan menuju Vladivostok. Seperti diuraikan dalam buku The Russo-Japanese War (Thomas Cowen, 1904), gugus tempur itu keluar dari area pelabuhan Port Arthur dengan didahului kapal-kapal penyapu ranjau untuk membersihkan ranjau yang dipasang oleh Jepang. Laksamana Vitgeft berada di kapal perang Tsesarevitch yang menjadi kapal komandonya,

Meski begitu satu ranjau yang lepas tertabrak oleh kapal perang Bayan, meledak dan melubangi bagian depan lambungnya, dan membuatnya harus berlayar pulang ke Port Arthur. Kapal-kapal yang lain terus berlayar ke arah selatan. Kapal perang Jepang yang bersiaga dari jarak hampir 20 km segera mengabarkan kepergian gugus AL Rusia ini kepada Laksamana Togo melalui telegraf. Togo pun langsung memerintahkan seluruh kapal perangnya yang ada di perairan itu untuk mencegat armada Rusia. Strategi Togo adalah berupaya menempatkan kapal-kapalnya di antara gugus tempur Rusia dengan Port Arthur, sehingga kalau terdesak, kapal-kapal Rusia takkan bisa pulang ke pangkalan terdekatnya itu. Strategi ini sebenarnya hampir selalu dilakukan Togo, namun berkali-kali kapal-kapal Rusia selalu bisa menyelinap pulang.

Kali ini Jepang tak mau kecolongan lagi dan dengan segera mereka secara agresif membuka serangan. Kapal-kapal perang utama Rusia, Tsesarevitch, Retvizan, Pobieda, Peresviet, Sevastopol, dan Poltava, langsung berupaya berlayar melingkar untuk kembali ke Port Arthur di bawah hujan tembakan Jepang. Duel sengit terjadi dalam pertempuran yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga menjelang senja itu. Baik Togo maupun Vitgeft sadar mereka harus merampungkan pertempuran sebelum malam tiba ketika pandangan jadi makin sulit. Laksamana Togo yang didukung gugus tempur pimpinan Laksamana Shigeto Dewa terus berupaya menjepit formasi armada Rusia, sementara armada Rusia pun terus mencoba berkelit. Aksi saling kejar dengan adu tembakan dan manuver ketat terus berlangsung, menjadikan pertempuran ini tercatat dalam sejarah sebagai perang besar di laut pertama yang melibatkan duel tembakan intensif antara dua armada kapal perang modern [pada masa itu] yang sepenuhnya terbuat dari baja.

Sebagai catatan, hingga menjelang akhir abad ke-19 kapal-kapal perang masih sebagian besar terbuat dari kayu, sementara lapisan besi/baja hanya digunakan untuk melindungi bagian-bagian vital. Baru menjelang peralihan ke abad ke-20 kapal perang yang sudah ditenagai mesin uap beralih menggunakan baja secara keseluruhan.

Tsesarevitch, kapal komando Laksamana Vitgeft saat memimpin upaya meloloskan diri dari kepungan Jepang di Port Arthur untuk bergabung dengan gugus tempur Rusia di Vladovostok. (Foto: commons.wikipedia.org)

Dalam pertempuran sengit ini, yang kemudian dikenal dengan sebutan Pertempuran Laut Kuning atau Battle of the Yellow Sea, kapal perang Mikasa yang menjadi kapal komando Laksamana Togo berkali-kali terkena tembakan. Salah satunya menghancurkan antena komunikasi radio telegrafnya sehingga perintah-perintah dan komunikasi lainnya ke kapal-kapal lain harus dilakukan dengan isyarat bendera, dan kapal lain yang perangkat radionya masih berfungsi melanjutkan menyiarkan perintah ke kapal lain. Begitu parahnya kerusakan yang akhirnya dialami Mikasa akibat tembakan-tembakan kapal perang Rusia sehingga Togo atas desakan sejumlah perwira utamanya kemudian bersedia menarik mundur kapalnya itu dan menyerahkan koordinasi serangan kepada kapal perang lain. Namun meski sudah mundur Mikasa masih melanjutkan penembakan terarah ke kapal-kapal perang Rusia.

Salah satu tembakan Mikasa bahkan kemudian dengan jitu mengenai anjungan kapal Tsesarevitch, menewaskan seketika Laksamana Vitgeft dan sejumlah perwira utamanya. Sementara itu sebagian besar kapal perang Rusia berhasil bermanuver menghindari jepitan kapal-kapal perang Jepang, dan berlayar pulang ke Port Arthur. Tsesarevitch yang sudah compang-camping dihajar tembakan Jepang dengan terseok-seok terus berlayar ke selatan, tak lagi bisa mengejar kapal-kapal lain yang pulang ke Port Arthur. Malam menjadi pelindungnya karena kapal-kapal Jepang juga tidak lagi berminat mengejarnya dalam kegelapan.

Bersama sejumlah kapal perang lain, di antaranya Diana, Askold, dan Novik, Tsesarevitch berlayar menyusuri pesisir China sepanjang malam dan akhirnya mencapai pelabuhan Kiaochow yang dikuasai Jerman pada pagi hari kemudian. Meski selamat, namun sebagian besar kapal perang itu sudah terlalu parah kerusakannya untuk bisa diperbaiki. Hanya Novik yang saat itu bisa melakukan bekal ulang termasuk mengisi bahan bakar berupa batu bara, lalu berlayar ke Vladivostok dengan mengitari Kepulauan Jepang lewat timur.

Tapi Novik kemudian ketahuan saat melintasi perairan Kepulauan Kuril di utara Jepang. Dua kapal perang Jepang, Chitose dan Tsushima, dikirim mengejarnya. Novik dipergoki sedang sandar di Teluk Korsakoff, di sisi selatan Pulau Sakhalin di utara Jepang. Kedua kapal perang Jepang segera menyerangnya dan setelah baku tembak singkat Novik ditinggalkan dalam kondisi kandas.

Kapal perang Diana sempat berupaya pulang ke Port Arthur, tapi gagal. Selanjutnya dia berhasil kabur jauh sampai ke Saigon (kini Ho Chi Minh City, Vietnam) yang saat itu dikuasai Prancis. Karena Prancis negara netral, maka Diana pun ditahan dan dilucuti. Dua kapal perang, Askold dan Grosovoi, kemudian kabur ke pelabuhan Shanghai, China, dan akhirnya juga ditahan di sana. Nasib gugus tempur AL Rusia di Port Arthur betul-betul babak belur, dan lagi-lagi mereka kehilangan pimpinan mereka. (Bersambung)

Baca Juga:

Armada Rusia Dibantai di Selat Tsushima: Jepang Memperkuat Tekanan di Port Arthur(Bagian III)

Armada Rusia Dibantai di Selat Tsushima: Serangan Dadakan di Malam Kelam (Bagian II)

Share the Post: