Di Ajang World Economic Forum, Mangkunegoro X Beberkan Kenapa Warisan Budaya Itu Infrastruktur Ekonomi, Bukan Beban Anggaran

K.G.P.A.A. Mangkunegoro X, pemimpin Pura Mangkunegaran, (kiri) saat menjadi pembicara di sesi Catching Asia's Beat, World Economic Forum Annual Meeting of the New Champion di Dalian, China, bersama Nomin Chinbat, Menteri Pengembangan Digital, Inovasi, dan Komunikasi Mongolia (tengah), Rabu (24/6/2026). (Foto: digitallibrary.weforum.org)
K.G.P.A.A. Mangkunegoro X, pemimpin Pura Mangkunegaran, (kiri) saat menjadi pembicara di sesi Catching Asia's Beat, World Economic Forum Annual Meeting of the New Champion di Dalian, China, bersama Nomin Chinbat, Menteri Pengembangan Digital, Inovasi, dan Komunikasi Mongolia (tengah), Rabu (24/6/2026). (Foto: digitallibrary.weforum.org)

Pura Mangkunegaran sepertinya cukup sukses bicara di tataran global. Dulu di era Adipati Mangkunegoro VII pernah tercatat sejarah di mana sang putri, Gusti Nurul, menari di istana Ratu Belanda dengan diiringi lantunan gamelan dari Solo yang disiarkan live lewat Radio SRV (Solosche Radio Vereeniging) yang diprakarsasi Sang Adipati pada 1930-an. Mangkunegoro VII juga pernah menjamu pujangga besar asal India, Rabindranath Tagore, yang berkunjung ke Jawa.

Kali ini sang cucu buyut, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A) Mangkunegoro X, tampil sebagai pembicara undangan dalam World Economic Forum Annual Meeting of the New Champions (WEF AMNC) 2026, di Dalian, China, pada Rabu (24/6/2026). Mangkunegoro X tampil berdampingan dengan Nomin Chinbat, Menteri Pengembangan Digital, Inovasi, dan Komunikasi Mongolia di sesi bertajuk Catching Asia’s Beat di hadapan para inovator dari berbagai negara.

Dalam kesempatan itu Mangkunegoro X menyampaikan gagasan bahwa warisan budaya bukan sekadar objek pelestarian, namun lebih penting dari itu yaitu sebagai infrastruktur ekonomi. Dia juga menegaskan bahwa keunggulan kompetitif Asia di abad ini akan ditentukan oleh kemampuannya mengubah modal budaya menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Mangkunegoro X menjelaskan Asia sedang mengalami pergeseran fundamental: dari kompetisi berbasis skala dan efisiensi menuju kompetisi berbasis nilai, identitas, dan kekhasan. Dari sisi Indonesia dia menyebut pada 2025 ekonomi kreatif Indonesia menyerap hampir 27,4 juta tenaga kerja, atau sekitar 18,7% dari total angkatan kerja nasional. Sektor pariwisata diproyeksikan menyumbang lebih dari Rp1.800 triliun setiap tahunnya bagi perekonomian Indonesia dalam satu dekade ke depan, sekaligus menyokong lebih dari 12 juta lapangan kerja.

Pentingnya nilai budaya khususnya di Indonesia juga diperkuat dengan langkah badan pendidikan dan kebudayaan PBB, UNESCO, yang telah mengakui 13 elemen Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Menurut Mangkunegoro X hal ini menegaskan bahwa tradisi memiliki nilai lebih besar sebagai kekayaan intelektual dan aset identitas yang semakin memiliki dimensi ekonomi.

“Nilai ekonomi terbesar dari budaya bukanlah pendapatan pariwisata. Nilai terbesar itu adalah kepercayaan diri. Karena budaya memberi manusia pemahaman tentang siapa diri mereka. Dan ketika seseorang tahu siapa dirinya, ia menjadi lebih berani membayangkan dirinya bisa menjadi siapa,” tegas Mangkunegoro X seperti dikutip dari siaran pers yang diterima lalulalangmasa.com.

Lebih jauh Mangkunegoro X menyatakan bahwa identitas menciptakan kepercayaan diri, dan kepercayaan diri melahirkan ambisi. “Ambisi menarik investasi. Investasi menciptakan kemakmuran. Masyarakat yang percaya diri terhadap identitasnya lebih siap berinovasi dari kekuatannya sendiri, alih-alih sekadar meniru, serta lebih mampu menciptakan produk, pengalaman, dan institusi yang berdaya saing global,” ujar Mangkunegoro X.

Dia menjelaskan pula bahwa Pura Mangkunegaran di Kota Solo adalah model nyata dari prinsip yang ia sampaikan. Institusi yang tahun ini genap berusia 269 tahun atau lebih dari tiga kali lipat usia Negara Republik Indonesia. Pada 2024 tercatat lebih dari 120.000 pengunjung, sementara aneka aktivasi kegiatan yang diinisiasi Pura Mangkunegaran memberikan efek pengganda ekonomi yang signifikan bagi Solo.

Contoh nyatanya adalah peringatan tahun baru dalam penanggalan Jawa yaitu Malam 1 Sura yang mampu menggerakkan dampak ekonomi lebih dari US$1 juta dalam satu malam. Sementara ajang lari tahunan Mangkunegaran Run menciptakan sirkulasi ekonomi lebih dari US$4,5 juta atau hampir Rp81 miliar dalam tiga hari.

Dalam presentasinya Mangkunegoro X pun menggugat paradigma konvensional pembangunan yang kerap menempatkan konservasi budaya sebagai beban anggaran dan dinilai sebagai kegiatan pelestarian semata. “Budaya adalah infrastruktur. Bukan infrastruktur fisik, melainkan infrastruktur sosial. Budaya menciptakan kepercayaan, memperkuat identitas, dan membangun kohesi sosial. Dan pada waktunya, budaya juga mendorong ketahanan ekonomi,” tegas dia.

Dia juga mengingatkan di era kecerdasan buatan yang kian mendominasi, diferensiasi menjadi lebih bernilai daripada standardisasi. Teknologi dapat disalin. Modal dapat berpindah. Infrastruktur fisik dapat dibangun ulang. Namun budaya, keaslian, dan kepercayaan jauh lebih sulit untuk direplikasi. “Kota-kota yang menarik talenta adalah kota dengan identitas. Destinasi yang menarik wisatawan adalah destinasi yang memiliki cerita. Perekonomian yang mampu mempertahankan modal manusianya adalah perekonomian yang menawarkan makna dan rasa memiliki,” ujar pria yang memimpin Pura Mangkunegaran sejak 12 Maret 2022 ini.

Mangkunegoro X menyatakan keyakinannya bahwa ekonomi-ekonomi paling kompetitif di masa depan bukan hanya yang menghasilkan kekayaan, namun juga yang secara bersamaan menghasilkan kepercayaan, makna, rasa memiliki, dan kepercayaan diri. Terkait hal itu, Asia, kata dia, memiliki posisi yang unik untuk memimpin.

Mangkunegoro X dalam kesempatan yang sama juga berdialog dengan pembicara lain dalam sesi ini, Nomin Chinbat, Menteri Pengembangan Digital, Inovasi dan Komunikasi Mongolia. Mangkoenagoro X menyebut Mongolia adalah contoh nyata bagaimana warisan budaya nomadik yang berusia ribuan tahun dapat dipadukan secara organik dengan pembangunan bangsa modern. Percakapan keduanya menyentuh topik bagaimana bangsa-bangsa Asia yang mewarisi peradaban panjang dapat memanfaatkan keunikan budayanya sebagai landasan kepercayaan diri kolektif, bukan beban masa lalu. Dia menilai negara-negara seperti Mongolia, Korea Selatan, dan Jepang, adalah contoh yang bisa dijadikan cermin bagi Asia tentang bagaimana identitas budaya yang kuat dapat dikonversi menjadi keunggulan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.

World Economic Forum Annual Meeting of the New Champions (WEF AMNC) yang sering disebut pula sebagai “Summer Davos”, atau “Davos di Musim Panas,” merujuk pada pertemuan rutin WEF lainnya yang selalu digelar di musim dingin di Davos, Swiss, adalah salah satu pertemuan paling bergengsi dalam kalender WEF. Pertemuan ini menghadirkan para penentu kebijakan, pemimpin industri, dan tokoh inovasi global untuk berbincang dalam satu forum strategis yang berfokus pada masa depan pertumbuhan ekonomi, khususnya di kawasan Asia dan negara-negara berkembang.

Diundangnya Mangkunegoro X sebagai pembicara mencerminkan pengakuan internasional terhadap relevansi institusi budaya dalam wacana pembangunan global. Peran sertanya diharapkan dapat menegaskan bahwa nilai warisan budaya di panggung global dapat menginspirasi bangsa untuk melihat identitasnya sebagai modal terbesar dalam membangun masa depan yang berdaulat, bermartabat, dan berdaya saing.

Baca Juga:

Adeging Mangkunegaran 2026, Ketika “Masa Lalu” Menghidupi “Masa Kini”

Ketika Mangkunegoro X Bicara Soal Rumah dan Kebahagiaan

Share the Post: