Adeging Mangkunegaran 2026, Ketika “Masa Lalu” Menghidupi “Masa Kini”

Panggung musik yang menjadi rangkaian perayaan hari jadi Mangkunegaran, Adeging Mangkunegaran 2026. (Foto: Istimewa/tim media Mangkunegaran)
Panggung musik yang menjadi rangkaian perayaan hari jadi Mangkunegaran, Adeging Mangkunegaran 2026. (Foto: Istimewa/tim media Mangkunegaran)

Sebuah perayaan hari jadi tidak hanya untuk mengenang kegemilangan masa lalu namun juga memberikan kehidupan bagi masa kini dan semestinya juga masa depan. Hal ini tercermin dalam peringatan berdirinya Praja Mangkunegaran. Perayaan hari jadi ke269 Pura Mangkunegaran pada 2026 ini yang mengusung nama Adeging Mangkunegaran 2026 bukan hanya diisi agenda formal kebudayaan, namun juga aneka kegiatan lain yang mampu membangkitkan gairah perekonomian di Kota Solo.

Pembangkitan perekonomian sebagai dampak ikutan penyelenggaraan rangkaian kegiatan Adeging Mangkunegaran 2026 ini dicatat oleh Katadata Insight Center (KIC) dalam laporan penelitian yang bertajuk Dampak Penyelenggaraan Adeging Mangkunegaran 2026. Laporan itu seperti dikutip dalam siaran pers Pura Mangkunegaran yang diterima lalulalangmasa.com menyebutkan efek pengganda atau multiplier effect dari kegiatan itu mencapai Rp87,9 miliar. Jumlah ini melonjak 119,8% dibandingkan penyelenggaraan peringatan hari jadi pada 2025 lalu.

KIC menggunakan pendekatan model Keynesian untuk menghitung dampak ekonomi langsung Adeging Mangkunegaran 2026. Ternyata dampaknya  mencapai Rp33,4 miliar yang berasal dari belanja peserta, pengunjung, serta operasional penyelenggaraan acara. Setelah itu diperhitungkan pula dampak ekonomi lanjutan yang tersebar pada sektor akomodasi, transportasi, kuliner, logistik, hingga jasa penunjang lainnya di Solo. Perhitungan itu menghasilkan nilai dampak yang berkembang menjadi Rp87,9 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa belanja selama penyelenggaraan acara turut memicu aktivitas ekonomi lanjutan pada berbagai sektor pendukung.

Suasana menjelang dimulainya Mangkunegaran Run 2026 di lokasi start Stadion Manahan, lokasi yang secara historis dulunya adalah lahan latihan olah raga milik Mangkunegaran. (Foto: Istimewa/tim media Mangkunegaran)

Penyumbang nilai ekonomi terbesar menurut KIC adalah penyelenggaraan Mangkunegaran Run 2026. Ajang ini melibatkan 7.750 pelari dengan rata-rata pengeluaran sekitar Rp1,9 juta per orang. Dari aktivitas tersebut, tercipta dampak ekonomi langsung sebesar Rp14,7 miliar. Jika diperhitungkan multiplier effect-nya, nilainya meningkat menjadi Rp38,7 miliar. Belanja pelari ini mencakup penginapan, makanan dan minuman, transportasi lokal, wisata, serta kebutuhan penunjang lainnya. Hal ini menunjukkan ajang olahraga juga ikut menggerakkan konsumsi lintas sektor di Solo.

Acara lain yaitu Festival MakaNMakan 2026 turut menggenjot sirkulasi perekonomian lokal. Dengan 45.855 pengunjung dan rata-rata pengeluaran Rp145.000 per orang, festival ini menghasilkan dampak ekonomi langsung sekitar Rp6,6 miliar. Jika diperhitungkan pula multiplier effect-nya, nilainya meningkat menjadi Rp17,5 miliar. Pengeluaran pengunjung terutama berasal dari konsumsi makanan, minuman, dan transportasi selama festival berlangsung.

Semua ini menunjukkan penyelenggaraan perayaan Adeging Mangkunegaran telah berkembang dari agenda budaya menjadi penggerak ekonomi lokal. Perpaduan sport tourism, festival kuliner, dan wisata budaya menunjukkan bagaimana rangkaian kegiatan yang terintegrasi mampu memperkuat perputaran ekonomi di Kota Solo.

Keramaian pengunjung saat festival kuliner Festival MakaNMakan 2026 di Pamedan Mangkunegaran. (Foto: Istimewa/tim media Mangkunegaran)

Berpaling ke belakang, kesuksesan penyelenggaraan perayaan serupa pada tahun 2023, 2024, dan 2025 telah membuktikan antusiasme luar biasa dari masyarakat, dengan lebih dari 40.000 peserta yang turut meramaikan setiap aktivitas. Momentum peringatan Adeging Mangkunegaran ke-269 kali ini diharapkan akan semakin mempertegas Mangkunegaran sebagai pusat seni, budaya, dan olahraga berskala nasional serta internasional, mencerminkan kekuatan identitas budaya yang terus berkembang. Capaiannya pun membuktikan bahwa masa lalu adalah penggerak untuk masa kini dan masa depan.

Praja Mangkunegaran adalah salah satu pewaris Kerajaan Mataram Islam, yang lahir dari Perjanjian Salatiga pada 1757. Meski berstatus kadipaten yang tingkatannya di bawah kerajaan seperti Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, namun Praja Mangkunegaran adalah wilayah otonom dengan wilayah tersendiri yang diperintah sendiri.

Baca Juga:

Dari Lari Hingga Makan-makan, Cara Unik Perayaan Hari Jadi Pura Mangkunegaran

Mangkunegoro Punya Wilayah dan Pemerintahan Sendiri, Tapi Kenapa Tidak Jadi Raja?

Share the Post: